MasukWisnu Aji mengajak Catra memulai latihan mereka saat matahari baru saja terbit. Keduanya sudah berada di pinggiran sungai yang akan dijadikan tempat Catra mempelajari jurus pertamanya.
Wisnu Aji kemudian menaiki sebuah batu besar, sementara Catra berdiri tidak jauh darinya sambil memperhatikan pria tua itu tanpa berkedip. "Jurus yang akan kakek guru ajarkan ini adalah jurus meringankan tubuh. Kakek menamainya Ajian Seribu Langkah. Kau perhatikan baik-baik, jangan sampai ada yang terlewat." ujar Wisnu Aji sambil membentuk kuda-kudanya. Kemudian ia memperagakan beberapa gerakan, yang secara tiba-tiba membuatnya dapat berlari diatas air tanpa pijakan. "Wah, kakek guru hebat. Kakek guru bisa terbang." Catra yang melihatnya bertepuk tangan. Menurutnya pertunjukan yang dipertontonkan oleh Wisnu Aji sangat memukau. Wisnu Aji berlari diatas air secara bolak-balik sekitar lima kali, sebelum kembali mendarat di atas batu besar sebelumnya. Kemudian, ia menoleh ke arah Catra yang terlihat bersemangat. "Bocah, apakah kau sudah menghafal semuanya?" tanyanya Wisnu Aji memastikan. Catra tidak menjawab, selain menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia berlari mendekati Wisnu Aji dan berdiri di sampingnya. Ada tiga hal yang membuat Catra terpukau ketika melihat aksi Wisnu Aji barusan. Pertama, tentu saja karena pria tua itu bisa melayang di udara tanpa kesulitan. Kedua, tubuhnya seolah begitu ringan seperti kapas yang bisa terbawa terpaan angin. Tidak ada beban! Terakhir adalah kecepatan geraknya, Wisnu Aji dapat berlari bolak-balik sebanyak lima kali hanya dalam lima tarikan napas saja. Padahal Catra tahu jarak dari posisi awal ke posisi tujuan setidaknya berkisar 328 kaki. "Bagaimana, kau mau mencobanya sekarang?" Wisnu Aji menantang murid didiknya tersebut. Catra menganggukkan kepalanya dengan cepat berulang kali dan terlihat sangat bersemangat. Ia sudah tidak sabar lagi ingin mencoba Ajian Seribu Langkah itu. Catra memperagakan gerakan yang sama seperti ditunjukkan oleh Wisnu Aji sebelumnya. Kemudian, ia melompat ke atas air. Namun, tidak seperti yang Catra bayangkan, bukannya berhasil berdiri tanpa pijakan, Catra malah harus mendapati tubuhnya yang basah kuyup. Benar, bocah itu tercebur ke dalam sungai. Wisnu Aji yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal sambil bertepuk tangan seolah kejadian buruk yang menimpa Catra adalah lelucon baginya. Berbeda halnya dengan Catra yang memasang wajah tidak senang. Dengan perasaan marah, Catra kembali naik ke atas batu, lalu berseru, "Sekali lagi, aku pasti bisa melakukannya!" Wisnu Aji menghentikan tawanya, sebelum menyetujui permintaan Catra. Ia mempersilahkan bocah itu untuk melakukan sesuai keinginannya. Namun, kesialan kembali menimpa Catra, lagi-lagi ia masih gagal menguasai Ajian Seribu Langkah. Hal tersebut kembali memecah tawa Wisnu Aji yang sampai membuatnya sakit perut. Sementara Catra hanya bisa menelan kemarahannya dalam-dalam. Ia bahkan melampiaskannya dengan memukul air sangat keras. Namun, Catra bukanlah bocah yang mudah menyerah, ia kembali naik ke permukaan dan meminta untuk mencobanya lagi. Wisnu Aji tidak melarangnya, ia mengatakan bahwa Catra bisa melakukannya sebanyak apapun. Tapi, percobaan ketiga juga menemui kegagalan yang membuat Catra harus kembali merasakan dinginnya air sungai. "Lagi!" "Lagi!" Sudah percobaan kesembilan Catra lakukan, namun tetap tidak mengalami kemajuan yang berarti. Ia selalu tercebur ke dalam sungai dari waktu ke waktu. Tanpa terasa matahari juga sudah mulai meninggi, sudah berada tepat di atas kepala. Wisnu Aji sudah sejak lama mencari tempat berteduh agar tidak terkena teriknya matahari. Sambil rebahan di atas batu, ia terus memperhatikan latihan Catra. Hingga pada suatu masa, Wisnu Aji merasa bosan, dan untuk mengurangi rasa kantuknya, Wisnu Aji memutuskan untuk pergi ke hutan untuk mencari buah-buahan. "Bocah, aku pergi dulu. Jangan berhenti berlatih!" pesannya sebelum pergi. Catra sendiri tidak terlalu menghiraukan Wisnu Aji, ia masih fokus pada latihannya dan bertekad untuk menguasai Ajian Seribu Langkah itu pada hari ini juga. Namun, sebanyak apapun ia mencoba, masih belum juga memiliki perkembangan, bahkan sampai Wisnu Aji sudah kembali dengan membawa cukup banyak buah-buahan. "Bocah, apakah kau mau? Aku bisa memberinya satu." Wisnu Aji menawarkan buah apel yang ada di tangannya. Namun, tidak mendapat tanggapan dari Catra. "Ya sudah kalau tidak mau, aku akan menghabiskannya sendiri." gumam Wisnu Aji seraya melangkah ke tempat yang teduh. Selagi Wisnu Aji menikmati buah-buahan yang dipetiknya, Catra selalu melakukan latihannya. Namun, pada suatu waktu, ia terdiam cukup lama. Hanya berdiri menatap aliran sungai seolah sedang memikirkan sesuatu. "Apakah aku harus menyerah? Sepertinya aku tidak cocok untuk menjadi seorang pendekar?!" Catra terlarut dalam lamunannya. Wisnu Aji yang menyadari Catra sudah berhenti berlatih juga menghentikan makannya. "Aih, bocah ini mudah sekali putus asa…" ujarnya seraya berdiri. Kemudian ia mengambil dua buah apel, dan mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar, lalu melemparkannya ke arah Catra. Catra yang masih dalam lamunannya tidak menyadari kedatangan apel itu. Ia baru tersadar setelah buah tersebut mendarat tepat di kepalanya. "Aw!" Catra meringis kesakitan sambil mengusap-usap tengah kepalanya. "Kalau itu tadi adalah pisau atau senjata lawan yang berniat membunuhmu, maka kau sudah mati saat ini." Wisnu Aji berdecak pelan. "Cepat bentuk kuda-kudamu, aku akan mengajarimu triknya." Catra menoleh sejenak ke arah Wisnu Aji, namun buru-buru mengikuti perintahnya. "Kau tahu kenapa tidak bisa menguasai Ajian Seribu Langkah?" Catra hanya terdiam mendapat pertanyaan tersebut. "Itu karena kau tidak memperhatikan kesalahanmu dan terus menerus melakukan hal yang sama." Wisnu Aji menarik dua buah apel dengan tenaga dalamnya yang membuat buah tersebut seperti memiliki sebuah magnet yang terhubung dengan tangan pria tua itu. "Kesalahan pertamamu adalah kuda-kudamu yang tidak sempurna!" Kemudian, ia kembali melemparkan buah apel ke kedua lutut Catra yang seketika membuat kuda-kuda bocah itu terbentuk dengan sempurna. "Kedua, kau seharusnya memusatkan tenaga dalammu ke bagian kaki, agar beban di tubuhmu menjadi lebih ringan. Hal itu juga bisa membuat pergerakanmu lebih cepat." "Jangan membagi pikiranmu ke masalah yang lain, kau harus fokus pada satu titik agar mendapatkan hasil yang maksimal." "Singkirkan rasa takut yang ada dalam dirimu, karena kegagalan biasanya terjadi disebabkan rasa takut yang berlebihan." Catra mulai memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali petunjuk dari Wisnu Aji. Disaat yang sama, ia kembali teringat kejadian tragis yang menimpa keluarganya. Hal tersebut membuat Catra mengepalkan tangannya dengan keras. Tanpa ia sadari, tekadnya untuk menjadi lebih kuat kembali menyala. Memang begitu tekad, jika seseorang memilikinya sedikit saja, maka dalam keadaan terpuruk sekalipun mereka akan berusaha untuk bangkit. Dengan sebuah tekad, maka hal yang mustahil bisa saja dapat diwujudkan. Seperti saat ini, ketika Catra membuka matanya kembali, ia membayangkan dirinya yang seolah bergerak layaknya angin. Lalu itulah yang terjadi, Catra kini berhasil berdiri diatas air tanpa pijakan, lalu berlari dengan begitu cepat. "Aku berhasil!" Catra tidak bisa menutupi kegembiraannya saat sudah kembali berpijak di atas batu tempat ia berdiri semula. Dengan kata lain, ia sudah berhasil menguasai Ajian Seribu Langkah. Meski dalam praktiknya masih jauh dari kata sempurna, namun hal tersebut sudah mengalami kemajuan. Wisnu Aji yang melihatnya juga merasa senang. Ia tahu bahwa Catra akan berhasil menguasai jurus ini, dan hanya membutuhkan sedikit dorongan saja. "Anak ini sudah berhasil menyingkirkan keraguan dan ketakutan dalam dirinya. Maka latihan kedepannya sudah tidak akan mengalami kesulitan lagi." gumam Wisnu Aji pelan. Memang benar, hal yang menghambat perkembangan Catra selama ini adalah perasaannya yang masih terpaut dengan trauma masa lalu, dan itu membuatnya sering tidak fokus dalam latihan. Namun, sekarang Catra sudah berhasil menyingkirkannya, jadi Wisnu Aji yakin latihan ke depannya akan muridnya itu lewati dengan mudah. Harus Wisnu Aji akui, bahwa sebenarnya Catra adalah bocah yang cerdas. Selama mereka tinggal bersama, terkadang Wisnu Aji tidak merasa sedang hidup dengan seorang bocah, melainkan seseorang yang seusianya karena Catra bisa menempatkan diri dengan baik dan memiliki kedewasaan yang melebihi anak-anak seumurannya. Namun, ia tidak berniat memberi pujian yang akan membuat Catra menjadi besar kepala. Sebaliknya, Wisnu Aji berpura-pura meremehkan kemampuan bocah itu agar menyulut tekadnya untuk berlatih lebih keras. "Bocah, jangan senang dulu. Kau hanya menguasai jurus dasar seperti ini saja, namun sudah seperti menaklukkan dunia dan seisinya. Harus kau ingat, masih banyak latihan yang perlu kau selesaikan.""Kupikir siapa yang datang, ternyata anda, tuan Caraka? Tapi sepertinya aku salah dengar sebelumnya? Bukankah kita sudah sepakat tidak ada dendam lagi?" Lembu Ireng memasang senyuman ramah di hadapan Catra yang sudah menunjukkan batang hidungnya. Sebenarnya ia merasa kaget karena pemuda ini belum juga mati setelah menerima racun darinya."Apakah ia adalah seorang tabib? Atau dirinya memiliki penawar racunku?" Lembu Ireng larut dalam tebakannya sendiri.Catra tidak menggubrisnya. Ia sudah jengah dengan sikap Lembu Ireng yang bermuka dua.Sebenarnya jika tidak diperlukan Catra enggan ikut campur masalah ini karena akan merepotkan. Namun, akhirnya ia memilih untuk turun tangan setelah melihat kelicikan Lembu Ireng.Ia tidak bisa membiarkan orang-orang seperti Lembu Ireng terus menyebarkan kejahatan, mengingat pesan dari kakek gurunya. Sebenarnya ada alasan lain Catra memutuskan untuk membantu, tapi ia tidak mengakui hal tersebut. Pandangannya hanya t
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad
Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan
Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.
Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.
Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya







