Share

Bab 7

Penulis: SWEET_OWL
last update Tanggal publikasi: 2026-06-11 17:00:10

Setiap harinya Catra selalu mempelajari Ajian Seribu Langkah untuk menyempurnakannya. Dari yang awalnya masih terhuyung-huyung, kini bocah itu sudah dapat berdiri dengan sempurna.

Wisnu Aji juga jarang menemani Catra berlatih. Terhitung sejak ia mempelajari Ajian Seribu Langkah, maka waktu sudah berlalu sebanyak dua minggu.

Namun, pada hari ini Wisnu Aji kembali mendatangi Catra di tempat latihan yang membuat bocah itu menghentikan latihannya.

"Kakek guru, kenapa kau kemari?" tanya Catra penasaran.

"Kulihat kau sudah menguasai Ajian Seribu Langkah. Aku datang kemari untuk mengajari jurus lainnya karena kurasa waktunya sudah tepat. Apakah kau bersedia?" Wisnu Aji menyipitkan matanya, mencoba melihat tanggapan dari bocah itu dan tentu saja mendapat anggukan setuju. Bahkan Catra langsung memeluk kakek gurunya itu untuk menahannya agar tidak berubah pikiran.

"Kakek guru, kali ini jurus apa yang akan kau ajarkan padaku?" tanya Catra sambil bergelantungan di punggung Wisnu Aji.

"Aih, lepaskan aku dulu bocah. Kalau begini terus maka kau bisa membunuhku." Wisnu Aji berusaha melepaskan pelukan dari Catra yang masih kuat itu. Kemudian, ia berpura-pura terbatuk-batuk dan kesulitan bernapas.

"Aduh, nyawaku… aku tidak bisa bernapas…!" Wisnu Aji langsung merobohkan tubuhnya dan memejamkan mata.

Catra yang melihatnya menjadi panik dan segera melepaskan diri dari Wisnu Aji. Lalu, ia memeriksa denyut nadi pria tua itu juga memeriksa aliran napasnya melalui hidung untuk memastikan bahwa kakek gurunya itu masih baik-baik saja.

Namun, wajah Catra seketika menjadi sedih. "Kakek guru… kakek guru, kenapa kau meninggal secepat ini. Seharusnya kau turunkan dulu semua ilmumu padaku, baru kau boleh mati!" Catra mengusap kedua matanya yang tidak mengalirkan air mata.

Wisnu Aji yang mendengar kutukan dari muridnya itu menjadi tidak tahan dan segera membuka matanya. Kemudian, ia langsung berdiri dengan memasang wajah penuh kemarahan.

"Kau yang mati, seluruh keluargamu yang mati!" Wisnu Aji mengutuk keras bocah dihadapannya itu. Namun, Catra bukannya sedih atau marah melainkan tertawa dengan puas.

"Sudah kuduga kakek guru sedang berbohong. Aku sudah mengetahui trik ini sejak awal." Catra menjadi cekikikan.

Wisnu Aji yang melihatnya merasakan kehangatan di dadanya. Ia senang ketika bisa membuat Catra tersenyum, karena Wisnu Aji tahu bahwa bocah itu masih menyimpan luka yang begitu dalam. Namun, berusaha menyembunyikannya dari penglihatan dunia luar, termasuk dirinya.

"Kakek guru, jurus apa yang akan kau ajarkan padaku?" pertanyaan Catra memecah lamunan Wisnu Aji. Ia memalingkan muka untuk menutupi matanya yang berkaca-kaca.

"Aku tidak jadi memberimu jurus baru, sebab sebelumnya aku sudah mendengar semua rencanamu. Kalau aku mengajarimu lebih sekarang, bukankah kematianku akan lebih cepat!" Wisnu Aji mendengus sambil berpura-pura merajuk.

Catra tentu saja menjadi panik, ia buru-buru merayu kakek gurunya itu. "Kakek guru, jangan marah. Aku 'kan cuma bercanda. Begini saja, kalau kakek guru mau mengajariku jurus baru, nanti malam kakek guru tidak perlu memasak. Sebagai gantinya, aku akan memasakkan makanan kesukaanmu. Bagaimana?" Catra berusaha membujuk Wisnu Aji agar mengajarinya jurus baru.

Wisnu Aji tidak bisa menahan lagi untuk terus berpura-pura marah. Ia tak bisa melewatkan kesempatan untuk mencicipi makanan kesukaannya. Apalagi masakan Catra begitu enak, Wisnu Aji sudah beberapa kali dibuat takjub oleh bocah itu.

Andai Catra memilih untuk tidak menjadi seorang pendekar, maka Wisnu Aji sangat yakin kelak nama bocah itu juga akan terkenal berkat masakannya.

"Baik… baik, aku akan mengajarimu kali ini." Wisnu Aji menjadi luluh. Ia juga sudah memiliki rencana tersendiri untuk latihan Catra kali ini.

"Berdirilah di sana dan bentuk kuda-kudamu dengan sempurna." Wisnu Aji memerintahkan Catra untuk berdiri di atas batu besar yang segera diikuti oleh bocah itu.

"Jurus yang akan aku ajarkan kali ini disebut Sepuluh Tapak Merenggut Sukma!" Wisnu Aji mulai membentuk kuda-kuda.

"Perhatikan baik-baik, jangan sampai ada yang terlewat." ujarnya mengingatkan.

Kemudian, Wisnu Aji mulai memperagakan gerakan demi gerakan yang ada dalam jurus Sepuluh Tapak Merenggut Sukma. Singkatnya, jurus itu bertumpu pada kekuatan dan kecepatan tangan, yang mana penggunanya dapat melepaskan sepuluh tapak dalam waktu kurang dari satu kedipan mata.

Tapak yang dilepaskan juga tidak sembarangan dan sangat kuat, yang mengarah ke bagian vital tubuh lawannya. Wisnu Aji menjelaskan, bagian yang harus diserang oleh Catra antara lain, adalah dada, perut, kedua tulang rusuk, kedua kaki, dan kedua pergelangan tangan, lalu diakhiri dengan tapak di leher kiri dan kanan.

Bagian dada dan perut ditujukan untuk membuat lawan kesulitan bernapas, kedua kaki bertugas untuk melumpuhkan pergerakan lawan, begitupun pada kedua pergelangan tangan agar lawan tidak dapat menangkis serangan dari penggunanya.

Sedangkan kedua tulang rusuk untuk membuat musuh menjadi lemah, karena bagian itu merupakan salah satu tempat yang sangat riskan digunakan seseorang untuk melumpuhkan lawannya. Sementara pada bagian leher adalah untuk mengakhiri serangan pada lawannya sekaligus menjadi serangan mutlak.

Catra yang mendengarnya menjadi terkesima. Jika Sepuluh Tapak Merenggut Sukma sesuai yang dijelaskan Wisnu Aji, maka bukankah jurus ini adalah teknik tingkat tinggi yang mematikan?!

"Benar, Sepuluh Tapak Merenggut Sukma merupakan salah satu jurus terbaik yang aku miliki. Saat masih aktif di dunia persilatan, teknik ini menjadi senjata pamungkasku yang sudah banyak menaklukkan musuh." Mata Wisnu Aji menyala terang saat menjelaskan itu, seolah ia ingin kembali pada masa lalu yang membuatnya bisa berdiri di puncak dunia persilatan.

"Lalu mengapa kakek guru mengajarkannya padaku? Bagaimana jika aku tidak bisa mempelajarinya? Atau, bagaimana kalau aku menggunakannya untuk perbuatan jahat?"

"Sederhana saja, kakek guru yakin kau tidak akan menjadi sosok yang jahat karena hatimu lebih lembut daripada yang kau bayangkan. Kebaikan yang ada dalam dirimu jauh lebih kuat daripada kejahatan. Sementara alasan aku mengajarimu saat ini, karena ingin kau mempelajarinya lebih cepat. Semakin lama seseorang melatih sebuah jurus, maka kemungkinan untuk menyempurnakannya akan lebih besar." Wisnu Aji menepuk pundak Catra, seolah mengisyaratkan bahwa ia telah memberikan semuanya untuk bocah itu.

"Terima kasih, kakek guru. Catra tidak akan mengecewakan kepercayaan yang kau berikan." Catra memberi hormat, dan berjanji akan berlatih dengan giat.

"Bagus, kakek guru bangga padamu. Sekarang, kau praktekkan semua yang telah kau pelajari dari gerakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma!" Wisnu Aji melompat turun dari batu besar dan membiarkan Catra berlatih seorang diri.

Catra sendiri sudah membentuk kuda-kudanya. Kemudian ia mencoba memperagakan gerakan demi gerakan yang dilihat sebelumnya. Namun, seperti kata pepatah bahwa praktek tidak semudah teorinya. Jangankan untuk menguasai Sepuluh Tapak Merenggut Sukma, Catra bahkan sudah lupa pada gerakan pertama. Ingatannya seolah menghilang dari kepalanya, seperti debu yang tertiup angin.

"Jurus ini ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 117

    Setelah kejadian di Hutan Barat, seharusnya Catra bisa sedikit bersantai. Namun entah mengapa, perasaannya justru tidak bisa benar-benar tenang.Sosok misterius yang mengikuti mereka dari Hutan Barat masih terbayang di kepalanya.Kemudian ada pria berjubah hitam dari Pasukan Bayang Darah. Pria itu datang untuk membunuhnya. Namun semuanya berubah setelah melihat tanda tengkorak di punggungnya.Catra belum menemukan jawabannya, dan semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.“Lingga.” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau melamun lagi.”“Aku sedang berpikir.”“Memikirkan pria berjubah hitam tadi?”Catra menoleh.Damar tersenyum tipis. “Benar, kan?”Catra tidak menjawab.Damar terkekeh. “Tenang saja. Aku juga memikirkannya.”Sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar langka

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 116

    Cahaya Kotaraja semakin jelas terlihat. Matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik pegunungan. Langit berubah menjadi biru gelap, sementara lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan menuju kota.Catra masih berdiri diam. Tatapannya tertuju pada gerbang Kotaraja yang terlihat dari kejauhan. Namun pikirannya tidak berada di sana.Ada sesuatu yang sejak tadi mengikutinya. Bukan sekadar perasaan. Catra yakin, seseorang sedang mengawasinya.“Lingga?” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau tiba-tiba berhenti.”Catra tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat ke arah jalan di depan. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setidaknya, tidak terlihat.“Tidak ada apa-apa.”“Kau yakin?” Damar mengerutkan kening.“Ya.”Damar memperhatikan Catra beberapa detik, kemudian ia tersenyum tipis.“Baiklah.”Mereka kembali berj

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 115

    Catra tiba-tiba merasa kepalanya sedikit berat. “Banyak sekali.” Damar tertawa. “Sekarang kau mulai memahami.” “Memahami apa?” “Bahwa dunia tidak hanya terdiri dari orang-orang yang kau kenal.” Catra diam. Damar melanjutkan, “Dan kekuatan seseorang juga tidak hanya bisa dilihat dari nama perguruannya.” “Lalu bagaimana?” “Kemampuan. Tenaga dalam. Pengalaman. Teknik. Senjata.” Damar menoleh. “Dan yang paling penting...” “Tekad.” Catra menatapnya. Damar tersenyum. “Namun kalau kau ingin memahami dunia persilatan, kau harus memahami tingkatan kekuatan terlebih dahulu.” Catra langsung tertarik. “Yang tadi?” “Ya.” Damar mengangguk. “Di dunia persilatan, kekuatan seseorang umumnya dibagi berdasarkan tingkat tenaga dalam yang mereka miliki.” “Tenaga dalam?” “Ya.” Damar mengangkat telunjuknya. “Tubuh manusia memiliki jalur-jalur energi. Seiring seseorang berlatih, tenaga dalam akan terkumpul dan membentuk lingkaran-lingkaran tenaga di dalam tubuh.” “Lingk

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 114

    Catra dan Damar masih berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah menuju Kotaraja, namun perjalanan kali ini terasa berbeda.Bukan karena mereka sedang dikejar. Bukan pula karena ada musuh yang menunggu di depan. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Catra mulai menyadari betapa luasnya dunia yang selama ini tidak pernah ia kenal.Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya berputar di sekitar satu tujuan. Menjadi lebih kuat, mencari kebenaran tentang pembantaian keluarganya, menemukan orang-orang yang bertanggung jawab, dan suatu hari nanti membalas semuanya.Ia tidak pernah benar-benar peduli dengan dunia di luar tujuan tersebut. Namun sekarang, setelah bertemu begitu banyak orang dan mengetahui bahwa Pedang Tengkorak ternyata menjadi alasan berbagai pihak mengincarnya, Catra mulai memahami satu hal.Dunia ini jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.“Jadi...” Catra akhirnya membuka suara.

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 113

    “Saudara... ya?” Langkah Catra terhenti sejenak.Beberapa meter di depannya, Damar sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan Hutan Barat. Pria muda itu sama sekali tidak menoleh, seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukan sesuatu yang besar.Namun bagi Catra, kalimat itu terasa berbeda.“Saudara...” Catra mengulanginya pelan. Di balik topeng hitamnya, sepasang matanya memandang kosong ke arah punggung Damar.Sudah berapa lama ia tidak mendengar kata itu?Sejak pembantaian atas keluarganya belasan tahun lalu, ia sudah melupakan kata itu, karena saudara satu-satunya yang Catra miliki sudah meninggal sejak itu juga, setidaknya begitulah yang ia yakini.Catra tersenyum tipis, namun senyum itu tidak bertahan lama. Ada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya, sebelum ia tersadar dan perlahan mengepalkan tangan.Tidak.Ia tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan itu,

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 112

    Hutan Barat kembali dipenuhi ketegangan. Angin yang sebelumnya bergerak lembut kini terasa seolah berhenti. Daun-daun yang bergoyang perlahan di atas kepala mereka menciptakan suara berdesir yang justru membuat suasana semakin mencekam.Catra berdiri dengan kedua kaki kokoh menapak tanah. Di hadapannya, pria berjubah hitam itu masih menggenggam pedang dengan satu tangan.Namun ada sesuatu yang berubah, tatapan dingin di balik topengnya tidak lagi hanya tertuju pada Catra sebagai seorang musuh. Tatapan itu kini tertuju pada tanda tengkorak yang terlihat di punggung Catra.“Dari mana kau mendapatkannya?”Pertanyaan itu kembali terdengar.Catra mengerutkan kening, ia tidak mengerti mengapa pria tersebut tiba-tiba tertarik pada tanda lahir di tubuhnya. Namun setelah beberapa saat berpikir, Catra akhirnya menjawab dengan jujur.“Itu?” Ia sedikit memiringkan tubuh, berusaha melihat bagian punggungnya sendiri.“Tanda lahir.”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status