Share

163. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-06-05 22:09:19

"Danu, buka pintunya, Abang mau ngomong!"

Pintu kamar tersebut tak kunjung dibuka oleh Danu yang berada di dalamnya. Membuat Satria menghela napas panjang dan memejamkan matanya sesaat.

Tangannya pun terulur, mengetuk pintu kamar tersebut dengan agak keras disertai panggilannya.

Tuk, tuk, tuk!"

"Dan, kamu denger gak? Atau kamu mau—" Pemuda gigolo privat itu menjeda kalimatnya, menunggu respon Danu yang sengaja menghindarinya lantaran takut.

"Danu!"

Criet!

Pintu kamar dibuka, menimbulkan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   267. PPPN

    Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Di dalam kamarnya, Satria sedang bermanja pada Rain.Satria yang bertelanjang dada, berbaring dengan posisi tengkurap di atas ranjang dan meminta Rain mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Pemuda itu terlihat begitu menikmati perhatian yang diberikan sang istri."Agak bawah dikit, Sayang!" kata Satria. Merengek minta diusap bagian pinggangnya pada Rain.Menghadapi kelakuan aneh suami berondongnya, Rain hanya bisa menghela napas panjang dan geleng-geleng kepala. Entah sudah berapa kali ia harus menghadapi tingkah kekanak-kanakan Satria yang semakin hari justru semakin menjadi-jadi.Bukannya semakin dewasa setelah menikah, pemuda itu malah seperti menemukan sisi manjanya yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.Tanpa berbicara sepatah kata pun, wanita berperut buncit seperti kecebong itu pun menurunkan gerakan tangannya, mengusap bagian pinggang sang suami dengan gerakan yang agak kasar."Sayang, kok kayak gitu sih? Kay

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   266. PPPN

    "Egois apa maksud kamu? Setiap kali kita ngewe, aku selalu kasih kamu uang lho. Dan jumlahnya gak sedikit dan mungkin lebih banyak dari bayaran yang kamu dapat dari pejabat-pejabat langganan kamu itu!"Degh!Isak tangis Dewi seketika berhenti. Ia dibuat kaget dan syok mendengar perkataan pedas yang dilontarkan oleh Andrean. Kedua matanya yang sebelumnya berkaca-kaca kini menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Bahkan, untuk beberapa saat Dewi hanya terdiam tanpa mampu membalas perkataan Andrean.Respon Andrean benar-benar di luar ekspektasinya. Ia pikir pria yang berstatus duda itu akan luluh dan membujuknya seperti biasa. Selama ini, Dewi selalu berhasil membuat Andrean merasa iba setiap kali dirinya menangis dan menunjukkan sisi lemahnya. Karena itu, ia sama sekali tidak menyangka jika kali ini Andrean justru akan membalasnya dengan perkataan yang begitu menyakitkan.Andrean bahkan mengingatkan pekerjaannya sebagai pelacur dan juga simpanan para pejabat kota."Ndre, kamu...."

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   265. PPPN

    "Kamu apa-apaan sih? Emangnya kamu siapa? Kok ngatur-ngatur aku terus?!"Degh!Terkejut Dewi mendengar perkataan kasar bernada tinggi yang dilontarkan oleh Andrean. Wanita itu sampai terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Andrean akan membentaknya dengan nada setinggi itu.Wajah wanita binal pemilik dada besar brutal itu seketika memerah. Sedangkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuh terkepal erat. Matanya menatap marah Andrean yang saat ini duduk di tengah-tengah ranjang kamarnya.Dewi merasa jika Antrean sangat keterlaluan. Bagaimana tidak? Setelah semua yang terjadi di antara mereka, Andrean justru bertanya seperti itu padanya."Kamu ngomong apa, Ndre? Kamu tanya aku siapa? Setelah semua yang terjadi di antara kita, kamu tanya aku siapa?!" kata Dewi, menimpali perkataan Andrean dengan suaranya yang melengking.Napas wanita binal memburu. Rasa kesal yang sejak tadi berusaha ditahannya kini tidak dapat lagi dikendalikanMendengar perkataan Dewi, Andrean memijat pelipisnya. Lelah,

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   264. PPPN

    "[Apartemen Togar kosong. Dan dari hasil pengamatan polisi, apartemen itu baru aja ditinggalkan!]" Degh! Mendengar perkataan Ares, Satria seketika terkejut. Sejak tadi pemuda mantan gigolo privat itu memang menunggu kabar terbaru dari Ares. Namun, bukannya kabar baik yang diterimanya, tetapi justru informasi buruk yang membuat pikirannya kembali dipenuhi kekhawatiran. "Om serius?" tanya Satria. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pemuda itu bertanya pada Ares yang berada di ujung telepon. Keningnya berkerut, membuat kedua alisnya bertautan. Sedangkan wajah tampannya kini memerah seperti tomat masak yang hampir busuk. Ada rasa kesal sekaligus cemas yang bercampur menjadi satu di dalam hatinya saat ini. Helaan napas berat Ares terdengar dari seberang telepon, menunjukan jika saat ini Ares juga tidak puas dengan informasi yang di dapatnya dari pihak kepolisian. "[Iya. Dan sekarang polisi lagi berupaya mencari pria itu sampai ketemu!]" Satria terdia

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   263. PPPN

    Togar, anak buah Tuan Seno yang menyadari jika saat ini petugas kepolisian sedang mencarinya dan melakukan penyelidikan, tampak sedang bersiap-siap untuk meninggalkan apartemennya."Aku harus bergerak cepat sebelum para polisi sialan itu datang ke tempat ini," kata Togar sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket kulit yang dipakainya.Pria tiga puluh lima tahun itu keluar dari apartemennya dengan terburu-buru tanpa membawa apa pun, kecuali ponsel dan seluruh uang yang dimilikinya. Ia bahkan tidak sempat memikirkan barang-barang lain yang tertinggal di dalam apartemen. Yang ada di kepalanya saat ini hanya satu, yaitu bagaimana caranya agar bisa lolos dari kejaran polisi.Namun, saat akan menuju lift, langkah Togar mendadak terhenti. Dari kejauhan, ia melihat dua orang petugas polisi tanpa seragam yang sedang berjalan menuju ke arahnya."Sial! Kenapa mereka datang secepat ini?" kata Togar. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh.Meskipun tidak memakai seragam tu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   262. PPPN

    Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Nabila yang sudah beberapa kali dipanggil oleh pelayan untuk makan malam, akhirnya beranjak dari duduknya dan turun dari atas ranjang. Dengan langkah gontai, gadis binal itu keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Tubuhnya terasa lemas dan tatapannya sedikit sayu. Sesekali, ia menghela napas pelan karena tubuhnya masih terasa tidak nyaman setelah kejadian yang berlangsung beberapa jam sebelumnya. Tiba di lantai bawah, Nabila langsung menuju dapur. Menghampiri Diana dan Tuan Seno yang sudah menunggunya sejak tadi di meja makan. "Ma, Pa, maaf ya udah bikin kalian nungguin," kata Nabila. Suaranya serak dan pelan, menunjukkan jika ia sedang tidak baik-baik saja. Mendengar suara serak Nabila, Diana langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah sumber suara. Wanita itu bahkan sempat menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil makanan. Begitu melihat raut wajah Nabila dan juga pakaian yang dikenakannya, Diana spontan menge

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   4. PPPN

    "Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip. Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan. "Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   184. PPPN

    Lama Rain dan Satria bergumul di sore menjelang malam hari tersebut. Akhirnya keduanya pun menyudahi pergumulan mereka setelah merasa puas. Kini, Rain yang merasakan pegal pada punggung dan pinggulnya, tampak berbaring lemas di tengah-tengah kasur empuk yang luas. Sedangkan di pinggiran ranjang,

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   183. PPPN

    "Kalau enak, buruan gantian. Aku juga mau dipuasin!" Mata Satria yang sayu berkabut gairah, spontan melotot saat mendengar kalimat ketus yang keluar dari mulut Rain. Batin pemuda itu, cepat sekali ekspresi dan sikap Rain berubah. Ia pikir, kekasihnya serius ingin memberikan service dan memuaskann

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   5. PPPN

    "Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!" Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status