LOGIN"Ramai sekali, ya? Ternyata kita menangani kasus besar ...."Genta berbisik pada Nadine di bangku pengunjung paling depan. Tepat berada di belakang kursi terdakwa. Saat ini, perempuan itu memang diapit oleh Rion dan Genta.Posisi yang sontak membuat pria di meja jaksa penuntut umum sana terus melirik waspada. "Kenapa Pak Lingga terus melirik ke sini terus, ya? Apa dia perlu bantuan?" Genta kembali berbisik di telinga kiri Nadine.Penyidik cantik itu sontak menjauhkan wajah. "Napasmu bau! Kamu sebenarnya habis makan apa?!" keluh Nadine nyaris memekik sambil mengapit hidungnya."Benarkah? Tadi aku sarapan pakai semur jengkol ...." Genta malah tersenyum cengengesan."Bang! Tukar posisi, Bang! Aku bisa mati duduk di dekat dia!" ucap Nadine dramatis sambil menepuk-nepuk lengan Rion heboh.Pria berkacamata itu justru sama sekali tidak bergerak. "Maaf, Nad. Tapi aku juga tidak mau mati konyol ...."Menyadari Nadine yang enggan duduk di dekatnya, Genta justru semakin mencondongkan kepala. Pr
"Ini aman kok, Pak. Filter AC-nya hanya perlu dibersihkan."Lingga dan Nadine mendongak menatap seorang tukang service yang kini menaiki tangga besi. Mendengar ucapan pria yang tampak jauh lebih muda dari Nadine itu, sang jaksa sontak menyorot kekasihnya heran."Kamu tidak pernah panggil orang untuk bersihkan filter AC-nya?!" tanya Lingga dengan nada sedikit terkejut.Lingga meringis pelan sambil menggaruk tengkuk. "Memangnya harus dibersihkan, ya?" "Tentu saja!" Lingga dan pemuda di atas sana berseru kompak.Sehingga Nadine mendadak merasa jadi orang paling bodoh sedunia. "Mana kutahu. Ini pertama kalinya aku tinggal sendiri." Nadine mengangkat bahu santai, berpura-pura tak acuh.Perempuan itu bahkan menyeret bangku kayu terdekat di ruang tengah. Kemudian naik ke sana untuk ikut mengecek si tukang service yang membongkar mesin pendingin ruangan itu. Lingga dengan sigap memegangi sandaran kursi guna menjaga benda berkaki empat itu tetap seimbang."Kenapa kamu ikut naik? Kamu menghal
"Pak, panas sekali. Aku tidak suka!" Nadine mengipasi tubuhnya yang hanya berbalut handuk kimono dengan kipas elektronik kecil. Kipas yang biasanya cukup meski Nadine berada di transportasi umum yang padat merayap, bahkan saat berada di luar ruangan siang bolong sekali pun.Tetapi kini, benda itu seperti tidak berguna. Tubuhnya bahkan merasa gerah setelah mandi dua kali sejak pulang kerja."Aku sudah bilang, ayo ke apartemenku saja! Kamu hanya perlu duduk manis." Lingga yang tampak tidak terganggu dengan suhu ruangan yang menurut Nadine begitu menyiksa itu, hanya menyarankan hal yang sama sejak tadi.Nadine mendengkus dan berjalan menuju dapur. Lingga mengekori dan hanya bisa menghela jengah begitu melihat sang kekasih mulai membuka kulkas lebar-lebar. Perempuan itu bahkan duduk bersila di sana guna mencari sedikit rasa sejuk."Kulkasnya bisa cepat rusak kalau sengaja dibuka terlalu lama." Lingga kembali menegur hingga Nadine mendongak dengan tatapan tajamnya."Aku mandi tidak boleh,
Nadine membeliak panik saat bibir Lingga mulai bergerak menuju lehernya. Perempuan itu sontak mendorong dada kekasihnya sekuat tenaga begitu dengung halus mesin lift perlahan berhenti.DING!Saat Lingga terdorong hingga punggungnya menabrak dinding besi di sisi lain, pintu lift pun terbuka. Menampilkan sosok pria yang keduanya jelas kenali."Wah, kebetulan ketemu Pak Jaksa di sini!" Galih--detektif yang akhir-akhir ini sepertinya tahu banyak tentang mereka berdua langsung bergerak mundur.Mempersilakan Lingga dan Nadine untuk keluar dari lift terlebih dahulu."Halo, Bang ...." Nadine menyapa canggung sambil mengekori Lingga yang kini sudah berjalan santai. Seolah tadi dia tidak habis berbuat mesum."Sudah beres yang saya minta kemarin?" Lingga merangkul si detektif dan meninggalkan Nadine di belakang.Perempuan itu hanya mengusap bekas bibir Lingga di telinganya yang sedikit basah. Kemudian berlari kecil mengikuti kedua pria yang entah sedang membicarakan apa."Yasudah, ayo sekalian k
"Kenapa kamu senang sekali membantahku, Nadine?"Pagi sekali, Lingga mulai mengomeli kekasihnya yang sudah rapi dalam balutan pakaian kerja. Sedangkan perempuan yang tengah mengikat setengah rambut bagian atasnya, kemudian menggerai sisanya, hanya lanjut menyisir poni."Aku tidak pernah bilang akan libur kerja, kan? Aku bukan pegawai pemalas yang mengambil cuti hanya karena masalah sepele." Nadine menatap Lingga dari pantulan cermin sambil lanjut mengoleskan pelembab bibir.Sedangkan pria yang kini belum mandi apalagi berganti pakaian hanya bersedekap dada di belakang Nadine. Mungkin ingin lanjut marah, mungkin sedang menimbang harus melanjutkan perdebatan ini atau tidak.Karena kali ini, Nadine tidak tampak gentar oleh teguran tegas sang kekasih."Aku tidak mau bertengkar, Nana. Kita baru saja berbaikan ...." Pada akhirnya, Lingga hanya bisa merengek pelan.Tidak ingin menyinggung perempuan yang sedang sensitif itu bahkan dengan intonasi dan nada suara."Aku juga tidak pernah mau ber
"Mau digendong lagiii!"Lingga berkacak pinggang menatap perempuan yang masih duduk di kursi samping kemudi. Setelah membukakan pintu mobil, Nadine justru merentangkan tangan sambil menyengir lebar.Tanpa mengatakan apapun lagi, kali ini sang jaksa mengangkat tubuh pendek sang kekasih untuk digendongnya. Hingga Nadine memekik saat tubuhnya tiba-tiba berpindah tempat. "Kenapa wajahmu seperti itu? Apa aku terlalu berat?" Sayangnya, Lingga lupa bahwa saat ini ia tengah menghadapi makhluk yang sedang super sensitif.Sehingga perubahan kecil ekspresinya pun mulai diartikan sebagai hal lain."Pakkk ... apa aku seberat itu?" Nadine menepuk-nepuk dada Lingga guna memaksa sang kekasih untuk bicara."Bohong kalau aku bilang tidak, kan?" Dan sialnya, hari ini sang jaksa memang ingin mencari perkara baru."Kalau begitu turunkan aku!" Nadine yang tersinggung sontak meronta di gendongan kekasihnya.Lingga justru tertawa sambil mencuri kecupan di pelipis perempuan dengan rambut terkepang satu itu.







