Compartilhar

6. PPPN

Autor: Callme_Tata
last update Data de publicação: 2026-03-25 22:12:57

"Eum, egh, uh, Sa-Satria, aku nggak nyangka kalau kamu sepengalaman ini. Cepat, cepat lakukan itu... buat saya keenakan."

Suara deru napas dan lenguhan beradu.

Batin Satria, rasanya benar-benar nikmat. Bibir Rain tak hanya lembut, tetapi juga manis dan membuatnya tak ingin menyudahi pagutannya.

Namun, ia yang kehabisan oksigen mau tak mau melepaskan pagutannya. Begitu pula dengan Rain yang merem melek keenakan.

"Ah, Satria...." Rain mendesah pelan, tatapan matanya terlihat sedikit sa
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   75. PPPN

    "Jadi gitu ceritanya... tapi seriusan dia cuman babak belur, gak ada cidera dan luka serius!" Satria yang duduk di samping Rain, menceritakan semua perbuatan yang telah ia dan Tono lakukan pada Andrean. Wajah pemuda sok kalem itu meringis, takut Rain tidak terima Andrean diperlakukan buruk. Karena bagaimanapun, saat ini pria brengsek itu masih berstatus sebagai suami dari kekasih ilegalnya. "Sekarang gimana? Udah puas?" tanya Rain dengan mata memicing, menatap Satria yang salah tingkah di sampingnya. Gluk! Satria meneguk ludah dengan bersusah payah. Pertanyaan macam apa yang layangkan Rain padanya? Dan, apa yang harus ia katakan? Mengatakan puas, takutnya Rain malah marah padanya karena melukai Andrean. Mengatakan tidak, bagaimana jika respon wanita itu justru sebaliknya? "Aku tanya, udah puas belum?" Rain kembali mengulangi pertanyaannya. Sedangkan matanya masih saja memicing. "Puas apanya, Sayang? Kan kita belum ngapa-ngapain, mana mungkin aku puas," kata Satria yang tiba-ti

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   74. PPPN

    "Jangan macam-macam! Saya bakal laporin kalian ke polisi!" Andrean yang tubuhnya di tahan oleh Satria dan Tono, mengancam dan memberontak minta dilepaskan. Namun, Satria yang memegang potongan balok kayu itu tak takut sama sekali. Yang ada, ia justru memasang ekspresi santai seperti sedang bermain di pantai.Di balik helm full face yang dipakainya, Satria menyunggingkan sudut bibirnya. Sedangkan sepasang matanya menatap remeh Andrean yang ternyata tidak memiliki kemampuan apapun selain mengancam lawan bicaranya menggunakan uang dan kekuasaan. "Lepasin saya!" kata Andrean. Satria menggeleng. Tangannya menepuk-nepuk pundak Andrean dengan keras. "Mau lepas? Mimpi!" balas Satria. "Sekarang gue bakal bikin lu ngerasain gimana rasanya istirahat total di rumah sakit!" Buk! Bibir pemuda tanggung itu berbicara, sedangkan tangannya bergerak, membogem wajah Andrean yang masih kalah ganteng darinya dengan keras. Tak ayal lagi, satu pukulan keras Satria membuat air liur Andrean muncrat dan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   73. PPPN

    "Kamu bilang dari toko buku sama Tono, tapi kok aku dapat informasi kalau kalian habis nagih hutang ke Andrean di dekat club malam?" Degh! Semakin memucat wajah Satria. Kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, sebenarnya ada berapa banyak koneksi dan anak buah yang dimiliki oleh Rain. Kenapa bisa mengetahui kegiatannya dengan mudah."Dari toko buku atau dari nyamperin Andrean?" Rain bertanya dengan nada bicaranya yang terdengar datar dan dingin, saking dinginnya seakan menembus sampai ke ubun-ubun Satria. Ketahuan, Satria pun semakin dibuat salah tingkah. Ia mendekati Rain dan duduk di sampingnya, lalu bergelayut manja seperti anak kecil di lengan wanita itu. "Jangan marah, Sayang. Aku cuman ngasih pelajaran sedikit kok ke suami kamu yang brengsek itu! Aku dan Tono udah mastiin kalau dia cuman babak belur, gak luka dalam apalagi cedera serius!" kata Satria. Mengakui perbuatannya yang balas dendam pada Andrean bersama Tono. Beberapa jam yang lalu.

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   72. PPPN

    Malam itu, Satria yang turun dari motornya, segera memasuki gedung apartemen gold dan melangkah menuju lift dengan begitu tergesa-gesa. Pemuda itu menekan tombol lift yang akan membawanya menuju unit apartemennya dan Rain berada. "Semoga aja dia belum pulang kerja." Di dalam lift, Satria berbicara sendiri seperti orang gila. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan untuk mengurangi rasa gugup dan tegang yang saat ini merayap di hatinya. Tiba di depan unit apartemennya dan Rain, Satria membuka pintu tersebut dengan gerakan perlahan. Dalam hatinya berdoa, semoga Rain belum pulang bekerja, agar ia aman dan tidak di interogasi oleh wanita itu. "Semoga belum pulang, semoga belum pulang, semoga belum pulang...." Begitu pintu terbuka, Satria tersenyum lega. Pasalnya lampu di apartemen itu belum ada yang menyala, menandakan jika Rain yang katanya mengurus pekerjaan penting bersama Tasya, belum kembali. Namun, kelegaan Satria lenyap seketika setelah tangannya men

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   71. PPPN

    Jam menujukan pada pukul lima sore, Melati yang menghabiskan waktu seharian bersama Jhony, baru kembali ke kediaman Damara.Wanita itu kembali tentu dengan keadaannya yang terlihat tidak baik-baik saja untuk mengelabui Andrean dan ibunya. "Huh... harus tetap tenang, jangan sampai mereka curiga," gumam Melati. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya melangkah menuju teras rumah kediaman Damara. Perlahan, ia mendorong pintu utama rumah itu dan melangkah masuk. Lalu, menghampiri Andrean dan Bu Sela yang berada di ruang tengah. "Mas Andre, Mama...."Tiba di ruang tengah, Melati yang berjalan pelan, memanggil suami dan mertuanya. Mendengar suara Melati, Andrean dan Bu Sela yang memang menantikan kepulangannya, beranjak dari duduk mereka. Lalu, menoleh dan menatap ke arah sumber suara. Begitu melihat penampilan dan keadaan Melati, mata Bu Sela dan Andrean sama-sama mendelik lebar. "Melati!" "Astaga, kamu kenapa, Mel?"Andrean yang beranjak dari dud

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   70. PPPN

    "Tolong tunggu sebentar lagi, Bang. Bini gue pasti datang dan lunasin semua hutang-hutangnya!"Jhony yang bersimpuh di lantai, meminta ampun pada Rentenir yang duduk santai di sofa rumahnya. Tubuhnya gemetar parah, takut nyawanya dilenyapkan karena tak dapat membayar hutang. Melati yang berdiri di ambang pintu, mengepalkan tangan dengan erat setelah mendengar perkataan Jhony. Wajahnya semakin memerah, menunjukkan jika marah dan kesal pada pria itu. "Berapa semua hutangnya?" tanya Melati sembari melangkah mendekat. Mendengar suara Melati, Jhony yang bersimpuh di lantai itu menoleh. Ia tersenyum dan segera beranjak dari posisinya. "Sayang, akhirnya kamu datang. Lihat, mereka mukulin aku!" adu Jhony pada Melati. Rentenir dan anak buahnya tertawa dengan keras, merasa lucu melihat Jhony merengek pada seorang wanita hamil untuk membelanya. "Kamu bawa uang kan, Sayang?" tanya Jhony. "Kalau hutangnya gak dibayar, mereka bakalan matahin kaki kiri dan tanganku!" tambahnya ketakutan. Mela

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status