共有

Bab 30

作者: SWEET_OWL
last update 公開日: 2026-07-11 18:00:35

Sekar kembali meningkatkan kewaspadaannya, ia sadar pemilik suara itu bukanlah pendekar sembarangan. Namun, yang menjadi permasalahannya sekarang ia tidak tahu kalau orang itu musuh atau bukan. Jadi, Sekar berteriak menyuruhnya keluar.

"Tidak perlu berteriak-teriak, aku ada disini!"

Secara mendadak sebuah rantai melesat dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Di bagian ujung rantai itu terdapat benda berbentuk bulat yang di disekelilingnya tertancap duri-duri tajam yang terbuat
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 39

    Catra dan Sekar mendengarkan cerita Janubaya sampai habis tanpa memotongnya sedikitpun. Sebagian informasi yang keluar dari mulut pamannya itu sudah pernah Sekar dengar dari mahagurunya, jadi hanya sedikit yang membuatnya tertarik.Berbeda halnya dengan Catra yang merasa sangat terkejut ketika mengetahui isi dari Kitab Tribala, pusaka yang diincar semua orang dari dunia persilatan.Menurutnya sangat wajar kalau kitab ini menjadi perebutan banyak orang karena di dalamnya mencatat tiga ilmu kanuragan yang begitu maha dahsyat.Sesuai namanya, Kitab Tribala terbagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah mempelajari Ilmu Pertahanan Tubuh, yang mana akan membuat penggunanya memiliki pertahanan yang sangat kuat sehingga sulit ditembus oleh musuh. Ilmu ini mirip dengan Jurus Tubuh Baja yang pernah Catra hadapi, namun muncul sebagai penyempurnaan dari teknik tersebut, yang dinamakan Tubuh Emas.Selain memperkuat pertahanan tubuh, pada bagian ini juga mencatat

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 38

    Kondisi Sekar memang berangsur pulih dalam waktu singkat setelah meminum ramuan yang Janubaya berikan. Bisul-bisul di sebagian tubuhnya juga menghilang, hanya meninggalkan bercak-bercak merah seperti sebelumnya."Paman tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, andai saja bahan-bahannya cukup, maka kau bisa pulih sepenuhnya." Janubaya masih tidak puas dengan hasil pengobatannya. Bukan hanya Sekar, tapi warga Desa Mandian Bulan pun belum sepenuhnya terbebas dari racun tersebut. Janubaya hanya membantu mencegah agar racun itu tidak menjalar lebih jauh dengan menetralisirnya."Sekarang aku akan mengajak kalian menemui bibimu. Ia sangat ingin bertemu denganmu."Sekar mengikuti Janubaya, begitu juga dengan Catra yang berjalan di belakangnya. Sekarang mereka sudah berada di ruang tamu, yang di sana ada seorang perempuan tampak berusia tiga puluh tahunan dengan seorang anak laki-laki."Nimas, ini adalah keponakanku, Sekar yang pernah aku ceritakan padam

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 37

    Catra dan Sekar baru mendapat giliran saat hari sudah mulai gelap, ketika semua orang sudah meninggalkan tempat itu. Kedatangan mereka disambut dengan senyuman hangat oleh seorang anak laki-laki."Jati, apakah masih ada pasien yang mengantri?" tanya seseorang dari dalam."Iya, ayah. Mereka pasien yang terakhir." balas bocah yang bernama Jati itu."Suruh mereka masuk,""Baik, ayah." Bocah itu memandang Catra dan Sekar sebentar sebelum mempersilahkan mereka memasuki rumahnya.Catra tersenyum lebar sementara Sekar tampak memperhatikan wajah bocah itu. "Kalau bocah ini memanggil paman dengan sebutan ayah, berarti…" ia larut dalam pikirannya sendiri. Sekar baru tersadar saat Catra menurunkannya dari gendongannya."Silahkan, pasien untuk berbaring di sini." ujar pria yang sedang berdiri membelakangi Catra dan Sekar, terlihat sibuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk mengobati pasiennya.Melihat Sekar yang belum j

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 36

    Catra dan Sekar sedang istirahat di tepi sungai untuk membersihkan tubuh mereka. Sudah beberapa hari berlalu sejak keduanya berurusan dengan para bandit, dan untungnya kondisi Sekar sudah berangsur pulih.Mereka memang sengaja tidak beristirahat di pedesaan atau kota, untuk menghindari ada orang yang mengenali Sekar, mengingat lukisan wajahnya sudah tersebar di mana-mana. Saat ini mereka enggan berurusan dengan Pembunuh Bayang Darah kalau tidak dalam keadaan terpaksa.Saat Sekar ingin menciduk air untuk diminum karena merasa haus, ia dikejutkan oleh penemuan sesosok tubuh yang mengapung di tengah-tengah sungai."Raka lihat itu, ada mayat!" Sekar menunjuk ke satu arah yang diikuti oleh Catra.Tanpa menunggu perintah dari Sekar, ia sudah menggunakan Ajian Seribu Langkah untuk membawa mayat itu ke tepian sungai. Catra berjalan di atas air tanpa hambatan seolah itu adalah padang yang luas.."Kau benar, pria ini memang sudah meninggal." Catra

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 35

    "Menebas Langit Membelah Samudra!"Teknik kedua dari Pedang Tengkorak ini berisikan dua gerakan, saat pedangnya diangkat tinggi-tinggi ke atas, maka melepaskan cahaya hitam pekat yang bergerak cepat ke arah targetnya.Ekawira menyadari serangan yang dilancarkan Catra sangat berbahaya, sehingga meski tubuhnya sekeras baja, tapi ia tak berniat untuk menahannya secara langsung. Ekawira memilih untuk melemparkan tubuhnya ke samping.Keputusan yang diambil Ekawira sangat tepat, karena pada tempatnya berdiri sebelumnya secara tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang begitu keras, bahkan menciptakan lubang yang sangat besar pada dinding gua di belakangnya.Ekawira mengerutkan kening, tidak menyangka Catra memiliki teknik pedang setinggi ini. Kalau saja serangan itu berhasil mendarat di tubuhnya, sudah pasti ia akan kehilangan nyawa.Meskipun berhasil menghindari serangan tersebut, tidak semerta-merta membuat Ekawira menjadi aman karena Catra sudah

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 34

    "Ketua," jerit para bandit, mereka ingin bergerak membantu Ekawira namun secara tepat waktu Sekar melompat ke hadapan mereka untuk menghalau. Ia menghunuskan pedang, seolah berkata siapapun yang berani maju selangkah lagi maka Sekar akan memenggal kepala mereka. Hal itu membuat mereka tak berani bergerak lebih jauh.Para bandit sudah melihat sendiri kemampuan Catra, jadi mereka menebak kemampuan gadis ini juga tidak kalah mengerikannya.Di alam bawah sadar, Ekawira sedang berbicara dengan sesosok gumpalan hitam yang melayang di udara."Kenapa kau memanggilku kemari? Bukankah sebelumnya aku sudah memberimu kekuatan yang besar!""Maaf Yang Agung, tapi sekarang nyawaku dalam bahaya. Aku telah dikalahkan oleh seseorang.""Jadi, apa yang kau inginkan?""Aku… tolong berikan aku kekuatan yang lebih besar lagi."Suasana menjadi hening setelah Ekawira berkata demikian, sebelum gumpalan hitam itu kembali bersuara."Member

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status