แชร์

125. PPPN

ผู้เขียน: Callme_Tata
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-20 11:17:20

Tuk, tuk, tuk!

"Astaga... siapa sih yang dateng?"

Buru-buru Satria menarik dan memakai kembali celananya yang sudah melorot sampai ke paha.

"[Sayang, kenapa?]" tanya Rain yang menampilkan tubuh telanjangnya di seberang panggilan video tersebut.

"Ada yang ngetuk pintu, Sayang. Mute bentar, terus tutupin badan kamu!" kata Satria, meminta Rain untuk menonaktifkan suara panggilkan itu dan juga menyelimuti tubuhnya.

Mendengar perkataan Satria, mengerucut bibir Rain. Menyebalkan, padahal lubang
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   174. PPPN

    Di sepanjang perjalanan pulang ke kediaman utama Wijaya, Tasya tak henti-hentinya mengumpat dan memaki Andrean yang menurutnya benar-benat tak tahu diri. Sudah diangkat derajatnya dari kemiskinan, tetapi tetap saja besar kepala dan menyalahkan Rain karena telah menutupi identitasnya. Bahkan, menganggap jika semua yang didapatkannya murni hasil kemampuannya sendiri. "Cuih! Beneran gak tahu diri mantan suami kamu itu. Dia kira bisa sukses tanpa kamu dan perusahaan Wijaya Grup! Lihat aja, besok aku bakal nyuruh ayah buat mutusin kerja sama perusahaan, biar tahu rasa dan tahu diri dia!" Mendengar umpatan dan makian Tasya di sepanjang jalan, Rain yang mengemudi itu pun dibuat pusing. Ingin sekali rasanya ia menyumpal mulut sahabatnya itu agar tidak berisik. "Awas aja, kalau ketemu lagi, bakal kuludahin mukanya yang jelek itu!" kata Tasya menggebu-gebu."Udah deh, Sya. Bisa diem gak sih? Kepalaku pusing denger makian kamu yang gak ada habisnya." Dipinta diam oleh Rain, mengerucut bibir

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   173. PPPN

    "Tunggu!"Satria yang baru berjalan beberapa langkah, seketika menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Dokter Bagas yang berjalan mendekat ke arahnya. Melihat Dokter Bagas mendekat, kening Satria spontan berkerut. Pikirnya, mau apalagi Dokter separuh baya itu?"Ada apa, Dok?" tanya Satria. Sedangkan sepasang matanya masih saja menatap Dokter Bagas yang berhenti satu langkah dari posisinya berada. Dokter Bagas yang ditanya, tak memberikan jawaban. Yang ada, tangannya justru memanjang ke arah kepala Satria.Disentuh kepalanya, tubuh Satria seakan mengecil. Bahkan keningnya semakin berkerut, dan wajahnya tertunduk. Tubuh pemuda gigolo privat itu seketika menegang, bahkan lebih tegang dari miliknya yang berada di balik celana jin yang dipakainya. "Haih, pasti kerjaan Nyonyah Laras." Dokter Bagas berbicara sembari mengambil sesuatu dari kepala Satria, lalu menyodorkan telapak tangannya pada pemuda tersebut. Di telapak tangan pria separuh baya itu terdapat sebuah jepit rambut

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   172. PPPN

    "Kalau aku jujur dari awal, apa yang bakal kamu lakuin? Hmm! Bakal bersikap baik sama aku? Atau—" Rain menjeda kalimatnya, sedangkan sepasang matanya menatap Andrean dengan tatapan yang sulit diartikan. Gluk! Melihat tatapan mata dan juga ekspresi Rain yang menurutnya menyeramkan, Andrean meneguk ludah dengan bersusah payah. Niatnya menghampiri wanita itu sebelumnya karena ingin meminta penjelasan dan juga membuat mantan istrinya merasa bersalah. Tetapi sekarang, dirinya malah dibuat ketakutan. "Kenapa aku baru sadar sekarang kalau aura Rain bener-bener menakutkan? Aku pikir selama ini dia lemah lembut dan gak bisa apa-apa," batin Andrean menjerit panik. Jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Saking cepatnya, seperti mau melompat keluar dari tempatnya berada. Perlahan, Andrean menganggukkan kepalanya. "Kalau aku tahu dari awal, aku gak bakal berani nyakitin kamu dan bersikap lancang. Mama juga gak akan kasar dan pasti bakal sayang banget sama kamu." Rain

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   171. PPPN

    Siang itu, Rain yang di temani Tasya, pergi ke salah satu mall dan berbelanja. Wanita hamil itu memilihkan kemeja untuk Satria yang akan kembali masuk kuliah mulai minggu depan. "Yang ini bagus gak sih, Sya?" Rain bertanya pada Tasya sembari menunjukkan sebuah kemeja berwarna hijau. Tasya yang ikut memilih dan memilah pakaian itu menggeleng. Tak suka dengan warna kemeja yang ditunjukkan oleh sahabatnya. "Gak bagus?" Kepala Tasya kembali menggeleng, "Perasaan bocah itu gak pernah pakai warna kayak gitu deh, Rain. Mendingan beliin kemeja warna kesukaannya, atau warna hitam biar kelihatan macho!" Mendengar perkataan Tasya, bibir Rain mengerucut. Entah kenapa, ia tiba-tiba menginginkan kemeja tersebut. Namun, karena sahabatnya mengatakan tidak bagus, ia pun meletakkan kemeja tersebut kembali ke tempatnya semula. Lalu pilihannya jatuh pada kemeja warna hitam polos yang ditunjuk Tasya sebelumnya. "Ini kan yang bagus?" kata Rain masih dengan bibirnya yang cemberut. Tasya mengangguk,

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   170. PPPN

    "Oiya, Dokter, maaf kalau saya lancang. Sebenarnya kenapa keadaan Nyonya itu bisa sampai seperti itu?" Satria yang penasaran dengan penyebab ibunya bisa sampai berakhir di rumah sakit jiwa, berusaha mengulik informasi dari Dokter Bagas. Di samping Satria, Dokter Bagas yang baru saja mengirimkan pesan singkat pada seseorang, tersenyum seraya menyimpan kembali ponselnya. "Pertanyaan yang bagus!" kata Dokter tersebut. "20 tahun yang lalu, Nyonya Laras yang baru pulang dari rumah sakit bersama bayinya, mengalami kecelakaan yang di sengaja seseorang. Dari kecelakaan itu, Nyonya Laras kehilangan bayinya dan saat ditemukan Tuan Arya, keadaannya sekarat bahkan sempat mengalami koma selama 11 sebelas hari. Dan— setelah bangun, keadaannya kayak gitu!" lanjutnya, menjelaskan semua yang ia tahu pada Satria.Mendengar penjelasan Dokter Bagas, kedua tangan Satria terkepal erat di atas paha. Air mukanya seketika berubah pucat, tak menyangka jika nasib ibunya begitu buruk. "Terus gimana sama suam

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   169. PPPN

    "Apa perempuan ini yang Ibu maksud?" Satria menyodorkan layar ponselnya yang menyala pada Bu Yohana. Di mana layar ponsel mahal itu menampakkan foto Satria bersama Nyonya Laras yang tersenyum lebar di taman rumah sakit. Melihat foto tersebut, melotot lebar mata Bu Yohana. Tak menyangka jika Satria sudah lebih lebih bertemu dengan ibu kandungnya. Wanita separuh baya itu termangu. Sepasang matanya menatap pada foto Satria dan Nyonya Laras yang terlihat begitu bahagia. "Perempuan ini bukan, Bu?" tanya Satria lagi lantaran tak mendapatkan jawaban dari ibunya. "Ka-ka-kamu kenal sama dia, Sat? Sejak kapan kamu deket sama dia?" tanya Bu Yohana yang tersadar dari lamunannya. Tangannya menunjuk foto yang tampil di layar ponsel Satria. Satria merespon pertanyaan Bu Yohana dengan anggukkan kepala. Ternyata, wanita asing pernah di tolongnya adalah ibu kandungnya sendiri. Pantas saja rasanya begitu dekat dengan wanita tersebut. "Sekitar sebulan setengah yang lalu, aku gak sengaja nolong per

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status