Share

Penantian Yang Tak Berujung
Penantian Yang Tak Berujung
Author: Mella

Bab 1

Author: Mella
Michael tahu betul kalau aku susah mengenali jalan.

Di luar sedang turun salju dan aku dengan perut hamil lima bulan, berjalan mondar-mandir mencari keberadaan suamiku.

Sebenarnya aku tak terlalu marah, karena macet di malam tahun baru itu adalah hal yang wajar.

Namun, dia sudah berjanji akan menjemputku sebelum jam sepuluh malam.

Melalui whatsapp, dia mengarahkanku lari ke sana kemari, tapi setengah jam berlalu, bayangannya tak kunjung terlihat.

Akhirnya, aku meneleponnya, “Michael, kapan kamu datang jemput aku?”

Suara kesal Michael terdengar, “Bisa nggak kamu tunggu sebentar lagi? Ini malam tahun baru, macet di mana-mana.”

Belum sempat aku merespon, telepon sudah dimatikan.

Padahal tadi dia baru saja mengirim pesan bilang sudah sampai di tempat parkir.

Kemudian, aku melihat postingan terbarunya Jessica, gadis yang saat ini sedang disantuni suamiku.

[Jejak yang dia tinggalkan untukku.]

Di bawah tulisan itu ada sebuah foto live, bekas merah di lehernya terlihat sekilas.

Aku menatap layar ponsel, membuka foto itu berulang kali. Suara di dalamnya terdengar sangat jelas.

“Benaran nggak mau jemput istrimu yang teladan itu? Dia lagi hamil lima bulan, lho?”

Si pria tertawa pelan, suaranya terdengar tak peduli, “Hanya jemput saja, biar dia tunggu sebentar lagi.”

“Aku merasa sejak dia hamil, badannya jadi berbau, nggak sewangi kamu.”

Postingan itu diunggah dua jam yang lalu.

Itu suara Michael, meskipun interior mobil di video itu bukan mobil yang kukenal.

Tangan dan kakiku mulai terasa dingin. Kontrak yang kupeluk hangat di dada kini terasa tak ada artinya lagi.

Terakhir kali Michael gagal investasi, operasional perusahaannya langsung terganggu.

Demi mendapatkan kerja sama ini, aku yang sedang hamil besar rela kesana-kemari, bahkan menelan semua hinaan dari pihak investor di meja makan.

Tiba-tiba, lampu mobil di depan menyala, Michael duduk di dalam dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Dia ganti mobil baru.

Setengah jam yang lalu, saat aku kebingungan mencarinya, mobil bentley hitam ini sudah terparkir di sini.

Goyangan mobil itu bahkan sempat menarik perhatian beberapa orang.

Rasa sesak memenuhi dadaku, pahit dan menyakitkan.

“Nggak bisakah kamu cari tempat untuk menunggu? Bagaimana kalau anak di perutmu kenapa-napa karena kedinginan?”

Nada bicaranya menyalahkan. Padahal di postingan tadi dia tak bilang seperti itu.

Ternyata, darah daging di perutku jauh lebih penting daripada aku, manusia yang masih bernapas ini.

“Kontraknya sudah ditanda tangan?”

Pertanyaan pertama soal anak, pertanyaan kedua soal kontrak.

Perasaan sakit hati menjalar ke seluruh tubuhku.

Sebenarnya aku tak ingin ikut campur dalam kerja sama ini, tapi Jessica sempat bilang di depan suamiku, “Investor itu sangat suka lukisan kakak ipar."

Karena itulah, Michael memaksaku untuk datang.

Seolah sudah menjadi kebiasaan, aku reflek mencari sosok Jessica di sekitar.

Takut dia tiba-tiba muncul dan mempermalukanku lagi, tapi di dalam mobil memang tidak ada orang lain.

Namun, di leher Michael masih tertinggal bekas cakaran yang masih baru.

Menyadari aku menatap lehernya tanpa berkedip, suamiku seolah teringat sesuatu. Dia reflek menarik kerah bajunya ke atas.

Dulu, aku pasti akan bertanya dengan histeris, tapi jawabannya selalu sama.

[Hana, sebagai kakak ipar, kamu harus lebih murah hati. Jangan selalu perhitungan dengan adik sendiri.]

Michael selalu bilang menganggapnya adik, tapi sejak Jessica muncul tiga tahun lalu, hubungan kami tak pernah sama lagi.

Jessica selalu menjadi sosok yang lebih intim dari diriku, istrinya sendiri.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 10

    Aku mengambilkan sepotong iga asam manis untuknya, “Ayo, makan dulu.”Seolah tahu apa yang akan kukatakan selanjutnya, dia mulai mencoba memperbaiki keadaan, “Aku sudah bicara tegas dengan Jessica. Aku akan mengirimnya kuliah keluar negeri lebih awal.”“Dulu aku bukan sengaja mengabaikanmu. Aku janji, mulai sekarang akan menjalani hidup baik-baik bersamamu.”Aku mengibaskan tangan, sama sekali tidak tertarik pada permintaan maaf yang dulu sangat kudambakan.“Aku nggak mau membahas hal seperti ini di meja makan.”“Makan saja dulu dengan tenang.”Namun, Michael tetap bersikeras, mendesak dan tampak panik.“Setelah makan, kamu nggak akan kasih aku kesempatan lagi.”Tatapannya tertuju pada dua koper di ruang tamu dan kehilangan ketenangan yang biasanya dia miliki.Kemudian, dia memelukku erat, suaranya gemetar, “Kok kamu nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?”Soal rencana kuliah keluar negeri ini, aku sama sekali tidak merahasiakannya. Dokumen pendaftarannya sebenarnya sudah terbuka l

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 9

    Ada puluhan pesan di whatsapp.Semuanya dari Michael.[Kamu di mana?][Aku jemput sekarang, ya?][Kok belum pulang?]Peran penanya yang posesif seperti ini harusnya adalah diriku.Namun, aku tak membalas. Aku memilih untuk menyelesaikannya langsung secara tatap muka.Michael sudah menungguku di rumah. Begitu membuka pintu, aku langsung melihat koper yang tergeletak di ruang tamu.Asbak di depan Michael pun sudah hampir penuh.Sejak hamil, aku sudah berkali-kali memintanya berhenti merokok, tapi dia tak pernah peduli.“Kok harus begitu ikut campur? Aku bahkan nggak punya kebebasan sedikitpun?”Namun, hanya karena Jessica mengeluh di meja makan, Michael langsung mengubah kebiasaan itu.Begitu melihatku, dia buru-buru mematikan rokok di tangannya, “Asapnya buat kamu sesak?”“Nggak apa-apa.”Kilatan rasa terluka melintas di mata Michael, “Biasanya kalau aku merokok, kamu pasti akan marah. Kok sekarang jadi begitu gampang diajak bicara?”Aku menoleh dan tersenyum padanya, “Memberimu kebeba

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 8

    Jessica tak pernah merasakan hidup susah dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya di bawah perlindungan Michael, dia selalu hidup sangat berkecukupan.Pergi ke disneyland tak perlu antri dan saat beli tas keluaran terbaru, dia tak perlu melihat muka masam pelayan toko.Karena khawatir dia tak nyaman tinggal di asrama kampus, Michael bahkan sengaja membelikan apartemen di dekat sana.Tentu saja Jessica tak tahu bagaimana rasanya membeli kue yang hanya bisa dibeli saat diskon tengah malam.Seluruh ruang tamu terjebak dalam suasana canggung. Aku pun terpaksa membuka suara untuk mencairkan suasana, “Sebenarnya rasanya nggak seburuk itu.”Hanya saja, bagiku yang sekarang, kue itu terasa sulit untuk ditelan, begitu juga dengan orangnya.Jessica dengan cepat menenangkan dirinya, “Iya juga, lagipula nggak banyak orang seperti kakak yang setelah kehilangan anak masih bisa dengan tenang minta dirayakan ulang tahunnya yang sudah terlewat.”“Aku benar-benar nggak bisa menirunya.”Tiba-tiba, kue d

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 7

    Logo besarnya sangat mencolok, persis seperti toko kue di seberang jalan sebelum kami pindah rumah duluHanya saja, hiasan di atas kuenya agak miring dan semprotan krimnya juga tidak rapi.Tetap saja sama, selalu asal-asalan.Michael bilang dia ingin merayakan ulang tahunku yang sudah terlewat.Dia menghampiriku dengan mesra, menggandeng tanganku dan membujukku untuk berdoa, lalu memotong kuenya.Jika dulu, aku pasti akan sangat senang, rasanya ingin pamer ke seluruh dunia kalau aku punya suami yang sangat baik.“Ini kue kesukaanmu dulu, ‘kan? Aku sengaja berkendara jauh-jauh hanya untuk beli ini.”Aku memotong kalimatnya dengan datar, “Iya, aku tahu.”Lalu, aku langsung meniup lilinnya, berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.Bahkan tidak melirik kue itu sedikit pun.Michael terdiam sejenak, lalu mengejarku, “Kamu nggak suka rasanya? Kalau nggak suka, aku bisa pesankan yang lain sekarang.”Aku menoleh melihatnya dan menjawab, “Bukan, aku lagi diet gula akhir-akhir ini.”Demi mengemb

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 6

    Aku reflek melirik jam dinding di ruang tamu, baru jam sebelas malam.Michael melangkah terhuyung-huyung menuju dapur, lalu bertanya dengan nada menuntut, “Kamu nggak siapkan air madu untukku?”Aku terdiam sejenak, lalu menjawab, “Nggak ada.”Dulu, Michael selalu menjadikan urusan pekerjaan sebagai alasan untuk mabuk-mabukan dan baru pulang jam satu atau dua pagi setiap beberapa hari sekali.Aku pun dengan sabar selalu menyalakan satu lampu untuk menunggunya pulang dan di dapur selalu ada air madu untuk meredakan mabuknya.Bahkan saat sedang hamil pun, aku tetap melakukannya.Biasanya rutin setiap hari rabu dan sabtu.Belakangan aku baru tahu, ternyata dua hari itu adalah hari di mana Jessica tidak ada jadwal kuliah malam.Itulah kenapa mereka bisa bebas main sampai larut malam.Michael memijat keningnya seolah sedang kesakitan, “Jadi, kamu masih marah?”Di saat yang sama, terdengar suara temanku, “Bagaimana kalau kita bertemu beberapa hari lagi?”Dua suara laki-laki itu terdengar sang

  • Penantian Yang Tak Berujung   Bab 5

    “Tunggu sampai masalah ini selesai, tunggu sampai tubuhmu pulih, aku janji akan menjelaskan semuanya. Kamu boleh tanya apa saja yang ingin kamu tahu.”Aku benar-benar tak mengerti, sebenarnya apa fungsi mulutnya itu? Hanya dipakai untuk makan saja?Namun, aku tak ingin menunggu lagi.Aku memalingkan wajah dan memunggunginya, “Aku capek, kamu keluar saja.”Di depan orang tuaku, Michael bersikap sangat baik.Melayani tanpa mengeluh sedikitpun.Karena ini awal tahun baru, masih banyak urusan di rumah yang harus diselesaikan.Aku pun mendesak kedua orang tuaku untuk segera pulang.Sebelum pergi, ibu berbisik menanyakanku, “Kamu masih berniat lanjut terus sama dia?”“Hana, kamu harus tahu kapan waktunya berhenti sebelum kerugiannya semakin besar.”Aku menyandarkan kepala di bahu ibu, menggesekkan bahuku seperti yang kulakukan saat kecil dan mataku pun mulai berkaca-kaca.“Iya, aku mengerti.”Hana tidak akan menjadi pengecut selamanya.….Mungkin karena rasa bersalah, Michael membatalkan sem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status