Masuk"Memang. Tapi sepertinya aku tak bisa lakukan secepat ini!" Baraka pun segera hentikan langkah ketika melihat wajah Rindu Malam mulai kecewa.
"Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dulu demi selamatnya orang banyak."
"Pekerjaan apa itu?"
"Melawan Raja Tumbal!"
"Oh...?!" Rindu Malam terkejut, begitu pula Kusuma Sumi dan Pita Biru yang ikut berhenti tak jauh dari Rindu Malam. Wajah ketiga utusan Samudera Kencana itu jadi tegang.
"Kusarankan, jangan bikin perka
Dinada mau marah karena mulutnya dicekal seenaknya oleh Baraka. Tetapi ketika melihat wajah Baraka menjadi tegang, Dinada tak jadi marah bahkan ikut tegang juga."Aku mendengar suara detak jantung orang lain di sekitar kita," bisik Baraka.. Napasnya terasa menghangat di pipi dan telinga Dinada. Mulut itu pun segera dilepaskan karena Dinada menggigit kecil kulit telapak tangan Baraka."Sial!" gerutu Baraka sambil mengibaskan tangannya yang digigit.Wuttt...!Tiba-tiba Dinada lompat ke depan, tubuhnya melayang di udara dan bersalto satu kali. Baraka terperanjat sekejap, namun bertepatan dengan itu sebuah benda menancap di tempat duduk Dinada.Jrabb...!Baraka makin kaget. Benda itu adalah senjata rahasia berbentuk bunga cempaka dari logam putih mengkilat. Ujung-ujung kelopaknya meruncing sedikit kebiruan, menandakan senjata itu mengandung racun yang berbahaya. Baraka ingin mencabut benda itu, tapi Dinada berseru," Jangan sentuh!"
Dengan satu sentakan napas perut, tubuh Pendekar Kera Sakti melesat lompat dari atas punggung kuda. Tangannya menyambar gadis di depannya.Wuuttt...!Mereka berdua melayang di udara. Dinada dalam pelukan Baraka. Gadis itu dipeluk erat-erat karena khawatir jatuh terjungkal. Sedangkan sang kuda akhirnya melompat ke jurang tanpa penumpang."Iieeehhh...!" jerit sang kuda sebelum masa hidupnya berakhir di dasar jurang.Jlegg...! Baraka berhasil mendaratkan kakinya di tanah dengan masih memeluk Dinada. Gadis itu selamat dari bahaya, namun tak bisa selamat dari pelukan Pendekar Kera Sakti.Begitu pelukan dilepas oleh Baraka, Dinada segera berbalik menghadap Baraka. Tersenyum kaku, lalu...Plok!Baraka ditampar dengan tangan kiri."Kurang ajar! Menggunakan kesempatan dalam kesempitan kau, ya!" gertak Dinada.Tamparan itu tak seberapa keras, namun cukup membuat Baraka malu. Ia hanya nyengir sambil mengusap-usap pipinya yang kena
"Minggir kau!" hardiknya."Apakah kau pamannya Dinada yang bernama Raja Hantu!" Baraka bahkan bertanya kalem."Iya! Sudah tahu pakai bertanya segala! Mau apa kau, hah!""Melindungi Dinada!" jawab Pendekar Kera Sakti dengan tegas sekali, membuat Raja Hantu terkesiap."Anak haram kau! Berani-beraninya bersikap begitu di depanku, Hah! Apakah kepalamu belum pernah pecah!""Pecah memang belum. Tapi retak sering, Paman," jawab Baraka tampak sabar dan tenang sekali. Tentu saja sikap itu membuat Raja Hantu semakin berang.Dua jari tangannya mengeras lurus, lalu ditusukkan ke depan, seperti menusuk udara.Suttt...!"Heegh...!" Baraka terpekik tertahan. Ulu hatinya seperti disodok memakai bambu sebesar betis. Mual dan sakit sekali. Tubuh pemuda berbaju coklat tanpa lengan itu sempat terbungkuk karena menahan rasa sakit itu.Rupanya Raja Hantu mengirimkan pukulan tenaga dalamnya berupa sodokan kuat di ulu hati Baraka. Bahkan kali i
"Baiklah, aku akan menolongmu," kata Baraka akhirnya menyerah daripada berdebat melantur-lantur menghabiskan waktu."Jadi, kau bersedia menolongku?""Ya, aku bersedia. Sekarang sebutkan namamu.""Namaku... Dinada."Baraka berkerut heran, tapi menyunggingkan senyum geli. "Namamu aneh sekali. Apakah kau orang dari seberang?"Dinada gelengkan kepala. "Aku orang dari Bukit Kasmaran. Letaknya di sebelah timur sana."Pendekar Kera Sakti manggut-manggut sambil beradu pandang dengan Dinada. Ada getaran halus di hati Pendekar Kera Sakti saat pandangan mata beradu agak lama. Senyum nakal Dinada sengaja dipamerkan, dan senyuman itulah yang membuat Baraka memendam keresahan, lalu segera buang muka. Dinada melangkah agak menjauh. Kini ia berdiri dengan pundak kiri bersandar pada dinding, kakinya menyilang santai. Sehelai ilalang dicabutnya sebagai mainan tangan berjari lentik indah itu."Lalu, apa yang harus kulakukan untuk menolongmu?" tanya Bara
Lantun serulingnya masih berkumandang hening dan meneduhkan hati. Baraka menikmati alunan seruling itu sambil menggigit-gigit setangkai daun berukuran kecil. "Dia sangka aku masih kebingungan mencarinya? He, he, he... dia tidak tahu kalau aku sudah ada di atasnya. Mainkan saja serulingmu, Nona manis. Jangan berhenti walau sekejap. Kalau perlu mainkan tanpa napas. He, he, he...!" hati Baraka bercanda sendiri.Tetapi tiba-tiba suara seruling melengking lebih tinggi. Walaupun dimainkan dalam serangkaian nada yang masih enak didengar, tapi makin lama semakin membuat jantung berdebar-debar. Baraka menarik napas untuk meredakan debaran jantungnya."Gila! Kenapa jantungku jadi berdetak-detak seperti mau berontak! Wah, kacau...! Jangan-jangan aku mau mati? Kok badanku jadi lemas dan gemetaran begini? Lho... lho...! Malah ngantuk segala! Ada apa ini!"Suara seruling semakin melengking. Rasa kantuk kian membujuk. Kelopak mata bagaikan tak mau diajak damai untuk memandang
TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Baraka. Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruling itu terdengar di kejauhan sana, arahnya sebelah barat daya. Baraka tersenyum dengan hati penuh bunga-bunga indah. Suara seruling itu diresapi betul, hingga rohnya bagaikan ikut menari gemulai seirama nada lengking seruling."Luar biasa indahnya. Seakan bumi diisi oleh kedamaian semata. Baru sekarang aku merasakan keindahan isi dunia. Ooh... alangkah damai dan bahagianya hatiku siang ini. Biar ada rampok sepuluh pun masih kuanggap damai dan bahagia. Kenapa begini, ya? Mungkinkah karena alunan suara seruling itu?"Tak heran jika dalam hati Pendekar Kera Sakti mempunyai rasa penasaran. Rasa ingin tahu siapa peniup seruling itu membuatnya bangkit, tak jadi hanyut dalam tidurnya.







