Share

Bab 3

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-08-17 10:51:10

Derek tidak pulang malam itu. Aku menatap langit-langit kamar sampai pagi, mataku perih karena menahan tangis. Setiap derit lantai di koridor membuatku berharap, mungkin dia kembali, mungkin dia ingat janjinya. Tapi tidak, dia tak kunjung pulang.

Aku sudah menebak di mana dia berada, pelukan Anita, celana dalam basah di meja. Pesan singkat di tengah malam. Semua petunjuk mengarah ke satu kesimpulan yang sama: aku bodoh karena mempercayainya sekali lagi.

Jam 7 pagi, aku akhirnya bangun. Tubuhku terasa berat seperti ditimpa ribuan batu. Aku mandi air hangat, mencoba mencuci rasa malu dan sakit yang melekat di kulit. Di cermin, aku menatap tubuh gendutku-lipatan di perut, paha yang lebar, lengan yang gemuk. Aku memutar tubuh, menilai dari segala sudut, dan air mata jatuh lagi.

Ini salahku. Jika aku kurus dan jika aku cantik seperti Anita, Derek tidak akan pergi. Dia tidak akan mencari nafsu di wanita lain.

Aku meraih handuk, mengeringkan tubuh dengan kasar, lalu mengenakan gaun rumah sederhana berwarna abu-abu, warna yang mencerminkan hatiku.

Di ruang makan, meja panjang kayu jati sudah ditata dengan sarapan: croissant hangat, selai stroberi buatan rumah, buah-buahan segar, dan kopi hitam yang aromanya menyengat. Pelayan-pelayan bergerak diam-diam, menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.

Nathaniel sudah duduk di ujung meja. Setelan jas hitam, dasi perak, rambutnya disisir sempurna. Dia membaca surat kabar finansial dan wajahnya datar tanpa ekspresi, tanpa emosi.

Aku duduk di seberangnya, di kursi yang biasa kugunakan. Aku mencoba tersenyum, membentuk lengkung kecil di bibirku. Tapi senyum itu pecah sebelum sempat sempurna. Air mata menetes begitu saja. Aku menunduk, menutupi wajah dengan kedua tangan, bahuku terisak.

Nathaniel tidak bergerak, dia diam menatapku di balik kacamatanya.

"Aku minta maaf," isakku, suaraku tersendat di antara tangisan. "Aku tidak bisa menahannya. Derek tidak pulang tadi malam. Dia pergi ke Anita. Aku tahu karena aku melihat namanya di ponselnya."

Nathaniel menurunkan surat kabar. Matanya menatapku tanpa berkedip.

"Tapi aku yang salah," lanjutku, tanganku mengusap pipi basah. "Jika tubuhku tidak seperti ini, jika aku kurus dan langsing seperti Anita, mungkin dia tidak akan pergi. Mungkin dia masih mencintaiku. Aku sudah mencoba segalanya. Diet, olahraga, pil pelangsing tapi tubuhku tetap seperti ini. Aku tidak bisa berubah dan tidak bisa cukup baik untuk putramu."

Aku terisak lebih keras, dadaku sesak. "Aku sudah tidak kuat lagi. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku lelah diperlakukan seperti sampah. Aku lelah dicintai hanya saat dia butuh sesuatu. Aku lelah menjadi bahan tertawaan di kantor, di rumah, di mana pun. Aku..."

Aku menghentikan kata-kataku. Untuk apa aku bercerita padanya? Dia ayah Derek dan dia akan tetap membela putranya. Bagaimana pun aku mengeluh, bagaimanapun Derek menyakitiku, pada akhirnya darah lebih kental dari air mata.

Aku menatap Nathaniel dengan mata sembab, siap mendengar pembelaan untuk Derek.

Tapi Nathaniel tidak bicara. Dia hanya menatapku lalu perlahan, dia berdiri dari kursinya. Jas hitamnya jatuh rapi, tangannya merapikan dasinya. Langkahnya tenang, tanpa suara di atas karpet tebal, saat dia berjalan mengitari meja mendekatiku.

Aku menatapnya bingung.

"Derek tidak pulang, Aku tahu. Aku melihat mobilnya parkir di apartemen Anita hingga pukul tiga pagi."

Aku menelan ludah. "Kau tahu?"

"Aku selalu tahu segalanya, Seraphina. " Dia berhenti tepat di samping kursiku, menatapku dari atas. "Tapi kau salah satu hal. Bukan tubuhmu yang membuat Derek pergi. Derek pergi karena dia pecundang yang tidak pernah cukup dewasa untuk menghargai apa yang dia miliki. Ini bukan salahmu."

Air mata mengalir lagi. "Tapi.."

"Tidak ada tapi." Jari tangannya yang kekar terangkat, menyentuh daguku, mengangkat wajahku agar menatapnya. "Hari ini ada rapat dewan direksi pukul sepuluh. Kau sekretarisku dan kau harus bersiap."

Aku tertawa pendek.

"Untuk apa? Untuk apa aku berpakaian rapi, berdandan, datang ke kantor, mendengar bisikan karyawan yang menghina tubuhku, hanya untuk pada akhirnya tetap menjadi bahan ejekan? Untuk apa aku bekerja jika suamiku sendiri tidak menganggapku layak?"

Aku menatap Nathaniel dengan mata penuh keputusasaan. "Kau tidak akan pernah mengerti, Father. Karena kau tidak pernah menjadi orang yang dihina setiap hari karena tubuhmu. Kau tidak pernah menjadi seseorang yang suaminya memilih perempuan lain karena kau terlalu gemuk. Kau..."

Aku berhenti. Kata-kataku tercekat.

Nathaniel masih menatapku.

"Kau pikir aku tidak mengerti?Aku sudah mengawasi putraku selama bertahun-tahun. Aku tahu setiap kebohongannya, setiap pengkhianatannya dan aku sudah menyiapkan segalanya untuk menghancurkannya jika dia menyakitimu."

Aku membelalak. "Apa?"

Nathaniel membungkuk, wajahnya mendekat ke wajahku, napas kami saling bertemu, bibir kami hanya berjarak beberapa inci saja. Aku bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya yang kekar, Jantungku berdebar begitu keras hingga aku yakin dia bisa mendengarnya.

"Ada satu hal yang belum kau ketahui, aku tidak menawarkanmu untuk menjadi sekretarisku bukan untuk membantumu mengawasi Derek. Aku menawarkannya karena aku ingin kau dekat denganku."

Aku terkejut. "Ayah?"

"Panggil aku Daddy," potongnya, jari-jarinya bergerak dari daguku ke pipiku, mengusap air mata yang masih basah.

Aku menelan ludah, tubuhku gemetar. "Ini gila. Kau ayah mertuaku."

"Dan Derek adalah suamimu yang mengkhianatimu. Aku sudah menyiapkan segalanya. Bukti penggelapan dana, rekaman perselingkuhan, dan berkas perceraian dengan klausul kau mendapat 70 persen aset."

"Kenapa kau melakukan ini untukku?" tanyaku.

"Sejak pertama kali kau melangkah ke rumah ini dengan gaun putih di hari pernikahanmu, aku tahu aku telah membuat kesalahan besar dengan membiarkan Derek menikahimu."

Dia mendekat. Aku mundur perlahan, punggungku menghantam dinding. Nathaniel mengapitku dengan kedua tangannya, memerangkapku di antara tubuhnya yang kekar dan tembok dingin.

"Apa kau takut?" tanyanya.

"Ini salah."

"Biarkan saja salah." Wajahnya mendekat, bibirnya hampir menyentuh telingaku. "Kau layak mendapatkan pria yang memperlakukanmu seperti ratu dan aku akan memberimu itu-bersama dengan kejatuhan Derek."

Aku masih diam dengan jantungku yang berdegup kencang.

"Kau hanya perlu satu kata, Katakan ya, dan Derek akan kehilangan segalanya."

Aku menatapnya yang siap menghancurkan putranya sendiri demi aku.

"Ya."

Nathaniel tersenyum, tangannya meraih tanganku, menggenggamnya erat.

"Mari kita hancurkan Derek," katanya.

Aku melepaskan tangannya dengan kasar. "Kenapa kau mau menghancurkan putramu sendiri?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 16

    Aku berjalan ke kamar mandi utama, membuka keran air hangat. Uap mulai mengepul, memenuhi ruangan dengan kelembapan. Aku menuangkan minyak esensial lavender ke dalam bak marmer putih yang luas, minyak yang dulu Derek sukai, tapi sekarang aku tidak peduli lagi apa yang dia sukai.Aku melakukan semua ini dengan wajah datar, tanpa emosi. Seperti robot. Seperti pelayan yang menjalankan perintah.Derek masuk beberapa saat kemudian, melepas kemejanya dan celananya dengan malas. Tubuhnya masih tampan, perut rata, dada bidang, otot lengan yang tegas. Tapi aku tidak lagi merasa apa-apa saat melihatnya. Tidak ada hasrat. Tidak ada cinta. Hanya kebencian yang dingin."Airnya sudah siap," kataku datar.Derek mengangguk, melangkah ke dalam bak mandi. Air hangat memercik, membasahi tubuhnya. Dia menghela napas panjang, menutup matanya, dan bersandar di tepi bak."Tunggu di sini," katanya, tanpa membuka mata. "Aku mungkin butuh sesuatu."Aku duduk di kursi kecil di sudut kamar mandi, tanganku terlip

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 15

    Hari Minggu berlalu dengan lambat. Aku menghabiskan waktu di taman mansion, duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku yang tidak benar-benar aku baca. Pikiranku melayang ke mana-mana kepada Nathaniel, kepada ayahku, kepada Derek yang belum juga pulang.Matahari mulai condong ke barat saat aku mendengar suara mobil memasuki gerbang. Aku menoleh, melihat Aston Martin hitam Derek melaju pelan ke garasi.Derek pulang.Aku menarik napas panjang, merapikan gaun rumahku, dan berjalan ke ruang tamu. Aku harus bersikap normal. Aku harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.Derek masuk melalui pintu depan, jasnya kusut, dasinya longgar, dan wajahnya tampak kelelahan. Matanya sedikit merah, seolah dia kurang tidur. Atau mungkin karena begadang di hotel bersama Anita."Kau baru pulang," kataku, berusaha terdengar netral.Derek menghela napas berat, melemparkan jasnya ke sofa."Aku sangat lelah, Sera. Jangan mulai."Aku menatapnya, merasakan amarah yang mulai membara di dadaku. Tapi

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 14

    Matahari pagi menyinari kamarku melalui celah tirai tebal. Aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa sakit, otot-otot di pahaku terasa kram, dan di antara kakiku masih terasa perih yang mengingatkanku pada malam yang menghabiskan dua jam di pelukan Nathaniel.Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap bekas merah di leherku di cermin. Bekas gigitan Nathaniel. Aku menutupnya dengan selendang tipis, berharap tidak ada yang melihat.Di luar, aku mendengar suara mobil masuk ke garasi. Derek? Jantungku berdegup kencang. Tapi kemudian aku mendengar suara lain, suara yang sudah lama tidak kudengar.Suara ayahku.Aku berjalan cepat ke jendela, membuka tirai sedikit. Di bawah, sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di halaman mansion. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu keluar dari mobil, tubuhnya tinggi, rambutnya mulai beruban, wajahnya tegas dan berwibawa.Ayahku, Harrison Voss.Jantungku berdegup kencang. Ayah datang. Tanpa memberitahu. Ini bukan kunjungan biasa.Aku berganti paka

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 13

    Aku terbaring di samping Nathaniel, tubuhku lemas seperti boneka kain. Napasku masih tersengal-sengal, dadaku naik turun dengan cepat, dan di antara pahaku terasa hangat dan basah, bekas dari dua jam yang terasa seperti mimpi basah yang nyata.Hampir dua jam.Aku menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba mengatur pikiranku yang kacau. Di sampingku, Nathaniel berbaring dengan tenang, dadanya yang bidang naik turun perlahan. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, kerutan halus di sudut matanya, tubuhnya tetap kuat. Kekar, perkasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali.Aku menoleh, menatap profilnya. Tulang rahangnya yang tegas, bibirnya yang tipis dan tegas, matanya yang tertutup dengan bulu mata panjang.Pria ini, ayah mertuaku, baru saja menghancurkanku di tempat tidur dengan cara yang tidak pernah Derek lakukan dalam tujuh tahun pernikahan.Aku menggigit bibir, perasaan aneh bercampur di dadaku. Rasa bersalah, kenikmatan, kebingungan, dan sedikit rasa malu.P

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 12

    Nathaniel tersenyum puas, tapi senyum itu penuh nafsu liar. Dia tidak menarik keluar. Sebaliknya, dia mulai bergerak lagi, lambat dulu, lalu semakin dalam, semakin keras. Batang tebalnya masih kaku sempurna di dalam diriku yang basah dan berdenyut.“Masih keras, Daddy…” desahku, suaraku serak. “Derek… Derek cuma tahan tujuh menit… kau… kau tidak habis-habis…”“Tujuh menit?” Nathaniel tertawa rendah, suara seraknya membuat tubuhku bergidik. “Anak itu memang tidak tahu cara memakai batangnya. Aku bisa mengisimu sepanjang malam, sayang. Lihat masih tegang banget, kan?”Dia menghentak dalam sekali, membuat perutku yang gendut berguncang. Aku mengerang keras.“Ahhh! fuck! Daddy… pelan… ahh…”“Pelan? Tadi kau bilang terus. Sekarang kau minta pelan?” Dia menarik hampir seluruhnya keluar, lalu menusuk masuk sampai ke pangkal dengan tenaga penuh. “Tubuhmu yang gendut ini empuk banget. Aku suka sekali. Payvdara besarmu, perutmu yang lembut, pantatmu yang montok semuanya buatku gila.”Dia menari

  • Pemuas Hasrat Ayah Mertua : Sekretaris Semok   Bab 11

    Nathaniel langsung berhenti bergerak, tubuhnya masih tertanam dalam diriku sampai ke pangkal. Napasnya berat, dadanya naik-turun di atasku. Matanya menatapku tajam, penuh perhatian, bukan hanya nafsu.“Shh… pelan-pelan, sayang,” bisiknya serak. Tangannya mengusap rambutku yang basah keringat, lalu turun ke pipiku. “Aku tahu aku terlalu besar buatmu. Derek tidak pernah mengisimu sebegini dalam. Tapi aku tidak akan memaksamu. Bernapaslah… pelan.”Aku mengangguk, masih meringis. Perih itu nyata seolah dinding dalamnya meregang paksa, dipaksa menerima sesuatu yang jauh lebih tebal dan panjang dari yang pernah aku kenal tapi di balik rasa sakit itu, ada rasa kenyang yang aneh, rasa dipenuhi sampai ke ujung.“Daddy… pelan,” desahku, suaraku gemetar.Dia mencium keningku, lalu bibirku, lembut sekali. “Ya. Pelan.”Gerakannya dimulai lagi, sangat lambat. Hampir tidak bergerak, hanya menggeser sedikit keluar, lalu masuk lagi seinci demi seinci. Setiap kali kepala kontolnya menggesek titik dalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status