Share

Bab 9

Author: SWEET_OWL
last update publish date: 2026-06-13 17:00:51

Wisnu Aji cukup khawatir saat Catra belum juga pulang padahal hari perlahan mulai gelap. Ia berniat menyusulnya ke hutan, namun segera terhenti saat melihat sosok bocah yang sedang berjalan ke arah gua tempat mereka tinggal.

Bukan kedatangannya yang secara tiba-tiba membuat Wisnu Aji tercekat kaget, namun melainkan karena seekor harimau yang sedang dipikul di bahunya. Wisnu Aji bisa melihat bahwa hewan buas itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

"Kakek guru, lihat aku membawa hadiah untukmu." Catra tersenyum lebar.

Berbeda halnya dengan Wisnu Aji yang merasa khawatir. Ia segera memeriksa kondisi Catra dan menemukan luka di bagian tangannya.

"Bocah, apa yang sudah kau lakukan. Mengapa bisa sampai terluka begini?" Wisnu Aji menutupi kekhawatirannya dengan meneriakkan kemarahan. Ia melakukan itu agar Catra tidak menjadi lembek.

"Kakek guru, saat di hutan aku tidak sengaja bertarung dengan harimau ini. Tapi, kakek guru tenang saja aku bisa mengalahkannya. Lihatlah, hewan ini sangat besar, bukan?" Catra menggulingkan hewan yang tiga kali lipat ukuran tubuhnya itu di tanah.

"Kakek guru, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi." Meskipun diluar Wisnu Aji terlihat marah, namun Catra tahu bahwa pria tua itu sangat mengkhawatirkan keselamatannya.

"Sebagai permintaan maaf, aku akan segera memasakkan makanan kesukaanmu!" Catra buru-buru pergi untuk menghindari kemarahan Wisnu Aji lebih jauh. Sebab ketika pria tua itu marah, maka Catra harus mendengarkan ceramahnya yang sangat berkepanjangan. Ini bukan pertama kali Catra membuat kesalahan, jadi sudah mengetahui akhir yang akan terjadi.

"Hm, anak ini ternyata bisa mengalahkan harimau dewasa dengan kemampuannya. Benar-benar menarik." gumam Wisnu Aji setelah Catra tidak terlihat lagi sambil memeriksa tubuh hewan buas yang sudah tidak bernyawa itu.

"Aku akan menyimpan kulit hewan ini karena bisa berguna nantinya." Wisnu Aji langsung menggotongnya dan memasuki gua.

***

Di depan sebuah meja yang terbuat dari bambu, terlihat dua orang yang sedang menatap hidangan di depan mereka. Keduanya tidak lain adalah Wisnu Aji dan Catra.

Dengan senyuman hangat, Catra mempersilahkan kakek gurunya itu untuk mencicipi masakannya terlebih dahulu.

Wisnu Aji sendiri tidak bertele-tele, ia sudah tidak sabar mencicipi makanan kesukaannya itu. Hal tersebut terlihat dengan jelas ketika Wisnu Aji hampir menumpahkan semua sup kaldu kelinci itu ke dalam mangkuknya dan hanya menyisakan sedikit untuk Catra cicipi.

Catra tidak keberatan, karena itulah tujuannya membuat sup ini, agar Wisnu Aji lebih banyak makan. Tatapan Catra pun sedikit berkaca-kaca saat memandang pria tua di hadapannya itu.

Meskipun Wisnu Aji tidak pernah menceritakannya, namun Catra tahu bahwa kakek gurunya itu memiliki penyakit yang sudah bersarang sejak lama. Hal itu Catra ketahui karena sering mendengar Wisnu Aji yang terbatuk-batuk saat tengah malam, dan mengira Catra sudah tertidur. Bukti lainnya adalah Wisnu Aji yang sering meracik obat untuk diminumnya sendiri.

Catra tidak tahu separah apa penyakit Wisnu Aji, namun ia khawatir pria tua itu tidak bisa bertahan lebih lama karena Catra pernah melihat dari batuk Wisnu Aji yang mengeluarkan banyak darah. Ia menebak, luka itu kakek gurunya dapatkan saat masih aktif di dunia persilatan.

Namun, Catra tidak ingin mencari tahu lebih jauh karena sadar jika Wisnu Aji pasti enggan menceritakannya. Catra hanya berharap kakek gurunya itu bisa hidup dengan baik dan panjang umur. Sebab itulah Catra melakukan apapun untuk mencoba menyenangkan Wisnu Aji.

"Kakek guru, apakah kau sudah memiliki rencana untuk harimau yang baru saja kubawa sebelumnya?" Catra mengajak Wisnu Aji mengobrol di sela-sela menikmati makan.

"Iya, aku sudah memikirkannya. Terima kasih sudah membawanya pulang."

"Kakek guru tidak perlu berterima kasih. Jika kakek guru masih membutuhkannya, aku bisa membantu kau untuk menangkap harimau lainnya." Catra berkata dengan percaya diri.

"Oh, sudah berani sombong sekarang." Wisnu Aji menarik satu alisnya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa mengalahkan harimau itu. Seingatku, kakek guru belum pernah mengajarkan keterampilan bertarung padamu." Wisnu Aji mengutarakan rasa penasarannya.

"Itu… aku… sering berlatih sendiri saat kakek guru tidak mengawasiku." Catra berniat menutupi bahwa sebenarnya ia sudah bisa mempelajari Sepuluh Tapak Merenggut Sukma. Ia akan mengatakannya ketika waktunya sudah tepat.

"Oh, benarkah? Ternyata kau semakin ahli dibandingkan kakek guru." Wisnu Aji tertawa kecil.

Sementara Catra memasang senyuman pahit. Entah saat ini Wisnu Aji sedang memuji atau mengejeknya. Namun, Catra merasa bahwa kakek gurunya itu tahu bahwa dirinya sedang berbohong.

"Sudahlah, sebaiknya kau beristirahat sekarang." Wisnu Aji menghentikan makannya karena telah menghabiskan hampir semua makanan yang dihidangkan. Ia juga sempat bersendawa dengan keras yang membuatnya sedikit malu.

Kemudian dengan sedikit meregang otot, ia berjalan ke arah luar. Lalu, saat Catra tidak lagi melihatnya Wisnu Aji mengeluarkan sebotol arak dari balik bajunya.

Alasan Wisnu Aji menyembunyikan arak itu dari Catra karena bocah itu sering melarangnya minum-minum lagi. Bahkan, tidak jarang Catra membuang semua arak yang ditemukannya. Entah apa alasan bocah itu melakukannya, namun Wisnu Aji merasakan kehangatan dalam dadanya karena ada orang yang benar-benar memperhatikannya sebaik Catra.

Hal yang sama membuat Wisnu Aji kembali mengingat masa lalu saat dirinya masih muda dan memiliki seorang kekasih yang sangat dicintainya. Namun, karena obsesinya terhadap ilmu beladiri membuatnya dengan tega meninggalkan pujaan hatinya itu dan sampai saat ini masih menjadi penyesalan berkepanjangan baginya.

"Dewi Utari, andaikan dulu aku tidak terlalu kaku dan mengejar dunia yang singkat ini, mungkin kita sudah hidup dengan bahagia saat ini. Aku bersalah padamu. Maafkan aku." Ada rasa penyesalan dalam diri Wisnu Aji. Ia menenggak arak itu dalam satu seteguk dan sudah menghabiskan setengah isinya.

Malam itu, ia kembali mabuk seorang diri di bawah rembulan malam yang bersinar dengan terang sambil dikelilingi jutaan bintang-bintang. Kemudian, Wisnu Aji melihat satu bintang yang lebih mencolok daripada lainnya, dan seolah sedang tersenyum padanya.

"Dewi Utari, aku tahu itu kau. Meskipun kita sudah berbeda dunia, tapi aku tahu bahwa kau masih memperhatikanku."

"Terima kasih pernah mengisi bagian hatiku, sampai saat ini hatiku hanya ada dirimu, tidak pernah berpaling." Wisnu Aji tertawa terbahak-bahak.

Kemudian, seketika tawanya berubah menjadi sendu. Matanya juga tampak berkaca-kaca.

"Aih," Wisnu Aji menoleh ke arah sekeliling, "Apa jadinya jika orang lain melihatku sedang bersedih seperti ini. Orang yang dulunya kuat, dan mampu mencapai puncak dunia juga bisa menangis, mereka pasti akan menertawakannya." Pria tua itu menepuk dadanya agar tidak larut dalam mabuknya sambil kembali menenggak arak di tangannya.

Namun perhatian Wisnu Aji segera tersita oleh sebuah jeritan dari dalam gua.

"Tidak, lepaskan aku! Lepaskan keluargaku!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 117

    Setelah kejadian di Hutan Barat, seharusnya Catra bisa sedikit bersantai. Namun entah mengapa, perasaannya justru tidak bisa benar-benar tenang.Sosok misterius yang mengikuti mereka dari Hutan Barat masih terbayang di kepalanya.Kemudian ada pria berjubah hitam dari Pasukan Bayang Darah. Pria itu datang untuk membunuhnya. Namun semuanya berubah setelah melihat tanda tengkorak di punggungnya.Catra belum menemukan jawabannya, dan semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.“Lingga.” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau melamun lagi.”“Aku sedang berpikir.”“Memikirkan pria berjubah hitam tadi?”Catra menoleh.Damar tersenyum tipis. “Benar, kan?”Catra tidak menjawab.Damar terkekeh. “Tenang saja. Aku juga memikirkannya.”Sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar langka

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 116

    Cahaya Kotaraja semakin jelas terlihat. Matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik pegunungan. Langit berubah menjadi biru gelap, sementara lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan menuju kota.Catra masih berdiri diam. Tatapannya tertuju pada gerbang Kotaraja yang terlihat dari kejauhan. Namun pikirannya tidak berada di sana.Ada sesuatu yang sejak tadi mengikutinya. Bukan sekadar perasaan. Catra yakin, seseorang sedang mengawasinya.“Lingga?” Suara Damar membuat Catra tersadar.“Hm?”“Kau tiba-tiba berhenti.”Catra tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat ke arah jalan di depan. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Setidaknya, tidak terlihat.“Tidak ada apa-apa.”“Kau yakin?” Damar mengerutkan kening.“Ya.”Damar memperhatikan Catra beberapa detik, kemudian ia tersenyum tipis.“Baiklah.”Mereka kembali berj

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 115

    Catra tiba-tiba merasa kepalanya sedikit berat. “Banyak sekali.” Damar tertawa. “Sekarang kau mulai memahami.” “Memahami apa?” “Bahwa dunia tidak hanya terdiri dari orang-orang yang kau kenal.” Catra diam. Damar melanjutkan, “Dan kekuatan seseorang juga tidak hanya bisa dilihat dari nama perguruannya.” “Lalu bagaimana?” “Kemampuan. Tenaga dalam. Pengalaman. Teknik. Senjata.” Damar menoleh. “Dan yang paling penting...” “Tekad.” Catra menatapnya. Damar tersenyum. “Namun kalau kau ingin memahami dunia persilatan, kau harus memahami tingkatan kekuatan terlebih dahulu.” Catra langsung tertarik. “Yang tadi?” “Ya.” Damar mengangguk. “Di dunia persilatan, kekuatan seseorang umumnya dibagi berdasarkan tingkat tenaga dalam yang mereka miliki.” “Tenaga dalam?” “Ya.” Damar mengangkat telunjuknya. “Tubuh manusia memiliki jalur-jalur energi. Seiring seseorang berlatih, tenaga dalam akan terkumpul dan membentuk lingkaran-lingkaran tenaga di dalam tubuh.” “Lingk

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 114

    Catra dan Damar masih berjalan menyusuri jalan tanah yang mengarah menuju Kotaraja, namun perjalanan kali ini terasa berbeda.Bukan karena mereka sedang dikejar. Bukan pula karena ada musuh yang menunggu di depan. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Catra mulai menyadari betapa luasnya dunia yang selama ini tidak pernah ia kenal.Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya berputar di sekitar satu tujuan. Menjadi lebih kuat, mencari kebenaran tentang pembantaian keluarganya, menemukan orang-orang yang bertanggung jawab, dan suatu hari nanti membalas semuanya.Ia tidak pernah benar-benar peduli dengan dunia di luar tujuan tersebut. Namun sekarang, setelah bertemu begitu banyak orang dan mengetahui bahwa Pedang Tengkorak ternyata menjadi alasan berbagai pihak mengincarnya, Catra mulai memahami satu hal.Dunia ini jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.“Jadi...” Catra akhirnya membuka suara.

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 113

    “Saudara... ya?” Langkah Catra terhenti sejenak.Beberapa meter di depannya, Damar sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan Hutan Barat. Pria muda itu sama sekali tidak menoleh, seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukan sesuatu yang besar.Namun bagi Catra, kalimat itu terasa berbeda.“Saudara...” Catra mengulanginya pelan. Di balik topeng hitamnya, sepasang matanya memandang kosong ke arah punggung Damar.Sudah berapa lama ia tidak mendengar kata itu?Sejak pembantaian atas keluarganya belasan tahun lalu, ia sudah melupakan kata itu, karena saudara satu-satunya yang Catra miliki sudah meninggal sejak itu juga, setidaknya begitulah yang ia yakini.Catra tersenyum tipis, namun senyum itu tidak bertahan lama. Ada kesedihan yang tersembunyi di balik matanya, sebelum ia tersadar dan perlahan mengepalkan tangan.Tidak.Ia tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan itu,

  • Pendekar Pedang Tengkorak   Bab 112

    Hutan Barat kembali dipenuhi ketegangan. Angin yang sebelumnya bergerak lembut kini terasa seolah berhenti. Daun-daun yang bergoyang perlahan di atas kepala mereka menciptakan suara berdesir yang justru membuat suasana semakin mencekam.Catra berdiri dengan kedua kaki kokoh menapak tanah. Di hadapannya, pria berjubah hitam itu masih menggenggam pedang dengan satu tangan.Namun ada sesuatu yang berubah, tatapan dingin di balik topengnya tidak lagi hanya tertuju pada Catra sebagai seorang musuh. Tatapan itu kini tertuju pada tanda tengkorak yang terlihat di punggung Catra.“Dari mana kau mendapatkannya?”Pertanyaan itu kembali terdengar.Catra mengerutkan kening, ia tidak mengerti mengapa pria tersebut tiba-tiba tertarik pada tanda lahir di tubuhnya. Namun setelah beberapa saat berpikir, Catra akhirnya menjawab dengan jujur.“Itu?” Ia sedikit memiringkan tubuh, berusaha melihat bagian punggungnya sendiri.“Tanda lahir.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status