MasukTuk, tuk, tuk! "Astaga... siapa sih yang dateng?" Buru-buru Satria menarik dan memakai kembali celananya yang sudah melorot sampai ke paha. "[Sayang, kenapa?]" tanya Rain yang menampilkan tubuh telanjangnya di seberang panggilan video tersebut. "Ada yang ngetuk pintu, Sayang. Mute bentar, terus tutupin badan kamu!" kata Satria, meminta Rain untuk menonaktifkan suara panggilkan itu dan juga menyelimuti tubuhnya. Mendengar perkataan Satria, mengerucut bibir Rain. Menyebalkan, padahal lubang miliknya sudah mulai basah dan becek. Namun, wanita hamil itu tetap menurut pada Satria. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Sedangkan Satria, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha menahan gejolak hasrat yang membuat napasnya memburu serta batangan di balik celana boxer itu mengeras dan menonjol. Tuk, tuk! Dengan langkahnya yang malas, Satria melangkah menuju pintu dan membukanya, melihat siapa yang mengganggunya. Begitu pintu terbuka,
Jam menunjukkan pada pukul tujuh malam, Rain yang saat ini berada di kediaman utama, tepatnya rumah peninggalan mendiang orang tuanya itu tampak berbaring di atas ranjang king size kamarnya. Wanita yang saat ini sedang hamil muda itu memegangi ponsel yang layarnya menyala di tangannya. Layar terang benda pipih itu menunjukkan nomer Satria. "Kemana sih? Kok di telepon jam segini gak diangkat. Apa iya dia udah tidur?" gerutu Rain dengan bibirnya yang maju-maju. Beberapa hari tak melihat wajah Satria, rasanya begitu rindu pada sosok pemuda pemuas hasratnya itu. "Jangan-jangan dia lagi sama cewek lain sekarang makanya teleponku gak di angkat?" Pikiran-pikiran buruk itu mulai menyerang otak Rain. Ia berpikiran negatif pada Satria yang baru beberapa jam tak merespon chatnya. Beberapa saat kemudian, ponsel di yang ada di dalam genggaman tangannya berdering nyaring, menampilkan panggilan dari Satria.Bibir Rain seketika tersenyum. Dengan cepat ia menggeser tombol hijau yang ada di layar
"Sa-sa-satria, ka-ka-kamu...." Satria yang mencengkram lengan adiknya, menatap ke arah wanita berpakaian kurang bahan yang menyebutkan namanya dengan kalimat tergagap. Wanita itu adalah Nabila, gadis yang beberapa waktu lalu bertemu dengan Satria di toko buku. Dan, gadis itu juga yang membuat Satria tak jadi mencari buku yang dibutuhkannya untuk bekal kembali kuliah. "Sa-sa-satria, di-di-dia si—" "Dia adik saya," jawab Satria. Memotong cepat kalimat Nabila sebelum sempat di selesaikan. Mendengar jawaban Satria, gadis bermulut bau itu meneguk ludah dengan kasar. Jika tahu remaja dekil itu adalah adik dari Satria, mana mungkin ia akan bersikap kasar dan memakinya."Be-be-beneran dia adik kamu?" tanya Nabila, menunjuk Atika yang nyaris menangis di samping Satria. Satria mengangguk, lalu menatap wajah adiknya yang memerah. "Kamu dipukul, kenapa?" Atika yang ditanya, menggigit bibir dan menggeleng pelan. Ia menunduk, takut dimarahi oleh abangnya itu. "Tika, Abang tanya sama kamu!
Keluar dari rumah sakit, Satria benar-benar mengajak ibu dan ketiga adiknya berbelanja ke supermarket."Kalian boleh ambil apa yang kalian mau, asal gak berisik dan gak bikin masalah!" Satria yang mendorong kursi roda Bu Yohana, berbicara pada adik-adiknya yang berjalan di depannya. Mendengar perkataan Satria, ketiga bocah itu tersenyum dan mengangguk dengan kompak. Mereka pun melangkah memasuki supermarket dan berkeliling, memilih makanan dan barang yang mereka inginkan sesuai dengan perkataan abang mereka. "Bang Danu, Ayu mau ice cream, snack dan coklat yang itu!" Ayu yang berjalan di belakang Danu, menunjuk ke dalam lemari pendingin. "Abang juga mau ice cream dan yang itu!" Kedua bocah itu asik memilah dan memilih jajanan yang mereka inginkan. Sedangkan Atika melangkah menuju rak yang berisi barang-barang kosmetik dan kecantikan. Gadis itu mengambil liptin dan juga cream wajah, serta minyak wangi yang harganya terjangkau. Meskipun hidup pas-pasan, ia ingin terlihat cantik se
Satria yang pergi dari area taman, menyusuri lorong rumah sakit dengan langkahnya yang lebar, menuju ruangan VIP tempat ibunya berada dan ketiga adiknya yang sudah menunggu sejak tadi. Tiba di depan ruangan VIP, Satria mendorong pintunya perlahan dan melangkah masuk. Baru saja melangkah masuk, pemuda gigolo privat itu langsung di sambut oleh pertanyaan adik tertuanya. "Dari mana aja, Bang? Katanya cuman sebentar, kok lama banget?" Atika bertanya sembari menatap Satria yang melangkah mendekat. "Ketemu temen dan bahas kerjaan," kata Satria berdusta. Pemuda itu melangkah mendekati ibunya yang duduk bersandar di atas ranjang pasien, lalu mencium lembut pipinya. Cup! "Ibu kangen gak sama aku?" tanya Satria pada Bu Yohana sambil mendaratkan bokongnya di pinggiran ranjang pasien. Bibir pemuda itu tersenyum kecil, membuat Bu Yohana ikut-ikutan tersenyum. "Kangen dong, Ibu kangen kalian semua dan juga kangen rumah," jawab Bu Yohana. Suaranya yang pelan, kini sudah benar-benar jelas.
Cukup lama Satria menemani Nyonya Laras di taman rumah sakit, bahkan menyuapi makan wanita dalam gangguan jiwa itu sampai kenyang. Tak ingin membuat ketiga adiknya kebingungan dan terlalu lama menunggu, Satria pun izin pergi pada Nyonya Laras. "Ma, aku pergi dulu ya, ada kerjaan penting yang harus diurus. Nanti kalau kerjaannya udah selesai, aku bakal datang lagi nemenin Mama," kata Satria. Berbicara pelan dan lembut pada wanita gangguan jiwa itu. Nyonya Laras mengangkat wajahnya, menatap Satria yang berpamitan pergi dengan tatapan matanya yang sendu. "Mama gak boleh ikut?" kata Nyonya Laras tak kalah pelan, menunjukkan jika ia tak mau ditinggalkan. Melihat gurat kesedihan yang tergambar jelas di wajah wanita separuh baya itu, Satria mengulas senyum. Lalu tangannya bergerak, menggenggam erat jemari Nyonya Laras dengan erat. "Aku kan mau kerja, Ma. Lagipula Mama juga lagi sakit, harus di rawat di sini biar cepet sembuh. Gini aja, nanti kalau udah beneran sembuh, aku bakalan ajak







