MasukGrania dan Asgakar tiba di area event. Banyak pasang mata memandang ke arah Grania yang baru saja keluar dari dalam mobil Asgakar. Sementara Asgakar terlihat santai saja saat ini. Grania memegang erat tali tas nya sambil menundukkan wajahnya karena gugup. Dia takut jika banyak orang akan bertanya macam-macam. "Grania, kamu sama Tuan Asgakar?" Grania sedikit terlonjak ketika ada teman satu timnya bertanya kepadanya. "Ta-tadi cari kendaraan susah, dan nggak tahunya Tuan Asgakar lewat jadi dia ngajak aku barengan." Temannya mengangguk percaya, yang membuat Grania menghembuskan napas lega. Sementara Asgakar yang mendengar itu tersenyum tipis. Grania lalu fokus dengan pekerjaannya saat ini. Terlebih hari ini adalah hari terakhir event yang di adakan perusahaan Asgakar. Event berjalan lancar, mereka puas dengan hasil hari ini. Penjualan juga lumayan melebih target mereka. Sampai saat event akan di tutup dua orang wanita datang ke sana. "Tunggu, aku juga mau membeli
Pagi itu rasanya aneh untuk Asgakar, dia merasa canggung untuk bertemu dengan Grania setelah apa yang dia lakukan semalam. Namun saat dia keluar dari kamarnya, dia malah melihat Grania yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Grania yang merasa jika ada yang sedang memperhatikan nya langsung menoleh. "Pagi Tuan, tumben belum berangkat?" "Ah, i-iya. Masih Jak segini. Sebentar lagi." "Kamu kenapa masih di sini?" "Eh, ini. Aku langsung ke venue karena hari ini hari terakhir event stand bazar. Dan tadi sudah minta ijin bagian HRD. Berangkat langsung dengan beberapa orang dari tim." Asgakar mengangguk paham. Dia duduk di sana mengambil kopi yang sudah dibuatkan Grania. "Tuan, aku boleh bertanya?" "Hem...." "Semalam kok aku merasa jika ada yang mencium ku ya? Tapi nggak ada siapa-siapa!" Byur..... Uhuk..... Asgakar tersedak minumannya yang membuat Grania menatapnya aneh. "Tuan nggak apa-apa?" Grania mengusap punggung Asgakar pelan. "Tidak,
"Ma-makan aku? Apa bisa?" tanya Grania polos. Asgakar melipat bibirnya ke dalam menahan tawa mendengar pertanyaan Grania. Dia semakin ingin menggoda gadis di depannya ini. Terlebih melihat wajah polos gadis itu membuat Asgakar semakin gemas dengan nya. "Makan kamu berarti aku bisa melahap semua tubuhmu!" bisik Asgakar. Mata Grania membelalak, spontan kedua tangannya menutupi bagian dadanya. Asgakar yang melihat itu langsung tergelak. "Haha, kamu lucu sekali. " "Sudahlah, aku nggak akan goda kamu lagi. Sekarang ikut aku." Asgakar menarik tangan Grania, lalu membawa nya ke ruang tengah. Grania yang awalnya bingung pun hanya patuh pada Asgakar. "Mau ngapain Tuan?" Asgakar memberikan berkas kepada Grania. "Coba lihat dan analisa." Grania membuka map itu, membacanya satu persatu. Berkas terkait hotel dan akuisisi perusahaan. Namun matanya menangkap satu nama perusahaan yang sangat dia kenali. "Kenapa diam saja?" "I-ini perusahaan?" "Perusahaan
Grania masih terus melihat tangannya yang di gandeng oleh Asgakar. Mereka terburu-buru pergi dari sana karena Senapati menunggu Grania di depan. Saat ini mereka sudah tiba di parkiran mobil. Menaiki mobil Galaxy untuk pergi dari sana. Sementara Galaxy berjalan santai ke depan. Dia sempat melirik Senapati yang masih celingukan menunggu Grania. 'Gila, kekeh banget dia nunggu Grania!' Galaxy menaiki mobil Asgakar dan mengkode petugas keamanan di sana untuk melarang Senapati masuk. Jika dia membuat ulah mereka harus mengusirnya. "Kemana sih perempuan satu itu? Aku sudah menunggu satu jam di sini, tapi dia nggak muncul juga. Nggak mungkin kan dia tidur di kantor?" Senapati terus celingukan mencari Grania yang membuat para petugas keamanan itu geram. "Mau cari siapa? Semua sudah pulang. Kamu mau maling di sini?" Mata Senapati membola mendengar itu. Terlebih ketika dia di sebut sebagai maling. "Sialan, aku ini seorang Manager. Mana mungkin mau maling. Dasar kalian gila!
Asgakar yang masih di jalan mendadak bingung dengan pesan yang di kirim oleh Galaxy. "Apa terjadi sesuatu lagi pada Grania?" "Ah, harusnya dia berangkat sama aku aja. Bukan malah berangkat sendiri tadi." Asgakar melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikirannya penuh dengan nama Grania. Tak lama, Asgakar tiba di kantor. Dia langsung naik ke ruangannya mencari Galaxy. "Apa yang terjadi?" "Mantan Grania memaksa ke sini, dia mulai berani mengganggu Grania di kantor. Nggak menutup kemungkinan dia akan mengganggu Grania lagi di luar. Lebih baik segera bicara dengan Grania." Asgakar mengusap wajahnya kasar. Dia tak tahu jika ada laki-laki gila seperti Senapati. "Sudah selesai semua surat akuisisinya?" "Sudah, dan kebetulan kita juga akan membahasnya nanti." "Bagus, siapkan semuanya. Pastikan Grania ikut terlibat nanti. " Galaxy mengangguk mengerti, lalu dia melihat berkas akuisisi dan juga kerangka proposal untuk hotel yang akan di bangun perusahaan di man
Setelah kepergian Asgakar, Grania duduk tak nyaman di kamarnya. Dia merutuki kebodohannya karena langsung memeluk Asgakar tanpa pikir panjang. Hanya dia laki-laki yang bisa berdekatan dengan nya. Perlahan Grania sadar jika hanya Asgakar yang bisa memberinya rasa aman. "Kalau Tuan Asgakar marah bagaimana? Kenapa tadi aku langsung peluk dia? Aduh, bodoh sekali kamu Grania!" Grania terus mendumel karena ingat dengan apa yang dia lakukan tadi. Grania sampai menepuk pipinya sendiri karena kekhilafan yang dia lakukan. "_" Sedangkan di dalam kamar Asgakar, laki-laki itu sedang bengong sejak tadi memikirkan apa yang baru dia lakukan dengan Grania. Ralat, yang Grania lakukan kepadanya. "Besok kalau ketemu dia aku harus gimana ya?" 'Apa sok cool atau gimana? Aduh, aku bingung. Sekalinya pelukan sama cewek malah nggak tahu mau ngapain!' Drt.... Asgakar sampai berjingkat karena kaget. Dia meraih ponselnya dan melihat nama Galaxy sedang menghubunginya. "Gimana?" (







