Share

132. Pergi Saja

Penulis: LilyLembah03_
last update Tanggal publikasi: 2026-11-05 16:21:44

"Kenapa Pak Lingga dan Mbak Rara bisa di sini? Apa Bang Rion yang mengabari kalian?"

Nadine bertanya saat Lingga membantu mengikat rambutnya.

"Ibuku dirawat di rumah sakit ini. Tadi aku mau keluar membeli kopi, tapi tidak sengaja melihat Rion membawamu di lobi ...." Lingga menjelaskan apa adanya sambil menatap bagian kepala kekasihnya yang diperban dengan kasa steril.

Tanpa sadar, pria itu bahkan menghela berat. Nadine yang melihat ekspresi pria itu dari pantulan cermin di tangannya sontak men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   134. Perempuan Kesayangan

    "NADIIINE!"Perempuan yang baru turun dari mobil sambil dibantu Rion itu hanya mengernyit heran. Tentu saja karena mendapati kehadiran rekan kerjanya yang lain yang menyambut di luar gerbang rumah.Kenapa Genta tiba-tiba sudah ada di sini?"Tadi dia mau menjengukmu ke rumah sakit, jadi aku bilang kita di perjalanan pulang. Makanya dia menunggu di sini." Rion pun menjelaskan sebelum Nadine mengutarakan keheranannya.Perempuan itu sontak mengangguk-angguk. Kemudian membiarkan dua penyidik senior itu kini menggandengnya di kedua sisi lengan. Rion bahkan membukakan pintu gerbang rumah Nadine setelah perempuan itu memberitahu letak kunci."Kenapa kamu kembali ke rumah selarut ini? Kenapa dokter bisa mengizinkanmu pulang?!" Pria berambut ikal itu langsung menyerang dengan pertanyaan.Rion menepuk pantat Genta. Kemudian melirik Nadine yang juga ikut menatapnya, seolah minta bantuan untuk meladeni penyidik ceriwis itu."Jangan banyak tanya sekarang! Kawanmu sedang sakit, biarkan dia istirahat

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   133. Aku Mau Pulang

    "Nad ... kamu serius ingat aku, kan?"Rion menatap rekan kerjanya serius. Pria itu bahkan membuka kacamatanya, supaya Nadine bisa melihat wajahnya lebih jelas.Perempuan yang duduk di brankar pasien itu hanya menghela jengah. Bingung dengan kelakuan penyidik senior yang tampak bodoh. Apa dia pikir Nadine mengalami amnesia karena kepalanya terbentur?"Apa sih, Banggg? Aku baik-baik saja!" Perempuan dengan kepala terlilit kasa itu berbaring malas.Sedang tidak punya cukup tenaga untuk bicara. Dia masih kesal karena Lingga meninggalkannya. Namun, seolah semesta tidak membiarkannya memaki sang jaksa dengan tenang, Rion datang dan bilang akan menjaganya selagi sang kekasih belum kembali ke sini."Kenapa kamu terlihat lesu sekali? Apa jahitannya masih sangat sakit? Apa aku perlu memanggil dokter?" Rion bertanya beruntun pada perempuan yang berbaring menyamping sambil menatap dinding kosong."Tidak sesakit itu. Jangan lebay!" sahut Nadine pedas.Hingga Rion tampak takut untuk bertanya lagi.

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   132. Pergi Saja

    "Kenapa Pak Lingga dan Mbak Rara bisa di sini? Apa Bang Rion yang mengabari kalian?"Nadine bertanya saat Lingga membantu mengikat rambutnya. "Ibuku dirawat di rumah sakit ini. Tadi aku mau keluar membeli kopi, tapi tidak sengaja melihat Rion membawamu di lobi ...." Lingga menjelaskan apa adanya sambil menatap bagian kepala kekasihnya yang diperban dengan kasa steril.Tanpa sadar, pria itu bahkan menghela berat. Nadine yang melihat ekspresi pria itu dari pantulan cermin di tangannya sontak mencebik kecil."Kenapa? Apa rambutku jadi jelek karena dibotaki separuh?" tanya Nadine sedih.Sang jaksa dengan cepat menggeleng ribut. "Siapa yang bilang begitu?!" protes pria itu tidak senang karena disalahpahami."Aku hanya menebak ...." Nadine mengangkat bahu acuh.Lingga yang sedari tadi duduk di belakang tubuh kekasihnya, tiba-tiba mengecup puncak kepala Nadine hati-hati. Pria itu bahkan mengusap bagian lukanya dengan elusan super lembut, seolah begitu takut menyakiti."Apa kamu akan marah k

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   131. Aku Bisa Gila

    "Lingga! Nadine sudah siuman!"Suara familiar itu samar-samar menyapa telinga Nadine. Ia mengerjap-ngerjap pelan guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Dan sebelum matanya mampu terbuka sempurna, nyeri hebat langsung menghantam bagian kepala belakangnya."Sshh--""Nana! Nana ... Sayang ... kamu sudah bangun?!" Saat Nadine berusaha mengangkat tangan untuk memegangi kepalanya yang berdenyut sakit, tangan itu malah lebih dulu diraih oleh sebuah telapak besar. Kemudian digenggam lembut, seolah begitu takut untuk menyakiti.Nadine jelas mengenali sentuhan hangat itu tanpa perlu melihatnya jelas. Itu tangan milik kekasihnya."Apa kepalamu sakit? Sebentar--aku panggilkan dokter!" Lingga bertanya heboh kemudian memencet berkali-kali tombol nurse call di tembok dekat kepala ranjang.Nadine terpejam erat guna menahan rintihan. Saking sakit bagian belakang kepalanya, ia bahkan tidak sadar sudah menangis. Kalau saja Lingga tidak mengusap cairan bening di sudut matanya dengan lembut."Pas

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   130. Terlihat Takut

    DOR!Saat Nadine memegangi belakang kepalanya yang terserang nyeri hebat, suara tembakan menggema nyaring. Menambah pengang telinga perempuan yang kini susah payah untuk bangkit duduk.Rion menembak ban mobil yang hendak kabur itu. Hingga kendaraan beroda empat tersebut oleng dan berakhir menabrak tiang penanda dilarang parkir."Anaknya! Anak itu masih di dalam ...." Sejenak, tubuh Nadine seolah mati rasa karena panik. Hingga perempuan itu merangkak menuju mobil yang mengeluarkan asap karena bumper depannya hancur menabrak tiang besi.Entah kenapa, kaki Nadine terlalu lemas dan gemetar untuk dipaksa berdiri.BRAK! BRAK! BRAK!"Bu, buka pintunya! Buka pintunya, Bu!" Nadine berpegangan pada spion guna membawa tubuhnya berdiri.Perempuan itu menggedor-gedor kaca dan mencoba membuka pintu depan, tempat anak perempuan berusia lima tahun itu kini menangis kencang. Melihat wanita itu yang kini berusaha membekap mulut anak tersebut, Nadine meninju kaca samping kemudi dengan seluruh tenaga ya

  • Penawaran Gila Tuan Jaksa   129. Sebuah Insiden

    "Aku yakin wanita itu pelakunya!" Nadine menyimpulkan penuh percaya diri setelah memutar ulang rekaman di CCTV di depan TK dan taman bermain dekat sana. Tempat yang kerap didatangi oleh anak perempuan berusia lima tahun yang jadi korban penculikan."Mana bisa! Jelas-jelas penculiknya laki-laki. Lihat sendiri postur tubuh dan pakaiannya!" tunjuk Genta pada rekaman CCTV yang menampilkan penculik yang menyamar sebagai paman korban yang datang menjemput sepulang sekolah.Penculik di rekaman itu mengenakan pakaian tebal serta tertutup. Wajahnya tertutup masker, kepalanya tertutup kupluk rajut dan topi. Sehingga mereka tidak bisa melihat wajahnya sama sekali."Tapi bisa saja, kan? Dia menyamar sebagai lelaki." Rion menimpali sambil terus menatap dua rekaman di laptop yang terbuka.Mereka kini tengah selonjoran di teras taman kanak-kanak berlantai keramik putih. Tempat itu sepi setelah kasus penculikan karena ditutup untuk penyelidikan."Tapi itu kan masih kemungkinan. Belum tentu benar jug

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status