LOGINElena mengalihkan pandangannya, menatap tajam ke arah barisan pengawal istana yang sedari tadi hanya berdiri diam menonton pertengkaran tersebut dengan wajah terperangah.
"Kalian semua diperintahkan oleh Ratu untuk menyeret ku ke Paviliun Bintang, bukan? Tunggu apa lagi? Ayo jalan sekarang juga. Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan suamiku, daripada harus terus-menerus membuang waktu berhargaku hanya untuk melihat wajah penuh bedak tebal yang menyedihkan di tempat ini," ucap Elena sembari memutar bola matanya malas. "Kamu akan menyesal! Aku akan memberitahu Ratu! Kamu akan mati membusuk di paviliun itu bersama si pangeran sampah!" teriak Clarissa, penuh kebencian. Tanpa memedulikan lagi teriakan penuh sumpah serapah dan ancaman balas dendam dari Lady Clarissa yang menggema di belakangnya, Elena melangkah pergi dengan dagu terangkat, membiarkan robekan gaunnya melambai tertiup angin, sementara para pelayan dan pengawal hanya bisa ternganga melihat keberanian pengantin baru itu. "Masuk sana! Jangan harap ada makanan enak malam ini," ketus salah satu pengawal sambil mendorong Elena masuk ke dalam ruangan utama yang remang-remang. Brak Pintu kayu besar paviliun tersebut langsung ditutup dengan sangat keras dari luar. Elena menghela napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya, lalu mengangkat tangannya untuk membersihkan debu-debu istana yang menempel di pundak gaunnya, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang hanya diterangi oleh sebatang lilin kecil yang temaram. "Benar-benar tempat yang sangat buruk dan mengenaskan untuk menghabiskan malam bulan madu bagi sepasang pengantin kerajaan," gumam Elena dengan nada malas, melangkah perlahan di atas lantai kayu yang berderit setiap kali dipijak. Sarang laba-laba tampak bergelantungan di sudut-sudut langit-langit, menegaskan bahwa bangunan ini telah lama diabaikan oleh pihak istana. Elena melangkah lebih dalam ke bagian dalam paviliun, menuju ke arah sebuah ranjang kayu berukuran besar yang ditutupi oleh kain kelambu tipis berwarna putih kusam. Di balik kelambu tersebut, indra pendengaran Elena yang sangat tajam dapat menangkap suara helaan napas yang terdengar sangat pendek, berat, dan tidak teratur. Seseorang sedang berbaring di sana, berjuang di antara hidup dan mati. Dengan pelan dan tanpa suara, Elena mendekat selangkah demi selangkah, tangan kanan Elena secara refleks bergerak meraba bagian balik korset gaunnya, memastikan posisi tiga belati peraknya berada di tempat yang tepat dan siap ditarik dalam sekejap mata. Sebagai seorang pembunuh profesional, dia tidak boleh menurunkan kewaspadaannya sedikit pun, dia harus memastikan terlebih dahulu apakah pria di atas ranjang ini benar-benar sedang sekarat karena racun, ataukah ini semua hanyalah sebuah akting sandiwara yang sengaja dibuat untuk menjebaknya. Elena berjalan masuk lebih dalam, menuju sebuah ranjang besar yang tertutup kelambu tipis, di sana, seorang pria tampak berbaring diam, dan napasnya terdengar pendek dan berat. "Jadi, pria menyedihkan ini yang sekarang resmi menjadi suamiku?" gumam Elena pelan saat posisinya kini tepat berada di sisi ranjang. Srettt! Dengan satu gerakan tangan yang mantap, Elena menyibak kain kelambu tipis tersebut dan pandangannya langsung tertuju pada sosok Pangeran Arlon yang sedang berbaring diam di atas kasur yang keras. Pria itu tampak mengenakan pakaian lusuh, dan wajahnya terlihat sangat pucat pasi, dengan lingkaran hitam yang menghiasi bagian bawah matanya. Namun, di balik penampilannya yang memprihatinkan tersebut, Elena tidak dapat menampik fakta bahwa pangeran buangan ini memiliki wajah yang luar biasa tampan. Garis rahangnya terlihat sangat tegas dan maskulin, hidungnya mancung sempurna, dan bentuk bibirnya yang meskipun pucat, memiliki daya pikat tersendiri yang sempat membuat Elena gagal fokus selama beberapa detik. "Bodoh! Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan di saat seperti ini, Elena?" gumam Elena sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, mengusir pikiran tidak penting yang baru saja melintasi otaknya. Elena menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mengulurkan jari-jemari tangannya yang lentik, bermaksud untuk menyentuh dan memeriksa denyut nadi di leher Pangeran Arlon guna mengetahui seberapa parah kerusakan organ dalam akibat racun yang dideritanya. Namun, baru saja ujung jarinya berjarak beberapa sentimeter dari kulit leher sang pangeran, tiba-tiba sepasang mata milik Pangeran Arlon terbuka dengan sangat lebar. "Siapa yang mengirim mu?" tanya Arlon, lemah. "Ratu? Atau kau hanya tikus kecil yang ingin mencuri sesuatu sebelum aku mati?" lanjut Pangeran Arlon. Elena terdiam menatap pria yang tampak begitu menyedihkan di hadapannya itu, dia baru saja hendak membalas ucapan Pangeran Arlon, saat indra pendengarannya yang tajam menangkap suara halus dari atas langit-langit paviliun. Sring "Diam," desis Elena, pelan, matanya yang semula tenang berubah tajam. Pangeran Arlon masih berjuang dengan napasnya, dadanya naik turun dengan tidak teratur. "A-apa... uhuk...uhuk... ada apa?" tanya Pengeran Arlon, terbatuk-batuk. Belum sempat Arlon Elena menjawab pertanyaan Pangeran Arlon, atap kayu di atas ranjang mereka hancur berkeping-keping. Debu beterbangan menutupi pandangan saat dua sosok berpakaian hitam terjun dengan pedang terhunus tepat ke arah jantung Arlon. Brak Insting pembunuh Elena mengambil alih, dengan satu gerakan, Elena mendorong tubuh Arlon hingga jatuh dari ranjang, berguling di lantai yang dingin dan kotor. Salah satu belati peraknya sudah berada di genggaman tangan nya, menangkis serangan pedang musuh hingga memercikkan bunga api. Trang "Sial, gaun ini benar-benar menyusahkan!" umpat Elena, berdiri di depan Pangeran Arlon yang tergeletak lemah, menjadi tameng hidup bagi sang pangeran. Penyusup itu tidak membuang waktu, mreka menyerang kembali dengan bersamaan. "Habisi mereka berdua!" perintah ketua, penyusup itu. TRANG TRANG BHUK Elena cukup kewalahan karena harus bertarung sambil memastikan tubuh Arlon tidak terkena sabetan senjata. BHUK BHUK BRAKKK Fokus Elena harus dibagi dua, saat dia baru saja menendang satu musuh, seorang penyusup lain memanfaatkan celah dan mengayunkan pedangnya ke arah leher Pangeran Arlon yang tak berdaya. "Pangeran!" teriak Elena, berlari kearah tempat Pangeran Arlon. Tanpa pikir panjang, Elena melompat ke arah Pangeran Arlon, mencengkeram tangan Pangeran Arlon dengan kuat untuk menarik pria itu menjauh. Deg Elena tersentak, dia merasakan energinya seolah ditarik keluar secara paksa, di genggamannya, tangan Pangeran Arlon yang tadi lunglai dan gemetar mendadak menjadi sangat kuat. Sreeett! Tiba-tiba Pangeran Arlon menarik Elena ke belakang punggungnya dengan satu sentakan yang luar biasa kuat. Elena tertegun, otak nya masih tidak bisa berpikir, dia melihat punggung pria yang tadi hampir mati itu kini berdiri sangat tegak di depan nya, Aura hitam yang pekat dan mengerikan mulai menguap dari tubuh Arlon, memenuhi seluruh ruangan hingga membuat suhu paviliun anjlok drastis. Srak Arlon menangkap pedang musuh yang meluncur ke arahnya hanya dengan tangan kosong, dia tidak terluka sedikit pun, dengan satu tangan nya, Pangeran Arlon bergerak melawan para penyusup itu dengan cepat. TRANG TRANG TRANG Para penyusup yang melihat target mereka ternyata bukan pria lemah, mereka langsung menyerang Pangeran Arlon secara bersamaan."El, coba kamu lihat ini," panggil Arlon dengan suara setengah berbisik, memanggil Elena tanpa menoleh ke belakang.Elena membuka matanya perlahan, mengusap pelipisnya yang masih berdenyut, lalu berjalan mendekati Arlon dengan langkah yang agak limbung."Ada apa? Kamu menemukan jejak anak buah Arkan?" tanya Elena masih sedikit lemas."Bukan. Lihat ukiran kuno ini," jawab Arlon menunjuk ke arah permukaan batu yang sudah dia bersihkan.Di sana, terukir sebuah simbol kuno berbentuk bunga matahari besar yang mekar sempurna, dengan detail kelopak yang sangat rapi.Ukiran itu tampak sangat tua, namun polanya benar-benar persis dengan gambar bunga matahari yang selalu disukai Elena, bahkan mirip dengan simbol pada kotak misterius dari pria bertudung hitam itu.DegElena terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap lekat-lekat ke arah ukiran batu tersebut.Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan ada rasa hangat yang aneh kembali menjalar dari ujung jarinya hingga ke seluruh tubuh, perl
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar, tepat mengenai wajah Arlon. Pangeran itu mengerjap-erjap, lalu meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena semalaman tidur dengan posisi bersandar di tepi ranjang.Begitu matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dia lihat adalah kasur jerami di sampingnya yang sudah kosong dan rapi."El?" panggil Arlon setengah berbisik, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.Tidak ada jawaban, seketika Arlon langsung menegakkan tubuhnya dengan panik, mengira terjadi sesuatu pada istrinya. Namun, pintu kamar mendadak terbuka pelan dan sosok Elena masuk sambil membawa sebuah bungkusan kain kecil."Jangan teriak-teriak, ini masih terlalu pagi untuk ukuran pedagang bangkrut yang pemalas," ucap Elena ketus, sambil menutup pintu kembali dengan sikutnya."Astaga, kamu membuatku jantungan, aku kira kamu diculik oleh anak buah Arkan saat aku ketiduran," ucap Arlon mengembuskan napas lega, lalu kembali duduk lemas di lantai.
Mendengar frasa Klan Penyembuh Matahari, Elena mendadak merasa dadanya sangat sesak, kepalanya mendadak berdenyut menyengat, membuat gadis itu refleks memegangi pelipisnya dengan tangan yang sedikit gemetar."Elena? Kamu kenapa?" tanya Arlon panik, wajah jahilnya langsung hilang total berganti kekhawatiran, bahkan dia lupa dengan nama samaran mereka."Kepalaku... mendadak pusing sekali," bisik Elena jujur, suaranya agak melemah, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang pembunuh bayaran berdarah dingin."Ada rasa hangat yang aneh di dadaku, rasanya seperti tempat itu memanggilku..." ucap Elena lirih.Arlon meremas pelan jemari Elena, menyalurkan kehangatan tubuhnya untuk menenangkan istrinya."Tenang, El, atur napas mu perlahan, kita tidak bisa menarik perhatian mereka sekarang," ucap Arlon, khawatir.Elena memejamkan matanya selama beberapa detik, menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya perlahan sampai denyut di kepalanya agak mereda.Begitu dia membuka mata, dia l
"Aktingku lumayan bagus kan tadi, Elna? Pria itu langsung percaya kalau aku ini pedagang miskin," tanya Arlon, melirik Elena.Elena mengikat tali kudanya dengan kencang, lalu menoleh ke arah Arlon dengan senyuman miring yang tipis."Lumayan untuk ukuran pangeran yang selama ingin tidak pernah tahu dunia luar, tapi jangan senang dulu, kamar di atas pasti sangat kotor, dan tugas kita yang sebenarnya adalah menguping pembicaraan orang-orang di dalam kedai nanti saat makan malam," ucap Elena, menatap Arlon.Arlon mengusap tengkuknya sambil menatap bangunan kedai kayu yang tampak reyot itu."Iya, aku tahu. Tapi jujur, Elna, bau kotoran kuda di samping sini benar-benar menguji penciumanku. Ayo cepat masuk sebelum aku pingsan duluan," ajak Arlon, sudah mulai rewel.Pangeran buangan yang belum terbiasa dengan dunia luar itu, terlihat kurang nyaman dengan keadaan di luar, yang ternyata lebih kotor dari pada Paviliun Bintang tempat dia tinggal selama ini."Manja sekali, pdahal tadi di hutan gay
"Lalu kamu mau aku bilang apa, Arlon?! Bahwa aku ini monster? Atau aku ini penyihir?!" suara Elena sedikit meninggi, memperlihatkan emosi yang selama ini selalu dia tekan rapat-rapat di balik wajah datarnya.Arlon tertegun melihat reaksi Elena yang cukup emosional, dia sadar bahwa pertanyaannya mungkin telah menyentuh sisi sensitif dari masa lalu istrinya yang misterius.Dengan gerakan lembut, Arlon memajukan kudanya sedikit lebih dekat dan mengulurkan tangannya, menepuk pundak Elena dengan pelan."Hei, tenanglah, aku tidak bermaksud menuduh mu yang macam-macam, mau kamu monster, mau kamu penyihir, atau mau kamu cuma perempuan galak yang hobi menyiksa suaminya, kamu tetap Elena ku. Kamu tetap istriku yang sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali," ucap Arlon dengan senyuman tulus yang sangat hangat, matanya menatap Elena dengan binar penuh penerimaan.Elena terpaku mendengarkan kalimat Arlon. Rasa hangat yang familiar kembali menjalar di dadanya, perlahan mencairkan amarah dan ketakut
Arlon hanya bisa menghela napas panjang melihat keras kepalanya sang istri, meskipun dalam hati dia merasa lega karena Elena mau sedikit menurunkan kecepatan berkudanya.Mereka terus memacu kuda dalam keheningan selama beberapa menit, hanya suara derap kaki kuda dan patahan ranting kering yang memecah kesunyian hutan mati itu."Arlon," panggil Elena tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka."Ya? Ada apa? Kamu mulai merasa kasihan pada suamimu ini?" tanya Arlon dengan senyum miring andalannya, mencoba mencairkan suasana yang kaku.Elena mengabaikan godaan itu dan melemparkan tatapan serius ke arah jalanan di depan yang mulai melandai."Di depan ada pertigaan sungai keringat, itu adalah titik terdekat dengan jalur utama yang dilewati Arkan. Kita akan berhenti di sana sebentar untuk membaca jejak kaki kuda mereka," ucap Elena menjelaskan rencananya tanpa bantahan."Setuju, pasukan pribadi Arkan tidak sedikit, mereka pasti meninggalkan jejak yang cukup jelas, bahkan di malam hari se
"Alasan apa lagi?" tanya Elena curiga, dia menyipitkan matanya menatap Arlon yang kini duduk lebih dekat ke arahnya."Aku ingin melihat tempat tinggal masa kecilmu, dan Aku juga ingin tahu, ramuan apa yang sebenarnya diberikan oleh Ayah Raven-mu sampai darahmu bisa se-ajaib ini." jawab Arlon pelan,
Hari Festival Musim Semi akhirnya tiba. Lapangan besar istana Belmont penuh sesak dengan rakyat yang ingin melihat persembahan api suci.Raja Alaric duduk di tahta emasnya dengan wajah dingin, sementara di sampingnya, Ratu Selena dan Arkan tampak sangat tenang, terlalu tenang bagi Elena.Elena berd
Elena terdiam cukup lama, lalu dia menarik tangannya pelan dari genggaman Arlon."Aku ini pembunuh bayaran Arlon, tempatku di bayangan, bukan di bawah lampu aula pesta yang terang benderang. Aku tidak cocok pakai gaun mewah dan senyum palsu di depan para bangsawan munafik itu," jawab Elena, mengali
"Kamu tahu tidak? Tadi itu pemandangan paling aneh yang pernah kulihat, penjaga hutan itu, dia seperti melihat dewa, bukan melihat pangeran yang sekarat," ucap Arlon tertawa kecil, suara seraknya terdengar sangat dekat di telinga Elena."Darah naga itu langka, Arlon, wajar kalau pria seperti dia me







