LOGINLayar di dinding menyala. Aku melihat kilatan data, grafik, dan angka-angka yang mulai bermunculan. Wajah Derek memucat. Anita menggigit bibirnya, tangannya menggenggam erat tepi meja.
Nathaniel bersiap untuk menekan tombol berikutnya, tombol yang akan memutar semua bukti penggelapan dan perselingkuhan Derek di hadapan seluruh dewan direksi. Tapi di bawah meja, tanganku bergerak. Aku meremas paha Nathaniel dengan cukup keras untuk menarik perhatiannya, tapi tidak cukup untuk mencurigakan bagi orang lain. Nathaniel menoleh padaku, alisnya terangkat. Aku menggelengkan kepala perlahan, mataku menatapnya. Lalu aku berbisik, nyaris tak terdengar, hanya untuk telinganya. "Jangan terburu-buru menghancurkan mereka. Aku ingin semuanya pelan-pelan. Biarkan mereka merasa aman dulu, biarkan mereka tertawa. Di akhir, ketika mereka paling merasa bahagia dan merasa menang, barulah kita hancurkan. Itu akan lebih menyakitkan," kataku. Nathaniel menatapku lama lalu mengangguk pelan dan dia menekan tombol lain, tombol yang mematikan layar. Layar menjadi gelap. Ruangan hening. "Maaf, sepertinya ada masalah teknis. Kita akan bahas ini di rapat berikutnya. Rapat ditutup," kata Nathaniel. Para direksi saling berpandangan bingung, tapi tidak ada yang berani membantah. Mereka mulai beranjak, mengumpulkan berkas-berkas mereka. Derek menghela napas lega, begitu lega hingga aku hampir bisa melihat bahunya turun. Dia menatapku dengan ekspresi kemarahan. Anita di sampingnya tersenyum sinis, seolah dia baru saja memenangkan pertempuran kecil. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa ini baru awal kehancuran mereka. Rapat selesai. Para direksi keluar satu per satu, meninggalkan ruangan yang mulai sepi. Aku berdiri perlahan, merapikan gaun hitamku, bersiap untuk pergi. Tapi sebelum aku bisa melangkah, Derek sudah berada di sampingku. Tangannya menggenggam pergelangan tanganku dengan kasar, menarikku keluar ruangan dengan cepat. "Hei!" aku protes, tapi dia sudah menyeretku ke koridor, menjauh dari kerumunan. "Apa yang kau lakukan?" desisnya, matanya menyala-nyala. "Apa maksudnya kau ada di sini? Dengan gaun seperti itu?" Aku menatapnya datar. "Aku bekerja di sini. Apa kau lupa? Ayahmu yang mempekerjakanku." "Jangan main-main denganku!Kau tahu maksudku. Gaun itu..." dia menunjuk ke tubuhku dengan jijik, "...itu menjijikkan. Kau tidak pantas memakainya. Lihat dirimu, Sera. Tubuhmu tidak cocok dengan gaun seperti itu. Kau hanya membuat dirimu terlihat seperti badut gendut." Aku merasa dadaku sesak. Kata-katanya menusuk seperti belati-seperti yang selalu dia lakukan. Tapi kali ini, aku tidak menangis. Derek menunggu reaksiku. Mungkin dia mengharapkan air mata, seperti biasa. Mungkin dia mengharapkan aku memohon, meminta maaf, atau berlari ke kamar mandi untuk menangis. Tapi aku tidak melakukan apa pun. "Apa kau dengar aku?" tanyanya, sedikit gusar. Aku tersenyum tipis. "Aku dengar." Dia terdiam, bingung dengan responku lalu Anita muncul di belakangnya, tangannya meraih lengannya dengan manja. "Tuan, ayo kita pergi," kata Anita, melirikku dengan sinis. Derek menatapku sekali lagi, lalu menggelengkan kepala. "Kau memalukan, Sera. Pulanglah dan ganti baju itu. Jangan pernah muncul di kantor dengan gaun seperti itu lagi." Dia berbalik dan pergi bersama Anita, yang melenggang di sampingnya seperti pemenang. Aku menatap punggung mereka, melihat Anita menempel ke Derek, tertawa kecil saat mereka masuk ke lift. Aku tetap berdiri di koridor. Tidak menangis dan tidak gemetar. Hanya berdiri, dengan gaun hitam yang memeluk tubuhku, dan senyum tipis di bibirku. Mereka pikir mereka menang. Mereka pikir mereka telah menghinaku. Tapi mereka tidak tahu apa yang sedang aku rencanakan. "Seraphina." Suara Nathaniel memanggil dari belakangku. Aku menoleh. Dia berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, matanya menatapku dengan intensitas yang membuatku sulit bernapas. "Masuk," katanya pelan. Aku melangkah masuk ke ruang kerjanya. Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi klik yang lembut. Kami sendirian. Sebelum aku bisa berkata apa pun, Nathaniel sudah melangkah mendekat. Tangannya meraih pinggangku, menarikku ke dalam pelukannya lalu dia menciumku-bukan ciuman lembut seperti di ruang makan tadi, tapi ciuman yang penuh hasrat, penuh kelaparan, seolah dia menahan diri selama bertahun-tahun dan sekarang tidak bisa lagi. Aku terkejut, tapi tubuhku merespons. Tanganku meraih lehernya, menariknya lebih dekat. Ciuman itu dalam, hangat, dan membuatku lupa di mana aku berada. Aku lupa bahwa aku masih istri Derek. Aku lupa bahwa ini ayah mertuaku. Aku hanya merasakan bibirnya yang menekan bibirku, lidahnya yang menjelajah, dan tangannya yang merayap di punggungku. Ketika bibir kami berpisah, aku terengah-engah. Nathaniel menatapku dengan mata gelap, jari-jarinya menyentuh pipiku dengan lembut. "Kau sangat cantik dengan gaun ini, Derek buta. Dia tidak melihat apa yang aku lihat. Dia tidak melihat kecantikanmu, kekuatanmu, keanggunanmu. Tapi aku melihatnya. Aku selalu melihatnya." Aku menelan ludah, dadaku naik turun. "Nathaniel..." "Derek tidak pantas menyentuhmu, Dia tidak pantas melihatmu. Tapi aku ngin menjadi satu-satunya yang melihatmu, satu-satunya yang menyentuhmu dan mencintaimu." Aku menggigit bibir. Kata-katanya membuatku leleh bukan hanya karena manis, tapi karena selama bertahun-tahun aku tidak pernah merasa dicintai oleh siapa pun. Derek selalu menghinaku. Orang-orang selalu mengejekku. Tapi Nathaniel, dia melihatku sebagai perempuan yang layak dicintai. "Kita tidak bisa terburu-buru, Aku ingin Derek menderita. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan, dihina, dikhianati, dianggap tidak berharga. Tapi aku tidak ingin dia tahu tentang kita. Belum saatnya, Aku ingin dia berpikir dia menang, lalu kita hancurkan dia saat dia paling bahagia." Nathaniel tersenyum, senyum yang membuatku merinding. "Kau kejam. Aku menyukainya." Dia mencium keningku, lalu mundur. "Baik. Kita lakukan dengan caramu. Kita biarkan Derek berpikir dia aman. Kita biarkan Anita berpikir dia telah memenangkanmu. Tapi setiap malam, kau akan datang padaku. Dan perlahan, kita akan membangun kerajaan yang akan menghancurkan mereka berdua." Aku mengangguk. "Setiap malam?" Nathaniel tersenyum nakal. "Setiap malam, Seraphina. Aku akan menunggumu di kamarku." Dia meraih tanganku, mencium punggung tangannya dengan lembut. "Sekarang kau harus pergi. Ada banyak hal yang harus kita rencanakan tapi ingat kau milikku sekarang." Aku menelan ludah, lalu mengangguk. "Aku mengerti." Aku berbalik dan berjalan ke pintu. Tapi sebelum aku keluar, Nathaniel berkata, "Seraphina." Aku menoleh. "Gaun itu, pakai lagi nanti malam. Aku ingin melihatmu lagi." Aku tersenyum, senyum yang tidak pernah kusediakan untuk Derek. "Tentu, Daddy." Kata itu keluar dari bibirku secara alami, dan aku melihat matanya berkilat puas. Aku melangkah keluar ruang kerjanya, meninggalkan Nathaniel dengan senyum kemenangan di wajahnya. Di koridor, aku berjalan menuju lift. Di dalam kabin kaca, aku menatap bayanganku. Gaun hitam, lipstik merah, mata yang penuh balas dendam. Aku bukan lagi istri yang tertipu. Aku adalah perempuan yang sedang merencanakan kejatuhan suamiku, dengan bantuan ayah mertuaku yang menjadi kekasih gelapku. ^^^ Derek pulang pada malam hari. Aku mendengar langkah kakinya di koridor, tapi aku tidak bangun dari tempat tidur. Aku hanya berbaring, menatap langit-langit, dan tersenyum. Dia masuk ke kamar tanpa mengetuk. Aku melihat bayangannya di kegelapan. "Sera, apa kau masih bangun?" Aku tidak menjawab dan pura-pura tidur. Derek mendekat, duduk di tepi tempat tidur. Aku bisa merasakan berat tubuhnya di atas kasur. Tangan-Nya terangkat, hampir menyentuh rambutku tapi dia berhenti. "Aku minta maaf tentang hari ini. Aku terlalu keras padamu dan aku hanya tidak suka melihatmu dengan gaun itu di depan orang lain. Kau istriku. Kau seharusnya di rumah, bukan di kantor." Aku tetap diam. Derek menghela napas. "Besok kita bicara. Aku janji akan lebih baik." Dia berdiri dan pergi ke kamar mandi. Aku mendengar suara air mengalir. Di dalam gelap, aku membuka mataku. Senyumku melebar. Dia pikir dia bisa memperbaikinya dengan satu permintaan maaf. Dia pikir aku akan memaafkannya seperti biasanya? Tapi dia salah. Karena malam ini, saat dia tidur di sampingku, pikiranku bukan padanya. Pikiranku pada Nathaniel. Pada sentuhannya. Pada janjinya. Dan pada balas dendam yang akan segera datang. Tak lama notif ponselku berbunyi, ternyata pesan dari Nathaniel. "Datanglah ke kamarku pukul 12 malam dan jangan lupa memakai gaun hitam itu. Ingatlah sayang, kau tidak bisa mundur lagi dan jangan buat aku kecewa ~~Ayah mertua kesayanganmu."Beberapa jam kemudian, kami sudah berada di dalam jet pribadi menuju London. Di depanku, Nathaniel duduk dengan wajah tegang, sesekali menatap layar ponsel yang menampilkan update kondisi Derek dari rumah sakit.Aku menggenggam tangannya di atas sandaran kursi. Jari-jarinya dingin, kaku, tapi dia tidak menariknya pergi. Justru dia membalas genggamanku."Kau belum makan sejak siang," kataku.Nathaniel menggeleng singkat. "Tidak selera.""Aku tahu tapi kau butuh tenaga. Kau tidak akan berguna untuk Derek kalau kau sendiri tumbang."Dia menoleh ke arahku."Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan," kataku."Aku hanya mengatakan apa yang kau butuhkan untuk dengar."Aku memanggil pramugari dan meminta sup hangat serta roti panggang. Nathaniel mengerutkan kening, tapi aku menatapnya dengan tatapan yang tidak menerima penolakan. Akhirnya dia menurut. Dia makan perlahan, beberapa suap, lalu berhenti tapi setidaknya ada warna yang kembali ke wajahnya.Setelah pesawat mencapai ketinggian jelaja
Kami masih duduk di pasir yang hangat ketika suara langkah kaki terdengar dari arah villa.Aku menoleh. Seorang pria berpakaian rapi, kemeja putih dan celana chino, sedang berjalan cepat mendekati kami. Wajahnya familiar. Itu Marcus, asisten pribadi Nathaniel yang biasanya selalu berada di belakang layar. Kali ini dia tampak terburu-buru, dahi berkilat oleh keringat.Nathaniel langsung menegakkan tubuh. Lengannya yang semula melingkar di perutku perlahan melepaskan diri.“Marcus? Ada apa?”Marcus berhenti beberapa langkah di depan kami. Dia menunduk singkat sebagai salam, lalu menatap Nathaniel dengan wajah yang jelas membawa berita buruk.“Maaf mengganggu bulan madu Anda, Sir, tapi ini penting. Saya baru menerima telepon dari London.”Nathaniel tidak bilang apa-apa. Hanya menunggu.Marcus menarik napas. “Derek mengalami kecelakaan mobil tadi malam. Dia sekarang bekerja sebagai sopir taksi. Mobilnya ditabrak dari samping di persimpangan dekat East London. Kondisinya kritis. Sekarang m
Keesokan harinya matahari sudah tinggi ketika aku membuka mata.Nathaniel masih di sampingku, tapi kali ini dia sudah bangun lebih dulu. Dia duduk di tepi ranjang dengan handuk dililitkan di pinggang, rambut basah menandakan dia baru selesai mandi. Saat merasakan aku bergerak, dia menoleh dan tersenyum.“Pagi, istriku,” sapaannya pelan. “Staf sudah siapkan sarapan di teras. Ayo turun sebelum telur dadarnya dingin.”Aku mengangguk, masih semi mengantuk. Tubuhku terasa lega dan sedikit pegal setelah semalam. Nathaniel membungkuk, mencium keningku sebentar, lalu membantu ku bangun. Kami mandi cepat secara terpisah kali ini—dia bersikeras aku memakai gaun putih longgar yang menutupi tubuhku dengan baik sebelum turun.Di teras, meja sudah ditata indah. Buah-buahan tropis segar, telur dadar keju, roti panggang, yogurt, dan dua cangkir kopi yang masih mengepul. Laut di depan kami tenang, ombak kecil pecah di pantai berpasir putih dengan suara yang menenangkan.Nathaniel menarik kursi untukku
Setelah berjalan di pantai hingga matahari mulai condong ke barat, kami kembali ke villa. Nathaniel tidak banyak bicara, tapi tangannya selalu menemukan cara untuk menyentuhku, di pinggang saat menaiki tangga, di punggung saat aku menuangkan air minum, di leher saat aku tertawa mendengar lelucon kecilnya tentang staf yang terlalu formal.Makan malam disiapkan di teras yang sama. Lampu-lampu kecil digantung di antara tiang kayu, membuat suasana terasa intim. Kami makan perlahan, saling menyuapi sesekali, tertawa pelan. Tidak ada pembicaraan berat. Hanya tentang ombak, tentang bintang yang mulai muncul, tentang betapa anehnya merasa bebas setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang nama Voss.Ketika piring terakhir diangkat staf, Nathaniel berdiri dan mengulurkan tangan.“Naik,” katanya. Aku tahu apa artinya.Nathaniel melepas kemeja linennya pelan, lalu menarikku mendekat. Ciumannya kali ini berbeda, lebih dalam, lebih penuh rasa syukur. Seolah dia ingin mengucapkan terima ka
Aku terbangun saat matahari sudah tinggi.Nathaniel masih di sampingku, tapi kali ini dia sudah bangun. Dia duduk bersandar di sandaran ranjang, satu tangan memegang ponsel, tangan lainnya masih memegang pinggangku seolah tidak rela melepaskan.Saat merasakan aku bergerak, dia menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya yang masih sedikit mengantuk.“Pagi, istriku.”Suara itu rendah dan serak. Aku tersenyum malu, wajahku masih menempel di dadanya.“Pagi…”Nathaniel meletakkan ponselnya di meja, lalu menarikku lebih dekat hingga tubuhku hampir menindihnya. Bibirnya menempel di dahiku, lalu turun ke pelipis, lalu ke ujung hidungku.“Kau tidur nyenyak?”Aku mengangguk. “Karena kau di sini.”Dia tertawa pelan. Getaran suaranya terasa di dada yang menempel padaku.“Bagus aku memikirkan apa yang kau katakan tadi malam.”Aku menegang sedikit. “Tentang anak?”“Hmm.” Nathaniel mengusap punggungku pelan. “Aku serius, Sera. Aku tidak menikahimu untuk mendapatkan penerus. Aku menikahimu karena aku i
Malam sudah larut ketika aku membuka mata. Jam di meja samping ranjang menunjukkan pukul setengah dua.Nathaniel tidur telentang, satu lengan terlipat di bawah bantal, lengan lainnya masih melingkar longgar di pinggangku seolah bahkan dalam tidur pun dia takut melepaskanku. Rambut hitamnya berantakan di atas dahinya. Bulu mata panjangnya menorehkan bayangan lembut di tulang pipi. Bibirnya sedikit terbuka. Dia terlihat sangat tampan. Lebih tampan daripada saat dia berdiri di altar siang tadi, lebih tampan daripada saat dia mengisiiku di sofa, lebih tampan daripada semua foto yang pernah muncul di majalah bisnis.Aku menatapnya lama sekali.Pelan-pelan aku melepas lengannya dari pinggangku. Dia bergumam pelan tapi tidak bangun. Aku turun dari ranjang, kaki telanjang menyentuh lantai kayu yang agak dingin. Lemari terbuka. Di dalamnya sudah tersedia beberapa gaun yang dipersiapkan staf villa. Aku memilih yang paling sederhana, gaun tidur sutra berwarna champagne, tipis, longgar di bagi







