LOGIN"Untuk apa kamu pakai rok sesempit ini, Nona Cendana?" Pertanyaan dengan nada formal itu agaknya tidak cocok dipakai sang jaksa. Sebab jemari pria itu sudah sibuk menggesek lipatan basahnya, hingga kain tipis di dalam sana terjepit dan kian kuyup di antara miliknya yang gemuk."Jawab! Apa mulutmu hanya bisa digunakan untuk mendesah?" Lingga tiba-tiba menyelipkan dua jemarinya dari samping kain segitiga itu.Hingga jari panjang itu kini menusuk masuk di liang beceknya."Hkkk---"Nadine sontak tersentak karena terkejut. Apalagi begitu jari tersebut mulai bergerak seolah tengah mengorek lembah surgawinya. Menggoda tonjolan kecil di antara labium bawahnya dengan gesekan-gesekan kasar.Hingga tubuh Nadine tak ayal berjengit geli. Bola mata perempuan itu bahkan berotasi keenakan saat Lingga memperkuat gesekannya di tempat yang sama. Hingga setiap kali ujung jemari sang jaksa berhasil menyentuh titik-titik sensitifnya, bokong Nadine spontan menggeliat resah di atas meja.Dari pandangannya y
Nadine tersentak saat tubuhnya yang tadi berada di pangkuan Lingga kini berpindah ke atas meja. Rok hitam sempitnya sontak tersingkap hingga setengah paha."Pak Lingga serius akan melakukannya di sini?" Nadine bertanya memastikan pada pria yang kini sedikit mendongak guna menatapnya."Kenapa? Apa kau takut?" Lingga menyeringai penuh goda.Nadine menggeleng dengan kakinya yang bahkan sengaja ia naikkan ke paha sang jaksa. Ujung hak sepatu perempuan itu bahkan sengaja menekan di sana. Hingga Lingga mencengkeram betis mulus Nadine dan mengangkatnya.Kedua kaki itu bahkan dipaksa melebar kemudian disampirkan di kedua sisi bahu sang jaksa. Posisi yang jelas tampak begitu amoril. Namun anehnya, membuat Nadine kian bersemangat.Perempuan itu bahkan mendadak merasa deja vu. Seketika teringat kali pertama Lingga membantunya. Setelah diingat lagi, mereka pertama kali memang melakukannya di sini. Nadine pertama kali bertelanjang dada di hadapan pria itu di tempat yang sama. Di atas meja yang sa
"Nad, kamu dipanggil Pak Lingga ke ruangannya."Informasi yang disampaikan Rion sontak membuat Nadine mendongak. Perempuan yang sedari tadi termenung menatap layar komputernya yang mati sontak mengernyit bingung saat mendapati kedua rekan kerjanya malah mengambil tas."Kalian mau ke mana?" tanya perempuan dalam balutan turtle neck putih itu ikut berdiri."Biasa lah. Berpetualang ke jalanan." Genta menyahut sambil menaik-turunkan alisnya.Nadine pun segera mengambil tas selempangnya. "Sudah ada kasus baru, ya? Kenapa aku tidak tahu?" "Kamu diam di sini. Pak Jaksa bilang ada tugas lain untukmu. Makanya kamu dipanggil ke dalam," jelas Rion begitu menyadari perempuan itu hendak mengikuti keduanya."Kenapa begitu?" tanya Nadine heran.Rion dan Genta hanya menggeleng pelan. "Kamu dari tadi memang kelihatan kurang fokus. Makanya mungkin Pak Lingga tidak mau menugaskanmu ke lapangan." Nadine hanya menghela pelan sambil menunduk dalam. Tidak enak pada kedua rekan kerjanya yang jadi harus per
"Menurut Pak Lingga ... apakah kita sudah melakukan kesalahan?"Nadine tiba-tiba melempar tanya. Perempuan yang malah duduk bersila di samping kemudi bahkan menoleh sepenuhnya pada Lingga. Mengabaikan es krim stroberi vanilla yang nyaris meleleh di tangan kanan.Serta tatapan penasaran kedua rekan kerja yang duduk di jok belakang."Kesalahan apa maksudmu?" Lingga menoleh pada kekasihnya dengan alis tertaut.Nadine menyodorkan es kirim yang belum banyak digigit itu pada Lingga. Membuat sang jaksa dengan santai mengambil gigitan besar. Hingga Nadine dengan sebal menggeplak pahanya."Jangan kebanyakan!" protes perempuan dalam balutan turtle neck putih dibalut blazer hitam itu.Padahal, Lingga juga yang tadi mentraktir mereka es krim dan cemilan yang masih tersisa banyak di mobil. Dan perempuan itu juga baru sadar kelakuannya setelah mendapati sorot terkejut Genta dan Rion. Mereka pasti tidak menyangka Nadine bisa seberani itu pada atasan mereka.Mereka belum tahu bahwa Nadine dan Lingga
"Ramai sekali, ya? Ternyata kita menangani kasus besar ...."Genta berbisik pada Nadine di bangku pengunjung paling depan. Tepat berada di belakang kursi terdakwa. Saat ini, perempuan itu memang diapit oleh Rion dan Genta.Posisi yang sontak membuat pria di meja jaksa penuntut umum sana terus melirik waspada. "Kenapa Pak Lingga terus melirik ke sini terus, ya? Apa dia perlu bantuan?" Genta kembali berbisik di telinga kiri Nadine.Penyidik cantik itu sontak menjauhkan wajah. "Napasmu bau! Kamu sebenarnya habis makan apa?!" keluh Nadine nyaris memekik sambil mengapit hidungnya."Benarkah? Tadi aku sarapan pakai semur jengkol ...." Genta malah tersenyum cengengesan."Bang! Tukar posisi, Bang! Aku bisa mati duduk di dekat dia!" ucap Nadine dramatis sambil menepuk-nepuk lengan Rion heboh.Pria berkacamata itu justru sama sekali tidak bergerak. "Maaf, Nad. Tapi aku juga tidak mau mati konyol ...."Menyadari Nadine yang enggan duduk di dekatnya, Genta justru semakin mencondongkan kepala. Pr
"Ini aman kok, Pak. Filter AC-nya hanya perlu dibersihkan."Lingga dan Nadine mendongak menatap seorang tukang service yang kini menaiki tangga besi. Mendengar ucapan pria yang tampak jauh lebih muda dari Nadine itu, sang jaksa sontak menyorot kekasihnya heran."Kamu tidak pernah panggil orang untuk bersihkan filter AC-nya?!" tanya Lingga dengan nada sedikit terkejut.Lingga meringis pelan sambil menggaruk tengkuk. "Memangnya harus dibersihkan, ya?" "Tentu saja!" Lingga dan pemuda di atas sana berseru kompak.Sehingga Nadine mendadak merasa jadi orang paling bodoh sedunia. "Mana kutahu. Ini pertama kalinya aku tinggal sendiri." Nadine mengangkat bahu santai, berpura-pura tak acuh.Perempuan itu bahkan menyeret bangku kayu terdekat di ruang tengah. Kemudian naik ke sana untuk ikut mengecek si tukang service yang membongkar mesin pendingin ruangan itu. Lingga dengan sigap memegangi sandaran kursi guna menjaga benda berkaki empat itu tetap seimbang."Kenapa kamu ikut naik? Kamu menghal







