LOGINPaginya, Numa terbangun setelah semalam dia dan sang suami kembali berhubungan setelah sekian lama. Akan tetapi, kesenangan semu itu harus sirna ketika dia tak mendapati Ozkhan di sisinya.
"Dia bangun sepagi ini?"
Perasaan Numa kembali kesal, karena dia pikir akan ada adegan romantis yang berlanjut saat dia membuka mata. Namun, Ozkhan justru sudah tak ada di kamarnya.
"Semalam dia benar-benar berbeda. Dia seperti bukan Ozkhan yang
"Di hadapan Tuhan dan para saksi, aku 'Ozkhan' dan 'Shanum', bersumpah untuk setia dan mencintai satu sama lain, dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, sepanjang hidup kami... "Aku Ozkhan berjanji untuk mencintaimu, menghormatimu, dan mendukungmu, dalam segala hal, sepanjang hidupku, seperti yang Tuhan ajarkan dalam Kitab Suci." Tangan Ozkhan kian erat menggenggam tangan Shanum, maniknya yang memanas, dan berkaca-kaca menatap wanita di hadapan dengan cinta berkali-kali lipat. Shanum yang merasakan hal serupa seperti suaminya, menimpali, "Aku Shanum berjanji untuk mencintaimu, menghormatimu, dan mendukungmu, dalam segala hal, sepanjang hidupku, seperti yang Tuhan ajarkan dalam Kitab Suci." Suaranya bergetar menahan tangis. Tangis kebahagiaan atas segala limpah kasih sayang Tuhan yang telah memberinya pasangan sebaik Ozkhan. "Kami berdua berjanji untuk membangun rumah tangga yang harmonis, berdasarkan cinta, kasih sayang, dan kesetiaan, serta untuk menghormati dan mematuhi Tuha
"Bagaimana hasil sidangnya?" Ozkhan terlihat dari layar ponsel Shanum, yang saat ini sedang melakukan panggilan video. Pria itu sedang berada di kamar hotel tempatnya menginap di Dubai. Sudah tiga hari dia berpisah dengan sang istri. "Puji Tuhan, Ozkhan. Semua bukti-bukti yang diserahkan sangat membantu. Dan kamu tahu, apa yang terjadi di ruang sidang tadi?" Shanum bangkit, lalu duduk bersila di atas ranjang. Baju tidur bahan satin bertali tipis mempertontonkan setiap lekukan tubuhnya. "Apa?" Rasa ingin tahu Ozkhan tak lebih besar daripada keinginannya membawa Shanum bergelung di ranjang sampai pagi. Apalagi saat disuguhi pemandangan indah dan erotis seperti ini. Dan lagi-lagi dia hanya bisa menarik panjang napas ketika harus menahan diri. "Mantan notaris ayahku datang dengan membawa barang bukti lainnya. Senjata api yang digunakan tuan Ahmed pada malam itu." Pada saat menceritakannya, raut Shanum sedikit muram. Namun, setelah itu binar bahagia terpancar dari bola matanya.
Perjalanan menuju yayasan hanya diisi oleh kekosongan dan kebungkaman Shanum. Setelah beberapa saat lalu Ozkhan memberi pengakuan yang sangat mengejutkan. Tidak. Hal itu tidak hanya mengejutkan Shanum. Melainkan menumbuhkan rasa sesak di dada wanita itu. Hingga pada saat Ozkhan menegur, Shanum hanya berkata, 'Aku tidak tahu harus berkomentar apa soal ini, Ozkhan. Mungkin aku butuh waktu untuk mencernanya.' Tanggapan Shanum terlalu datar dan membuat rasa bersalah Ozkhan makin besar. Ozkhan tahu jika istrinya ini sedang terluka. Hanya dari mendengar nada bicaranya saja, pria itu sudah bisa merasakan. Dan Ozkhan tidak ingin membuat Shanum kian terluka dengan mengabaikannya. Maka dia pun meraih jemari istrinya, mengisi kekosongan dengan kehangatan telapak tangannya, sambil mengendalikan roda kemudi dengan tangannya yang lain.. Kehangatan itu perlahan merambat ke hati Shanum, yang reflek mengalihkan pandangannya ke genggaman tangan Ozkhan di atas pangkuan. Shanum berkedip, menghal
Hampir menjelang malam perayaan kecil-kecilan itu akhirnya selesai. Rona bahagia belum sirna dari raut masing-masing orang yang meninggalkan ruang VIP itu. Ozkhan menyuruh Pedro mengantar ibunya Shanum kembali ke Panti, sedangkan Murat diperintah untuk mengantar nyonya Jihan. Sementara itu, Gul, Sira, Esme dan Elis menginap di hotel, dan akan baru pulang ke rumah esok hari. "Aku ke atas dulu." Shanum pamit pada Ozkhan yang nampaknya hendak mengobrol dengan Hakkan. Ozkhan mengizinkan sang istri untuk naik ke kamar mereka lebih dulu. Dipeluknya Shanum sambil berkata, "Istirahatlah dulu dan tunggu aku." Sebelah matanya mengerling nakal, dan pastinya disaksikan oleh Hakkan yang hanya geleng-geleng kepala sambil mendengkus. Shanum hanya mengulum senyum, malu dengan Hakkan yang saat ini sedang memerhatikan tingkah Ozkhan, yang belakangan ini agak mesum. Dia langsung memilih pergi dari tempat itu. Satu cangkir espresso panas dan satu cangkir teh hijau baru saja diletakkan di atas
Semenjak Shanum menginjakkan kakinya di tempat mewah ini, isi kepala wanita itu tak berhenti memikirkan tindakan Ozkhan, yang rupanya benar-benar akan menagih janjinya. Bayangkan saja, di siang menjelang sore hari seperti ini, pria itu hendak mengajaknya bercinta, bahkan sampai menyewa kamar hotel. 'Pria ini, benar-benar tidak sabaran.' Batin Shanum sambil melirik Ozkhan, yang sangat posesif mengamit pinggangnya. Harusnya mereka mendatangi kafe atau restoran, bukannya hotel mewah. Apalagi saat ini perut Shanum mulai terasa lapar. Helaan panjang berembus dari bibir wanita, yang kini sudah berstatus nyonya Ozkhan itu. "Sebenarnya kita mau ke mana, Ozkhan? Kenapa kamu malah membawaku ke sini? Alih-alih ke restoran?" Pada akhirnya, pertanyaan itu pun meluncur dari mulut Shanum, membuat Ozkhan seketika menghentikan langkahnya. Reflek, langkah Shanum pun berhenti. Mendongak, dengan sepasang alis yang menaut, dia bertanya, "Ada apa, Ozkhan?" Yang ditanya justru tersenyum, lalu
Semuanya berjalan dengan lancar sesuai dengan perkiraan Ozkhan. Lelaki itu rupanya sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari. Bahkan sebelum Shanum berniat membantu mengurus sekolah Gul. Mulai dari dokumen dari pihak mempelai wanita, dan persetujuan orang tua. Mulai hari ini, dia dan Shanum telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dan mereka tinggal melakukan pemberkatan di gereja saat Ozkhan kembali dari Dubai. Tentunya, dengan pesta meriah dan mewah. Kendati pernikahan ini merupakan pernikahan kali kedua untuk mereka. Baik dari Shanum maupun Ozkhan. Namun, pria itu berniat menciptakan momen yang tak terlupakan bagi Shanum saat di pesta nanti. "Silakan disimpan salinan dokumen ini. Jangan sampai hilang." Petugas pria memberikan berkas salinan kepada sepasang pengantin baru itu. "Nanti, Anda bisa kembali lagi ke sini untuk memperbarui setelah melakukan pemberkatan." "Baik. Terima kasih." Ozkhan mengambil berkas tersebut, lalu menyerahkannya ke Shanum. "Simpanlah." Sha
[Malam ini saya berencana pulang ke rumah. Saya sudah meminta Elis untuk menemani kamu, di apartemen. Kamu tidak keberatan 'kan?]Sederet pesan singkat dari Ozkhan, membuat Shanum tersenyum lega. Pasalnya, dia sama sekali tidak merasa keberatan dengan rencana atasannya itu. Shanum justru senang kar
Numa berdeham, menelan ludah lalu bertanya, "Ozkhan, apa benar kamu membeli apartemen dan mobil baru?" Perhatian Ozkhan sontak teralihkan karena pertanyaan Numa. Pria itu menatap sang istri dengan sorot penuh makna. Raut datarnya tak menampakkan ekspresi sedikit pun. Dalam hal ini Ozkhan perlu ber
"Tuan..." Shanum menyusul keluar lantaran dia kepikiran perihal Hakkan yang rupanya sudah tidak berada di unitnya. Shanum hanya melihat keberadaan Ozkhan yang sedang duduk di mini bar. Ozkhan menoleh ke arah Shanum yang melangkah mendekat. "Shanum, kenapa kamu keluar kamar?" tanyanya seraya berge
Ditinggal libur selama beberapa hari untuk merawat Shanum, nyatanya tidak membuat Ozkhan keteteran dengan pekerjaannya. Selama ada Emir dan bawahan lainya, Ozkhan hanya menerima beres. Usaha Ozkhan pun membuahkan hasil. Calon investor dari Dubai memberikan kabar yang sudah tiga hari ini dia tunggu







