FAZER LOGINDokter Clara berjalan cepat menyusuri lorong kediaman Keluarga Permata. Langkah sepatunya bergema di lantai marmer.Pikirannya kacau.Selama ini, dunianya sederhana. Tubuh manusia adalah mesin biologis yang rumit. Setiap penyakit punya penyebab. Setiap luka punya waktu sembuh yang bisa diprediksi. Semuanya bisa diukur, dihitung, dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.Dia lulus dari fakultas kedokteran terbaik di luar negeri di usia dua puluh dua tahun. Menyelesaikan spesialis di usia dua puluh enam. Puluhan jurnal medis memuat namanya. Rumah sakit-rumah sakit besar berebut merekrutnya.Dan pagi ini, semua pengetahuannya itu dipermalukan oleh seorang pemuda yang berkata dia "memperbaiki diri".Tiga tulang rusuk retak tidak mungkin menyempit separuh dalam satu malam. Itu melanggar semua hukum biologi yang dia pahami.Dia berhenti di depan ruang kerja Tuan Tua Wangsa, lalu mengetuk pintu."Masuk."Dokter Clara melangkah masuk. Tuan Tua Wangsa duduk di balik meja kayunya, ditemani Tuan Tua S
Kamar itu kembali hening setelah ucapan Tuan Tua Suryo.Nadya menggenggam tangan Joko erat-erat. "Kek... separuh meridiannya rusak... apa itu artinya...""Kalau gak segera ditangani, kultivasinya bisa hancur," jawab Tuan Tua Suryo pelan. "Paling buruk, dia gak akan bisa berlatih bela diri lagi seumur hidup."Isak tangis kembali pecah. Mona menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sinta memeluk Ayu erat-erat. Bahkan Nyonya Desi memalingkan wajahnya ke arah jendela, rahangnya mengeras.Pintu kamar terbuka.Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah cepat dan tegas. Usianya sekitar akhir dua puluhan. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Dia mengenakan jas dokter putih di atas kemeja biru muda, sebuah tas medis tergantung di bahunya.Wajahnya cantik, tapi dingin. Sorot matanya tajam, seperti orang yang terbiasa menilai segalanya dengan angka dan data."Dokter Clara," sapa Tuan Tua Wangsa."Tuan Tua," balas wanita itu singkat sambil me
Tuan Besar menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, menatap pedang hitam di genggaman Joko. Ukiran-ukiran emas di bilahnya bersinar semakin terang, berdenyut pelan seperti jantung yang baru terbangun. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, raut wajah pria tua itu berubah. "Pedang apa itu?" gumamnya. Joko tidak mendengar pertanyaan itu. Dia terlalu sibuk mendengar suara lain. Suara yang menggema di dalam kepalanya. "Tubuhmu terlalu lemah, bocah," ucap suara itu, dalam dan dingin. "Darahmu memang darah Aksa. Tapi kekuatanmu belum layak memegangku." "Siapa kau?" tanya Joko dalam hati. "Belum waktunya kau tahu namaku." Hening sejenak. "Tapi aku tak akan membiarkan darah Aksa mati di tangan sampah seperti dia. Satu tebasan. Hanya itu yang bisa kuberikan sekarang. Setelah itu, tubuhmu akan menanggung akibatnya." Joko menggenggam gagang pedang itu lebih erat. "Satu tebasan sudah cukup." === Begitu kalimat itu terucap di dalam benaknya, gelombang energi meledak dari p
Angin menderu di telinga Joko.Dia melesat di atas atap-atap rumah, melompati gedung demi gedung, menembus jalan-jalan sempit dengan Langkah Bayangan. Energi di tubuhnya terkuras cepat, tapi dia tidak peduli.Sambil terus bergerak, dia menekan nomor Sonya."Jagoanku!" Suara Sonya langsung terdengar panik. "Aku di mobil kedua! Mobil Bila sama Rinda dihadang di Jalan Layang Sudirman! Aku lihat dari belakang! Ada pria tua... dia sendirian menghentikan mobil pakai tangan kosong!""Kamu di mana sekarang?""Aku, Nadya, Lana, sama Ayu ikut turun! Nadya bilang kita gak boleh ninggalin mereka! Tapi orang-orangnya banyak, Jagoanku! Mereka—"Suara benturan keras terdengar. Lalu jeritan Sonya. Sambungan terputus.Joko menggertakkan giginya sampai rahangnya terasa sakit. Dia mengerahkan sisa energinya, melesat lebih cepat lagi.Jalan Layang Sudirman. Tiga kilometer lagi.===Jalan layang itu sudah ditutup di kedua ujungnya. Beberapa mobil hitam melintang menghalangi jalan, dijaga pria-pria berpaka
Pintu depan Vila Bintang terbuka lebar. Puluhan Pendekar Keluarga Jery yang sedang menyerbu masuk melalui halaman depan langsung menghentikan langkah mereka. Di ambang pintu, seorang pemuda berdiri santai dengan kedua tangan di saku celana. Joko. Salah satu Master Keluarga Jery, pria berkumis tebal dengan bekas luka di pipi kiri, menyipitkan matanya. "Kau... kenapa kau ada di sini? Kau seharusnya di acara peluncuran." "Tadi memang di sana," jawab Joko santai. "Sekarang di sini. Kenapa? Kaget?" Ketiga Master itu saling pandang. Wajah mereka berubah. "Jebakan," desis Master kedua, pria botak bertubuh gempal. "Tenang," potong Master ketiga, yang paling tua di antara mereka, berambut abu-abu dengan sorot mata tajam. "Dia cuma sendirian. Kita bertiga. Bunuh dia sekarang, lalu cari wanita-wanitanya." Joko tersenyum tipis. "Siapa bilang aku sendirian?" Sebuah bayangan hitam melesat dari jendela samping vila. Sebelum para Pendekar sempat bereaksi, dua di antaranya sudah terpental, me
Malam sebelum peluncuran.Sebuah minivan hitam berhenti di belakang Vila Bintang, jauh dari jalan utama. Lampunya dimatikan.Satu per satu, Sinta, Tante Lestari, Sumi, Rara, dan Mona keluar dari pintu belakang vila dengan tas kecil di tangan. Mereka berjalan cepat tanpa suara, lalu masuk ke dalam minivan itu.Joko berdiri di dekat pintu mobil, memastikan semuanya masuk dengan selamat."Sopirnya orang kepercayaan Tuan Tua Wangsa," ucap Joko pelan. "Kalian langsung dibawa ke kediaman Keluarga Permata. Jangan keluar dari sana sampai aku sendiri yang menjemput."Sinta menatapnya dari balik jendela mobil yang terbuka. Matanya berkaca-kaca."Joko, janji kamu gak akan kenapa kenapa!"Joko tersenyum, lalu mengusap pipinya dengan ibu jari. "Janji."Mona menjulurkan kepalanya dari kursi belakang. "Kalau kamu sampai luka, aku gak mau ngomong sama kamu seminggu!""Iya, iya," Joko tertawa pelan.Tante Lestari hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Tapi sorot matanya cukup menjelaskan semuanya.Ra
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







