Share

Menguping

Penulis: hofi03
last update Tanggal publikasi: 2026-06-06 23:19:34

"Aktingku lumayan bagus kan tadi, Elna? Pria itu langsung percaya kalau aku ini pedagang miskin," tanya Arlon, melirik Elena.

Elena mengikat tali kudanya dengan kencang, lalu menoleh ke arah Arlon dengan senyuman miring yang tipis.

"Lumayan untuk ukuran pangeran yang selama ingin tidak pernah tahu dunia luar, tapi jangan senang dulu, kamar di atas pasti sangat kotor, dan tugas kita yang sebenarnya adalah menguping pembicaraan orang-orang di dalam kedai nanti saat makan malam," ucap Elena, menat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Penawar Nyawa Sang Pangeran Terbuang   SIMBOL BUNGA MATAHARI

    "El, coba kamu lihat ini," panggil Arlon dengan suara setengah berbisik, memanggil Elena tanpa menoleh ke belakang.Elena membuka matanya perlahan, mengusap pelipisnya yang masih berdenyut, lalu berjalan mendekati Arlon dengan langkah yang agak limbung."Ada apa? Kamu menemukan jejak anak buah Arkan?" tanya Elena masih sedikit lemas."Bukan. Lihat ukiran kuno ini," jawab Arlon menunjuk ke arah permukaan batu yang sudah dia bersihkan.Di sana, terukir sebuah simbol kuno berbentuk bunga matahari besar yang mekar sempurna, dengan detail kelopak yang sangat rapi.Ukiran itu tampak sangat tua, namun polanya benar-benar persis dengan gambar bunga matahari yang selalu disukai Elena, bahkan mirip dengan simbol pada kotak misterius dari pria bertudung hitam itu.DegElena terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap lekat-lekat ke arah ukiran batu tersebut.Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan ada rasa hangat yang aneh kembali menjalar dari ujung jarinya hingga ke seluruh tubuh, perl

  • Penawar Nyawa Sang Pangeran Terbuang   RERUNTUHAN

    Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar, tepat mengenai wajah Arlon. Pangeran itu mengerjap-erjap, lalu meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena semalaman tidur dengan posisi bersandar di tepi ranjang.Begitu matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dia lihat adalah kasur jerami di sampingnya yang sudah kosong dan rapi."El?" panggil Arlon setengah berbisik, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.Tidak ada jawaban, seketika Arlon langsung menegakkan tubuhnya dengan panik, mengira terjadi sesuatu pada istrinya. Namun, pintu kamar mendadak terbuka pelan dan sosok Elena masuk sambil membawa sebuah bungkusan kain kecil."Jangan teriak-teriak, ini masih terlalu pagi untuk ukuran pedagang bangkrut yang pemalas," ucap Elena ketus, sambil menutup pintu kembali dengan sikutnya."Astaga, kamu membuatku jantungan, aku kira kamu diculik oleh anak buah Arkan saat aku ketiduran," ucap Arlon mengembuskan napas lega, lalu kembali duduk lemas di lantai.

  • Penawar Nyawa Sang Pangeran Terbuang   Wanita Paling Berharga

    Mendengar frasa Klan Penyembuh Matahari, Elena mendadak merasa dadanya sangat sesak, kepalanya mendadak berdenyut menyengat, membuat gadis itu refleks memegangi pelipisnya dengan tangan yang sedikit gemetar."Elena? Kamu kenapa?" tanya Arlon panik, wajah jahilnya langsung hilang total berganti kekhawatiran, bahkan dia lupa dengan nama samaran mereka."Kepalaku... mendadak pusing sekali," bisik Elena jujur, suaranya agak melemah, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang pembunuh bayaran berdarah dingin."Ada rasa hangat yang aneh di dadaku, rasanya seperti tempat itu memanggilku..." ucap Elena lirih.Arlon meremas pelan jemari Elena, menyalurkan kehangatan tubuhnya untuk menenangkan istrinya."Tenang, El, atur napas mu perlahan, kita tidak bisa menarik perhatian mereka sekarang," ucap Arlon, khawatir.Elena memejamkan matanya selama beberapa detik, menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya perlahan sampai denyut di kepalanya agak mereda.Begitu dia membuka mata, dia l

  • Penawar Nyawa Sang Pangeran Terbuang   Menguping

    "Aktingku lumayan bagus kan tadi, Elna? Pria itu langsung percaya kalau aku ini pedagang miskin," tanya Arlon, melirik Elena.Elena mengikat tali kudanya dengan kencang, lalu menoleh ke arah Arlon dengan senyuman miring yang tipis."Lumayan untuk ukuran pangeran yang selama ingin tidak pernah tahu dunia luar, tapi jangan senang dulu, kamar di atas pasti sangat kotor, dan tugas kita yang sebenarnya adalah menguping pembicaraan orang-orang di dalam kedai nanti saat makan malam," ucap Elena, menatap Arlon.Arlon mengusap tengkuknya sambil menatap bangunan kedai kayu yang tampak reyot itu."Iya, aku tahu. Tapi jujur, Elna, bau kotoran kuda di samping sini benar-benar menguji penciumanku. Ayo cepat masuk sebelum aku pingsan duluan," ajak Arlon, sudah mulai rewel.Pangeran buangan yang belum terbiasa dengan dunia luar itu, terlihat kurang nyaman dengan keadaan di luar, yang ternyata lebih kotor dari pada Paviliun Bintang tempat dia tinggal selama ini."Manja sekali, pdahal tadi di hutan gay

  • Penawar Nyawa Sang Pangeran Terbuang   Singgah Di Penginapan

    "Lalu kamu mau aku bilang apa, Arlon?! Bahwa aku ini monster? Atau aku ini penyihir?!" suara Elena sedikit meninggi, memperlihatkan emosi yang selama ini selalu dia tekan rapat-rapat di balik wajah datarnya.Arlon tertegun melihat reaksi Elena yang cukup emosional, dia sadar bahwa pertanyaannya mungkin telah menyentuh sisi sensitif dari masa lalu istrinya yang misterius.Dengan gerakan lembut, Arlon memajukan kudanya sedikit lebih dekat dan mengulurkan tangannya, menepuk pundak Elena dengan pelan."Hei, tenanglah, aku tidak bermaksud menuduh mu yang macam-macam, mau kamu monster, mau kamu penyihir, atau mau kamu cuma perempuan galak yang hobi menyiksa suaminya, kamu tetap Elena ku. Kamu tetap istriku yang sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali," ucap Arlon dengan senyuman tulus yang sangat hangat, matanya menatap Elena dengan binar penuh penerimaan.Elena terpaku mendengarkan kalimat Arlon. Rasa hangat yang familiar kembali menjalar di dadanya, perlahan mencairkan amarah dan ketakut

  • Penawar Nyawa Sang Pangeran Terbuang   Hutan Mati

    Arlon hanya bisa menghela napas panjang melihat keras kepalanya sang istri, meskipun dalam hati dia merasa lega karena Elena mau sedikit menurunkan kecepatan berkudanya.Mereka terus memacu kuda dalam keheningan selama beberapa menit, hanya suara derap kaki kuda dan patahan ranting kering yang memecah kesunyian hutan mati itu."Arlon," panggil Elena tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka."Ya? Ada apa? Kamu mulai merasa kasihan pada suamimu ini?" tanya Arlon dengan senyum miring andalannya, mencoba mencairkan suasana yang kaku.Elena mengabaikan godaan itu dan melemparkan tatapan serius ke arah jalanan di depan yang mulai melandai."Di depan ada pertigaan sungai keringat, itu adalah titik terdekat dengan jalur utama yang dilewati Arkan. Kita akan berhenti di sana sebentar untuk membaca jejak kaki kuda mereka," ucap Elena menjelaskan rencananya tanpa bantahan."Setuju, pasukan pribadi Arkan tidak sedikit, mereka pasti meninggalkan jejak yang cukup jelas, bahkan di malam hari se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status