“Apa kamu punya kenalan seorang detektif?” tanya Bryan kepada salah satu pengawalnya.
Pengawal itu mengangguk pelan “Tentu saja, Pak.”
“Good. Hubungi dia segera. Suruh dia untuk menemui saya di kantor.”
“Baik, laksanakan, Pak.”
Karena hari ini Bryan merasa frustasi di rumah, Bryan memutuskan pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah tertumpuk dari kemarin. Banyak berkas-berkas yang harus dia periksa dan tanda tangani.
Bryan menyuruh agar lima orang pengawalnya itu untuk tetap di rumah, menjaga Nina dari segala kemungkinan ancaman yang ada.
“Berikan senjatamu,” ucap Bryan singkat, padat, dan jelas.
“Heh, maksudnya, Pak?”
“Saya tau di balik jasmu ada sebuah pistol. Berikan cepat!”
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa menyerahkannya kepada Bapak. Warga sipil tidak diperbolehkan untuk memegang senjata, Pak.”
&ldquo
“Ya, benar, Pak. Sebelumnya mereka adalah seorang tersangka kasus pembunuhan berencana. Mereka dijatuhi hukuman penjara 20 tahun. Tapi hanya formalitas. Karena mereka sebenarnya tidak mendekam di penjara, melainkan kabur ke luar negeri. Selama lima tahun terakhir, mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya agar jejak mereka tidak terlacak oleh polisi. Dari informasi yang saya dapat, dua tahun yang lalu Melissa menghabiskan waktunya di Amerika. Sedangkan Alex menetap di pedalaman daerah Taiwan. Dan dua minggu yang lalu mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan tinggal bersama di villa tersebut.”Bryan semakin geram mendengar penjelasan yang diberikan oleh detektif itu. Dia membatin. 'Jadi selama ini mereka tidak pernah mendekam di penjara? Mereka justru hidup bebas di luar negeri? Setelah apa yang mereka lakukan padaku waktu itu, mereka malah keliling dunia dan bahkan menikah siri. Dan bertahun-tahun lamanya, mereka kembali lagi ke Indon
“Apa kamu punya kenalan seorang detektif?” tanya Bryan kepada salah satu pengawalnya.Pengawal itu mengangguk pelan “Tentu saja, Pak.”“Good. Hubungi dia segera. Suruh dia untuk menemui saya di kantor.”“Baik, laksanakan, Pak.”Karena hari ini Bryan merasa frustasi di rumah, Bryan memutuskan pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah tertumpuk dari kemarin. Banyak berkas-berkas yang harus dia periksa dan tanda tangani.Bryan menyuruh agar lima orang pengawalnya itu untuk tetap di rumah, menjaga Nina dari segala kemungkinan ancaman yang ada.“Berikan senjatamu,” ucap Bryan singkat, padat, dan jelas.“Heh, maksudnya, Pak?”“Saya tau di balik jasmu ada sebuah pistol. Berikan cepat!”“Maaf, Pak. Saya tidak bisa menyerahkannya kepada Bapak. Warga sipil tidak diperbolehkan untuk memegang senjata, Pak.”&ldquo
Tujuh hari berlalu, sikap Nina masih sama. Nina masih sering termenung dan lebih banyak berdiam diri. Hal ini membuat Bryan merasa sedih. Bahkan kadangkala saat Bryan berusaha menyentuh Nina, tangannya itu langsung ditepis begitu saja. Dan juga setiap malam, Nina selalu meminta Bryan agar tidur di kamar yang berbeda. Nina merasa takut dan gugup saat harus seranjang dengan seorang lelaki, meskipun lelaki itu adalah suaminya sendiri.Dan malam ini, pukul sebelas. Bryan sengaja masuk mengendap-endap ke dalam kamarnya sendiri. Bryan membuka pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Bryan melihat bahwa istrinya itu sudah tertidur lelap di ranjangnya. Bryan tersenyum tipis. Ingin sekali rasanya ikut rebah di ranjang yang sama. Bryan bosan tidur sendirian. Dia ingin menghabiskan malamnya dengan tidur sambil memeluk tubuh sang istri erat-erat.“Semoga saja kamu tidak terbangun,” gumam Bryan pelan saat dirinya sudah merebahkan diri di samping istrinya. Bry
Berhubung hari ini Bryan tidak ada pertemuan penting dan juga tidak ada jadwal check up di rumah sakit, Bryan memutuskan untuk tetap stay di rumah, menemani sang istri yang kesepian.Akhirnya mereka sampai juga di kamar. Bryan langsung menyuruh Nina untuk beristirahat lagi. “Kamu tidurlah lagi. Kalau sudah saatnya makan siang, aku akan membangunkanmu.”Nina menggeleng pelan. Sepertinya dia enggan untuk beristirahat lagi, mengingat dirinya yang kemarin telah tertidur panjang.Bryan menatap wanitanya yang tampak lesu. Ditatapnya Nina yang kembali merenung.“Nina, kamu bosan? Kita ke taman saja yuk. Taman di samping rumah. Kita duduk-duduk di sana sembari minum teh. Siapa tau dengan begitu, pikiran kamu bisa tenang.”Nina hanya mengangguk. Mereka lalu berjalan berdampingan menuju taman di samping rumah. Dua orang pengawalnya pun ikut melangkah bersama mereka. Sementara dua lainnya berjaga di depan rumah. Dan satunya lagi berjaga di depan gerbang, bers
Bryan kembali mengunjungi Nina saat anak-anaknya sudah berangkat. Bryan selalu setia menunggu Nina di depan ruangan ICU hingga malam tiba. Sedetik pun Bryan tidak pernah beranjak dari kursi yang didudukinya itu. Bryan duduk termenung sembari menghilangkan rasa penat yang ada. Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan itu, membuat Bryan harus berdiri dan meninggalkan rasa penatnya di sana.“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Bryan, berharap ada kemajuan mengenai kondisi istrinya.“Detak jantung pasien sudah mulai stabil. Semoga semuanya baik-baik saja. Obat tidur yang pasien minum semoga tidak mempengaruhi jantungnya lagi.”Bryan menghela napas merasa lega. “Jadi istri saya sudah pulih sepenuhnya kan, Dok?” tanya Bryan memastikan.Dokter itu menggeleng pelan. “Belum, Pak. Seperti yang saya katakan sebelumnya, selama pasien belum sadarkan diri, serangan jantung bisa menyerang pasien kapan saja,” jelas dokter
Mendengar suara anaknya yang berbicara sembari terisak membuat Fredrinn tanpa lama mengiyakan permintaan itu. “Oke, oke. Papa terbang ke Jakarta sekarang.”Menggunakan super jet pribadinya, Fredrinn pun terbang dari Kuala Lumpur menuju Jakarta untuk menemui Bryan.Dalam kurun waktu yang singkat, Fredrinn pun tiba di rumahnya itu, rumah yang sudah diwariskan kepada anaknya sendiri.Dahi Fredrinn berkerut melihat semua pintu yang ada dan juga jendela semuanya tertutup rapat. “Apa yang telah terjadi di sini?” gumamnya bertanya-tanya.Tidak pakai lama, pintu utama pun terbuka. Tampak Bi Cholifah yang berdiri di ambang pintu, mempersilakan Fredrinn masuk.“Di mana Bryan?” tanya Fredrinn tanpa basa-basi.“Tuan Bryan sudah menunggu Bapak di ruang tengah,” jawab ART itu sopan.Fredrinn lalu melangkah dengan cepat menuju ruang tengah. Dia melihat Bryan yang tampak lesu di sofa dengan wajahnya yan
Setelah menekan tombol emergency berulang kali, satu orang dokter dan dua perawat berlari kecil memasuki ruangan tersebut.“Dok, tolong istri saya segera! Dia overdosis obat tidur,” jelas Bryan panik. Dia masih berusaha membangunkan Nina dengan mengguncang-guncang tubuh istrinya itu.“Silakan Bapak keluar dulu ya. Biar kami bisa melakukan pemeriksaan terhadap pasien,” suruh suster.“Tidak! Saya tetap di sini. Saya tidak akan ke mana-mana sebelum istri saya sadar!” tolak Bryan. Dia enggan melepaskan tubuh istrinya dari dekapannya.“Tolong kerjasamanya, Pak. Bapak menghambat kami dalam menangani pasien kalau begini.”Bryan pasrah dan akhirnya keluar dari ruangan. Bryan terlihat gusar menunggu di depan ruangan VVIP itu. Berjalan mondar-mandir tidak bisa tenang, berharap istrinya baik-baik saja. Jantungnya terasa ikut berdebar cemas. Sorot matanya terlihat sayu.Bryan kembali menyalahkan dirinya se
“Hey, Nina. Dengarkan aku. Aku bukan orang jahat. Aku Bryan Lawrence. Aku suamimu. Aku pria yang menikahimu. Jangan takut padaku. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku tidak akan menyakitimu. Justru aku ingin melindungimu.”Kepala yang tadinya menunduk ketakukan kini mendongak. Nina memperhatikan Bryan dengan mata penuh kalbu. “S-suami? Melindungiku?”Bryan mengangguk. “Iya, benar. I’m your husband and I wanna protect you.”Seperti ada kelegaan saat mendengar kalimat lembut dari suaminya. Melihat wajah tampan itu berada di kamar bersamanya, membuatnya sedikit tenang. Beban hidup, guncangan, rasa trauma seakan menghilang saat Bryan mendekatinya dan memeluk tubuhnya yang tidak lagi suci, sudah dijamah banyak lelaki.“Jangan pernah tinggalkan aku sendirian lagi. Jangan pernah,” gumam Nina lirih.“I promise, sweetheart. I’ll never leave u again. Apa pun yang terjadi, aku akan berada di sis
Alex berjongkok, mengarahkan miliknya ke mulut wanita yang saat ini terbaring lemah tak berdaya. Tentu saja Nina memberikan perlawanan ketika mulutnya dipaksa untuk mengulum benda itu.“Buka mulutnya!” Alex memberi perintah kepada salah satu anak buahnya.Dan akhirnya, berhasil juga Alex memasukkan asetnya ke dalam mulut Nina. Sesekali Nina harus tersedak saat benda itu memenuhi rongga mulutnya. Sungguh, Alex merasakan sensasi luar biasa ketika kepala Nina yang dituntun oleh tangannya maju mundur dengan teratur sampai-sampai mengabaikan Nina yang kewalahan di bawah sana.“Ouhh, yeaah, baby. Gilaa… kulumanmu luar biasa. Pantas saja Bryan betah,” puji Alex sembari mengerang kenikmatan.Alex pun memberi perintah lagi kepada anak buahnya untuk melucuti pakaian Nina secara paksa.“J-jangan! Jangan lakukan ini!” pinta Nina memelas dengan penuh air mata.Alex memaksa Nina agar membuka kakinya lebar-lebar.