Share

165. PPPN

Penulis: Callme_Tata
last update Tanggal publikasi: 2026-06-06 23:36:59

Satria yang saat ini sudah berada di apartemen Gold bersama Rain, tampak duduk termenung di sofa ruang tengah. Wajah pemuda gigolo privat itu terlihat murung, seperti sedang banyak pikiran.

Melihat Satria duduk termenung tanpa berkedip di salah satu sofa, Rain yang keluar dari kamar itu pun menghampiri dan menegurnya.

"Sayang, mikirin apaan sih? Kok bengong gitu!"

Ditegur oleh Rain, Satria pun tersadar dari lamunannya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap sang kekasih yang berdiri di hadapanny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   269. PPPN

    "Kata dokter, istri saya harus banyak-banyak istirahat dan gak boleh banyak pikiran. Lagi pula yang sekarat mama kamu, kenapa istri saya yang harus repot?"Tut, tut!Satria yang kesal langsung memutuskan panggilan telepon tersebut dan meletakkan kembali ponsel Rain di atas nakas. Gerakannya sedikit kasar, menunjukkan betapa kesalnya pemuda itu saat ini.Jelas, jika pemuda itu merasa tidak senang karena Andrean menghubungi istrinya. Ia tak ingin Rain kembali menjalin hubungan dengan pria bajingan itu. Meskipun hanya sekadar berkomunikasi, tetap saja Satria merasa tak nyaman. Apalagi, Andrean menelepon Rain hanya untuk meminta istrinya datang menemui sang ibu yang sedang sekarat.Bagi Satria, itu bukan urusan Rain lagi. Karena mereka sudah tidak memiliki hubungan."Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tegur Rain dengan mata melotot pada sang suami yang memandang wajahnya dengan tatapan cemberut.Ditanya begitu, Satria langsung membuang muka. Ia enggan menjawab pertanyaan istrinya. Lalu, pemu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   268. PPPN

    Rumah Sakit Medika, di sanalah kini Andrean berada. Setelah bertengkar dengan Dewi kemarin, pria itu langsung pergi ke rumah sakit, menemani ibunya yang kondisinya semakin memburuk setiap harinya.Sore itu, keadaan Bu Sela kembali drop, membuat Andrean panik setengah mati. Terlebih lagi, wanita paruh baya itu sempat kehilangan kesadaran selama beberapa jam. Keadaan sang ibu benar-benar membuat Andrean ketakutan. Yang membuat pria itu semakin mengkhawatirkan kondisi ibunya, sejak sadar dari pingsan, Bu Sela selalu menanyakan Rain dan ingin bertemu dengan mantan menantunya itu."Astaga, Ma. Aku harus gimana sekarang?" kata Andrean dengan suara yang terdengar panik. Wajahnya terlihat cemas, sedangkan pandangan matanya terus tertuju pada sang ibu yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.Andrean benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang."Ain... Ain...."Mendengar suara ibunya yang terus memanggil nama Rain dengan artikulasi yang tidak jelas, kepala Andrean menggeleng pelan. D

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   267. PPPN

    Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Di dalam kamarnya, Satria sedang bermanja pada Rain.Satria yang bertelanjang dada, berbaring dengan posisi tengkurap di atas ranjang dan meminta Rain mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Pemuda itu terlihat begitu menikmati perhatian yang diberikan sang istri."Agak bawah dikit, Sayang!" kata Satria. Merengek minta diusap bagian pinggangnya pada Rain.Menghadapi kelakuan aneh suami berondongnya, Rain hanya bisa menghela napas panjang dan geleng-geleng kepala. Entah sudah berapa kali ia harus menghadapi tingkah kekanak-kanakan Satria yang semakin hari justru semakin menjadi-jadi.Bukannya semakin dewasa setelah menikah, pemuda itu malah seperti menemukan sisi manjanya yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.Tanpa berbicara sepatah kata pun, wanita berperut buncit seperti kecebong itu pun menurunkan gerakan tangannya, mengusap bagian pinggang sang suami dengan gerakan yang agak kasar."Sayang, kok kayak gitu sih? Kay

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   266. PPPN

    "Egois apa maksud kamu? Setiap kali kita ngewe, aku selalu kasih kamu uang lho. Dan jumlahnya gak sedikit dan mungkin lebih banyak dari bayaran yang kamu dapat dari pejabat-pejabat langganan kamu itu!"Degh!Isak tangis Dewi seketika berhenti. Ia dibuat kaget dan syok mendengar perkataan pedas yang dilontarkan oleh Andrean. Kedua matanya yang sebelumnya berkaca-kaca kini menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Bahkan, untuk beberapa saat Dewi hanya terdiam tanpa mampu membalas perkataan Andrean.Respon Andrean benar-benar di luar ekspektasinya. Ia pikir pria yang berstatus duda itu akan luluh dan membujuknya seperti biasa. Selama ini, Dewi selalu berhasil membuat Andrean merasa iba setiap kali dirinya menangis dan menunjukkan sisi lemahnya. Karena itu, ia sama sekali tidak menyangka jika kali ini Andrean justru akan membalasnya dengan perkataan yang begitu menyakitkan.Andrean bahkan mengingatkan pekerjaannya sebagai pelacur dan juga simpanan para pejabat kota."Ndre, kamu...."

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   265. PPPN

    "Kamu apa-apaan sih? Emangnya kamu siapa? Kok ngatur-ngatur aku terus?!"Degh!Terkejut Dewi mendengar perkataan kasar bernada tinggi yang dilontarkan oleh Andrean. Wanita itu sampai terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Andrean akan membentaknya dengan nada setinggi itu.Wajah wanita binal pemilik dada besar brutal itu seketika memerah. Sedangkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuh terkepal erat. Matanya menatap marah Andrean yang saat ini duduk di tengah-tengah ranjang kamarnya.Dewi merasa jika Antrean sangat keterlaluan. Bagaimana tidak? Setelah semua yang terjadi di antara mereka, Andrean justru bertanya seperti itu padanya."Kamu ngomong apa, Ndre? Kamu tanya aku siapa? Setelah semua yang terjadi di antara kita, kamu tanya aku siapa?!" kata Dewi, menimpali perkataan Andrean dengan suaranya yang melengking.Napas wanita binal memburu. Rasa kesal yang sejak tadi berusaha ditahannya kini tidak dapat lagi dikendalikanMendengar perkataan Dewi, Andrean memijat pelipisnya. Lelah,

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   264. PPPN

    "[Apartemen Togar kosong. Dan dari hasil pengamatan polisi, apartemen itu baru aja ditinggalkan!]" Degh! Mendengar perkataan Ares, Satria seketika terkejut. Sejak tadi pemuda mantan gigolo privat itu memang menunggu kabar terbaru dari Ares. Namun, bukannya kabar baik yang diterimanya, tetapi justru informasi buruk yang membuat pikirannya kembali dipenuhi kekhawatiran. "Om serius?" tanya Satria. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pemuda itu bertanya pada Ares yang berada di ujung telepon. Keningnya berkerut, membuat kedua alisnya bertautan. Sedangkan wajah tampannya kini memerah seperti tomat masak yang hampir busuk. Ada rasa kesal sekaligus cemas yang bercampur menjadi satu di dalam hatinya saat ini. Helaan napas berat Ares terdengar dari seberang telepon, menunjukan jika saat ini Ares juga tidak puas dengan informasi yang di dapatnya dari pihak kepolisian. "[Iya. Dan sekarang polisi lagi berupaya mencari pria itu sampai ketemu!]" Satria terdia

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   2. PPPN

    "Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   1. PPPN

    "Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung." Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   184. PPPN

    Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas. Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas. Sedangkan di pinggiran ranjang,

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   183. PPPN

    "Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status