Home / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 399 Simpul Terakhir

Share

Bab 399 Simpul Terakhir

Author: Tristar
last update publish date: 2026-10-29 13:00:00

Pukul sembilan pagi, sayap timur kediaman Keluarga Permata dijaga ketat.

Enam penjaga Keluarga Permata berdiri di lorong. Dua ahli baru dari Keluarga Lintang berjaga di taman. Nyonya Desi duduk di atas atap, matanya menyapu tembok-tembok kediaman tanpa berkedip.

Di dalam ruangan, jendela yang pecah sudah diganti kaca baru.

Dokter Clara berdiri di depan monitor dengan wajah kaku. Dia baru tahu soal serangan semalam saat tiba pagi t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 402 Kepergok Nadya

    "Nadya, Tante bisa jelaskan..." "Jangan di sini, Tante." Suara Nadya pelan, tapi dingin. Dia meletakkan kedua cangkir cokelat di meja kecil di lorong, lalu menatap tantenya. "Tante kembali ke kamar. Besok pagi kita bicara." Tante Ratih membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia melirik Joko sekilas, lalu berjalan cepat melewati Nadya tanpa berani menatap wajahnya. Begitu langkah Tante Ratih menghilang di tikungan lorong, Nadya menoleh ke arah Joko. "Kamu. Masuk." === Nadya menutup pintu kamar tamu di belakangnya, lalu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Joko duduk di tepi ranjang. Dia tidak mencoba membela diri. "Sejak kapan?" tanya Nadya. "Malam pertama setelah aku mulai mengobati Ayahmu." "Siapa yang mulai?" Joko terdiam sejenak. "Itu gak penting. Aku bisa menolak, tapi aku gak men

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 401 Terimakasih Yang Berbahaya

    Tepat tengah malam, pintu kamar tamu terbuka pelan. Tante Ratih masuk dengan gaun tidur satin berwarna biru tua dan kardigan tipis. Rambutnya tergerai. Dia menutup pintu, lalu menyandarkan punggungnya di sana. "Kamu gak tidur," ucapnya. "Ada yang bilang mau berterima kasih," balas Joko dari tepi ranjang. "Mana bisa aku tidur." "Kamu sudah hapus pesanku?" "Sudah." "Bagus." Tante Ratih menghela napas. "Tadi sore aku menangis di depan semua orang waktu Kak Haris menyebut namaku. Untung semua orang juga menangis." "Aku lihat." "Kamu memperhatikanku?" "Aku selalu lihat Tante," jawab Joko santai. "Itu kalimat yang berbahaya, Joko." "Kenapa?" "Karena aku bisa percaya." Tante Ratih melirik ke arah langit-langit. "Lampu kamar Nadya masih menyala waktu aku lewat tadi." "Tengah malam begini? Sebentar l

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 400 Nama Yang Di Panggil

    Sore itu, langit di atas kediaman Keluarga Permata berwarna jingga keemasan. Di sayap timur, tak seorang pun mau meninggalkan ruangan. Nadya duduk di antara dua ranjang, satu tangan menggenggam tangan ayahnya, satu lagi menggenggam tangan ibunya. Tuan Tua Wangsa duduk di kursi dengan kedua tangan bertumpu di atas tongkat. Tante Ratih berdiri di belakang Nadya, mengusap bahu keponakannya sesekali. Dokter Clara memantau monitor tanpa henti. Sejak siang, aktivitas otak kedua pasiennya terus naik. Pelan, tapi pasti. Joko berdiri di dekat jendela, sedikit menjauh. Tubuhnya lelah, tapi dia tidak mau tidur. Tidak sekarang. Pukul lima lewat sepuluh, jemari ayah Nadya bergerak di genggaman putrinya. Nadya menahan napas. Kelopak mata pria itu bergetar, lalu terbuka perlahan. Pandangannya kabur, menatap langit-langit tanpa fokus. Lalu matanya bergerak, mencari, dan berhenti di wajah gadis yang duduk di sa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 399 Simpul Terakhir

    Pukul sembilan pagi, sayap timur kediaman Keluarga Permata dijaga ketat. Enam penjaga Keluarga Permata berdiri di lorong. Dua ahli baru dari Keluarga Lintang berjaga di taman. Nyonya Desi duduk di atas atap, matanya menyapu tembok-tembok kediaman tanpa berkedip. Di dalam ruangan, jendela yang pecah sudah diganti kaca baru. Dokter Clara berdiri di depan monitor dengan wajah kaku. Dia baru tahu soal serangan semalam saat tiba pagi tadi. Sejak melihat perban di lengan, paha, dan pipi Joko, dia belum mengucapkan sepatah kata pun. "Dokter," panggil Joko. "Tiga belas benang," potong Dokter Clara tanpa menoleh. "Tujuh di tubuh Tuan Haris, enam di tubuh istrinya. Lalu dua simpul. Urutannya sudah aku siapkan." "Kamu marah?" Dokter Clara akhirnya menoleh. Matanya merah di balik kacamata. "Kamu bertarung melawan pembunuh dalam k

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 398 Tato Bulan Merah

    Sosok berpakaian hitam itu tidak menaruh jarumnya. Dia justru melemparkannya. Jarum hitam itu melesat ke arah jendela yang pecah, lurus menuju ranjang ayah Nadya, secepat peluru. Tapi Joko lebih cepat. Langkah Bayangan yang dulu terasa berat kini mengalir ringan seperti napas. Tubuhnya menghilang dari tengah taman dan muncul di depan jendela dalam sekejap. Tangannya terulur, dan jarum hitam itu terjepit di antara dua jarinya, sejengkal dari bingkai jendela. Dingin jarum itu menusuk kulitnya. Tapi energi putih keemasan di jemarinya langsung membakarnya. Jarum hitam itu retak, lalu hancur menjadi serpihan abu. Joko berbalik perlahan. Sosok berpakaian hitam itu sudah mundur beberapa langkah. Benang-benang hitam di sekelilingnya berputar liar, tidak lagi teratur seperti tadi. "Kau..." desisnya. Joko melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 397 Benang Yang Menjerat

    Nyonya Desi bergerak lebih dulu. Dia melesat ke arah sosok kedua seperti anak panah yang dilepas dari busurnya. Belati melengkung itu menyambar ke arah wajahnya, tapi Nyonya Desi memiringkan kepala, membiarkan bilahnya lewat sehelai rambut di depan hidungnya, lalu menghantamkan siku ke rusuk lawannya. Bunyi tulang retak terdengar jelas di tengah sunyinya malam. Pertarungan mereka bergeser menjauh ke arah pepohonan, meninggalkan Joko berhadapan dengan sosok berbenang hitam di tengah taman. === "Wanita itu lumayan," ucap sosok berpakaian hitam, melirik sekilas ke arah Nyonya Desi. "Sayang, dia gak akan bisa menolongmu." Benang-benang hitam di sekelilingnya berputar semakin cepat. Puluhan helai, setipis rambut, tapi setajam bilah pedang. Joko menarik napas dalam-dalam. Energinya tinggal sedikit. Kalau terus begini, dia tidak akan bertahan lama. Dia memu

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 4 Bu Tika Lebih Berani

    Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 3 Goda Wanita Bersuami

    Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 2 Memiliki Hasrat Besar

    Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status