LOGINPagi itu, ruang makan kediaman Keluarga Permata dipenuhi aroma kopi dan roti panggang. Tuan Tua Wangsa duduk di ujung meja panjang, membaca koran. Nadya di sebelah kanannya. Tante Ratih di seberang, mengenakan blus putih berkerah tinggi, rambutnya kembali disanggul rapi. Joko melangkah masuk dan langsung merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Wanita yang semalam menggigit bantal di ranjangnya kini duduk tegak dengan cangkir teh di tangan. Anggun. Tenang. Seolah tak terjadi apa-apa. "Pagi, Joko," sapa Tante Ratih datar, sekadar sopan. "Pagi, Tante." Hanya itu. Tak ada lirikan, tak ada senyum yang berlebihan. "Hebat," batin Joko sambil menarik kursi di samping Nadya. "Dua belas tahun pura-pura bahagia di depan semua orang. Ternyata itu latihan yang bagus." Nadya menatap wajahnya, lalu mengerutkan kening. "Kamu kelihatan capek. Semalam gak tidur?" Joko hampir tersedak kopinya. "Memulihkan energi," jawabnya cepat. "Pengobatan kemarin lebih berat dari yang kukira." Di seberang
Pertanyaan itu menggantung di udara. "Tante tahu siapa yang ada di depan Tante?" tanya Joko pelan. "Pria yang punya banyak wanita. Termasuk keponakan Tante sendiri." "Aku tahu." Tante Ratih tidak mundur. "Aku gak minta kamu memilihku, Joko. Dua belas tahun aku tidur di sisi ranjang yang dingin. Aku cuma ingin tahu, apa aku masih bisa diinginkan." Kepala Joko bekerja cepat. Putri Tuan Tua Wangsa. Tante Nadya. Wanita bersuami dari keluarga yang baru membukakan pintu untuknya. "Kalau ketahuan, aku kehilangan banyak hal," batinnya. "Tapi kalau aku menolak sekarang, dia akan kembali jadi patung porselen seumur hidupnya." Joko meletakkan cangkirnya di meja. "Kunci pintunya, Tante." === Tante Ratih mengunci pintu dengan tangan gemetar. Saat dia berbalik, Joko sudah berdiri tepat di belakangnya. "Kamu gemetar," bisik Joko. "Sudah lama sekali. Aku lupa harus mulai dari mana." "Gak perlu ingat." Senyum nakal terlukis di bibir Joko. "Malam ini Tante cukup jadi murid yang baik." Dia m
Ruangan di sayap timur itu hening. Hanya bunyi mesin medis yang terus berdetak pelan."Bisa dihilangkan?" tanya Nadya lirih.Joko menatap kedua tubuh itu cukup lama sebelum menjawab."Bisa. Tapi gak gampang." Dia menghela napas. "Kalau benangnya kutarik paksa, benang itu akan merobek jalur di sekitarnya. Mereka bisa langsung meninggal. Jadi harus dipotong satu per satu pakai jarum, sambil aku melindungi jantung mereka dari dalam.""Berapa lama?" tanya Tante Ratih."Benangnya puluhan. Paling cepat dua minggu."Dokter Clara yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Aku gak bisa melihat benang itu. Tapi aku bisa melihat jantung dan otak mereka di monitor. Kalau ada yang memburuk, aku orang pertama yang tahu."Joko menoleh, lalu tersenyum tipis. "Itu yang paling aku butuhkan, Dokter."Di ambang pintu, Tuan Tua Wangsa berdiri dengan tangan terkepal di balik punggung. "Orang yang melakukan ini, seberapa kuat dia?"
Dokter Clara berjalan cepat menyusuri lorong kediaman Keluarga Permata. Langkah sepatunya bergema di lantai marmer.Pikirannya kacau.Selama ini, dunianya sederhana. Tubuh manusia adalah mesin biologis yang rumit. Setiap penyakit punya penyebab. Setiap luka punya waktu sembuh yang bisa diprediksi. Semuanya bisa diukur, dihitung, dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.Dia lulus dari fakultas kedokteran terbaik di luar negeri di usia dua puluh dua tahun. Menyelesaikan spesialis di usia dua puluh enam. Puluhan jurnal medis memuat namanya. Rumah sakit-rumah sakit besar berebut merekrutnya.Dan pagi ini, semua pengetahuannya itu dipermalukan oleh seorang pemuda yang berkata dia "memperbaiki diri".Tiga tulang rusuk retak tidak mungkin menyempit separuh dalam satu malam. Itu melanggar semua hukum biologi yang dia pahami.Dia berhenti di depan ruang kerja Tuan Tua Wangsa, lalu mengetuk pintu."Masuk."Dokter Clara melangkah masuk. Tuan Tua Wangsa duduk di balik meja kayunya, ditemani Tuan Tua S
Kamar itu kembali hening setelah ucapan Tuan Tua Suryo. Nadya menggenggam tangan Joko erat-erat. "Kek... separuh meridiannya rusak... apa itu artinya..." "Kalau gak segera ditangani, kultivasinya bisa hancur," jawab Tuan Tua Suryo pelan. "Paling buruk, dia gak akan bisa berlatih bela diri lagi seumur hidup." Isak tangis kembali pecah. Mona menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sinta memeluk Ayu erat-erat. Bahkan Nyonya Desi memalingkan wajahnya ke arah jendela, rahangnya mengeras. Pintu kamar terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah cepat dan tegas. Usianya sekitar akhir dua puluhan. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Dia mengenakan jas dokter putih di atas kemeja biru muda, sebuah tas medis tergantung di bahunya. Wajahnya cantik, tapi dingin. Sorot matanya tajam, seperti orang yang terbiasa menilai segalanya dengan angka dan data. "Dokter Clara," sapa Tuan Tua Wangsa. "Tuan Tua," balas wanita itu si
Tuan Besar menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, menatap pedang hitam di genggaman Joko. Ukiran-ukiran emas di bilahnya bersinar semakin terang, berdenyut pelan seperti jantung yang baru terbangun. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, raut wajah pria tua itu berubah. "Pedang apa itu?" gumamnya. Joko tidak mendengar pertanyaan itu. Dia terlalu sibuk mendengar suara lain. Suara yang menggema di dalam kepalanya. "Tubuhmu terlalu lemah, bocah," ucap suara itu, dalam dan dingin. "Darahmu memang darah Aksa. Tapi kekuatanmu belum layak memegangku." "Siapa kau?" tanya Joko dalam hati. "Belum waktunya kau tahu namaku." Hening sejenak. "Tapi aku tak akan membiarkan darah Aksa mati di tangan sampah seperti dia. Satu tebasan. Hanya itu yang bisa kuberikan sekarang. Setelah itu, tubuhmu akan menanggung akibatnya." Joko menggenggam gagang pedang itu lebih erat. "Satu tebasan sudah cukup." === Begitu kalimat itu terucap di dalam benaknya, gelombang energi meledak dari p
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







