LOGINGang di belakang Butik Aurelia sempit dan lembap. Tempat sampah besar berjajar di sepanjang dinding, bau sisa makanan bercampur air comberan menyengat hidung. Di ujung gang, sebuah sedan hitam menunggu dengan mesin menyala. Sopirnya mengetuk-ngetukkan jari di kemudi dengan gelisah. Pintu tangga darurat terbuka dengan keras. Rico keluar sambil menyeret Sonya. Lengan kirinya masih melingkar erat di leher wanita itu, pistol di tangan kanannya menempel di pelipis Sonya. Darah dari pelipis Rico sendiri sudah mengering, meninggalkan garis merah gelap di pipinya. "Jalan," desisnya. Sonya menyeret kakinya, sengaja memperlambat langkah. Sepatu hak tingginya sudah terlepas satu. "Kamu tahu apa yang bakal Joko lakukan ke kamu?" ucapnya dengan suara serak karena cekikan di lehernya. Rico tertawa. "Gak ada. Kakek bilang, orang di atas melarang siapa pun menyentuh Joko. Jadi aku gak akan menye
Butik Aurelia berdiri di ujung Jalan Kenari, kawasan belanja paling mewah di pusat Ibu Kota. Bangunannya tiga lantai, dindingnya kaca dari lantai dasar sampai atap, dengan papan nama emas yang berkilau di bawah matahari siang. Pukul sebelas, lantai dua butik itu sudah diubah menjadi studio foto. Lampu-lampu sorot berdiri di setiap sudut. Fotografer, penata rias, dan beberapa staf Butik Aurelia sibuk berlalu-lalang. Rinda berdiri di depan latar putih dengan gaun sutra biru tua. Kamera berkilat berkali-kali. "Dagunya sedikit naik, Nona Rinda. Ya, begitu. Sempurna!" Rinda tersenyum ke arah lensa. Tapi matanya sesekali melirik ke arah pintu tangga. Di dekat pintu itu, Nyonya Desi berdiri bersandar di dinding dengan tangan terlipat, mengenakan setelan hitam sederhana. Wajahnya datar, tapi matanya terus bergerak, menyapu setiap orang yang masuk dan keluar. Sonya duduk di kursi di samping penata rias,
Pukul sepuluh pagi, sebuah minibus tua berwarna biru pudar berhenti di depan gerbang Vila Bintang. Pintunya terbuka dengan bunyi berderit. Sebelas pria turun satu per satu, membawa tas-tas besar di bahu. Kaus mereka lusuh, sandal jepit mereka tipis, tapi tubuh mereka tegap dan berotot. Pria terdepan berdiri mematung di depan gerbang, menatap bangunan megah di baliknya dengan mulut setengah terbuka. "Seno," bisiknya tanpa menoleh. "Ini beneran rumah Bos?" Seno berdiri di sampingnya, sama melongonya. "Kayaknya kita salah alamat, To." Gerbang terbuka. Joko berjalan keluar dengan kedua tangan di saku celana, tersenyum lebar. "Kalian telat setengah jam." "Bos!" Darto langsung melepas tasnya dan berlari menghampiri. Dia hampir memeluk Joko, lalu berhenti di tengah jalan, kikuk, seolah baru sadar dia sedang berdiri di depan vila seharga ratusan miliar. Akhirnya dia hanya membungkuk dala
Kediaman Keluarga Andika berdiri megah di atas bukit di sisi timur Ibu Kota. Malam itu, lampu-lampu di sayap timurnya menyala sampai larut. Di sebuah ruangan berlantai kayu, Tuan Besar Jery duduk bersila di atas tikar rotan. Lengan baju kirinya terlipat kosong. Wajahnya keras, napasnya teratur, matanya terpejam. Pintu geser terbuka. Seorang pria berusia enam puluhan melangkah masuk. Tubuhnya tinggi, rambutnya disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan tradisional abu-abu gelap. Wajahnya tenang, nyaris ramah. Tapi auranya menekan seisi ruangan seperti udara sebelum badai. Darmawangsa Andika. Kepala Keluarga Andika. Di belakangnya, seorang pria muda berusia akhir dua puluhan menyusul masuk sambil memainkan cincin di jarinya. Wajahnya tampan, senyumnya malas. Tuan Muda Andika. Tuan Besar Jery membuka matanya. "Pilku?" Darmawangsa Andika duduk di kursi di seberangnya, menyilangkan
Pagi itu, Bila turun ke dapur lebih awal dari biasanya. Dia berhenti di ambang pintu. Feli berdiri di depan kompor, mengenakan celemek bermotif bunga milik Sinta. Dua wajan menyala sekaligus. Di meja makan, belasan piring sudah tertata rapi, lengkap dengan roti panggang dan buah potong. Feli menoleh. Tangannya yang memegang spatula membeku. "Bila..." Bila melangkah masuk tanpa menjawab. Dia menuang kopi ke cangkir, lalu bersandar di meja dapur, menatap Feli yang kembali sibuk dengan wajannya. "Kamu bangun jam berapa?" tanya Bila akhirnya. "Jam empat." "Buat apa?" Feli mematikan kompor. Dia menunduk, menatap telur dadar di wajan. "Aku gak bisa apa-apa di sini. Gak bisa bertarung, gak ngerti bisnis. Cuma ini yang bisa aku lakukan." Bila menyesap kopinya pelan. Hening cukup lama. "Kenapa dulu kamu ikut dia, Fel?" Feli terdiam. Lalu dia melepas celemeknya pelan, melipatnya di atas meja. "Kamu tahu aku dari mana, Bil. Kontrakan sempit. Ibu jualan gorengan. Utang di mana-mana."
Ferrari Joko meluncur menuruni jalur parkir Mal Grand Senja dengan ban berdecit. Basemen dua gelap. Hanya beberapa lampu darurat yang menyala, memantulkan cahaya kekuningan di lantai beton yang lembap. Di ujung basemen, sebuah sedan putih terparkir sendirian. Dua mobil hitam berhenti mengapitnya, lampu depannya menyorot tajam ke arah sedan itu. Enam pria berdiri mengelilingi sedan putih. Salah satunya mengayunkan tongkat besi ke kaca jendela belakang. Prang! Kaca itu retak membentuk jaring laba-laba. Dari dalam mobil, terdengar jeritan tertahan. Joko menginjak rem. Ferrari-nya berhenti melintang beberapa meter dari mereka. Keenam pria itu menoleh bersamaan, menyipitkan mata karena silau lampu Ferrari. Joko turun dari mobil dan menutup pintunya pelan. "Malam-malam begini," ucapnya santai, "kalian gak punya kerjaan lain selain memecahkan kaca mobil wanita?" Pria bertubuh paling besar melangkah maju, tongkat besi di tangannya. "Bukan urusanmu. Pergi sebelum kepalamu ik
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







