MasukKarena belum ada tambahan Gem lagi, jadi akumulasi Gem masih sama, 4 Gem. Kurang 1 lagi nih dapat bab bonus, hehehehe Selamat Membaca bab reguler terakhir hari ini. (◠‿・)—☆
'Satu jam.' Ryan diam selama beberapa detik. Membiarkan satu angka itu bergulir di dalam kepalanya tanpa terburu-buru disimpulkan, merasakan bobot yang dibawa angka itu. Satu jam itu ketat. Kalau semuanya berjalan mulus, cukup. Kalau satu hal saja meleset, tidak ada ruang untuk koreksi. Tapi pilihan lainnya adalah menunggu sampai kultivator Klan Spiritum Sanguis yang lebih kuat mulai mengalir keluar dari lorong satu per satu. Dan itu pilihan yang jauh lebih buruk dari apa pun yang bisa ia bayangkan sekarang. "Teknik rahasianya ada di mana?" Harlen Kenz tidak bisa menyembunyikan rasa lega di wajahnya. Tangannya merogoh lipatan jubahnya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah lusuh di tepinya. "Di sini. Lihat sendiri." Ryan mengambilnya. Membaca dari awal sampai akhir, lalu membaca sekali lagi dari awal. Tidak ada jebakan yang bisa ia temukan. Tekniknya jelas, cara kerjanya masuk akal, dan untuk seseorang dengan fondasi kultivasi tubuh seperti miliknya, setengah har
"Lepaskan aku sekarang, atau kau yang mati!" Harlen Kenz meronta dalam cengkeraman Ryan, wajahnya memerah dari campuran amarah dan malu yang tidak bisa ia sembunyikan meski setiap ototnya mencoba keras untuk tetap terlihat gagah dan berwibawa. Dagunya ditegakkan, seolah-olah sikap itu bisa menggantikan kekuatan yang jelas tidak ia miliki dalam posisi seperti ini. "Harlen Kenz bukan seseorang yang bisa diperlakukan sembarangan oleh semut rendahan sepertimu!" Ryan meliriknya dengan tatapan yang tidak mengandung rasa takut, tidak juga rasa hormat. Hanya penilaian datar seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah sebuah alat masih berguna atau sudah waktunya diletakkan. 'Orang ini tidak sadar posisinya.' "Baiklah." Ryan mencabut pedangnya. "Kita lihat seberapa keras tulangmu." CRAT! Mata pedang menghantam betis Harlen Kenz dalam satu tebasan bersih dan terukur. Tidak cukup dalam untuk memotong habis, tapi lebih dari cukup untuk membuat pria itu mengeluarkan jeritan panjang y
Ryan mengeluarkan beberapa pil penyembuhan dari kantong ruangnya dan membagikannya satu per satu kepada yang terluka. Setelah itu ia duduk sedikit menjauh dari kerumunan, matanya jatuh ke wajah Lina Jirk yang masih tidak sadar di sisinya.'Apa sebenarnya yang disembunyikannya?'Pertanyaan itu sudah lama mengendap. Sejak pertemuan pertama mereka di Benua Valorisia, Lina Jirk selalu terasa seperti lebih dari yang ia tunjukkan. Kenaifannya yang dulu terasa asli kini kadang-kadang tergantikan oleh sesuatu yang lebih berat, lebih dewasa dari usianya, seolah ada beban yang ia pilih untuk tidak pernah ceritakan kepada siapa pun.Ryan menggeleng pelan.Kalau Lina Jirk mau bicara, ia pasti akan bicara. Memaksa tidak pernah menjadi caranya.**Sehari berlalu dalam ketenangan yang lebih menegang dari kebisingan mana pun.Mereka bergerak keluar dalam formasi yang rapat: Ryan di depan, Yue Lane menjaga L
Anehnya, Ryan tidak terlihat seperti orang yang baru keluar dari situasi genting. Langkahnya tetap, wajahnya datar, dan tangannya menggendong Lina Jirk dengan cara yang lebih menyerupai seseorang yang membawa anak tertidur daripada seseorang yang baru selesai membuat para kultivator Ranah Creation berlarian keluar dari ruangan dalam kepanikan.Di sekelilingnya, para kultivator Ranah Creation dan Dao Integration yang masih berdiri menunggu di area pintu keluar memandang kepergiannya dengan rasa takut yang tidak berhasil mereka sembunyikan. Mata-mata itu mengikutinya dari kejauhan, tidak satu pun yang berani mengucapkan apa pun, tidak satu pun yang berani bergerak ke arah yang sama.Zander Yule menyaksikan semua itu dari tempatnya berdiri tanpa bersuara. Sesuatu di dalam dadanya memutuskan dengan tenang bahwa keputusannya untuk menunggu tadi adalah salah satu yang terbaik yang pernah ia buat, dan ia cukup tua untuk tahu kapan harus mensy
Keheningan yang berat menyelimuti ruangan. Seorang kultivator Ranah Creation yang tadi bersuara paling keras menuntut warisan tiba-tiba batuk pelan dan berpaling ke sudut ruangan yang kosong, seolah menemukan sesuatu yang sangat menarik di sana untuk diamati. Ryan mencibir tipis. Ia memberi satu perintah melalui benang energi darah yang menghubungkannya dengan tubuh tanpa kepala itu. Sosok besar tanpa kepala melangkah maju dua langkah ke arah kultivator tersebut. Reaksinya instan. "Tidak perlu! Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku janji—" Ryan tidak menunggu kalimat itu selesai. Pedangnya melintas dalam satu lintasan bersih, menghantam kultivator Ranah Creation itu cukup keras untuk membuatnya terpental ke dinding dan merosot ke lantai dengan darah di bibirnya, tapi tidak cukup untuk menghabisinya. Pesan yang cukup jelas disampaikan tanpa perlu penjelasan panjang. "Pergi." Kerumunan itu bergerak. Tidak berlarian terbuka karena mereka masih punya cukup martabat tersisa u
Di luar pintu masuk Alam Rahasia Demon Saint, seorang wanita berjubah merah berjalan bolak-balik di atas rerumputan yang sudah terinjak rata oleh langkahnya sendiri. Jessica Neuro dari Sekte Moon Flower. Wajahnya cantik dengan ekspresi yang tidak bisa memutuskan antara khawatir dan kesal. Keduanya hadir sekaligus tanpa satu pun yang menang, dan setiap jam yang berlalu hanya menambah porsi keduanya secara bersamaan. Awalnya semuanya berjalan sesuai rencana. Ia sudah mengirim teman Ryan pergi, sudah mengatur titik pertemuan yang disepakati, sudah menunggu dengan keyakinan penuh bahwa Ryan akan muncul tepat waktu seperti yang dijanjikan. Tapi Ryan tidak muncul. Tidak di waktu yang disepakati. Tidak satu jam kemudian. Tidak seharian penuh. Jessica bahkan sempat memikirkan hal yang tidak ingin ia pikirkan. Bahwa sesuatu telah terjadi pada Ryan di dalam sana. Bahwa ada yang menghabisinya diam-diam. Bahwa ia tiba terlambat. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa Alam Rahasia Demon Sain
Liontin giok itu melayang di atas arena dan langsung memancarkan aura yang menggemparkan surga. Tekanan yang sangat besar menyelimuti seluruh arena, begitu beratnya hingga Ryan kesulitan bernapas. Secara perlahan, sesosok bayangan melayang keluar dari liontin giok itu. Nenek Hilda segera berlutu
Gunung Langit Biru, Keluarga Jirk. Di dalam ruangan yang mengeluarkan aroma samar bunga sakura, seorang wanita muda bersandar di ambang jendela. Di bawah sinar rembulan yang menembus kegelapan, wajahnya sebening kristal seperti batu giok yang dipahat sempurna. Kulitnya putih, dengan mata bening
"Shirly Jirk!" seru Nenek Hilda murka. "Berani sekali! Jangan pikir aku tidak berani menyentuhmu hanya karena status dan dukunganmu. Tidak ada orang luar di sini. Jika aku membunuhmu, siapa yang akan tahu?"Ancaman itu membuat suasana semakin tegang. Ryan secara alami merasakan
Di tengah perhatian semua orang, Ryan justru membelai Sphinx dengan lembut. "Aku tidak butuh senjata," ujarnya santai, "jadi aku akan menggendong si kecil ini saja. Sampah seperti dia," ia mengedikkan dagu ke arah Hugh, "tidak layak untuk kugunakan senjata. Kakiku sudah lebih dari cukup!" Kerumunan







