Share

Bab 3

Author: Mella
Michael seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi menyadari gerakanku yang sedang mengusap perut, dia pun mengalihkan pembicaraan dengan kaku, “Tadi nadaku memang agak kasar.”

Ini pertama kalinya dia mau mengalah. Biasanya, aku mungkin akan sangat gembira karena belas kasih darinya ini.

Namun sekarang, aku hanya diam, memalingkan wajah mencari posisi nyaman, lalu memejamkan mata untuk istirahat.

Mobil bergerak pelan dan aku mulai mengantuk.

Tiba-tiba suara navigasi terdengar, “Anda telah keluar dari jalur, sistem telah merencanakan ulang jalur untuk anda.”

Entah kenapa, Michael malah masuk ke jalan tol.

Padahal, jalan pulang kami seharusnya hanya perlu melewati jembatan Hadani.

Menyadari tatapan bingungku, suamiku memberikan penjelasan yang jarang dia lakukan, “Penerbangan Jess tertunda, aku mau menjemputnya, biar dia bisa merayakan tahun baru bersama kita.”

Seharusnya Jessica pulang ke kampung halamannya untuk merayakan tahun baru.

Sekarang jalanan menuju bandara macet total, terlihat merah di peta navigasi.

Aku sama sekali tak ingin menghabiskan malam tahun baru di jalan tol.

“Kalau begitu, turunkan aku di area istirahat depan, aku pulang naik taksi sendiri saja.”

Drama ditinggalkan di tengah jalan seperti ini bukan pertama kalinya terjadi.

Dengan tenang, aku mulai melepas sabuk pengaman.

“Hana, Jess itu adikku, jangan kekanak-kanakan begini.”

Hanya dari panggilannya saja, Jess dan Hana, sudah terlihat jelas dia berpihak pada siapa.

Tiba-tiba, mobil di sebelah kami terggelincir ke kiri dan sedikit menyenggol bagian belakang mobil kami.

Tubuhku yang berat ini tak sengaja terdorong ke depan, tapi detik berikutnya Michael merangkulku dengan erat.

Suaranya yang dingin menusuk telinga, “Hana, kalau kamu mau mati nggak masalah, tapi jangan main-main dengan nyawa anakku.”

Ternyata oh ternyata, hanya anak ini yang penting baginya.

Rasa sesak yang menumpuk sepanjang malam tumpah menjadi air mata. Aku reflek menutupnya dengan punggung tanganku.

“Michael, bukankah dulu kamu sendiri yang memintaku bersikap seperti ini?”

Ucapku padanya sambil menoleh.

Di saat hari peringatan pernikahan kami, Michael mengajakku ke sebuah pulau. Di tengah jalan, dia menerima telepon dari Jessica dan langsung pergi begitu saja dengan kapal, meninggalkan aku sendirian.

Saat usia kehamilanku yang ketiga bulan, aku tak sengaja terjatuh. Sebenarnya dia bisa mengantarku ke rumah sakit, tapi dia malah repot-repot memanggil ambulans. Hanya karena Jessica tak suka mencium bau aneh di mobilnya.

Entah kenapa, saat hamil terkadang aku sulit menahan buang air kecil.

Orang-orang bilang, kursi penumpang depan adalah kursi milik istri.

Namun bagi Michael, kursi itu selamanya hanya milik Jessica.

Aku tak pernah menjadi pilihan utamanya.

“Waktu acara kantor, lalu saat hari peringatan pernikahan….”

Semua hari pentingku dan Michael selalu saja disela oleh Jessica.

“Cukup, jangan dibahas lagi.”

Suamiku menurunkan kaca jendela sedikit untuk mencari udara segar, tapi dia langsung dihujani suara klakson dari mobil belakang.

“Woi, gila ya?! Jalan depan sudah kosong, kok nggak jalan?”

“Aku buru-buru mau sampai rumah untuk merayakan tahun baru bersama istri dan anakku!”

Michael seolah terpicu emosinya. Dengan keras kepala, dia melewati area istirahat dan terus melaju lurus menuju arah bandara.

“Hana, kok hal kecil begini selalu diungkit-ungkit? Kamu sengaja mau buat aku jadi bahan tertawaan orang?”

Tiba-tiba, aku kembali menjadi pelampiasan emosinya.

Aku mendengus sinis. Baru saja ingin membantahnya, aku merasakan cairan hangat mengalir keluar dari tubuhku.

Begitu menunduk, rok krem yang kupakai sudah berlumuran darah, bahkan sampai menetes ke jok mobil.

Aku menoleh ke arah Michael dan berkata, “Michael, ambulans… cepat panggil ambulans.”

Namun, dia bahkan tak melirikku sedikitpun, “Tunggu sebentar.”

Tepat jam dua belas malam, kembang api tahun baru meledak di luar jendela mobil, menenggelamkan suara minta tolongku.

Di saat yang sama, ikon api di aplikasi pesannya berhasil menyala. Michael baru saja mengirimkan ucapan selamat tahun baru pertama untuk adik kesayangannya itu.

Seolah baru teringat permintaanku tadi, dia menoleh dan bertanya, “Apa kamu bilang tadi?”

Warna merah yang meluas itu terpampang jelas di matanya.

Saat ini, aku sudah tak panik lagi. Dengan nada tenang, aku berkata pada Michael, “Nggak apa-apa, ucapan tahun baru kalian jauh lebih penting.”

Aku mengulang kata demi kata yang pernah dia ucapkan padaku, “Aku bisa menunggu.”

“Berapa lama pun, aku akan menunggu.”

Semua pilihan kini kuserahkan sepenuhnya ke tangannya.

Wajah Michael perlahan memucat. Akhirnya dia menyadari bahaya yang mengancam dan mulai menekan klakson dengan panik, berusaha menerobos mencari jalan keluar.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 10

    Aku mengambilkan sepotong iga asam manis untuknya, “Ayo, makan dulu.”Seolah tahu apa yang akan kukatakan selanjutnya, dia mulai mencoba memperbaiki keadaan, “Aku sudah bicara tegas dengan Jessica. Aku akan mengirimnya kuliah keluar negeri lebih awal.”“Dulu aku bukan sengaja mengabaikanmu. Aku janji, mulai sekarang akan menjalani hidup baik-baik bersamamu.”Aku mengibaskan tangan, sama sekali tidak tertarik pada permintaan maaf yang dulu sangat kudambakan.“Aku nggak mau membahas hal seperti ini di meja makan.”“Makan saja dulu dengan tenang.”Namun, Michael tetap bersikeras, mendesak dan tampak panik.“Setelah makan, kamu nggak akan kasih aku kesempatan lagi.”Tatapannya tertuju pada dua koper di ruang tamu dan kehilangan ketenangan yang biasanya dia miliki.Kemudian, dia memelukku erat, suaranya gemetar, “Kok kamu nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?”Soal rencana kuliah keluar negeri ini, aku sama sekali tidak merahasiakannya. Dokumen pendaftarannya sebenarnya sudah terbuka l

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 9

    Ada puluhan pesan di whatsapp.Semuanya dari Michael.[Kamu di mana?][Aku jemput sekarang, ya?][Kok belum pulang?]Peran penanya yang posesif seperti ini harusnya adalah diriku.Namun, aku tak membalas. Aku memilih untuk menyelesaikannya langsung secara tatap muka.Michael sudah menungguku di rumah. Begitu membuka pintu, aku langsung melihat koper yang tergeletak di ruang tamu.Asbak di depan Michael pun sudah hampir penuh.Sejak hamil, aku sudah berkali-kali memintanya berhenti merokok, tapi dia tak pernah peduli.“Kok harus begitu ikut campur? Aku bahkan nggak punya kebebasan sedikitpun?”Namun, hanya karena Jessica mengeluh di meja makan, Michael langsung mengubah kebiasaan itu.Begitu melihatku, dia buru-buru mematikan rokok di tangannya, “Asapnya buat kamu sesak?”“Nggak apa-apa.”Kilatan rasa terluka melintas di mata Michael, “Biasanya kalau aku merokok, kamu pasti akan marah. Kok sekarang jadi begitu gampang diajak bicara?”Aku menoleh dan tersenyum padanya, “Memberimu kebeba

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 8

    Jessica tak pernah merasakan hidup susah dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya di bawah perlindungan Michael, dia selalu hidup sangat berkecukupan.Pergi ke disneyland tak perlu antri dan saat beli tas keluaran terbaru, dia tak perlu melihat muka masam pelayan toko.Karena khawatir dia tak nyaman tinggal di asrama kampus, Michael bahkan sengaja membelikan apartemen di dekat sana.Tentu saja Jessica tak tahu bagaimana rasanya membeli kue yang hanya bisa dibeli saat diskon tengah malam.Seluruh ruang tamu terjebak dalam suasana canggung. Aku pun terpaksa membuka suara untuk mencairkan suasana, “Sebenarnya rasanya nggak seburuk itu.”Hanya saja, bagiku yang sekarang, kue itu terasa sulit untuk ditelan, begitu juga dengan orangnya.Jessica dengan cepat menenangkan dirinya, “Iya juga, lagipula nggak banyak orang seperti kakak yang setelah kehilangan anak masih bisa dengan tenang minta dirayakan ulang tahunnya yang sudah terlewat.”“Aku benar-benar nggak bisa menirunya.”Tiba-tiba, kue d

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 7

    Logo besarnya sangat mencolok, persis seperti toko kue di seberang jalan sebelum kami pindah rumah duluHanya saja, hiasan di atas kuenya agak miring dan semprotan krimnya juga tidak rapi.Tetap saja sama, selalu asal-asalan.Michael bilang dia ingin merayakan ulang tahunku yang sudah terlewat.Dia menghampiriku dengan mesra, menggandeng tanganku dan membujukku untuk berdoa, lalu memotong kuenya.Jika dulu, aku pasti akan sangat senang, rasanya ingin pamer ke seluruh dunia kalau aku punya suami yang sangat baik.“Ini kue kesukaanmu dulu, ‘kan? Aku sengaja berkendara jauh-jauh hanya untuk beli ini.”Aku memotong kalimatnya dengan datar, “Iya, aku tahu.”Lalu, aku langsung meniup lilinnya, berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.Bahkan tidak melirik kue itu sedikit pun.Michael terdiam sejenak, lalu mengejarku, “Kamu nggak suka rasanya? Kalau nggak suka, aku bisa pesankan yang lain sekarang.”Aku menoleh melihatnya dan menjawab, “Bukan, aku lagi diet gula akhir-akhir ini.”Demi mengemb

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 6

    Aku reflek melirik jam dinding di ruang tamu, baru jam sebelas malam.Michael melangkah terhuyung-huyung menuju dapur, lalu bertanya dengan nada menuntut, “Kamu nggak siapkan air madu untukku?”Aku terdiam sejenak, lalu menjawab, “Nggak ada.”Dulu, Michael selalu menjadikan urusan pekerjaan sebagai alasan untuk mabuk-mabukan dan baru pulang jam satu atau dua pagi setiap beberapa hari sekali.Aku pun dengan sabar selalu menyalakan satu lampu untuk menunggunya pulang dan di dapur selalu ada air madu untuk meredakan mabuknya.Bahkan saat sedang hamil pun, aku tetap melakukannya.Biasanya rutin setiap hari rabu dan sabtu.Belakangan aku baru tahu, ternyata dua hari itu adalah hari di mana Jessica tidak ada jadwal kuliah malam.Itulah kenapa mereka bisa bebas main sampai larut malam.Michael memijat keningnya seolah sedang kesakitan, “Jadi, kamu masih marah?”Di saat yang sama, terdengar suara temanku, “Bagaimana kalau kita bertemu beberapa hari lagi?”Dua suara laki-laki itu terdengar sang

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 5

    “Tunggu sampai masalah ini selesai, tunggu sampai tubuhmu pulih, aku janji akan menjelaskan semuanya. Kamu boleh tanya apa saja yang ingin kamu tahu.”Aku benar-benar tak mengerti, sebenarnya apa fungsi mulutnya itu? Hanya dipakai untuk makan saja?Namun, aku tak ingin menunggu lagi.Aku memalingkan wajah dan memunggunginya, “Aku capek, kamu keluar saja.”Di depan orang tuaku, Michael bersikap sangat baik.Melayani tanpa mengeluh sedikitpun.Karena ini awal tahun baru, masih banyak urusan di rumah yang harus diselesaikan.Aku pun mendesak kedua orang tuaku untuk segera pulang.Sebelum pergi, ibu berbisik menanyakanku, “Kamu masih berniat lanjut terus sama dia?”“Hana, kamu harus tahu kapan waktunya berhenti sebelum kerugiannya semakin besar.”Aku menyandarkan kepala di bahu ibu, menggesekkan bahuku seperti yang kulakukan saat kecil dan mataku pun mulai berkaca-kaca.“Iya, aku mengerti.”Hana tidak akan menjadi pengecut selamanya.….Mungkin karena rasa bersalah, Michael membatalkan sem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status