Share

31. Mampus Kau!

Author: MyMelody
last update publish date: 2026-08-19 07:33:24

"Aku tidak sedang mulai apa-apa, Piccola," sahut Don rendah, suaranya makin serak. Bukannya mundur, dia justru melangkah lebih merapat sampai dada telanjang Selena menempel di tubuhnya. "Aku cuma memakaikanmu selembar gaun."

"I know! Tapi caramu memandangku tidak seperti orang yang mau membantuku mengenakan gaun sialan ini!" sergah Selena, pipinya mulai memerah panas.

Don terkekeh tipis. Tangan besarnya tanpa permisi menyelusup ke belakang punggung Selena, menarik pinggang gadis itu hingga tak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penawar Sang Boss Mafia   33. Fashion dan Anggur

    "Racun Sianida berdosis tinggi," desis Don dingin, menatap lurus ke dalam mata Tuan Vargas yang masih bersikap tenang di ujung meja. "Kau benar-benar tidak sabar untuk mati malam ini, Kakek?"Pelayan tua yang melayani Selena tadinya, seketika pucat pasi dan melangkah mundur ketakutan, menundukkan kepala di hadapan Tuan Vargas."Kenapa diam, Kakek?" potong Don dengan suara sedingin es. Pria itu berdiri perlahan dari kursinya, meraih pisau daging tebal di meja, lalu menancapkannya kuat-kuat ke tengah meja makan.BAM!"Racun dosis tinggi di hidangan pertama," desis Don, menatap lurus Tuan Vargas yang masih santai menyesap anggurnya. "Kau sengaja memasang perangkap selicik ini di hadapanku?"Tuan Vargas mengusap bibirnya dengan serbet kain, lalu menatap Don tanpa rasa bersalah sedikit pun."Itu bukan perangkap, Don, tapi ujian," balas Tuan Vargas tenang, suaranya berat dan penuh intimidasi. "Wanita yang berdiri di samping penguasa klan tidak boleh ceroboh. Kalau dia mati hanya karena sep

  • Penawar Sang Boss Mafia   32. Pitbull

    Tuan Vargas memutar tubuhnya dan menatap Don bersama Selena yang masuk dan berjalan berdampingan, senyum hangat di wajah pria tua itu seketika sirna. Matanya menatap tajam, memancarkan kilatan kebencian yang dingin. Bola matanya narik turun atas bawah, menilai gadis pilihan Don yang berdiri di depannya.Don tetap santai, menuntun Selena mendekati ujung meja tempat Tuan Vargas berdiri. Begitu berdiri di depan Kakek Vargas, Selena memberanikan diri melangkah maju, mengulurkan tangannya secara sopan sebagai bentuk tata krama seorang tamu."Selamat malam, Tuan Vargas," ujar Selena tenang.Tuan Vargas hanya menatap tangan halus Selena yang terulur di depannya. Pria tua itu malah memilih menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, sama sekali tidak bergerak untuk menyambut uluran tangan itu.Suasana di dalam ruangan mendadak hening seketika. Para pengawal di sudut ruangan mulai meletakkan tangan mereka di atas gagang senjata."Rumahku hanya menerima ucapan selamat malam dari orang-o

  • Penawar Sang Boss Mafia   31. Mampus Kau!

    "Aku tidak sedang mulai apa-apa, Piccola," sahut Don rendah, suaranya makin serak. Bukannya mundur, dia justru melangkah lebih merapat sampai dada telanjang Selena menempel di tubuhnya. "Aku cuma memakaikanmu selembar gaun.""I know! Tapi caramu memandangku tidak seperti orang yang mau membantuku mengenakan gaun sialan ini!" sergah Selena, pipinya mulai memerah panas.Don terkekeh tipis. Tangan besarnya tanpa permisi menyelusup ke belakang punggung Selena, menarik pinggang gadis itu hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka.Niat awalnya memang murni untuk membantu, tetapi sentuhan kulit mulus Selena di bawah telapak tangannya yang kasar mendadak membakar sisa-sisa kontrol diri yang susah payah dia tahan sejak di kapal tadi."Kau terlalu banyak protes, dan bibirmu terlalu menggoda," gumam Don, lalu meraih gaun merah sutra itu dan meloloskannya melewati kepala Selena.Kain sutra dingin itu meluncur jatuh, membungkus tubuh Selena dengan pas. Namun, sebelum Selena sempat bernapas leg

  • Penawar Sang Boss Mafia   30. Jangan!

    "Kau tuli ya? Lepaskan tanganku, Brengsek!" bentak Valerie.Selena menatap Valerie tajam sebelum akhirnya menghentakkan tangannya hingga wanita bergaun merah itu terdorong mundur dua langkah dan hampir kehilangan keseimbangan di atas sepatu hak tingginya.Valerie mendengkus kesal, dadanya naik-turun menahan malu dan marah yang memuncak di depan belasan pengawal. "Don! Kau membiarkan wanita liar dan murahan ini mengancamku?!"Don yang sejak tadi berdiri diam di belakang Selena akhirnya tertawa, tawa puas dan penuh kebanggaan yang menggema di area dermaga yang sepi.Pria itu melangkah maju, lalu merengkuh pinggang Selena dari belakang dengan sangat posesif, menarik tubuh Selena merapat ke dadanya."Aku tidak membiarkannya, Valeria," sahut Don dingin, matanya menatap wanita itu dengan kilatan mata yang menyimpan amarah. "Aku cuma menikmati saat melihat wanitaku memberi pelajaran pada orang yang tidak tahu tata krama."Don memiringkan wajahnya, mencium pelipis Selena di hadapan Valerie ya

  • Penawar Sang Boss Mafia   29. Nona Manja

    Valerie tersenyum manis, mengalahi manisnya gula. Menyembunyikan rasa malunya di balik topeng kesempurnaannya, seolah kata-kata Don tak menggoyahkannya."Apa pun yang kau katakan, kita sudah dijodohkan, Don. Jadi aku akan memaafkan sikap kasarmu tadi."Don mengepalkan tangannya menahan emosi. Dia tumbuh besar bersama Valerie. Waktu kecil, mereka sering berburu hewan liar di hutan, berangkat sekolah sama-sama, bahkan menyelesaikan pendidikan di kampus yang sama. Don selalu memperlakukan Valerie dengan baik. Namun, hanya sebatas itu. Don tidak punya perasaan apa-apa terhadap wanita di depannya."Ayo kita masuk!" ajak Don sambil menggenggam lembut tangan Selena.Valerie menoleh ke arah Selena lalu menyunggingkan senyum penuh penghinaan."Don, aku sungguh tidak menyangka kau akan membawa tamu dari distrik bawah untuk menginjakkan kaki di tanah suci istana Kakek."Matanya menyapu penampilan Selena dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.Don menghentikan langkahnya,

  • Penawar Sang Boss Mafia   28. Tunangan?

    Don menghentikan pergerakannya seketika. Napasnya memburu berat, sedangkan wajah Selena bersemu merah dengan mata sayu penuh gairah. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Selena, bertarung hebat dengan naluri liarnya yang meraung-raung ingin menuntaskan segalanya di atas ranjang itu detik ini juga."Jangan bergerak," bisik Don sambil menekan tubuhnya yang berotot dan panas. Mereka menempel sehingga hampir tidak ada celah di antara mereka. Begitu intens dan panas.Napas mereka berdua bersahutan kencang. Don mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi kepala Selena, berusaha keras menarik sisa kesadarannya dari jurang kenikmatan."Sial," umpat Don rendah dengan suara yang sangat serak, lalu menyandarkan dahinya di bahu Selena, menahan napas beratnya. "Kau benar-benar hampir membuatku lupa diri, Selena.""Kau ..." bisik Selena jengah.Dengan napas yang masih tersengal-sengal, dia menata detak jantungnya yang bergedup seperti habis lari maraton, menyadari betapa tipisnya batas yang baru saja h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status