LOGINSetiap harinya Catra selalu mempelajari Ajian Seribu Langkah untuk menyempurnakannya. Dari yang awalnya masih terhuyung-huyung, kini bocah itu sudah dapat berdiri dengan sempurna.
Wisnu Aji juga jarang menemani Catra berlatih. Terhitung sejak ia mempelajari Ajian Seribu Langkah, maka waktu sudah berlalu sebanyak dua minggu. Namun, pada hari ini Wisnu Aji kembali mendatangi Catra di tempat latihan yang membuat bocah itu menghentikan latihannya. "Kakek guru, kenapa kau kemari?" tanya Catra penasaran. "Kulihat kau sudah menguasai Ajian Seribu Langkah. Aku datang kemari untuk mengajari jurus lainnya karena kurasa waktunya sudah tepat. Apakah kau bersedia?" Wisnu Aji menyipitkan matanya, mencoba melihat tanggapan dari bocah itu dan tentu saja mendapat anggukan setuju. Bahkan Catra langsung memeluk kakek gurunya itu untuk menahannya agar tidak berubah pikiran. "Kakek guru, kali ini jurus apa yang akan kau ajarkan padaku?" tanya Catra sambil bergelantungan di punggung Wisnu Aji. "Aih, lepaskan aku dulu bocah. Kalau begini terus maka kau bisa membunuhku." Wisnu Aji berusaha melepaskan pelukan dari Catra yang masih kuat itu. Kemudian, ia berpura-pura terbatuk-batuk dan kesulitan bernapas. "Aduh, nyawaku… aku tidak bisa bernapas…!" Wisnu Aji langsung merobohkan tubuhnya dan memejamkan mata. Catra yang melihatnya menjadi panik dan segera melepaskan diri dari Wisnu Aji. Lalu, ia memeriksa denyut nadi pria tua itu juga memeriksa aliran napasnya melalui hidung untuk memastikan bahwa kakek gurunya itu masih baik-baik saja. Namun, wajah Catra seketika menjadi sedih. "Kakek guru… kakek guru, kenapa kau meninggal secepat ini. Seharusnya kau turunkan dulu semua ilmumu padaku, baru kau boleh mati!" Catra mengusap kedua matanya yang tidak mengalirkan air mata. Wisnu Aji yang mendengar kutukan dari muridnya itu menjadi tidak tahan dan segera membuka matanya. Kemudian, ia langsung berdiri dengan memasang wajah penuh kemarahan. "Kau yang mati, seluruh keluargamu yang mati!" Wisnu Aji mengutuk keras bocah dihadapannya itu. Namun, Catra bukannya sedih atau marah melainkan tertawa dengan puas. "Sudah kuduga kakek guru sedang berbohong. Aku sudah mengetahui trik ini sejak awal." Catra menjadi cekikikan. Wisnu Aji yang melihatnya merasakan kehangatan di dadanya. Ia senang ketika bisa membuat Catra tersenyum, karena Wisnu Aji tahu bahwa bocah itu masih menyimpan luka yang begitu dalam. Namun, berusaha menyembunyikannya dari penglihatan dunia luar, termasuk dirinya. "Kakek guru, jurus apa yang akan kau ajarkan padaku?" pertanyaan Catra memecah lamunan Wisnu Aji. Ia memalingkan muka untuk menutupi matanya yang berkaca-kaca. "Aku tidak jadi memberimu jurus baru, sebab sebelumnya aku sudah mendengar semua rencanamu. Kalau aku mengajarimu lebih sekarang, bukankah kematianku akan lebih cepat!" Wisnu Aji mendengus sambil berpura-pura merajuk. Catra tentu saja menjadi panik, ia buru-buru merayu kakek gurunya itu. "Kakek guru, jangan marah. Aku 'kan cuma bercanda. Begini saja, kalau kakek guru mau mengajariku jurus baru, nanti malam kakek guru tidak perlu memasak. Sebagai gantinya, aku akan memasakkan makanan kesukaanmu. Bagaimana?" Catra berusaha membujuk Wisnu Aji agar mengajarinya jurus baru. Wisnu Aji tidak bisa menahan lagi untuk terus berpura-pura marah. Ia tak bisa melewatkan kesempatan untuk mencicipi makanan kesukaannya. Apalagi masakan Catra begitu enak, Wisnu Aji sudah beberapa kali dibuat takjub oleh bocah itu. Andai Catra memilih untuk tidak menjadi seorang pendekar, maka Wisnu Aji sangat yakin kelak nama bocah itu juga akan terkenal berkat masakannya. "Baik… baik, aku akan mengajarimu kali ini." Wisnu Aji menjadi luluh. Ia juga sudah memiliki rencana tersendiri untuk latihan Catra kali ini. "Berdirilah di sana dan bentuk kuda-kudamu dengan sempurna." Wisnu Aji memerintahkan Catra untuk berdiri di atas batu besar yang segera diikuti oleh bocah itu. "Jurus yang akan aku ajarkan kali ini disebut Sepuluh Tapak Merenggut Sukma!" Wisnu Aji mulai membentuk kuda-kuda. "Perhatikan baik-baik, jangan sampai ada yang terlewat." ujarnya mengingatkan. Kemudian, Wisnu Aji mulai memperagakan gerakan demi gerakan yang ada dalam jurus Sepuluh Tapak Merenggut Sukma. Singkatnya, jurus itu bertumpu pada kekuatan dan kecepatan tangan, yang mana penggunanya dapat melepaskan sepuluh tapak dalam waktu kurang dari satu kedipan mata. Tapak yang dilepaskan juga tidak sembarangan dan sangat kuat, yang mengarah ke bagian vital tubuh lawannya. Wisnu Aji menjelaskan, bagian yang harus diserang oleh Catra antara lain, adalah dada, perut, kedua tulang rusuk, kedua kaki, dan kedua pergelangan tangan, lalu diakhiri dengan tapak di leher kiri dan kanan. Bagian dada dan perut ditujukan untuk membuat lawan kesulitan bernapas, kedua kaki bertugas untuk melumpuhkan pergerakan lawan, begitupun pada kedua pergelangan tangan agar lawan tidak dapat menangkis serangan dari penggunanya. Sedangkan kedua tulang rusuk untuk membuat musuh menjadi lemah, karena bagian itu merupakan salah satu tempat yang sangat riskan digunakan seseorang untuk melumpuhkan lawannya. Sementara pada bagian leher adalah untuk mengakhiri serangan pada lawannya sekaligus menjadi serangan mutlak. Catra yang mendengarnya menjadi terkesima. Jika Sepuluh Tapak Merenggut Sukma sesuai yang dijelaskan Wisnu Aji, maka bukankah jurus ini adalah teknik tingkat tinggi yang mematikan?! "Benar, Sepuluh Tapak Merenggut Sukma merupakan salah satu jurus terbaik yang aku miliki. Saat masih aktif di dunia persilatan, teknik ini menjadi senjata pamungkasku yang sudah banyak menaklukkan musuh." Mata Wisnu Aji menyala terang saat menjelaskan itu, seolah ia ingin kembali pada masa lalu yang membuatnya bisa berdiri di puncak dunia persilatan. "Lalu mengapa kakek guru mengajarkannya padaku? Bagaimana jika aku tidak bisa mempelajarinya? Atau, bagaimana kalau aku menggunakannya untuk perbuatan jahat?" "Sederhana saja, kakek guru yakin kau tidak akan menjadi sosok yang jahat karena hatimu lebih lembut daripada yang kau bayangkan. Kebaikan yang ada dalam dirimu jauh lebih kuat daripada kejahatan. Sementara alasan aku mengajarimu saat ini, karena ingin kau mempelajarinya lebih cepat. Semakin lama seseorang melatih sebuah jurus, maka kemungkinan untuk menyempurnakannya akan lebih besar." Wisnu Aji menepuk pundak Catra, seolah mengisyaratkan bahwa ia telah memberikan semuanya untuk bocah itu. "Terima kasih, kakek guru. Catra tidak akan mengecewakan kepercayaan yang kau berikan." Catra memberi hormat, dan berjanji akan berlatih dengan giat. "Bagus, kakek guru bangga padamu. Sekarang, kau praktekkan semua yang telah kau pelajari dari gerakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma!" Wisnu Aji melompat turun dari batu besar dan membiarkan Catra berlatih seorang diri. Catra sendiri sudah membentuk kuda-kudanya. Kemudian ia mencoba memperagakan gerakan demi gerakan yang dilihat sebelumnya. Namun, seperti kata pepatah bahwa praktek tidak semudah teorinya. Jangankan untuk menguasai Sepuluh Tapak Merenggut Sukma, Catra bahkan sudah lupa pada gerakan pertama. Ingatannya seolah menghilang dari kepalanya, seperti debu yang tertiup angin. "Jurus ini ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan.""Kupikir siapa yang datang, ternyata anda, tuan Caraka? Tapi sepertinya aku salah dengar sebelumnya? Bukankah kita sudah sepakat tidak ada dendam lagi?" Lembu Ireng memasang senyuman ramah di hadapan Catra yang sudah menunjukkan batang hidungnya. Sebenarnya ia merasa kaget karena pemuda ini belum juga mati setelah menerima racun darinya."Apakah ia adalah seorang tabib? Atau dirinya memiliki penawar racunku?" Lembu Ireng larut dalam tebakannya sendiri.Catra tidak menggubrisnya. Ia sudah jengah dengan sikap Lembu Ireng yang bermuka dua.Sebenarnya jika tidak diperlukan Catra enggan ikut campur masalah ini karena akan merepotkan. Namun, akhirnya ia memilih untuk turun tangan setelah melihat kelicikan Lembu Ireng.Ia tidak bisa membiarkan orang-orang seperti Lembu Ireng terus menyebarkan kejahatan, mengingat pesan dari kakek gurunya. Sebenarnya ada alasan lain Catra memutuskan untuk membantu, tapi ia tidak mengakui hal tersebut. Pandangannya hanya t
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad
Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan
Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.
Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.
Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya







