INICIAR SESIÓNMichael selalu punya kebiasaan membuatku menunggu. Demi membantu perusahaan suamiku melewati masa sulit, aku yang sedang hamil lima bulan, rela pergi menegosiasikan kerja sama di malam tahun baru. Saat orang-orang di meja makan menyinggung soal suamiku, aku langsung reflek mencari alasan untuk membelanya. Aku bertanya padanya kapan dia datang menjemputku dan Michael malah menyuruhku untuk tunggu sebentar lagi. Nyatanya, dia malah bersembunyi di dalam mobil yang hanya berjarak sepuluh meter dariku, bermesraan dengan gadis yang pernah dia santuni. Sementara aku yang sedang hamil dibiarkan berdiri sendirian di tengah salju. Dalam perjalanan pulang, kami terjebak kemacetan parah. Di saat itulah, aku merasakan ada cairan hangat yang mengalir keluar dari tubuhku. Aku menatapnya untuk meminta tolong, tapi seperti biasa, dia hanya menyuruhku menunggu dan menunggu. Dari pantulan jendela, aku melihat layar ponselnya. Detik berikutnya, aku menyaksikan dengan jelas suamiku sedang santai membuka aplikasi chat untuk melanjutkan streak dengan gadis yang lebih muda. Ternyata nyawaku dan anak kami sama sekali tak ada harganya dibandingkan dengan perbincangan itu. Tepat tengah malam, kembang api tahun baru meledak di langit. Namun kali ini, aku tak akan pernah lagi berdiri di tempat yang sama untuk menunggunya.
Ver másAku mengambilkan sepotong iga asam manis untuknya, “Ayo, makan dulu.”Seolah tahu apa yang akan kukatakan selanjutnya, dia mulai mencoba memperbaiki keadaan, “Aku sudah bicara tegas dengan Jessica. Aku akan mengirimnya kuliah keluar negeri lebih awal.”“Dulu aku bukan sengaja mengabaikanmu. Aku janji, mulai sekarang akan menjalani hidup baik-baik bersamamu.”Aku mengibaskan tangan, sama sekali tidak tertarik pada permintaan maaf yang dulu sangat kudambakan.“Aku nggak mau membahas hal seperti ini di meja makan.”“Makan saja dulu dengan tenang.”Namun, Michael tetap bersikeras, mendesak dan tampak panik.“Setelah makan, kamu nggak akan kasih aku kesempatan lagi.”Tatapannya tertuju pada dua koper di ruang tamu dan kehilangan ketenangan yang biasanya dia miliki.Kemudian, dia memelukku erat, suaranya gemetar, “Kok kamu nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?”Soal rencana kuliah keluar negeri ini, aku sama sekali tidak merahasiakannya. Dokumen pendaftarannya sebenarnya sudah terbuka l
Ada puluhan pesan di whatsapp.Semuanya dari Michael.[Kamu di mana?][Aku jemput sekarang, ya?][Kok belum pulang?]Peran penanya yang posesif seperti ini harusnya adalah diriku.Namun, aku tak membalas. Aku memilih untuk menyelesaikannya langsung secara tatap muka.Michael sudah menungguku di rumah. Begitu membuka pintu, aku langsung melihat koper yang tergeletak di ruang tamu.Asbak di depan Michael pun sudah hampir penuh.Sejak hamil, aku sudah berkali-kali memintanya berhenti merokok, tapi dia tak pernah peduli.“Kok harus begitu ikut campur? Aku bahkan nggak punya kebebasan sedikitpun?”Namun, hanya karena Jessica mengeluh di meja makan, Michael langsung mengubah kebiasaan itu.Begitu melihatku, dia buru-buru mematikan rokok di tangannya, “Asapnya buat kamu sesak?”“Nggak apa-apa.”Kilatan rasa terluka melintas di mata Michael, “Biasanya kalau aku merokok, kamu pasti akan marah. Kok sekarang jadi begitu gampang diajak bicara?”Aku menoleh dan tersenyum padanya, “Memberimu kebeba
Jessica tak pernah merasakan hidup susah dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya di bawah perlindungan Michael, dia selalu hidup sangat berkecukupan.Pergi ke disneyland tak perlu antri dan saat beli tas keluaran terbaru, dia tak perlu melihat muka masam pelayan toko.Karena khawatir dia tak nyaman tinggal di asrama kampus, Michael bahkan sengaja membelikan apartemen di dekat sana.Tentu saja Jessica tak tahu bagaimana rasanya membeli kue yang hanya bisa dibeli saat diskon tengah malam.Seluruh ruang tamu terjebak dalam suasana canggung. Aku pun terpaksa membuka suara untuk mencairkan suasana, “Sebenarnya rasanya nggak seburuk itu.”Hanya saja, bagiku yang sekarang, kue itu terasa sulit untuk ditelan, begitu juga dengan orangnya.Jessica dengan cepat menenangkan dirinya, “Iya juga, lagipula nggak banyak orang seperti kakak yang setelah kehilangan anak masih bisa dengan tenang minta dirayakan ulang tahunnya yang sudah terlewat.”“Aku benar-benar nggak bisa menirunya.”Tiba-tiba, kue d
Logo besarnya sangat mencolok, persis seperti toko kue di seberang jalan sebelum kami pindah rumah duluHanya saja, hiasan di atas kuenya agak miring dan semprotan krimnya juga tidak rapi.Tetap saja sama, selalu asal-asalan.Michael bilang dia ingin merayakan ulang tahunku yang sudah terlewat.Dia menghampiriku dengan mesra, menggandeng tanganku dan membujukku untuk berdoa, lalu memotong kuenya.Jika dulu, aku pasti akan sangat senang, rasanya ingin pamer ke seluruh dunia kalau aku punya suami yang sangat baik.“Ini kue kesukaanmu dulu, ‘kan? Aku sengaja berkendara jauh-jauh hanya untuk beli ini.”Aku memotong kalimatnya dengan datar, “Iya, aku tahu.”Lalu, aku langsung meniup lilinnya, berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.Bahkan tidak melirik kue itu sedikit pun.Michael terdiam sejenak, lalu mengejarku, “Kamu nggak suka rasanya? Kalau nggak suka, aku bisa pesankan yang lain sekarang.”Aku menoleh melihatnya dan menjawab, “Bukan, aku lagi diet gula akhir-akhir ini.”Demi mengemb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.