LOGINRumah sakit jiwa tempat Nyonya Laras di rawat, tampak Tuan Arya sedang berbicara serius dengan Ares, asisten pribadi kepercayaannya. "Gimana, Res?" Pertanyaan itu dilayangkan Tuan Arya pada sang asisten yang berdiri dengan jarak satu meter dari posisinya. Ares yang diperintahkan majikannya untuk mendatangi komplek yang disebutkan Nyonya Laras kemarin dan menyelidiki apakah ada kejadian penemuan bayi 20 tahun silam itu, tampak menghela napas panjang. Pria yang berusia 30 tahunan itu menggeleng pelan. Sedangkan sepasang matanya Tuan Arya dengan tatapan lesunya. "Maaf, Tuan. Penghuni kompleks perumahan itu rata-rata warga pindahan dan baru beberapa tahun tinggal di sana. Warga sebelumnya udah pada pindah ke tempat lain, bahkan gak sedikit juga yang pulang kampung. Karena rata-rata dari mereka adalah orang perantauan!" Mendengar penjelasan Ares, Tuan Arya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sepertinya, sia-sia saja istrinya mengingat dan menjelaskan semuanya jik
"Punya gak? Barang atau apapun itu yang adek-adek kamu gak punya!" Satria yang duduk ditepian sofa itu mengangkat wajahnya, menatap Rain dengan kening berkerut heran. Pemuda gigolo privat itu menyipitkan matanya yang memang agak sipit. Lalu tangannya bergerak, merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya. "Sebentar, aku punya liontin giok, bentuknya bulan sabit. Dulu selaku aku pakai, tapi belakangan aku lepas karena rasanya agak aneh aja dipakai," kata Satria sambil membuka dompet imitasinya yang agak lusuh. Dari dalam dompet tersebut, Satria mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin bulan sabit berwarna putih bening. "Dulu bapak pernah pesen, katanya barang ini mahal. Siapapun yang pinjem jangan dikasih, apalagi sampai hilang!" lanjut Satria. Tangannya menyodorkan kalung tersebut pada sang kekasih. Melihat liontin kalung tersebut, membeliak sepasang mata Rain. Cepat-cepat ia mengambil kalung yang ada di tangan Satria dan mengamati ukiran yang ada di liontin sabit tersebut
Satria yang saat ini sudah berada di apartemen Gold bersama Rain, tampak duduk termenung di sofa ruang tengah. Wajah pemuda gigolo privat itu terlihat murung, seperti sedang banyak pikiran. Melihat Satria duduk termenung tanpa berkedip di salah satu sofa, Rain yang keluar dari kamar itu pun menghampiri dan menegurnya. "Sayang, mikirin apaan sih? Kok bengong gitu!" Ditegur oleh Rain, Satria pun tersadar dari lamunannya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap sang kekasih yang berdiri di hadapannya. Namun, tatapan pemuda itu hanya sesaat, selanjutnya ia mendongak dan memejamkan matanya, lalu mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan dengan gerakan yang kasar. "Hufttt!" Kening Rain berkerut membuat kedua alisnya bertautan. Ia heran dengan perubahan sikap Satria yang menjadi pendiam setelah pulang dari rumah ibunya. "Kenapa sih? Ada apa?" Rain kembali menegur calon suaminya itu sambil mendaratkan bokongnya di sisi kiri sofa. Satria kembali menatap sang kekasih, wajahnya yang k
"Sayang, aku tahu di mana anak kita!" Nyonya Laras memajukan wajahnya dan berbicara pelan dengan nada serius pada sang suami. "Aku titipin anak kita sama orang di depan jalan simpang komplek A di dekat lampu merah!" Sepertinya, kesadaran wanita yang mengalami gangguan jiwa itu sedikit kembali hingga membuatnya mengingat di mana ia menitipkan putranya 20 tahun silam. Degh! Mendengar perkataan istrinya yang seperti orang normal, Tuan Arya terkejut bercampur senang. "Kami seriusan?" tanya Tuan Arya. Tangannya bergerak, menyentuh dan sedikit menekan kedua bahu istrinya.Nyonya Laras menyengir dan menganggukkan kepalanya. Memberikan respon pada sang suami yang bertanya. "Terus, siapa nama orang itu, Sayang? Kamu bilang apa ke dia saat itu?" Tuan Arya kembali bertanya, mengusap lebih banyak informasi dari istrinya yang mengingat kembali kejadian masa lalu. Kali ini, Nyonya Laras memajukan bibirnya seraya menggeleng pelan. Wajahnya seketika kembali murung dan terlihat begitu sedih.
"Danu, buka pintunya, Abang mau ngomong!" Pintu kamar tersebut tak kunjung dibuka oleh Danu yang berada di dalamnya. Membuat Satria menghela napas panjang dan memejamkan matanya sesaat. Tangannya pun terulur, mengetuk pintu kamar tersebut dengan agak keras disertai panggilannya. Tuk, tuk, tuk!" "Dan, kamu denger gak? Atau kamu mau—" Pemuda gigolo privat itu menjeda kalimatnya, menunggu respon Danu yang sengaja menghindarinya lantaran takut. "Danu!" Criet! Pintu kamar dibuka, menimbulkan suara derit yang lumayan keras. Di depan pintu itu, Danu berdiri dengan kepala tertunduk. Sedangkan di tangannya memegang buku cetak tebal, menunjukkan jika bocah itu sedang belajar. "Kenapa, Bang?" tanya Danu yang berpura-pura tidak paham tujuan abangnya datang. Tanpa kata, Satria yang memegang penggaris kayu di tangannya itu melangkah masuk tanpa sepatah kata. Ia menuju meja belajar adiknya dan mendaratkan bokongnya di kursi. Gluk! Melihat penggaris kayu yang berada di tangan Satria, Danu
"Huwa, Abang...." Ketukan pintu kamar yang disertai tangisan Ayu di malam hari itu, membuat Satria dan Rain terkejut. Bahkan, Rain yang kaget mendorong perut Satria dan beringsut mundur, menjauh dari depan batangan sang kekasih yang berdiri tegak dan siap bertempur. Mata kedua anak manusia berbeda usia itu melotot, sedangkan wajah mereka memerah seperti kepiting rebus. Buru-buru Rain yang beringsut meraih piyamanya di pinggiran kasur dan memakainya secepat kilat. Sedangkan Satria tampak meringis sambil memegangi batangannya yang mendadak ciut karena panik. Suara tangisan adik bungsunya sukses membuat gairah seksualnya lebur. Bahkan, kini batangnya yang semula tegang, mirip seperti terong ungu layu yang kehujanan. "Aihh... kenapa bocil itu datang sih?" sungut Satria sambil mengelus kemaluannya. "Bang Sat, bukain pintunya dong!" Duk, duk, duk!Suara tangisan Ayu yang tak henti-henti, membuat Satria mendesah panjang. Lalu ia memakai celana boxernya. "Sayang, bukain pintunya!" kat







