تسجيل الدخولNathaniel menatapku lama.
"Karena Derek bukan putraku," katanya. Aku terkejut. "Apa?" "Margaret sudah mengandung Derek dari pria lain sebelum aku menikahinya. Aku menerimanya karena aku mencintai Margaret. Tapi Derek, dia tidak pernah menjadi darah dagingku dan selama bertahun-tahun, aku melihat dia menghancurkan semua yang aku bangun termasuk kau." Aku menelan ludah. Rahasia besar ini terasa berat di antara kami. "Jadi kau tidak pernah benar-benar menganggapnya anakmu?" tanyaku. "Aku menganggapnya tanggung jawabku, tapi cintaku padanya mati saat dia mulai memanipulasi keuangan di perusahaanku dan juga menyakitimu," katanya. Dia mendekat lagi, kali ini aku tidak mundur. Telapak tangannya yang hangat menyentuh pipiku, mengusap sisa air mata. "Kau tahu, aku sudah memperhatikanmu sejak hari pertama kau datang ke rumah ini. Aku melihat caramu tersenyum meskipun hatimu hancur. Aku melihat caramu bertahan meskipun Derek memperlakukanmu seperti debu dan aku ingin menjadi pria yang membuatmu bahagia." Aku menatapnya, "ini gila. Kau ayah mertuaku." "Dan Derek adalah suamimu yang menghabiskan malamnya di pelukan perempuan lain. Kau layak mendapatkan lebih. Kau layak mendapatkan pria yang menghargaimu dan aku siap menjadi pria itu." Aku menggigit bibir. Di dalam dadaku, ada perang yang berkecamuk. Ini salah, ini sangat salah. Tapi di sisi lain, Derek telah mengkhianatiku berkali-kali. Mengapa aku harus tetap setia pada pria yang tidak pernah setia padaku? "Kau hanya perlu satu kata," bisik Nathaniel, wajahnya mendekat, bibirnya hampir menyentuh telingaku. "Katakan ya, dan Derek akan kehilangan segalanya dan aku akan memberimu semua yang kau inginkan." Aku terdiam cukup lama, jujur saja saat ini pikiranku kacau jadi aku menjawab, "Ya." Nathaniel tersenyum tapi kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Dia menciumku. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut, hangat, dan penuh hasrat yang selama ini terpendam. Aku terkejut sedetik, lalu entah bagaimana tubuhku merespons. Tanganku terangkat, meraih kerah jasnya, menariknya lebih dekat. Ciuman itu berlangsung lama, dalam, dan penuh dengan segala hal yang tidak pernah kami katakan. Ketika bibir kami berpisah, aku terengah-engah. Nathaniel menatapku dengan mata yang gelap oleh keinginan. "Aku sudah menunggu ini selama bertahun-tahun," katanya. Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, menyadari bahwa aku telah melewati batas yang tidak bisa ditarik kembali. Nathaniel mundur perlahan, merapikan jasnya yang sedikit kusut. Ada kilatan aneh di matanya, bukan hanya kepuasan, sesuatu yang tidak bisa kubaca. "Aku menunggumu di mobil," katanya, suaranya kembali datar seolah tidak ada yang terjadi. Seolah dia tidak baru saja mencium menantunya sendiri. "Kau punya waktu 15 menit untuk bersiap." Dia berbalik dan melangkah keluar ruang makan, meninggalkanku sendirian dengan jantung yang berdegup kencang dan bibir yang masih terasa hangat oleh sentuhannya. Aku berdiri di sana, memegang tepi meja kayu jati, mencoba mengatur napas. Pikiran-pikiran kacau berputar di kepalaku: Apa yang baru saja aku lakukan? Ini salah. Ini sangat salah. Tapi mengapa rasanya begitu benar? Aku berjalan ke kamar, membuka lemari, dan tanganku meraih gaun hitam panjang yang selama ini tersembunyi. Gaun yang terlalu berani, terlalu seksi, gaun yang kubeli satu tahun lalu tapi tidak pernah berani kupakai karena takut dihina Derek. Hari ini aku akan memakainya. Aku mengenakan gaun itu perlahan, merasakan kain sutra yang dingin menyentuh kulitku. Di cermin, bayanganku berubah. Tubuh gendutku masih sama, lipatan di perut, paha lebar, lengan yang gemuk. Tapi ada sesuatu yang berbeda di mataku. Ada tekad yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ada percikan hasrat dan balas dendam yang membuatku terlihat hidup. Aku merapikan rambutku, mengoleskan lipstik merah, dan mengambil tas kecilku. Saat aku berjalan menuju pintu depan, langkahku terasa lebih ringan. Aku bukan lagi istri yang tertipu. Aku adalah seorang istri yang bersiap untuk membalas dendam. Di luar, mobil hitam Nathaniel sudah menunggu. Dia berdiri di samping pintu, membukakannya untukku. Matanya melihat tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau sangat cantik," katanya. Aku tersenyum tipis. "Aku tahu." Kami melaju meninggalkan mansion, Aku menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang berlalu. Di sampingku, Nathaniel mengemudi dengan tenang, sesekali melirikku. "Kau tidak perlu takut, aku sudah mengatur segalanya. Rapat dewan akan dimulai pukul sepuluh. Derek dan Anita akan ada di sana. Dan aku akan memutar semua bukti penggelapan dana perusahaan dan perselingkuhan mereka," kataku. Aku mengangguk. "Dan setelah itu?" "Setelah itu, Derek akan kehilangan segalanya. Sahamnya, posisinya, reputasinya dan kau akan mendapatkan 70 persen aset pernikahan. Kau akan bebas." Aku menatapnya. "Dan kita?" Dia tersenyum, senyum yang membuatku merinding. "Kita akan melihat apa yang terjadi, tapi satu hal yang aku janjikan, kau tidak akan pernah kesepian lagi." Aku menelan ludah, dadaku berdebar kencang. Ada sesuatu di balik kata-katanya yang membuatku tidak yakin apakah itu janji atau ancaman. ^^ Kami tiba di gedung Whitmore Group. Gedung pencakar langit kaca berwarna biru itu menjulang tinggi di langit kota. Nathaniel memarkir mobil di basement pribadi. Dia berjalan di sampingku menuju lift eksklusif, tangannya sesekali menyentuh punggungku, sentuhan singkat yang terasa seperti sengatan listrik. Aku menatap pantulan kami di dinding lift yang mengilap. Nathaniel di belakangku, lebih tinggi, lebih tua, dan lebih berkuasa. Dan aku di depannya, perempuan gendut yang selama ini dihina, sekarang berdiri tegak dalam gaun hitam yang memeluk setiap lekuk tubuhku. Lift berhenti di lantai 35, ruang dewan direksi. Nathaniel melangkah keluar lebih dulu. Di koridor, beberapa eksekutif menatap kami dengan mata terbelalak, bukan hanya karena kehadiran Nathaniel, tapi karena aku di sampingnya. Aku mendengar bisikan-bisikan. "Itu Seraphina? Istrinya Derek?" "Ya Tuhan, lihat gaunnya. Berani sekali. Semua lemaknya kelihatan menonjol." Aku tidak peduli. Aku melangkah tegap, mengangkat dagu, dan tersenyum. Biarkan mereka bergosip dan biarkan mereka menghinaku. Meja panjang berbentuk U sudah diisi oleh para direksi. Di ujung meja, Derek duduk dengan setelan biru tua, wajah tampannya masih segar, seolah tidak begadang semalaman di pelukan Anita. Di sampingnya, Anita dengan rok ketat dan blazer putih tersenyum sinis. Aku melangkah masuk, di belakang Nathaniel. Gaun hitamku menyapu lantai, lipstik merahku mencolok di bawah lampu ruangan. Derek menatapku dengan tatapan tidak suka. "Kenapa kau di sini? Dan kenapa kau..." "Aku sekretaris ayahmu, apa kau lupa?" tanyaku. Derek menatap Nathaniel, lalu kembali padaku. "Father, kenapa Sera ada di sini? Ini rapat dewan." "Aku yang menyuruhnya," kata Nathaniel datar, duduk di kursi ketua. Dia menunjuk kursi di sampingnya. "Seraphina, duduk di sini." Aku melangkah ke kursi itu, melewati Derek. Aromaku, parfum bunga malam yang baru kusemprotkan menyentuh hidungnya. Derek menarik napas, dan aku melihat rahangnya mengeras. "Sera," bisiknya tajam, saat aku melewatinya. "Kita bicara nanti." Aku menatapnya sekilas. "Kita akan bicara banyak hal nanti, Derek." Aku duduk di samping Nathaniel. Di bawah meja, tangannya menyentuh pahaku, sentuhan rahasia yang hanya kami berdua tahu. Aku tidak bergerak. Aku hanya tersenyum ke arah para direksi yang menatapku bingung. Rapat dimulai. Nathaniel membuka agenda, membahas laporan keuangan, proyek-proyek baru, dan aku mendengarkan dengan seksama. Tapi mataku sesekali mencuri pandang ke Derek, yang tampak gelisah, dan ke Anita, yang tidak bisa berhenti menatapku dengan kebencian. Lalu Nathaniel berkata, "Sekarang, sebelum kita menutup rapat, ada satu hal yang ingin aku sampaikan." Dia menekan tombol di remotnya. "Penemuan baru tentang penggelapan dana di departemen keuangan dan aku punya bukti."Aku terbaring di samping Nathaniel, tubuhku lemas seperti boneka kain. Napasku masih tersengal-sengal, dadaku naik turun dengan cepat, dan di antara pahaku terasa hangat dan basah, bekas dari dua jam yang terasa seperti mimpi basah yang nyata.Hampir dua jam.Aku menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba mengatur pikiranku yang kacau. Di sampingku, Nathaniel berbaring dengan tenang, dadanya yang bidang naik turun perlahan. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, kerutan halus di sudut matanya, tubuhnya tetap kuat. Kekar, perkasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali.Aku menoleh, menatap profilnya. Tulang rahangnya yang tegas, bibirnya yang tipis dan tegas, matanya yang tertutup dengan bulu mata panjang.Pria ini, ayah mertuaku, baru saja menghancurkanku di tempat tidur dengan cara yang tidak pernah Derek lakukan dalam tujuh tahun pernikahan.Aku menggigit bibir, perasaan aneh bercampur di dadaku. Rasa bersalah, kenikmatan, kebingungan, dan sedikit rasa malu.P
Nathaniel tersenyum puas, tapi senyum itu penuh nafsu liar. Dia tidak menarik keluar. Sebaliknya, dia mulai bergerak lagi, lambat dulu, lalu semakin dalam, semakin keras. Batang tebalnya masih kaku sempurna di dalam diriku yang basah dan berdenyut.“Masih keras, Daddy…” desahku, suaraku serak. “Derek… Derek cuma tahan tujuh menit… kau… kau tidak habis-habis…”“Tujuh menit?” Nathaniel tertawa rendah, suara seraknya membuat tubuhku bergidik. “Anak itu memang tidak tahu cara memakai batangnya. Aku bisa mengisimu sepanjang malam, sayang. Lihat masih tegang banget, kan?”Dia menghentak dalam sekali, membuat perutku yang gendut berguncang. Aku mengerang keras.“Ahhh! fuck! Daddy… pelan… ahh…”“Pelan? Tadi kau bilang terus. Sekarang kau minta pelan?” Dia menarik hampir seluruhnya keluar, lalu menusuk masuk sampai ke pangkal dengan tenaga penuh. “Tubuhmu yang gendut ini empuk banget. Aku suka sekali. Payvdara besarmu, perutmu yang lembut, pantatmu yang montok semuanya buatku gila.”Dia menari
Nathaniel langsung berhenti bergerak, tubuhnya masih tertanam dalam diriku sampai ke pangkal. Napasnya berat, dadanya naik-turun di atasku. Matanya menatapku tajam, penuh perhatian, bukan hanya nafsu.“Shh… pelan-pelan, sayang,” bisiknya serak. Tangannya mengusap rambutku yang basah keringat, lalu turun ke pipiku. “Aku tahu aku terlalu besar buatmu. Derek tidak pernah mengisimu sebegini dalam. Tapi aku tidak akan memaksamu. Bernapaslah… pelan.”Aku mengangguk, masih meringis. Perih itu nyata seolah dinding dalamnya meregang paksa, dipaksa menerima sesuatu yang jauh lebih tebal dan panjang dari yang pernah aku kenal tapi di balik rasa sakit itu, ada rasa kenyang yang aneh, rasa dipenuhi sampai ke ujung.“Daddy… pelan,” desahku, suaraku gemetar.Dia mencium keningku, lalu bibirku, lembut sekali. “Ya. Pelan.”Gerakannya dimulai lagi, sangat lambat. Hampir tidak bergerak, hanya menggeser sedikit keluar, lalu masuk lagi seinci demi seinci. Setiap kali kepala kontolnya menggesek titik dalam
"Lebih besar dari suamimu?" bisik Nathaniel di telingaku, suaranya serak oleh hasrat.Aku mengangguk malu, wajahku memerah. Tidak pernah aku membayangkan akan mengatakan hal seperti apalagi kepada ayah mertuaku sendiri. Tapi di sini, di bawah tubuhnya yang kekar, dengan kehangatannya yang mengisi diriku, semua batasan terasa kabur."Katakan," desaknya, gerakannya berhenti sejenak, hanya ujungnya yang masih di dalam diriku. "Katakan dengan jelas. Lebih besar dari siapa?"Aku menggigit bibir, rasa malu bercampur gairah membakar seluruh tubuhku. "Lebih besar dari Derek," kataku, suaranya nyaris tak terdengar. "Jauh lebih besar."Nathaniel tersenyum puas."Bagus karena mulai sekarang, kau tidak akan mengingat Derek lagi. Hanya aku."Dia mendorong lebih dalam, dan aku menarik napas tajam, merasakan setiap inci dari dirinya mengisi kekosongan yang selama ini ada. Tanganku mencengkeram punggungnya yang bidang, kukuku menusuk kulitnya."Kau sangat ketat," desahnya, gerakannya lambat dan dala
"Apa kau benar-benar ingin aku menghancurkanmu?" bisiknya, jari-jarinya menyusuri tulang selangkaku dengan lembut, membuatku menggigil.Aku mengangguk, tak mampu berkata-kata."Katakan lagi, Aku ingin mendengarnya sekali lagi," perintahnya.Aku menelan ludah, keberanianku memuncak"Break me, Daddy. Buat aku lupa siapa aku. Buat aku lupa Derek. Buat aku hanya mengingat namamu."Nathaniel tersenyum, Dia menunduk, bibirnya menyentuh leherku, menggigitnya dengan lembut. Aku menjerit pelan, campuran rasa sakit dan kenikmatan yang membuat kepalaku berputar."Kau tahu, aku sudah membayangkan ini setiap malam. Kau di bawahku, merengek meminta lebih dan sekarang..." dia menggigit lebih keras, meninggalkan bekas merah di leherku, "...sekarang kau benar-benar di sini."Tangannya yang kekar meraih piyamaku yang sudah terbuka, menariknya perlahan, melepaskan seluruh kain dari tubuhku. Udara dingin menyentuh kulitku yang telanjang. Aku meringkuk, instingku untuk menutupi diri, tapi Nathaniel tidak
Aku tersentak mendengar suaranya. Nathaniel berdiri di ambang pintu, tubuhnya setengah telanjang, hanya mengenakan celana panjang hitam yang melingkar rendah di pinggangnya. Otot-otot dadanya terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar yang redup, rambut peraknya sedikit acak-acakan."Kau..." aku bangkit dari tempat tidur, jantungku berdegup kencang. "Kau tidak seharusnya ada di sini. Derek bisa pulang kapan saja...""Derek sedang di hotel bersama Anita, Dia tidak akan pulang sampai besok sore. Aku sudah memastikannya."Aku mundur, punggungku menghantam dinding. Nathaniel terus mendekat, langkahnya pelan dan penuh percaya diri, seperti singa yang mengintai mangsanya."Kau mau menghindar lagi, Sayang?" tanyanya, suaranya rendah dan menggoda. "Semalam kau pergi. Hari ini kau menonton Derek dengan Anita. Kapan kau akan menyadari bahwa kau milikku?"Aku menelan ludah, tubuhku gemetar. "Ayah...""Panggil aku Daddy," potongnya, sekarang hanya beberapa inci di depanku. Tangannya terangkat, me







