เข้าสู่ระบบ"Dua!" hitungan Tuan Vargas kembali bergema dari pengeras suara, makin memicu ketegangan dalam ruangan tersebut. "Buka saluran suara alat komunikasi ini atau aku potong pita suaramu sekarang!" ancam Selena seraya menghantamkan tubuh Valeria di bagian belakang. Valeria menempelkan kartu aksesnya pada panel monitor alat komunikasi dan menekan tombol darurat merah. Lampu indikator hijau menyala, lalu saluran audio dua arah ke seluruh sudut istana resmi terhubung. Selena tidak ragu. Dia menarik mikrofon mendekati bibirnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap lurus ke kamera pengawas di atas monitor tersebut. "Don, jangan mati bodoh di tempat terkutuk ini." Suara Selena memotong dengung sirine, terdengar begitu tenang, datar, tapi penuh keberanian. "Aku sudah memegang leher calon Nyonya Besar klan Vargas milik klan Delaros saat ini." Selena menekan pisau itu lebih keras, membuat Valeria menjerit kesakitan yang melengking memenuhi pengeras suara seluruh istana. "ARGH! Kakek Varga
“Oh really?” ejek Selena yang terus sengaja memancing emosi Valerie. “Kau tak percaya pada ucapankan?” ucap Valerie dengan mata melotot. Dia mendekati pintu sel dan berdiri dengan angkuh. "Pintu sel ini," ucap Selena tenang, matanya menatap tajam kunci elektronik di samping jeruji. "Gunakan kartu aksesmu jika kau memang punya keberanian untuk mengatakannya di depanku tanpa penghalang besi ini. Jangan hanya omong besar." "Heh! Kau pikir aku takut padamu?!" pekik Valeria yang semakin tersulut emosi. Dengan arogan, dia menempelkan kartu aksesnya ke panel. BEEP. Pintu sel terbuka sedikit.Valeria melangkah masuk dengan penuh percaya diri, mengangkat tangannya hendak menampar wajah Selena. "Kau cuma ..." SRET! Sebelum telapak tangan Valeria mendarat, gerakan Selena jauh lebih cepat. Selena menepis tangan Valeria, merenggut rambut wanita itu dengan keras, lalu memutar tubuhnya hingga punggung Valeria menghantam dinding beton. "ARGH!" jerit Valeria terkejut, gelas anggurnya jatuh, la
"Gunakan pisaumu, Selena!" seru Don di tengah deru napasnya yang memburu. Selena yang panik karena kegelapan dan bunyi tembakan tadi, berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya kembali. “Lakukan sekarang, Piccola!” Don yang masih terus memberikan pukulan membabi-buta, semakin cemas kalau sampai terjadi sesuatu pada wanita miliknya. Di detik yang sama, Selena tiba-tiba merasakan hembusan napas asing dan hangat tepat di belakang lehernya. Sebuah lengan tebal berkulit kasar melilit lehernya dari belakang, mengunci jalur pernapasannya hingga gaun sutra merah yang dikenakannya tertarik ke atas. "Ikut kami, Gadis Kasir," bisik suara berat pengawal klan di telinganya. Oksigen di paru-paru Selena mendadak terkuras habis. Pandangannya mulai memburam, tapi ingatan akan sentuhan Don saat menyembunyikan pisau di balik gaunnya memicu refleks murni. Jemari Selena bergerak kilat menyambar gagang pisau tersebut di dalam lipatan gaunnya. SRET! Selena memutar tubuhnya dan menancapkan bilah titani
"Alaaaah, bilang aja kau tidak tahu apa-apa tentang anggur mahal.""Oh ya? Aku tak peduli. Tapi aku tahu nilai sebuah kehidupan. Berbeda dengan orang-orang di meja ini yang menumpahkan darah hanya demi ego."Selena melirik Valeria dengan senyum tipis yang mengejek."Dan satu hal lagi, Valeria. Kau perlu belajar tata krama bagaimana menghargai orang lain.""Aku tahu bagaimana menghargai orang lain. Tapi orang seperti kau tak pantas dihargai," dengus Valerie."Hmm, sepertinya kelas sosial yang kau banggakan itu tidak ada harganya."Wajah Valeria memerah padam. "Kau! Dasar wanita tidak tahu diri!""Cukup, Valeria," potong Tuan Vargas singkat membuat Valerie langsung cemberut. Pria tua itu justru mengamati Selena dengan senyum miring yang makin dalam. Keberanian gadis di depannya ini benar-benar di luar ekspektasinya.Tuan Vargas meletakkan alat makannya, menyilangkan jemarinya di atas meja, lalu memajukan tubuhnya."Lidahmu memang sangat tajam, Gadis Kasir. Kau punya keberanian yang jara
"Racun Sianida berdosis tinggi," desis Don dingin, menatap lurus ke dalam mata Tuan Vargas yang masih bersikap tenang di ujung meja. "Kau benar-benar tidak sabar untuk mati malam ini, Kakek?"Pelayan tua yang melayani Selena tadinya, seketika pucat pasi dan melangkah mundur ketakutan, menundukkan kepala di hadapan Tuan Vargas."Kenapa diam, Kakek?" potong Don dengan suara sedingin es. Pria itu berdiri perlahan dari kursinya, meraih pisau daging tebal di meja, lalu menancapkannya kuat-kuat ke tengah meja makan.BAM!"Racun dosis tinggi di hidangan pertama," desis Don, menatap lurus Tuan Vargas yang masih santai menyesap anggurnya. "Kau sengaja memasang perangkap selicik ini di hadapanku?"Tuan Vargas mengusap bibirnya dengan serbet kain, lalu menatap Don tanpa rasa bersalah sedikit pun."Itu bukan perangkap, Don, tapi ujian," balas Tuan Vargas tenang, suaranya berat dan penuh intimidasi. "Wanita yang berdiri di samping penguasa klan tidak boleh ceroboh. Kalau dia mati hanya karena sep
Tuan Vargas memutar tubuhnya dan menatap Don bersama Selena yang masuk dan berjalan berdampingan, senyum hangat di wajah pria tua itu seketika sirna. Matanya menatap tajam, memancarkan kilatan kebencian yang dingin. Bola matanya narik turun atas bawah, menilai gadis pilihan Don yang berdiri di depannya.Don tetap santai, menuntun Selena mendekati ujung meja tempat Tuan Vargas berdiri. Begitu berdiri di depan Kakek Vargas, Selena memberanikan diri melangkah maju, mengulurkan tangannya secara sopan sebagai bentuk tata krama seorang tamu."Selamat malam, Tuan Vargas," ujar Selena tenang.Tuan Vargas hanya menatap tangan halus Selena yang terulur di depannya. Pria tua itu malah memilih menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, sama sekali tidak bergerak untuk menyambut uluran tangan itu.Suasana di dalam ruangan mendadak hening seketika. Para pengawal di sudut ruangan mulai meletakkan tangan mereka di atas gagang senjata."Rumahku hanya menerima ucapan selamat malam dari orang-o







