Mag-log inTak terasa hari Sabtu pun tiba...."Sayang, kalian yakin gak mau ikut?" tanya Joko sambil menatap Ayu, Lana, Sinta, dan Mona.Joko tampak sedang sibuk memasukkan semua keperluannya ke dalam koper. Keempat wanita cantik itu sibuk membantunya."Nggak ah. Kalau kita ikut liburan, pasti nanti beritanya bocor ke para warga. Para bocah itu pasti gak akan bisa tutup mulut," balas Sinta."Hmm, ya sudah. Kalian mau di bawakan apa?" tanya Joko."Terserah kamu saja. Kamu gak bawa apa-apa pun gak masalah. Yang penting, kamu pulang dengan selamat," balas Ayu dengan lembut."Hehe, aku mau liburan ~ bukan mau perang," Joko menggosok kepala Ayu. "Tetap saja kamu harus berhati-hati!" tegas Ayu dengan wajah cemberut."Oke... oke. Ya sudah, kalau nanti ada barang bagus, aku pasti bawakan buat kalian," ucap Joko.Beberapa saat kemudian, mobil Joko melaju pergi meninggalkan rumah Lana. ===Tadi malam, Rian memberi tahu Joko kalau besok akan berkumpul di depan jalan keluar kampung. Saat Joko sampai di s
Joko dan Lana tidak pulang ke rumah. Joko membawa Lana ke markas kelompok Darto. Setibanya di sana, Darto dan kelompoknya tampak sangat antusias dan langsung mengerumuni Joko dan Lana."Bang.... akhirnya kamu punya waktu datang ke sini," ucap Darto. "Ayo... duduk Bang, Nona Lana," undang Darto."Ayo kalian juga duduk lagi saja!" Joko duduk dan Lana duduk di sampingnya. Setelah semua orang duduk, Joko berbicara. "Gimana dengan latihan kalian?" tanyanya sambil menatap kelompok Darto."Hehe, kita sangat rajin Bang. Kita sekarang sepertinya sudah jauh lebih kuat!" balas Seno."Benar kata Seno. Semua yang di ajarkan Abang sudah hampir kita pelajari semuanya," tambah Darto.Dengan kemampuan sekarang, Joko bisa merasakan dengan jelas seberapa kuat kelompok Darto.Mata Joko menatap Darto. "Pendekar tahap awal," matanya beralih ke Seno. "Pendekar tahap awal. Lumayan, lumayan." Mendengar ucapan Joko, Darto dan yang lainnya termasuk Lana menjadi kebingungan."Bang, apa itu pendekar tahap awal
Keesokan harinya.Warga kampung di buat heboh saat melihat rumah Joko di bongkar oleh para pekerja konstruksi. Banyak warga berkerumun untuk melihat proses pembongkaran itu.Joko berada di sana bersama Lana. Dia ingin melihat detik-detik rumah lamanya di robohkan.Berbagai kenangan di masa lalu saat dia bersama keluarga, kini bermunculan di pikirannya. Perasaan masam memenuhi hatinya, perasaan itu membuat matanya sedikit basah."Ibu, Ayah, Kakek. Aku akan membangun kembali rumah peninggalan kalian menjadi rumah yang paling bagus di kampung ini. Kalau kalian melihatnya di atas sana, semoga kalian suka dengan rumah yang aku buat," gumamnya di dalam hati.Lana melirik Joko. Melihat sorot mata pria itu yang mengandung kesedihan, dia diam-diam memeluknya ~ untuk berusaha memberikan kenyamanan.Para warga menjadi sangat yakin kalau Lana adalah pacar Joko setelah melihat wanita itu memeluk Joko dengan eratnya.Banyak pria yang iri kepada Joko, bagaimana pun wanita yang sangat menawan seperti
Setelah mengeluarkan batangnya dan melepaskan kain renda tipis yang menutupi apem Sinta, Joko menempelkan batangnya di apem wanita itu lalu menggesekkannya. "Ahhh... ahh..." Desahan merdu keluar dari mulut Sinta, dengan tubuh yang sedikit bergetar. "Bikin becek dulu sayang!" pinta Sinta dengan suara sedikit serak. "Itu pasti. Biar masuknya gampang," balas Joko dengan nada main-main. Meski sedang di mainkan Joko, Sinta masih terus memasak makanan itu. Ayu tidak berniat membantu Sinta, karena dia ingin tahu apa Sinta bisa terus memasak sambil menikmati sensasi bercinta.Setelah di rasa cukup basah, Joko perlahan menusukkan batangnya. "Mmmm..." Sinta melenguh panjang.Perlahan ujung batang besar itu tenggelam masuk. Namun, baru juga masuk beberapa senti ke dalam, Joko berhenti saat mendengar suara ponsel dari arah Ayu."Maaf sayang, ada yang menelepon nih. Tahan dulu yah," ucap Ayu dengan nada main-main, sambil memperlihatkan layar ponselnya.Joko mengangguk. Ayu mengangkat t
Di keesokan harinya, di siang hari, Joko pergi meninggalkan hotel. Sebelum pergi, dia memberi tahu Bila kalau dia juga akan pergi ke ibu kota. Bila tentu saja sangat gembira saat mendengar kabar itu. Bahkan dia sempat ingin tinggal beberapa hari bersama Joko dan akan pulang bersama nanti ke ibu kota. Namun, ada job pemotretan di ibu kota yang membuatnya terpaksa mengurungkan niatnya. Baru saja Joko sampai di rumahnya, Mona mengabarinya kalau dia ingin pindah ke rumah Lana. Joko mandi terlebih dahulu, setelah itu dia pergi menemui Mona di rumahnya. Sampai di sana, Mona menyambutnya dengan tingkah genit dan manja. "Sayang, kamu datang," ucapnya sambil bergelayut manja. Joko memeluk wanita itu. "Kamu yakin mau pindah?" tanyanya dengan ekspresi serius. "Yakin. Kan bentar lagi juga kita pergi ke ibu kota. Urusan kebunku sudah selesai, jadi aku gak punya urusan lagi," balas Mona. "Baiklah kalau gitu. Mobilmu bawa saja ke rumah Lana. Nanti, setelah kita di ibu kota aku akan menyewa
Saat Joko hendak melanjutkan ke ronde ke empat, Bila buru-buru menghentikannya. Terlihat, nafas wanita itu sangat berat dan kelelahan sudah mulai terlihat dari raut wajahnya. "Kak, su-sudah dulu... istirahat bentar yah," ucapnya. Joko terkekeh nakal. "Hehe, oke... oke." Joko menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Bila menghampirinya, lalu menyandarkan tubuhnya di dada bisa Joko. "Kak, kamu moster yah? Kok bisa kuat banget sih? Kakak pakai obat yah?" Bila melemparkan beberapa pertanyaan secara langsung sambil menatap Joko dengan tatapan curiga. "Nggak kok. Ini memang kelebihanku!" balas Joko dengan ekspresi angkuh. "Huh, sudahlah. Aku gak peduli, yang penting aku sekarang sangat puas!" ucap Bila sambil melingkarkan tangannya di leher Joko. Joko mengambil rokok miliknya, mengeluarkannya satu batang, lalu menyalakannya. "Kak, aku mau dong!" pinta Bila. Joko menghembuskan asap. "Kamu juga merokok?" tanyanya sambil mengangkat alisnya. Bila mengangguk dengan ekspresi ma
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal







