LOGINIni Bab Bonus lebaran.
Makhluk iblis sejati itu merasakan hukum dunia yang memancar dari tubuh pemuda itu mulai mengikat pergerakannya seperti rantai yang tidak terlihat namun terasa nyata di setiap sendi wujudnya.Tidak ada pilihan selain menghadapi lawan di depannya dengan serius."Manusia rendahan." Suaranya mengandung keganasan yang tidak repot-repot disembunyikan. "Kau berani mencegat langkahku? Menarik.""Aku akan memberimu penderitaan yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya."Pemuda sembrono itu mengerutkan kening dengan ekspresi yang mengandung jijik yang tulus."Maaf, aku tidak tertarik pada pria maupun monster, apalagi yang seburuk rupamu.""Tolong pilih kata-katamu dengan lebih baik. Kalimat seperti itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang tidak menyenangkan bagi kedua pihak."BOOOOOM!Energi iblis murni yang pekat menghantam cahaya perak samar yang mengalir dari tubuh pemuda itu, dan ruang di titik benturan itu ber
Makhluk iblis sejati itu mengabaikan Ryan dalam sekejap.Tubuhnya berbalik dengan gerakan yang terlalu cepat untuk ukuran wujudnya, matanya yang merah menyala menatap ke arah cakrawala. Telapak tangannya yang dipenuhi energi iblis meledak ke depan dalam satu pukulan yang mengirimkan gelombang tekanan melumat udara di depannya.WUSHHH!Namun sosok yang datang dari cakrawala sudah ada di depannya sebelum pukulan itu sempat mencapai titik tengahnya.BOOOOOM!Ruang di sekitar mereka retak dan hancur seperti cermin yang dipukul dari dalam. Gelombang energi yang lahir dari benturan itu menyapu seluruh area Pulau Sorna, melenyapkan makhluk-makhluk yang lebih lemah di sekitar lokasi itu dalam sekejap tanpa memberi mereka waktu untuk merasakan apa yang mengakhiri mereka.Napas Ryan berhenti sesaat.'Kalau serangan seperti itu mengarah kepadaku...'Ia tidak menyelesaikan pikiran itu. Jawabannya sudah j
"Mau lari ke mana kalian?" Suara yang keluar dari makhluk itu tidak terdengar seperti suara manusia. Dingin, bergema, dan mengandung ejekan yang tidak butuh nada tinggi untuk terasa menusuk. Sepasang mata yang terbuka di dalam wujud iblis yang kini sempurna itu menatap ke arah keduanya yang melarikan diri. "Bocah, ada masalah besar!" Suara Andrey Xerxes menghantam pikirannya dari dalam Kuburan Pedang dengan nada yang tidak pernah ia dengar dari tetua itu sebelumnya. Serius. Tanpa satu pun nada bercanda yang biasanya menyelip. "Kenny Brook tidak benar-benar meledakkan dirinya. Ia memanggil jiwa iblis sejati yang tersembunyi di dalam pulau ini dan membiarkannya merasuki tubuhnya sebagai ganti. Lari sekarang!" Ekspresi Ryan berubah seketika. 'Iblis sejati?' Ia tidak membuang waktu untuk bertanya lebih jauh. Tubuhnya sudah bergerak ke arah yang berlawanan dari makhluk itu dengan kecepatan penuh bahkan sebelum pikirannya selesai memproses semuanya. SYUUTT! Bersamaan dengan it
Pandangannya jatuh ke lubang yang dalam di bawah kakinya. Kenny Brook terbaring di dasarnya. Pedang hitam pekatnya tertancap miring di tanah di sampingnya, sudah tidak lagi di tangan yang memegang eratnya tadi. Armor artefak pertahanan yang menutupi tubuhnya terbelah bersih menjadi dua oleh kekuatan tebasan Ryan, dan di dadanya terpahat bekas garis miring yang menganga dalam hingga tulang rusuknya terlihat. Salah satu tangannya terpelintir dengan tulang yang menonjol keluar. Kakinya patah dari benturan keras ke tanah. Matanya yang merah darah masih menyala dengan kebencian dan niat membunuh yang tidak padam, namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Bahkan bangkit pun sudah melampaui kemampuannya sekarang. Napasnya masih ada, namun tipis. Ia sudah berada di ambang kematian dan telah sepenuhnya kehilangan kemampuan untuk bertarung. Ryan menatapnya dari atas lubang dengan ekspresi yang tenang. 'Orang ini memang bukan lawan yang bisa diremehkan. Tiga tebasan penuh dan ia masih bernapa
"Kakak Ryan!" Ekspresi Lehman Sun berubah seketika. "Jangan percaya padanya! Dia berbohong!" Ryan tersenyum tipis dengan nada yang acuh. "Aku tidak terlalu akrab denganmu. Kalau dia menginginkan nyawamu, itu urusan kalian berdua." Wajah Lehman Sun memucat. Napasnya tertahan. 'Dengan kekuatan yang sudah Kenny Brook tunjukkan tadi, melarikan diri pun belum tentu bisa tanpa menanggung luka yang parah!' Kenny Brook tertawa dengan kepuasan yang tidak ia sembunyikan. "Nah, begitu seharusnya. Kau tahu kapan harus mundur dan itu tanda orang yang tidak bodoh." Matanya beralih ke Ryan dengan nada yang dibuat terdengar santai. "Tinggalkan pulau ini sekarang. Kau bukan dari Sekte Nine Demon, jadi selama kau tidak membocorkan apa yang terjadi hari ini kepada siapa pun, aku tidak akan mempersulit langkahmu." Begitu kata-kata itu selesai meluncur, perhatiannya beralih penuh ke Lehman Sun. Matanya menyipit dengan cara yang tidak menyenangkan, seperti predator yang sudah memutuskan kapan akan
Mata Ryan menyipit. Di depan mereka, seorang pemuda berusia akhir dua puluhan melayang di udara dengan aura yang mengerikan dan tidak stabil, seperti api yang hampir lepas dari kendali. Rambut panjangnya tergerai berantakan, dan wajahnya mengandung sesuatu yang tidak bisa disebut manusia biasa lagi. Seluruh tubuhnya ditutupi sisik ungu-hitam yang berkilauan dengan cahaya yang tidak menyenangkan untuk dipandang terlalu lama. Sepasang mata merahnya menyapu Ryan dan Lehman Sun bergantian seperti predator yang sedang memutuskan mana yang lebih dulu. Di sudut bibirnya, senyum kejam terbentuk perlahan. Yang membuat Ryan dan Lehman Sun sama-sama mengerutkan kening bukan penampilannya. Yang mengejutkan adalah aura yang memancar dari tubuhnya. Meski hanya seorang kultivator Dao Integration tahap menengah, tekanan yang ia pancarkan beberapa kali lipat melampaui Yao Links yang sudah bertransformasi sepenuhnya. Ini bukan sesuatu yang seharusnya mungkin pada tingkatan itu. "Apakah ini
Larry terjebak dalam situasi sulit. Di satu sisi ada perintah Ryan, di sisi lain dia berhadapan dengan Guardian yang bahkan tidak segan mengancamnya secara terbuka. Pada saat itu, tetua Sekte Hell Blood keluar dengan senyum menjilat. Dia membungkuk dalam pada Zeke Fernando. "Tetua Zeke, sungguh
"Aku dari Keluarga Lux," dia tergagap saat merasakan cengkeraman di lehernya menguat. "Kau tidak bisa menyentuhku! Lagipula, sekteku berada di kedalaman Gunung Langit Biru. Jika kau berani membunuhku, aku jamin kau akan..." KRAK! Sebelum bisa menyelesaikan ancamannya, Ryan telah mematahkan leherny
Dari asal suara terdengar, berdiri seorang pemuda tampan berpakaian rapi. Dia adalah Yeron Lux! Putra John Lux, pemimpin keluarga terkuat di Silverbrook. Kekuatan dan pengaruh Keluarga Lux merasuk ke setiap sudut kota ini, jauh melampaui wewenang kepolisian. "Tuan Yeron!" Perwira itu buru-buru mem
"Daun teh ini baru dipetik dari Gunung Merah. Rasanya enak. Cobalah," ujar lelaki tua itu sambil menyesap tehnya dengan anggun.Ryan langsung menghabiskan tehnya dalam satu tegukan dan meletakkan cangkir di atas meja batu. Saat dia melepaskannya, cangkir itu seketika hancur men







