LOGINSatu tangan disentakkan ke depan dari atas pohon, lalu melesat sinar biru berkelok-kelok bagai lidah petir berwarna kebiru-biruan menyambar tiga sinar merah berbentuk pisau terbang itu.
Claappp...!
Blaarr...!
Urat Setan terpelanting karena sentakan gelombang ledak itu sampai tubuhnya berputar empat kali dan menabrak pohon.
Bruusss...! Sedangkan Lancang Puri terpental dalam keadaan tubuh melayang dan jatuh terjungkal, hampir saja pedangnya menembus perut sendiri. Di
SEBUAH pukulan membuat si gadis melayang tinggi dan tersangkut di dahan pohon. Jika bukan pula bertenaga dalam tinggi tak mungkin bisa membuat gadis itu nyangsang di pohon. Dan jika bukan si gadis punya lapisan tenaga dalam tebal, tentunya sudah hancur berkeping-keping, setidaknya jebol punggungnya. Seandainya ada yang melihat pertarungan tersebut, pasti akan mengatakan pertarungan itu adalah pertarungan tak seimbang. Yang dipukul gadis cantik berusia sekitar dua puluh satu tahun. Wajahnya masih imut-imut, penuh pancaran pesona muda belia. Sedangkan yang memukulnya tadi seorang lelaki berusia sekitar delapan puluh tahun lebih.Tokoh tua yang tubuh kurusnya dililit kain putih menyilang di pundak model biksu itu dikenal dengan nama Poci Dewa, karena dialah satu-satunya tokoh di dunia persilatan yang aliran silatnya menggunakan gerak-gerak seperti poci teh. Di padepokannya ia mempunyai aneka macam poci, bahkan ada yang berasal dari tanah Tiongkok.Poci Dewa selalu berpaka
"Keparat! Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, hah! Terima ini jurusku yang bukan sekadar permainan anak kemarin sore. Hiaaah...!"Sang Ratu lepaskan pukulan bersinar biru bagaikan bola berekor.Wuusss...! Sinar biru itu keluar dari telapak tangannya yang dihantamkan ke arah Pendekar Kera Sakti. Maka sinar biru itu pun meluncur cepat ke arah sang Pendekar.Melihat kemunculan sinar biru itu, Baraka segera melepaskan pukulan 'Tapak Guntur ' yang memancarkan sinar biru terang.Claaap...!Sinar biru terang segera beradu dengan sinar biru di pertengahan jarak.Blaab...! Blegaaarr...!Cahaya ungu berkerilap dari hasil benturan dua sinar tadi. Ledakan menggelegar pun sempat mengguncang tanah lapang alun-alun, membuat orang-orang menjadi gaduh karena ketakutan. Namun di luar dugaan, ternyata sinar ungu itu menguncup dan membentuk gumpalan sinar biru lagi yang melesat ke arah Baraka.Wuuusss...!"Gila! Sinarnya masih utuh!" senta
Namun Baraka bagai tidak memainkan jurus sedikit pun. Ia hanya berjalan pelan mondar-mandir di depan sang Ratu sambil mata memandang dan bibir sunggingkan senyum. Senyum itu tetap merupakan 'Penakluk Hawa' yang membahayakan bagi perempuan mana pun juga."Bersiaplah, Kekasihku...!" geram sang Ratu sambil mengubah posisi kuda-kudanya, makin mendekat lagi."Seranglah aku jika kau perempuan yang gemar bercinta."Sang Ratu bagai ditantang kemesraannya. Untuk membuktikan kehebatan bercintanya, sang Ratu segera melepaskan serangan lebih dulu dengan satu lompatan kecil yang mencapai tanah depan Baraka"Hiiaah...!"Jleeeg ..! Lalu mereka beradu kecepatan tangan dalam memukul dan menangkis.Plak, plak, plak, plak, plak....Zlaaab...! Baraka bergerak melingkar hingga berada di belakang sang Ratu. Gerakan itu tak diketahui oleh sang Ratu karena Baraka menggunakan Jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan'-nya.Ketika perempuan itu
Perempuan yang kini menjadi wanita paling kerempeng seistana itu segera turun dari tandu. Dua pengawal mendampinginya di kanan-kiri. Kepalanya yang gundul tanpa selembar rambut dipayungi oleh seorang pembawa payung dari belakang. Ratu Sukma Semimpi segera mendekati Baraka dengan pandangan mata yang berbinar-binar. Semakin dekat semakin mekar senyumnya menandakan kegembiraan hatinya saat itu."Selamat datang di Tanah Ratu, Pendekar Kera Sakti; Baraka!" sapa sang Ratu dengan penuh wibawa.Baraka membungkuk, memberikan hormat ala kadarnya. Karena ia diberi tahu oleh Putri Malu bahwa sang Ratu suka dengan hormat dan sanjungan."Salam hormatku untukmu, Gusti Ratu.""Terima kasih. Kau benar-benar lelaki yang pandai membuat hatiku bangga dan gembira."Baraka segera sunggingkan senyum. Hati sang Ratu bergetar melihat senyuman itu. Ia tak tahu bahwa Baraka telah gunakan jurus 'Penakluk Hawa' yang mampu membuat lawan kasmaran dan mau tak mau pasrah
Hal itulah yang dikhawatirkan oleh Putri Malu. Karenanya, Baraka mempunyai cara sendiri untuk mengatasi kekuatan aji pemikat sang Ratu. Pendekar Kera Sakti juga punya cara sendiri untuk membebaskan Tabib Getar Hati, ibu dari Putri Malu yang menjadi kambing hitam sang Ratu itu."Bagaimana hasilnya, Putri Malu!" sapa sang Ratu dalam pertemuan yang diadakan secara mendadak karena Putri Malu pulang dari tugasnya."Mana pemuda tampan yang bergelar Pendekar Kera Sakti itu! Mengapa kau datang tidak membawa Baraka? Apakah kau tak ingin Ibumu selamat? Ingat tujuh hari lagi purnama tiba. Jika kau belum bisa membawa Pendekar Kera Sakti kemari, maka Ibumu akan kugantung di depan umum!""Gusti Ratu," kata Putri Malu sambil menahan kegeraman dalam hatinya. "Saya sudah bertemu dengan Pendekar Kera Sakti.""Bagus!" sahut sang Ratu dengan wajah mulai berseri-seri. "Lalu bagaimana?""Baraka ada di luar, Gusti!""Hah...! Mengapa tidak kau bawa masuk? Lek
"Hmmm... ya, ya... aku tahu, Suling ini awalnya adalah Suling Krishna dan setelah Mustika Naga Bumi menyatu padanya dan menjadi Suling Naga Krishna, suling ini memiliki nyawa sendiri dan berjalan sendiri menemuiku walau disembunyikan orang di tempat serapi apa pun!"Baraka manggut-manggut dan membayangkan peristiwa hilangnya Suling Naga Krishna saat dibuang ke jurang oleh Putri Kunang, murid Dewa Sengat yang kini menjadi penguasa di Pulau Dadap.Putri Malu terbangun dengan sendirinya tanpa dibangunkan oleh Pendekar Kera Sakti, ia terpekik kaget melihat kaki Baraka sudah pulih seperti sediakala. Bahkan wajah cantik itu sempat menjadi pucat karena kekagetannya. Semakin kaget lagi melihat suling mustika sudah ada di samping Pendekar Kera Sakti, ia nyaris tak bisa berkata apa-apa. Lalu, Pendekar Kera Sakti menjelaskan tentang kesaktian Suling Naga Krishnanya yang sejak kemarin dilupakan itu."Kalau begitu kita tak perlu melanjutkan perjalanan ke Bukit Wangi!" kata P
Cahaya merah melesat dari kedua telapak tangan Pawang Jenazah. Cahaya itu berbentuk seperti uang logam yang menyala-nyala dan bergerak cepat ke arah Baraka. Oleh Pendekar Kera Sakti cahaya itu dapat dihindari dengan satu sentakan kaki secara pelan ke tanah dan tubuhnya terangkat melesat ke atas d
"Baiklah," Karang Wesi menghembuskan napas kesal"Masuklah dan temui dia. Tapi kalau dia merasa terganggu dan marah, kau yang bertanggung jawab! Jangan aku yang menjadi pelampiasan kemarahan Guru!""Baik. Aku yang bertanggung jawab!""Masuklah!" Karang Wesi menyingkir dan men
"O, kau rupanya, Warok Kober!" ucap Ki Candak Sedo."Syukur kalau kau masih mengenaliku, Candak Sedo!" katanya dengan suara besar."Aku memang mengenalmu, tapi tak menyangka kau ingin merebut darah ini dariku, Warok Kober!""Ha ha ha...! Kau memang perlu memperhitungkan kehad
"Suruh orang-orang ini tinggalkan kedaimu untuk sementara waktu.""Kenapa begitu?""Ketiga tamu yang baru datang itu akan bikin onar di sini dan sedang cari-cari perkara! Bisiki mereka satu persatu supaya cepat tinggalkan kedaimu ini!"Tiba-tiba si wajah codet berseru kepada







