MasukTerima Kasih Kak Agus dan Kak Ian atas dukungan Gem-nya.(. ❛ ᴗ ❛.) Untuk itu, othor persembahkan bab bonus hari ini.(≧▽≦) Akumulasi Gem: 07-10-2024 (malam) : 1 Gem (reset) Selamat Membaca(◠‿・)—☆
Ryan menoleh kepada Lina Jirk.Keduanya saling bertukar pandang, lalu mengangguk. Setelah memberi salam perpisahan kepada Divine God Frost Sword, mereka berbalik dan meninggalkan Istana Roh Formasi Kegelapan.Namun begitu keluar, Ryan melihat dua orang berdiri tidak jauh dari pintu.Yelena Cole dan Tessa Lund ternyata masih menunggu.“Tuan Ryan.”Tessa segera menghampiri. Wajahnya masih pucat akibat luka dalam, tetapi matanya dipenuhi harapan.“Bolehkah kami ikut bersamamu?”Yelena berdiri di sampingnya dengan raut memohon. Keangkuhan yang sebelumnya terlihat di wajahnya sudah menghilang.Setelah mengalami sendiri bahaya Death Universe Domain, keduanya akhirnya memahami betapa mengerikannya tempat ini. Tanpa perlindungan sosok kuat, mereka mungkin sudah tewas bahkan sebelum menemukan Tanaman Elok Tujuh Sisi.Ryan sebenarnya ingin menolak.Ia dan Lina sudah cukup untuk melanjutkan perjalanan. Membawa dua orang yang terluka hanya akan menambah beban dan memecah perhatiannya jika bahaya
Setelah keadaan tenang, Ryan membantu Divine God Frost Sword duduk di dekat peti batu.Kondisi pria itu masih sangat lemah.Meski nyawanya berhasil diselamatkan, aura di tubuhnya telah jauh menurun. Tekanan kuat yang dulu selalu menyelimutinya kini hanya tersisa samar, seolah nyala api yang hampir padam.Ryan menatapnya dengan serius.“Senior, apa yang sebenarnya terjadi di Death Universe Domain?”Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.“Bukankah kau datang ke sini untuk mencari Venerable Immortal Frost Sword? Bagaimana kau bisa berakhir dalam keadaan seperti ini?”Pertanyaan itu sudah lama memenuhi pikirannya.Namun ada hal lain yang lebih penting.“Kenapa kau sampai membakar saripati darah dan kultivasimu hanya untuk mengirim pesan agar aku datang?”Divine God Frost Sword tidak langsung menjawab.Ia menatap Ryan dalam-dalam, lalu menggerakkan tangan yang masih gemetar. Sebuah lionti
“Ya, ya!”Pria tua itu mengangguk cepat. Ketakutan jelas terlihat di wajahnya.Jari-jarinya segera membentuk rangkaian segel rumit. Sesaat kemudian, lantai aula bergetar dan sebuah retakan panjang muncul di hadapan mereka.Dari dalam retakan itu, sebuah peti mati batu perlahan terangkat.Aura dingin menyebar dari permukaannya, seolah peti tersebut telah lama terkubur di tempat tanpa cahaya.“Orang ini kutemukan tergeletak di Death Universe Domain,” ujar pria tua itu tergesa-gesa. “Saat itu, auraku juga sedang lemah. Karena itulah aku berpikir menggunakan tubuh manusia untuk menyempurnakan formasi...”Peti batu terbuka sebelum ia selesai berbicara.Tubuh Divine God Frost Sword terlihat di dalamnya.Luka memenuhi sekujur tubuhnya. Pakaian yang dikenakannya telah mengeras oleh darah kering, sedangkan beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bekas pertarungan yang sangat ganas.Ryan dapat membayangkan betapa be
Pedang Feralrot menebas turun dengan kekuatan penuh.Namun pria tua itu tidak menunjukkan kepanikan. Ia justru tertawa pelan, lalu mengangkat tangan.Sebuah panji formasi hitam muncul dalam genggamannya.Ketika panji itu dikibaskan, hawa dingin langsung menyapu seluruh aula.Puluhan arwah pendendam melesat keluar.Jeritan mereka memenuhi ruangan. Wajah-wajah yang telah berubah menyeramkan itu menyerbu Ryan dari segala arah seperti kawanan ngengat yang menerjang api.Begitu melihat mereka, amarah Ryan langsung meningkat.Ia bisa merasakan bahwa arwah-arwah tersebut berasal dari para kultivator kuat yang telah mati.Pria tua itu bukan hanya membunuh mereka.Ia memenjarakan jiwa para korban di dalam panji dan mengubah mereka menjadi bagian dari formasi.‘Orang ini benar-benar tidak memiliki batas.’Ryan menggenggam Pedang Feralrot semakin erat.“Pedang Pemenggal Langit!”Cahaya pedang meledak dari bilah hitam tersebut.Ryan menebas untuk kedua kalinya.Sinar pedang menyapu gerombolan arw
Ryan mengerahkan seluruh tenaga untuk melepaskan diri.Namun sulur yang membelit kedua kakinya tidak bergeser sedikit pun. Semakin keras ia meronta, semakin kuat lilitannya, seolah tanaman itu merupakan rantai hidup yang sengaja diciptakan untuk mengurung tubuhnya.Pepohonan di sekeliling mulai bergerak.Ranting-ranting panjang menjulur dari berbagai arah dan melilit lengan, pinggang, bahu, serta dada Ryan.Dalam beberapa napas, seluruh tubuhnya terkunci.Ryan menegangkan otot dan mencoba merobek ranting tersebut, tetapi semuanya sangat liat. Bahkan kekuatan fisiknya yang jauh melampaui kultivator selevel tidak mampu membebaskannya dengan cepat.Lilitan itu terus mengencang.Tulang-tulang Ryan mulai menanggung tekanan besar.Pada saat yang sama, suara desingan tajam terdengar dari depan.Puluhan pedang melesat keluar dari balik pepohonan.Ryan tidak bisa mengelak ataupun menangkis.Satu demi satu bilah menembus bahu, lengan, dan pahanya. Darah langsung menyembur, lalu menetes ke tanah
Ryan melihat pria tua itu masih berdiri tanpa bergerak.Itu hanya celah kecil, tetapi cukup untuk dicoba.Ryan menghentakkan kaki dan melesat maju. Tubuhnya berubah menjadi bayangan cepat yang langsung menerjang ke arah lawan.Namun sebelum ia mencapai pria tua itu, cahaya hijau mendadak muncul dari bawah kakinya.Cahaya tersebut memancar ke atas dan menutup seluruh ruang di sekeliling Ryan.‘Formasi?’Ryan langsung mengerutkan dahi.Ia sama sekali tidak merasakan keberadaan formasi itu sebelumnya. Susunan tersebut jelas telah disembunyikan sejak awal dan hanya menunggu dirinya melangkah ke titik yang tepat.Kemampuan pria tua ini jauh lebih licik dan lebih tinggi dibandingkan pemuda penjaga istana sebelumnya.Begitu cahaya hijau menelan tubuh Ryan, pemandangan di sekelilingnya berubah.Ribuan mayat muncul dari segala arah.Tingkat kultivasi mereka berbeda-beda. Sebagian hanya berada di Ranah God King, sementara beberapa lainnya memancarkan tekanan setingkat Ranah Star Seed.Mata mere
"Teknik Dao Pedang Tak Terbatas!" Ryan melepaskan Teknik Dao Pedang Tak Terbatas dan menyalurkan kekuatan petir ke dalamnya. Kilatan-kilatan cahaya biru keperakan menari-nari di sepanjang bilah pedangnya. "Hancurkan!" Namun Ryan segera menyadari bahwa itu belum cukup untuk menghadapi serangan a
Raja Harimau Hitam tentu saja geram karena kawanannya dibantai tanpa ampun. Cakarnya yang tajam terlihat jelas, berkilau berbahaya seperti pisau tajam yang dapat merobek segalanya."Guru, serahkan binatang ini padaku!" seru Hina Lambert dengan percaya diri.Teringat ba
Sebelum Ryan sempat membuka mulut, Jamie Leon sudah berdiri di depannya, menghalangi pandangan penjaga. "Sepertinya pelajaran kemarin belum cukup?" desis Jamie Leon berbahaya. Matanya berkilat penuh ancaman saat melanjutkan, "Kau merusak hubungan baik kita kemarin, dan sekarang kau berani mengatak
Pada saat yang sama, di dalam gua tersembunyi di Pegunungan Hijau Giok, Ryan dan Xiao Yan keduanya sedang meminum pil obat untuk menyembuhkan diri mereka. Dalam pertempuran mengerikan di Slaughter Land, organ dalam mereka telah menderita cedera berat. Meskipun Ryan telah memberikan yang terbaik u







