LOGINTRANG
BHUK BHUK BRAKKKK "AAAAAAKKKKKKKHHH!" Suara tendangan di dan suara jeritan, memenuhi paviliun bintang. Pangeran Arlon yang biasanya hanya terbaring lemah di ranjang nya, kini tengah membantai puluhan pembunuh bayaran itu. BRAKK BRAKK BHUK Elena yang masih berada dai balik punggung Pangeran Arlon, mendengus saat melihat lebih banyak lagi penyusup yang masuk lewat jendela. "Cih, mereka benar-benar niat membunuhmu malam ini!" ucap Elena, berdecak kesal. Elena baru saja akan menerjang maju dengan belatinya, tapi langkahnya terhenti, saat dia melihat Arlon yang tadi berdiri tegak seperti monster, tiba-tiba limbung. Tubuh Pangeran Arlon goyah, pedang di tangannya hampir jatuh dan wajah nya kembali pucat. "Pangeran?" panggil Elena mengernyit. Baru saja tangan mereka terlepas karena Elena hendak menyerang, untuk membantu Pangeran Arlon, tapi Arlon justru langsung ambruk berlutut. Uhuk Uhuk Uhuk Pangeran Arlon terbatuk hebat, mulut nya mengeluarkan darah segar yang membasahi lantai. "Jangan... uhukk... jangan lepaskan..." rintih Pangeran Arlon dengan suara yang kembali serak dan lemah. Salah satu dari pembunuh bayaran itu melihat celah, dan mengayunkan pedang besar ke arah kepala Arlon. "Sial!" umpat Elena berdecak kesal. Elena terpaksa melompat kembali ke sisi Pangeran Arlon, menangkap bahu pria itu untuk menariknya menghindar dari tikaman musuh. Srett Deg. Begitu kulit telapak tangan Elena menyentuh leher Pangeran Arlon yang berkeringat dingin, ledakan energi itu kembali lagi. Pangeran Arlon tersentak, punggungnya menegak, dan matanya kembali berkilat tajam. Elena tertegun, dia mencoba melepaskan tangannya karena kaget, dan detik itu juga Pangeran Arlon kembali lemas. "Sial, jadi benar-benar karena aku?" gumam Elena tidak percaya. Elena menatap tangannya sendiri, lalu menatap Pangeran Arlon yang kini tampak seperti pecandu yang baru saja mendapatkan dosis obatnya. Sekarang Elena sadar, Pangeran Arlon bukan pura-pura kuat, tapi dia memang butuh kontak fisik dengannya untuk memicu kekuatan tersembunyi di tubuhnya. "Lakukan, habisi mereka," bisik Elena, mempererat genggaman nya di tangan Pangeran Arlon. Pangeran Arlon menyeringai, wajah pucat nya sudah kembali hilang, wajah nya kini dihiasi sebuah seringai iblis yang sangat tampan namun mematikan. Dengan tangan kiri tetap mengunci tangan Elena, Pangeran Arlon menerjang ke depan. TRANG TRANG TRANG Pangeran Arlon bergerak secepat bayangan, setiap pukulan dan tendangannya menghancurkan tulang musuh dalam sekejap. "Tetaplah di dekatku, Istriku!" seru Pangeran Arlon sambil mematahkan leher musuh terakhir dengan satu tangan nya. KRAKKKK "AAAAKKKKKKHHHH!" Hanya dalam hitungan detik, para penyusup itu tewas berserakan di lantai paviliun dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Suasana kembali hening, hanya menyisakan suara hujan di luar. Pangeran Arlon berdiri di tengah genangan darah, napasnya kini sangat tenang dan bertenaga, perlahan memutar tubuhnya, menatap Elena dengan tatapan dalam nya, yang seolah ingin menembus jiwa gadis itu. "Siapa kamu sebenarnya?" bisik Pangeran Arlon, dengan posisi masih menggenggam tangan Elena. "Kenapa hanya sentuhanmu yang bisa membakar darahku, Elena?" tanya Pangeran Arlon, dengan suara seraknya. Elena tersenyum tipis, menyadari bahwa misinya kali ini jauh lebih gila dari yang ia bayangkan. "Sepertinya, aku bukan sekadar pengantin cadangan, Pangeran, tapi aku adalah nyawamu," jawab Elena, tersenyum miring. "Kalau begitu, jangan pernah berpikir untuk melepaskannya, karena jika kamu pergi, aku akan menyeret seluruh dunia ini ke dalam kegelapan bersamaku," bisik Pangeran Arlon, merapikan anak rambut Elena yang berantakan. Elena mematung, merasakan deru napas Arlon yang hangat menerpa kulit leher nya, kata-kata pria yang kini menjadi suaminya itu bukan sekadar gertakan, melainkan janji yang mengerikan sekaligus memikat. Di tengah aroma anyir darah yang memenuhi ruangan, Elena perlahan menjauhkan wajahnya agar bisa menatap mata Pangeran Arlon, yang tampak sangat bersinar, tajam dan juga sangat berbahaya. "Kamu terlalu dramatis untuk seseorang yang baru saja bangkit dari ranjang kematian, Pangeran," ucap Elena dengan nada remeh, yang sengaja dia buat untuk menutupi rasa gugupnya. "Aku tidak bercanda, Elena, begitu tanganmu terlepas, racun sialan ini akan kembali menggerogoti jantungku," gumam Pangeran Arlon, dengan suara bergetar Elena menghela nafas nya pelan, dirinya benar-benar tidak menyangka, misi yang dirinya kira gampang dan sangat mudah, justru seperti ini, namun Elena juga sadar bahwa saat ini dirinya adalah penawar sekaligus kekuatan bagi suaminya. Dengan tangan yang masih bertautan, Elena berjalan melewati mayat-mayat penyusup itu menuju pintu paviliun yang tertutup rapat. "Kita tidak bisa diam di sini, keributan ini pasti akan mengundang pengawal istana untuk datang kemari," ucap Elena sambil memeriksa keadaan luar melalui celah pintu. Pangeran Arlon mengikuti langkah Elena dengan patuh, meskipun langkahnya sedikit limbung karena tubuhnya masih berusaha beradaptasi dengan kekuatan besar yang dipicu oleh sentuhan Elena. Samar-samar mereka berdua mulai mendengar suara teriakan dan langkah kaki banyak orang, yang mulai mendekati paviliun mereka. "Bersiaplah, Elena, panggung sandiwara kita baru saja dimulai," bisik Pangeran Arlon, menyeringai dingin. BRAK Pintu terbuka dengan kasar, memperlihatkan barisan pengawal kerajaan yang dipimpin oleh Pangeran Arkan. Mereka semua terperangah melihat ruangan yang hancur berantakan dan mayat-mayat yang bergelimpangan, sementara di tengah ruangan, Elena tampak sedang menangis sambil memeluk Arlon yang kembali terlihat lemas dan terus terbatuk darah. "Apa yang terjadi di sini?!" teriak Pangeran Arkan, matanya melotot menatap tumpukan mayat itu. Elena mendongak dengan air mata buatan yang membasahi pipinya. "M-mereka masuk lewat jendela! Mereka ingin membunuh Pangeran!" teriak Elena, menangis dengan bahu bergetar ketakutan. Pangeran Arkan mendekat, memeriksa salah satu mayat. "Siapa yang membunuh mereka semua? Gadis lemah sepertimu tidak mungkin menghabisi puluhan pembunuh profesional sendirian," ucap Pangeran Arkan, mengerutkan alisnya tajam. Elena menunduk, menyembunyikan kilat matanya yang tajam, sementara Pangeran Arlon masih dengan sandiwara nya yang tampak sedang sekarat. "Saya tidak tahu, saat mereka menyerang, tiba-tiba ada seseorang berjubah hitam masuk lewat jendela lain, orang itu bergerak sangat cepat dan menghabisi mereka semua, lalu pergi begitu saja setelah melihat para pengawal datang," jawab Elena, begitu lancar. Pangeran Arkan menatap Elena penuh selidik, lalu beralih menatap Pangeran Arlon yang tampak pingsan. BHUK Pangeran Arkan menendang kaki Pangeran Arlon dengan kasar untuk memastikan apakah pangeran itu benar-benar tidak sadar. "Cih, dasar sampah beruntung, bahkan pembunuh pun merasa kasihan melihat nyawamu yang tinggal seujung kuku ini," gumam Pangeran Arkan pelan. Elena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun nya, tentu saja dia tidak terima dengan perlakuan Pangeran Arkan pada suaminya, walapun mereka baru menikah dan baru kenal, tetap saja Elena marah. "Kalau saja kamu tahu pria yang kamu tendang ini baru saja mematahkan leher orang dengan tangan kosong, kamu pasti sudah kencing di celana," batin Elena, kesal."El, coba kamu lihat ini," panggil Arlon dengan suara setengah berbisik, memanggil Elena tanpa menoleh ke belakang.Elena membuka matanya perlahan, mengusap pelipisnya yang masih berdenyut, lalu berjalan mendekati Arlon dengan langkah yang agak limbung."Ada apa? Kamu menemukan jejak anak buah Arkan?" tanya Elena masih sedikit lemas."Bukan. Lihat ukiran kuno ini," jawab Arlon menunjuk ke arah permukaan batu yang sudah dia bersihkan.Di sana, terukir sebuah simbol kuno berbentuk bunga matahari besar yang mekar sempurna, dengan detail kelopak yang sangat rapi.Ukiran itu tampak sangat tua, namun polanya benar-benar persis dengan gambar bunga matahari yang selalu disukai Elena, bahkan mirip dengan simbol pada kotak misterius dari pria bertudung hitam itu.DegElena terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap lekat-lekat ke arah ukiran batu tersebut.Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, dan ada rasa hangat yang aneh kembali menjalar dari ujung jarinya hingga ke seluruh tubuh, perl
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah jendela kamar, tepat mengenai wajah Arlon. Pangeran itu mengerjap-erjap, lalu meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena semalaman tidur dengan posisi bersandar di tepi ranjang.Begitu matanya terbuka sempurna, hal pertama yang dia lihat adalah kasur jerami di sampingnya yang sudah kosong dan rapi."El?" panggil Arlon setengah berbisik, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.Tidak ada jawaban, seketika Arlon langsung menegakkan tubuhnya dengan panik, mengira terjadi sesuatu pada istrinya. Namun, pintu kamar mendadak terbuka pelan dan sosok Elena masuk sambil membawa sebuah bungkusan kain kecil."Jangan teriak-teriak, ini masih terlalu pagi untuk ukuran pedagang bangkrut yang pemalas," ucap Elena ketus, sambil menutup pintu kembali dengan sikutnya."Astaga, kamu membuatku jantungan, aku kira kamu diculik oleh anak buah Arkan saat aku ketiduran," ucap Arlon mengembuskan napas lega, lalu kembali duduk lemas di lantai.
Mendengar frasa Klan Penyembuh Matahari, Elena mendadak merasa dadanya sangat sesak, kepalanya mendadak berdenyut menyengat, membuat gadis itu refleks memegangi pelipisnya dengan tangan yang sedikit gemetar."Elena? Kamu kenapa?" tanya Arlon panik, wajah jahilnya langsung hilang total berganti kekhawatiran, bahkan dia lupa dengan nama samaran mereka."Kepalaku... mendadak pusing sekali," bisik Elena jujur, suaranya agak melemah, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang pembunuh bayaran berdarah dingin."Ada rasa hangat yang aneh di dadaku, rasanya seperti tempat itu memanggilku..." ucap Elena lirih.Arlon meremas pelan jemari Elena, menyalurkan kehangatan tubuhnya untuk menenangkan istrinya."Tenang, El, atur napas mu perlahan, kita tidak bisa menarik perhatian mereka sekarang," ucap Arlon, khawatir.Elena memejamkan matanya selama beberapa detik, menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya perlahan sampai denyut di kepalanya agak mereda.Begitu dia membuka mata, dia l
"Aktingku lumayan bagus kan tadi, Elna? Pria itu langsung percaya kalau aku ini pedagang miskin," tanya Arlon, melirik Elena.Elena mengikat tali kudanya dengan kencang, lalu menoleh ke arah Arlon dengan senyuman miring yang tipis."Lumayan untuk ukuran pangeran yang selama ingin tidak pernah tahu dunia luar, tapi jangan senang dulu, kamar di atas pasti sangat kotor, dan tugas kita yang sebenarnya adalah menguping pembicaraan orang-orang di dalam kedai nanti saat makan malam," ucap Elena, menatap Arlon.Arlon mengusap tengkuknya sambil menatap bangunan kedai kayu yang tampak reyot itu."Iya, aku tahu. Tapi jujur, Elna, bau kotoran kuda di samping sini benar-benar menguji penciumanku. Ayo cepat masuk sebelum aku pingsan duluan," ajak Arlon, sudah mulai rewel.Pangeran buangan yang belum terbiasa dengan dunia luar itu, terlihat kurang nyaman dengan keadaan di luar, yang ternyata lebih kotor dari pada Paviliun Bintang tempat dia tinggal selama ini."Manja sekali, pdahal tadi di hutan gay
"Lalu kamu mau aku bilang apa, Arlon?! Bahwa aku ini monster? Atau aku ini penyihir?!" suara Elena sedikit meninggi, memperlihatkan emosi yang selama ini selalu dia tekan rapat-rapat di balik wajah datarnya.Arlon tertegun melihat reaksi Elena yang cukup emosional, dia sadar bahwa pertanyaannya mungkin telah menyentuh sisi sensitif dari masa lalu istrinya yang misterius.Dengan gerakan lembut, Arlon memajukan kudanya sedikit lebih dekat dan mengulurkan tangannya, menepuk pundak Elena dengan pelan."Hei, tenanglah, aku tidak bermaksud menuduh mu yang macam-macam, mau kamu monster, mau kamu penyihir, atau mau kamu cuma perempuan galak yang hobi menyiksa suaminya, kamu tetap Elena ku. Kamu tetap istriku yang sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali," ucap Arlon dengan senyuman tulus yang sangat hangat, matanya menatap Elena dengan binar penuh penerimaan.Elena terpaku mendengarkan kalimat Arlon. Rasa hangat yang familiar kembali menjalar di dadanya, perlahan mencairkan amarah dan ketakut
Arlon hanya bisa menghela napas panjang melihat keras kepalanya sang istri, meskipun dalam hati dia merasa lega karena Elena mau sedikit menurunkan kecepatan berkudanya.Mereka terus memacu kuda dalam keheningan selama beberapa menit, hanya suara derap kaki kuda dan patahan ranting kering yang memecah kesunyian hutan mati itu."Arlon," panggil Elena tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka."Ya? Ada apa? Kamu mulai merasa kasihan pada suamimu ini?" tanya Arlon dengan senyum miring andalannya, mencoba mencairkan suasana yang kaku.Elena mengabaikan godaan itu dan melemparkan tatapan serius ke arah jalanan di depan yang mulai melandai."Di depan ada pertigaan sungai keringat, itu adalah titik terdekat dengan jalur utama yang dilewati Arkan. Kita akan berhenti di sana sebentar untuk membaca jejak kaki kuda mereka," ucap Elena menjelaskan rencananya tanpa bantahan."Setuju, pasukan pribadi Arkan tidak sedikit, mereka pasti meninggalkan jejak yang cukup jelas, bahkan di malam hari se
"Alasan apa lagi?" tanya Elena curiga, dia menyipitkan matanya menatap Arlon yang kini duduk lebih dekat ke arahnya."Aku ingin melihat tempat tinggal masa kecilmu, dan Aku juga ingin tahu, ramuan apa yang sebenarnya diberikan oleh Ayah Raven-mu sampai darahmu bisa se-ajaib ini." jawab Arlon pelan,
"Bawa mayat-mayat ini! Dan kau, gadis desa," ucap Pangeran Arkan menunjuk Elena dengan ujung pedangnya."Besok pagi Ibu Ratu akan memanggilmu, jelaskan detail pria berjubah itu padanya, jika kamu berbohong, nasibmu akan lebih buruk dari mayat-mayat ini," lanjut Pangeran Arkan, angkuh.Setelah para
Elena mengalihkan pandangannya, menatap tajam ke arah barisan pengawal istana yang sedari tadi hanya berdiri diam menonton pertengkaran tersebut dengan wajah terperangah. "Kalian semua diperintahkan oleh Ratu untuk menyeret ku ke Paviliun Bintang, bukan? Tunggu apa lagi? Ayo jalan sekarang juga. Ak
"Dengarkan aku, gadis desa, jangan pernah bermimpi untuk tidur nyenyak di istana ini. Kamu hanyalah mainan baru untukku sebelum aku mengirim mu dan suamimu yang cacat itu ke liang lahat!" Suara melengking Lady Clarissa memecah kesunyian koridor panjang Istana Belmont yang bernuansa dingin. Wanita







