Share

Bab 8

Author: SWEET_OWL
last update publish date: 2026-06-12 18:31:39

Wisnu Aji hanya tertawa kecil saat melihat kebingungan di wajah Catra. Kemudian, ia bergumam pelan. "Tentu saja jurus itu sangat sulit dikuasai. Jika memang mudah, maka Sepuluh Tapak Merenggut Sukma bukanlah ajian pamungkas dariku!"

Seketika Wisnu Aji teringat kembali pada masa lalunya. Dimana saat ia muda, Wisnu Aji menemukan sebuah kitab yang telah usang di dalam sebuah gua yang tak berpenghuni. Kitab itulah yang mencatat semua gerakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma.

Wisnu Aji mempelajarinya tanpa guru, dan setelah berhasil menguasainya, ia menghancurkan kitab itu dengan tangannya sendiri agar tidak ada orang lain yang mempelajarinya. Jurus ini juga yang membawa Wisnu Aji mencapai puncak dunia persilatan.

Saat Wisnu Aji sudah tersadar kembali dari lamunannya, Catra masih kesulitan untuk mengingat gerakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma. Wisnu Aji yang melihat itu lalu memintanya untuk berhenti berlatih.

"Cukup untuk hari ini, kau bisa mempelajarinya lagi besok. Namun, aku tetap akan menagih janjimu. Kau harus memasakkan makanan kesukaanku." Wisnu Aji bangkit, lalu tanpa menunggu jawaban dari Catra, ia sudah terbang ke udara.

"Baik, kakek guru." Catra juga tidak keberatan. Ia juga segera menghentikan latihannya sesuai perintah Wisnu Aji, karena Catra tahu bahwa memaksakan untuk mempelajari sesuatu maka belum tentu akan mendapat hasil yang baik. Catra berniat mempelajarinya secara perlahan.

Seperti kata pepatah, perlahan tapi pasti, terlambat bukanlah akhir dari segalanya karena tak semua bunga akan mekar secara bersamaan.

Catra lalu pergi ke hutan untuk menyiapkan bahan dasar hidangan yang akan dibuat. Sebenarnya makanan kesukaan Wisnu Aji cukuplah sederhana, hanya sup kaldu kelinci dan ayam hutan bakar sambal.

Catra berjalan dengan mengendap-endap untuk memata-matai hewan buruannya. Kala itu waktu telah menunjukkan sore, yang mana langit sudah tampak kemerahan.

Hampir satu jam ia telah berada di dalam hutan, dan pada akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah datang. Catra melihat seekor kelinci putih yang sedang makan.

Catra berjalan tanpa suara, dan menentukan waktu yang tepat untuk menyergap hewan itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sosok lain yang juga mengincar kelinci tersebut. Hewan buas yang memiliki belang di sekujur tubuhnya. Saat ia membuka mulut, menunjukkan gigi-gigi taringnya yang begitu tajam. Sosok itu adalah sang raja rimba, harimau yang perkasa.

Tatapan harimau itu penuh nafsu membunuh. Ia sesekali menjilati lidahnya yang merasa amat kelaparan. Harimau itu juga sedang menentukan waktu yang tepat untuk menangkap mangsanya.

Hal yang tidak diinginkan segera terjadi, yang mana baik Catra maupun harimau itu bergerak secara bersamaan. Mereka sama-sama menerkam ke arah mangsa. Namun, karena Catra telah menguasai Ajian Seribu Langkah membuatnya setingkat lebih cepat daripada sang raja rimba. Catra dapat meraih kelinci itu terlebih dahulu. Ia juga baru menyadari ada seekor harimau yang menerkam di tempat sama setelahnya.

Hewan buas itu nyatanya tidak ingin membiarkan Catra pergi dengan mangsanya. Oleh karena itu, aksi kejar-kejaran terjadi. Catra dengan Ajian Seribu Langkah harus berjuang menjauhi sang raja rimba yang terkenal dengan kecepatannya.

Meskipun Ajian Seribu Langkah merupakan teknik meringankan tubuh tingkat tinggi, namun juga membutuhkan tenaga dalam yang besar untuk menggunakannya. Catra tidak berniat menghabiskan tenaga dalamnya dengan hanya berlari, karena ia juga tidak yakin harimau itu akan berhenti mengejarnya.

Maka dari itu Catra memutuskan untuk bertarung. Ia juga ingin menguji keterampilan bertarung yang selama ini dirinya latih diam-diam selagi Wisnu Aji tidak mengawasinya.

"Tunggu sebentar," Catra mengangkat satu tangannya.

Harimau yang seolah mengerti ucapan Catra lalu ikut berhenti dengan menjaga jarak sebanyak sepuluh meter darinya. Ia juga mengaum dengan buas, seolah berkata 'Kau tidak bisa lari lagi!'.

Catra sendiri segera membuka bajunya, lalu memasukkan kelinci itu ke dalam baju tersebut agar tidak bisa lari. Kemudian, ia meletakkannya sedikit menjauh.

Catra lalu menatap harimau buas yang sedang memandangnya dengan tatapan penuh nafsu membunuh itu. Ia sadar bahwa hewan itu telah berada dalam posisi bertarung.

Benar saja, Catra baru membentuk kuda-kudanya saat harimau mulai menerkam ke arahnya. Beruntungnya Catra cukup sigap sehingga serangan itu mampu dihindari dengan melompat ke arah kiri.

Namun, sang raja rimba tidak tinggal diam. Ia kembali memberikan serangan lainnya. Kali ini cakar-cakarnya yang tajam berniat untuk mencabik-cabik lawannya.

Catra tidak menghindar, ia menahan serangan itu dengan menangkap kedua kaki harimau yang diarahkan kepadanya. Mereka tidak lebih dari seperti sedang bergulat dan berguling di tanah.

Hewan buas itu memiliki tekad untuk melukai tubuh lawannya, sementara Catra berusaha keras agar cakar-cakar tajam itu tidak mendarat di tubuhnya. Untungnya Catra telah melatih fisiknya dengan sangat keras selama ini, jadi ketahanan tubuhnya tidak jauh berbeda dengan sang raja rimba.

Melihat cakarnya tidak bisa menemui target, harimau kemudian menggunakan gigi-gigi taringnya untuk mencabik-cabik lawan. Namun, lagi-lagi Catra bisa menghindarinya dengan melemparkan tubuh hewan itu yang mengenai pohon tidak jauh darinya.

"Huh! Hampir saja!" Catra menghela napas panjang.

Sang raja rimba meraung keras. Ia tidak menyangka manusia kecil seperti Catra mampu melempar tubuhnya dengan mudah. Padahal ukuran keduanya terlampau sangat jauh. Tubuh harimau itu tiga kali lebih besar dibandingkan Catra.

Dengan perasaan murka, harimau itu kembali memberikan serangan. Meskipun Catra berhasil membuatnya terluka, namun hewan buas itu tidak berniat melarikan diri. Sebutan penguasa rimba yang tersemat pada hewan perkasa itu tampaknya bukan hanya sekedar isapan jempol belaka.

Lagi-lagi keduanya bergulat di tanah. Namun, kali ini tekanan yang diberikan harimau itu jauh lebih kuat daripada sebelumnya, membuatnya berhasil memberikan satu cakaran tepat pada bagian tangan Catra.

Darah mulai mengalir cukup deras dari tangan bocah itu membuatnya kembali melayangkan tubuh lawannya. Lalu, Catra menyobek sebagian kain celananya dan melilitkannya ke bagian yang terluka untuk menghentikan darahnya terus mengalir.

Ada perasaan marah dan kesal menjadi satu dalam benaknya. Satu tujuannya saat ini adalah membunuh harimau yang telah membuatnya terluka.

Catra kemudian mendadak mengingat kembali gerakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma dan secara setengah sadar, ia mulai memperagakannya.

Lalu dengan kecepatan kurang dari satu kedipan mata, ia telah bergerak layaknya hembusan angin yang menerpa tubuh lawannya.

Yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaan, harimau perkasa itu seketika sudah terbaring di tanah dengan mengeluarkan darah dari sekujur tubuhnya.

Mati!

Sang raja rimba harus tumbang di tangan seorang bocah yang usianya masih dibawah sepuluh tahun.

"Akhirnya, aku berhasil!" Catra menatap dengan napas terengah-engah tubuh harimau yang telah terbaring tidak berdaya.

Ini adalah pengalaman pertamanya bertarung dalam keadaan hidup dan mati. Hal tersebut membuat Catra membayangkan betapa mengerikannya dunia persilatan yang sering kakek gurunya ceritakan.

Sebab di dalam dunia persilatan, tersebar pendekar yang memiliki kemampuan beladiri tinggi. Dan konon mereka tidak segan-segan untuk membunuh lawannya. Menurut perkiraan Catra, kemampuan orang-orang ini ratusan atau ribuan kali lipat lebih kuat dibandingkan sang raja rimba yang baru saja ia hadapi.

Catra mengepalkan tangannya dengan keras. Tekadnya untuk menjadi kuat kembali menyala dengan terang, bagai cahaya rembulan yang menyinari gelapnya malam.

"Aku harus kuat! Aku tidak ingin diremehkan orang lain. Aku tidak ingin mati! Aku harus berada di puncak dunia!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 25

    "Kupikir siapa yang datang, ternyata anda, tuan Caraka? Tapi sepertinya aku salah dengar sebelumnya? Bukankah kita sudah sepakat tidak ada dendam lagi?" Lembu Ireng memasang senyuman ramah di hadapan Catra yang sudah menunjukkan batang hidungnya. Sebenarnya ia merasa kaget karena pemuda ini belum juga mati setelah menerima racun darinya."Apakah ia adalah seorang tabib? Atau dirinya memiliki penawar racunku?" Lembu Ireng larut dalam tebakannya sendiri.Catra tidak menggubrisnya. Ia sudah jengah dengan sikap Lembu Ireng yang bermuka dua.Sebenarnya jika tidak diperlukan Catra enggan ikut campur masalah ini karena akan merepotkan. Namun, akhirnya ia memilih untuk turun tangan setelah melihat kelicikan Lembu Ireng.Ia tidak bisa membiarkan orang-orang seperti Lembu Ireng terus menyebarkan kejahatan, mengingat pesan dari kakek gurunya. Sebenarnya ada alasan lain Catra memutuskan untuk membantu, tapi ia tidak mengakui hal tersebut. Pandangannya hanya t

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 24

    "Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 23

    Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 22

    Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 21

    Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 20

    Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status