Masuk"Sialan banget tuh si gigolo, bisa-bisanya nolak gue!" Siska yang kembali ke kamarnya, tak henti-hentinya mengumpati Satria yang telah menolaknya. Umpatan wanita itu, membuat Mira yang keluar dari kamar mandi dengan tubuh polos berbalut handuk dan rambut basah itu mengerutkan kening. Ia menatap pada Siska yang terlihat begitu kesal. "Kenapa kamu? Katanya tadi mau nyamperin Satria, kok udah balik?" tanyanya. Ditanya, Siska mendengus keras dan menjatuhkan tubuhnya di pinggiran kasur dengan kasar. "Munafik! Dia nolak aku mentah-mentah," kata Siska dengan suara tertahan dan terdengar jengkel. Mendengar perkataan Siska, Mira terkekeh kecil. "Hehe, terus?" tanyanya lagi. Di tertawakan oleh Mira, rasa kesal di hati Siska semakin bertambah. "Tadi aku nawarin bayaran tiga kali lipat sama dia, tapi tetap aja di tolak," kata Siska. "Mbak Rain juga, katanya bakalan pulang malem dan mungkin nginep di rumah suaminya. Tapi ternyata malah balik dan mergokin aku sama Satria!" Mira yang semula
Brak! "Satria, Siska, apa yang kalian lakukan?" Bantingan pintu yang diiringi suara keras tetapi bernada dingin milik Rain, membuat Satria yang dipeluk paksa oleh Siska itu terkesiap. Begitu pula dengan Siska yang langsung melerai pelukannya. Wanita itu tak menyangka jika Rain yang sebelumnya berpamitan pergi akan kembali secepat itu. "Nyo-nyo-nyonya...." sebut Satria dengan suaranya yang tergagap. Dengan kasar, Satria mendorong tubuh Siska dan mendekati Rain yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajahnya yang datar. "Nyonya, sa—" "Mbak Rain kok udah pulang? Katanya tadi bakalan pulang malem," kata Siska. Memotong cepat kalimat yang hendak diucapkan oleh Satria. Wajah wanita itu memerah. Ia terlihat salah tingkah dan juga gugup, takut pada Rain yang tiba-tiba kembali. "Kenapa? Gak suka lihat saya pulang?" tanya Rain. Nada bicaranya yang datar dan dingin, membuat Siska menundukkan kepalanya. "Kamu! Ngapain aja sama Siska?" alihnya pada Satria. Rain bertanya pada Satria
"Satria...." Suara lembut Siska yang tangannya mengusap dada Satria, spontan membuat pemuda itu membuka mata. Bahkan, tangan Satria bergerak, menahan pergelangan wanita itu. Ia yang semula memejamkan mata dan hampir terlelap, kini melotot dengan ekspresi kagetnya. "Astaga, ngapain Mbak di sini?" tanya Satria. Suaranya yang biasanya soft dan terdengar menenangkan, kini nadanya agak sedikit meninggi. Melihat ekspresi dan reaksi yang ditunjukkan Satria, Siska yang berpakaian seksi itu tersenyum. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menggoda Satria."Kenapa kok kaget gitu sih? Hmm!" tanya balik Siska sembari menarik pergelangan tangannya yang ditahan oleh Satria."Ngapain Mbak masuk ke sini?" Tanpa menjawab pertanyaan Siska, Satria beranjak dari posisinya dan duduk di pinggiran ranjang. Pemuda itu benar-benar kaget melihat keberadaan Siska. Terlebih lagi, wanita itu memakai piyama tidur tipis yang menerawang. Bahkan, terlihat jelas jika wanita itu tidak memakai dalaman. "Mau neme
"Argh… ampun, Nyonya. Jangan dicubit! Kalau sampai lecet, nanti kita gak bisa main jungkat-jungkit lagi! Saya buru-buru masuk ke sini karena mau ngasih tahu, kayaknya Nyonya keliru. Saldo yang dikirim ke saya, nolnya kebanyakan!” Mendengar jeritan tertahan yang keluar dari mulut Satria, Rain pun melepaskan cubitannya.Wanita itu mundur sedikit dari posisinya dan menatap wajah Satria yang memerah seperti udang rebus. Demi Tuhan, jika Rain adalah adiknya, Satria pasti sudah menonjok hidungnya ataupun memukul bokongnya dengan keras. Sayangnya, Rain adalah majikan yang telah membeli dan memeliharanya. “Rekening Nyonya mana? Biar saya balikin uangnya,” kata Satria. Meminta nomor rekening Rain dengan tangan yang mengusap-usap batang keriputnya yang terasa sakit, perih dan nyeri karena dicubit oleh sang majikan. “Saya gak salah kirim, uang yang saya kasih emang segitu. Itu gaji karena kamu udah muasin saya semalam dan hari ini,” kata Rain. Menimpali perkataan Satria dengan santai, sedang
"Nomor rekening kamu!" Satria yang sedang memakai bajunya, menoleh saat mendengar perkataan Rain. Ia menatap wanita itu dengan mata menyipit dan kening berkerut. "Nomor rekening?" tanya Satria. Kepala Rain mengangguk. Ia yang belum berpakaian, beringsut dari posisinya dengan tubuh polos. Meraih ponselnya yang berada di atas nakas. "Buat apa?" Satria kembali bertanya, masih dengan kening berkerut. Bibir Rain tercebik. "Buat bobol rekening kamu dan nguras saldonya! Ya buat transfer lah, gimana sih kamu?" cetusnya pada Satria dengan mata melotot. Satria menyengir kuda sambil mengusap tengkuk lehernya. "Oh! Galaknya...." respon Satria. Setelah itu, ia kembali melanjutkan kegiatannya tanpa memberikan nomor rekeningnya pada Rain. Melihat Satria memakai baju dan merapikan penampilannya, Rain menghela napas panjang. Kesal karena merasa diabaikan oleh berondong peliharaannya. "Satria!" panggil Rain dengan suara tertahan. "Iya, Nya?" sahut Satria yang kembali menoleh. "Nomor rekenin
"Kalau saya udah menikah dan punya suami, emangnya kenapa? Kamu mau mengatakan kalau saya perempuan gak bermoral dan gak setia, gitu?" Perkataan yang keluar dari bibir Rain pelan memang, tetapi terdengar bergetar. Jelas, jika ia sedang menahan gejolak yang ada di dalam hatinya.Melihat reaksi dan ekspresi yang ditunjukkan oleh Rain, Satria termangu. Sedangkan sepasang matanya menatap dalam pada netra wanita itu. "Kalau kamu mau mengatakan saya gak bermoral, katakan aja, Satria. Karena saya memang gak bermoral!" Suaranya yang semula pelan, kini tiba-tiba meninggi. Respon yang mengejutkan bagi Satria. Pemuda itu tak menyangka, jika pertanyaannya membuat emosi Rain meledak secara tiba-tiba. "Saya gak bermoral dan bukan perempuan yang baik...." Kepala Satria menggeleng. Dengan cepat ia merengkuh dan mendekap tubuh Rain erat-erat. Berusaha meredam gejolak emosi yang ada di dalam diri Rain agar tidak semakin meluap."Nyonya, jangan salah paham. Saya tadi cuman nanya, kalau pertanyaan







