Share

Bab 2

Author: Mella
Dengan perut buncit, aku duduk diam di kursi penumpang.

Ada sesuatu yang mengganjal di punggung bawahku, ternyata sebuah boneka teddy bear.

Tiba-tiba aku teringat, aku dan Michael bisa saling kenal karena boneka ini.

Waktu itu, demi membantu teman, aku memakai kostum boneka teddy bear untuk menjadi cheerleader di pertandingan basket.

Bola basket Michael tak sengaja mengenai tubuhku.

Dialah yang mengejarku duluan.

Setelah acara wisuda, kami berkumpul terakhir kalinya dengan teman-teman kuliah.

Semua orang punya ambisi besar untuk masa depan, tapi saat nama Michael disebut, dia hanya melirikku dan berkata, “Aku nggak punya cita-cita lain. Aku hanya mau menikahi Hana.”

Di tengah sorak-sorai teman-teman, wajahku memerah. Michael menggenggam tanganku erat-erat, seolah tak membiarkanku kabur.

Aku kira sejak saat itu semuanya akan menjadi lebih baik.

Aku pun bertekad ikut dengannya ke Kota Juraya, tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari kampung halamanku.

Kini, tiba-tiba Michael merampas boneka itu dari tanganku. Suaranya terdengar sangat dingin, “Jangan sentuh barang Jess.”

Sikap ini bukan seperti sikap terhadap istri, melainkan terhadap musuh yang sangat dibenci.

Aku tak mengerti dan sudah berkali-kali bertanya pada Michael apa sebenarnya kesalahanku.

Namun, dia selalu diam.

Dulu, setiap kali sikapnya buruk sedikit saja, kami pasti bertengkar.

Lalu perang dingin dan aku yang selalu mengalah untuk berdamai.

Kejadian berulang ini sudah membuatku Lelah.

Aku menunduk dan diam, tak ingin lagi berdebat dengannya.

Michael terdiam sejenak, lalu dengan pasrah berkata, “Hanya gara-gara aku telat menjemputmu? Trik apalagi yang mau kamu mainkan sekarang?”

“Mau ngadu ke orang tuaku lagi, ‘kan?”

Seperti sedang menghadapi anak kecil yang tak patuh, suamiku memijat keningnya, sambil mengeluh, “Sampai kapan kamu bisa buat aku lebih tenang?”

Sekarang, bahkan hak untuk diam pun, aku tak punya.

Aku hanya menjawab pelan, “Aku mau pulang untuk makan kue.”

Hari ini bukan hanya malam tahun baru, tapi juga hari ulang tahunku.

Michael terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku lupa pesan kue.”

Malam ini, semua harapanku benar-benar hancur.

Aku menghela napas panjang, tapi di dalam hati sudah membulatkan tekad.

“Nggak apa-apa, lagipula itu bukan hal yang terlalu penting.”

Mungkin karena merasa bersalah, Michael berjanji akan membelikan kue yang lebih besar dan bagus untukku besok, “Tunggu sampai kamu bangun tidur besok pagi, ya?”

Menunggu lagi.

Aku menggeleng pelan, “Nggak perlu.”

Dia hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi aku langsung memalingkan wajah dan membuka ponsel.

Tak mengejutkan, gara-gara keterlambatannya, jalanan pulang yang hanya sepuluh kilometer, kini sudah macet hingga berwarna merah di peta.

Kendaraan berhenti lama tanpa bisa bergerak sedikitpun.

Karena bosan, Michael membuka instagram, di dalam mobil yang sempit itu, terdengar suara rekaman yang berisi kata-kata hinaan.

Mungkin dia akhirnya sadar apa yang memicu kemarahanku.

Dia pun reflek mengatupkan bibir dan mencoba menjelaskan, “Hana, kata-kata itu….”

Aku baru saja selesai memesan jadwal operasi aborsi. Sayangnya, karena mendekati tahun baru, dokter yang berjaga sangat sedikit.

Aku mendongak menatap Michael dengan tatapan kosong, “Apa?”

Lalu, aku melirik layar ponselnya dan tersenyum tak acuh, “Aku percaya padamu.”

“Kalian pasti hanya lagi main jujur dan berani, ‘kan?”

Aku bahkan dengan baik hati mencarikan alasan untuknya.

Michael terbungkam, dia berkali-kali memastikan apakah aku marah atau tidak.

Dia menjelaskan, “Aku dan Jess nggak ada hubungan seperti yang kamu pikirkan….”

Aku memotongnya lagi, “Aku selalu menganggap kalian itu kakak dan adik, emangnya bukan?”

“Sekarang aku merasa omongan orang-orang itu benar. Aku nggak seharusnya mencurigai hubungan kalian.”

Aku tersenyum menatapnya, seolah sudah mengikhlaskan semuanya, “Kedepannya aku juga akan menyayangi Jessica seperti kamu menyayanginya. Bagaimanapun, dia itu adik kita.”

Aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh atas sikapku yang berpikiran sempit selama ini.

Sikapku yang sangat baik ini malah membuat Michael tak bisa menemukan celah kesalahan.

Sebaliknya, hal itu justru membuat dadanya terasa sesak dan tak nyaman.

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Michael mendengus dingin, “Hana, kalau ada yang nggak kamu suka, bilang langsung saja kenapa, sih? Kok harus terbelit-belit dan membuat semua orang jadi nggak senang?”

Aku pun bertanya, “Emangnya apa yang harus nggak kusukai?”

Selama ini, aku selalu menjadi pihak yang bersalah. Kendali selalu ada di tangan Michael.

Soal benar atau salah, dia tak pernah sekalipun berdiri di pihakku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 10

    Aku mengambilkan sepotong iga asam manis untuknya, “Ayo, makan dulu.”Seolah tahu apa yang akan kukatakan selanjutnya, dia mulai mencoba memperbaiki keadaan, “Aku sudah bicara tegas dengan Jessica. Aku akan mengirimnya kuliah keluar negeri lebih awal.”“Dulu aku bukan sengaja mengabaikanmu. Aku janji, mulai sekarang akan menjalani hidup baik-baik bersamamu.”Aku mengibaskan tangan, sama sekali tidak tertarik pada permintaan maaf yang dulu sangat kudambakan.“Aku nggak mau membahas hal seperti ini di meja makan.”“Makan saja dulu dengan tenang.”Namun, Michael tetap bersikeras, mendesak dan tampak panik.“Setelah makan, kamu nggak akan kasih aku kesempatan lagi.”Tatapannya tertuju pada dua koper di ruang tamu dan kehilangan ketenangan yang biasanya dia miliki.Kemudian, dia memelukku erat, suaranya gemetar, “Kok kamu nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?”Soal rencana kuliah keluar negeri ini, aku sama sekali tidak merahasiakannya. Dokumen pendaftarannya sebenarnya sudah terbuka l

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 9

    Ada puluhan pesan di whatsapp.Semuanya dari Michael.[Kamu di mana?][Aku jemput sekarang, ya?][Kok belum pulang?]Peran penanya yang posesif seperti ini harusnya adalah diriku.Namun, aku tak membalas. Aku memilih untuk menyelesaikannya langsung secara tatap muka.Michael sudah menungguku di rumah. Begitu membuka pintu, aku langsung melihat koper yang tergeletak di ruang tamu.Asbak di depan Michael pun sudah hampir penuh.Sejak hamil, aku sudah berkali-kali memintanya berhenti merokok, tapi dia tak pernah peduli.“Kok harus begitu ikut campur? Aku bahkan nggak punya kebebasan sedikitpun?”Namun, hanya karena Jessica mengeluh di meja makan, Michael langsung mengubah kebiasaan itu.Begitu melihatku, dia buru-buru mematikan rokok di tangannya, “Asapnya buat kamu sesak?”“Nggak apa-apa.”Kilatan rasa terluka melintas di mata Michael, “Biasanya kalau aku merokok, kamu pasti akan marah. Kok sekarang jadi begitu gampang diajak bicara?”Aku menoleh dan tersenyum padanya, “Memberimu kebeba

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 8

    Jessica tak pernah merasakan hidup susah dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya di bawah perlindungan Michael, dia selalu hidup sangat berkecukupan.Pergi ke disneyland tak perlu antri dan saat beli tas keluaran terbaru, dia tak perlu melihat muka masam pelayan toko.Karena khawatir dia tak nyaman tinggal di asrama kampus, Michael bahkan sengaja membelikan apartemen di dekat sana.Tentu saja Jessica tak tahu bagaimana rasanya membeli kue yang hanya bisa dibeli saat diskon tengah malam.Seluruh ruang tamu terjebak dalam suasana canggung. Aku pun terpaksa membuka suara untuk mencairkan suasana, “Sebenarnya rasanya nggak seburuk itu.”Hanya saja, bagiku yang sekarang, kue itu terasa sulit untuk ditelan, begitu juga dengan orangnya.Jessica dengan cepat menenangkan dirinya, “Iya juga, lagipula nggak banyak orang seperti kakak yang setelah kehilangan anak masih bisa dengan tenang minta dirayakan ulang tahunnya yang sudah terlewat.”“Aku benar-benar nggak bisa menirunya.”Tiba-tiba, kue d

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 7

    Logo besarnya sangat mencolok, persis seperti toko kue di seberang jalan sebelum kami pindah rumah duluHanya saja, hiasan di atas kuenya agak miring dan semprotan krimnya juga tidak rapi.Tetap saja sama, selalu asal-asalan.Michael bilang dia ingin merayakan ulang tahunku yang sudah terlewat.Dia menghampiriku dengan mesra, menggandeng tanganku dan membujukku untuk berdoa, lalu memotong kuenya.Jika dulu, aku pasti akan sangat senang, rasanya ingin pamer ke seluruh dunia kalau aku punya suami yang sangat baik.“Ini kue kesukaanmu dulu, ‘kan? Aku sengaja berkendara jauh-jauh hanya untuk beli ini.”Aku memotong kalimatnya dengan datar, “Iya, aku tahu.”Lalu, aku langsung meniup lilinnya, berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.Bahkan tidak melirik kue itu sedikit pun.Michael terdiam sejenak, lalu mengejarku, “Kamu nggak suka rasanya? Kalau nggak suka, aku bisa pesankan yang lain sekarang.”Aku menoleh melihatnya dan menjawab, “Bukan, aku lagi diet gula akhir-akhir ini.”Demi mengemb

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 6

    Aku reflek melirik jam dinding di ruang tamu, baru jam sebelas malam.Michael melangkah terhuyung-huyung menuju dapur, lalu bertanya dengan nada menuntut, “Kamu nggak siapkan air madu untukku?”Aku terdiam sejenak, lalu menjawab, “Nggak ada.”Dulu, Michael selalu menjadikan urusan pekerjaan sebagai alasan untuk mabuk-mabukan dan baru pulang jam satu atau dua pagi setiap beberapa hari sekali.Aku pun dengan sabar selalu menyalakan satu lampu untuk menunggunya pulang dan di dapur selalu ada air madu untuk meredakan mabuknya.Bahkan saat sedang hamil pun, aku tetap melakukannya.Biasanya rutin setiap hari rabu dan sabtu.Belakangan aku baru tahu, ternyata dua hari itu adalah hari di mana Jessica tidak ada jadwal kuliah malam.Itulah kenapa mereka bisa bebas main sampai larut malam.Michael memijat keningnya seolah sedang kesakitan, “Jadi, kamu masih marah?”Di saat yang sama, terdengar suara temanku, “Bagaimana kalau kita bertemu beberapa hari lagi?”Dua suara laki-laki itu terdengar sang

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 5

    “Tunggu sampai masalah ini selesai, tunggu sampai tubuhmu pulih, aku janji akan menjelaskan semuanya. Kamu boleh tanya apa saja yang ingin kamu tahu.”Aku benar-benar tak mengerti, sebenarnya apa fungsi mulutnya itu? Hanya dipakai untuk makan saja?Namun, aku tak ingin menunggu lagi.Aku memalingkan wajah dan memunggunginya, “Aku capek, kamu keluar saja.”Di depan orang tuaku, Michael bersikap sangat baik.Melayani tanpa mengeluh sedikitpun.Karena ini awal tahun baru, masih banyak urusan di rumah yang harus diselesaikan.Aku pun mendesak kedua orang tuaku untuk segera pulang.Sebelum pergi, ibu berbisik menanyakanku, “Kamu masih berniat lanjut terus sama dia?”“Hana, kamu harus tahu kapan waktunya berhenti sebelum kerugiannya semakin besar.”Aku menyandarkan kepala di bahu ibu, menggesekkan bahuku seperti yang kulakukan saat kecil dan mataku pun mulai berkaca-kaca.“Iya, aku mengerti.”Hana tidak akan menjadi pengecut selamanya.….Mungkin karena rasa bersalah, Michael membatalkan sem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status