ANMELDEN"Catra, sesuatu telah terjadi padanya!" Wisnu Aji buru-buru memasuki gua, dan menemukan Catra yang sedang mengigau. Dengan cepat ia mendekatinya dan membantunya untuk tersadar.
Wisnu Aji bisa melihat bulir-bulir keringat yang mengalir deras di tubuh Catra. Suhu badannya juga meningkat, tampak sedang sakit. Hal itu kembali diperjelas dengan rona wajah dan bibirnya yang telah berubah menjadi pucat. "Nak, kau tidak apa-apa?" Wisnu Aji sangat khawatir dan pertanyaan itulah yang muncul dibenaknya saat melihat Catra sudah membuka matanya. "Kakek guru, aku takut! Mereka…" Catra langsung memeluk Wisnu Aji dengan ketakutan. Hati Wisnu Aji langsung merasa teriris saat melihat ketakutan di wajah muridnya itu. Ia langsung paham bahwa Catra sedang bermimpi buruk yang berhubungan dengan kejadian tragis yang menimpa keluarganya. "Jangan takut, Nak. Sekarang kau aman bersamaku." Wisnu Aji mencoba menenangkan bocah itu, namun kali ini Catra benar-benar merasa ketakutan. Ini kali pertama Catra bersikap seperti itu membuat Wisnu Aji menjadi bertambah khawatir. Tampaknya trauma masa lalu masih menggerogoti pikiran bocah itu. Dengan cepat Wisnu Aji mengambilkan minum agar membuat Catra lebih tenang. "Nak, jangan khawatir kakek guru bersamamu. Sekarang kau bisa menceritakan mimpi apa yang membuatmu begitu ketakutan." "Kakek guru, mereka… orang-orang itu memenggal kepala ayahku dan memperkosa ibuku sebelum membunuhnya. Orang-orang itu benar-benar manusia yang jahat." Catra bercerita namun masih memeluk tubuh Wisnu Aji. "Kakakku, sampai sekarang aku belum mengetahui kabarnya. Apakah dia baik-baik saja, atau bernasib sama dengan orang tuaku?" "Nak, tenanglah. Kakek guru yakin bahwa saudaramu masih hidup." Wisnu Aji mencoba membuat Catra kembali bersemangat. Apalagi ucapannya tidak sepenuhnya berbohong karena beberapa hari sejak kejadian yang menimpa Catra, ia pernah pergi menyusuri daerah sekitar tempat itu untuk mencari keberadaan kakak dari bocah itu, namun tidak menemukan jejaknya. Karena tidak menemukan jasadnya, jadi Wisnu Aji yakin bahwa kakak dari Catra masih hidup. Mungkin saja ia dibantu oleh seseorang dan dibawa bersamanya. Wisnu Aji terus berharap bahwa harapannya itu benar-benar menjadi kenyataan, agar mungkin kelak Catra dapat bertemu dengan saudaranya kembali. "Sekarang kau tidurlah, kakek guru akan menemanimu." Wisnu Aji meminta agar Catra kembali berbaring. Catra menurut meskipun sebenarnya masih merasakan kecemasan. Ia mencoba memejamkan matanya dan kembali tertidur. Wisnu Aji membelai rambut bocah yang sekarang sudah dianggapnya sebagai cucu kandung sendiri itu. Ia sangat menyayangi Catra, dan berniat akan membantunya membalas dendam suatu saat nanti. Wisnu Aji akan menghukum orang-orang yang telah membuat cucunya menderita. Tanpa disadari karena sebelumnya ia juga masih mabuk, Wisnu Aji pun terlelap di samping Catra. *** Kejadian malam itu benar-benar berdampak buruk pada kondisi jiwa Catra. Bocah yang dulunya ceria dan selalu bersemangat kini lebih sering murung dan berdiam diri. Kini sudah sebulan berlalu sejak kejadian itu, namun Catra seolah-olah masih terkurung di dalam mimpinya. Tapi, untungnya Catra tetap melakukan latihan secara rutin. Hanya saja temperamennya yang berubah drastis menjadi lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Dari bocah yang banyak bicara, kini hanya berbicara seperlunya saja. Dingin dan sorot mata tajam membuatnya terlihat begitu misterius dan sulit ditebak. Entah ini akan berdampak baik atau buruk bagi Catra, namun Wisnu Aji hanya berharap muridnya itu dapat berkembang dengan baik. Untuk menghiburnya, Wisnu Aji berinisiatif untuk mengajarkan jurus lain. Namun, tanggapan Catra tidak sehangat dan bersemangat seperti sebelum-sebelumnya. Hanya jawaban dengan anggukan kepala yang bisa terlihat darinya. Bahkan, senyum pun bocah itu terasa enggan melakukannya. "Teknik kali ini adalah jurus bertarung menggunakan pedang. Kakek guru ingin mengajarimu bermain pedang dan mencoba melihat bakatmu memainkan senjata itu." Wisnu Aji kemudian meraih dua buah ranting pohon dan membersihkan cabang-cabang kecilnya. Lalu, ia memotongnya sepanjang sekitar tiga kaki. "Ambil ini dan lihat gerakan yang kakek guru peragakan." Wisnu Aji melempar satu ranting kepada Catra, dan ranting lainnya ia pegang sendiri. Kemudian, ia memperagakan gerakan selangkah demi selangkah yang membuatnya seperti sedang menari. Wisnu Aji menutupnya dengan tusukan ke arah depan yang seketika memunculkan hembusan angin yang cukup kencang. "Teknik ini disebut Jurus Tarian Pedang Menyentuh Jiwa!" Meskipun terkesan halus dan lembut, namun Tarian Pedang Menyentuh Jiwa ini adalah teknik mematikan, yang mana target utamanya adalah jantung dari lawannya. Wisnu Aji mengajarkannya pada Catra karena jurus ini tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga dalam. Jadi, sangat cocok untuk latihan Catra dengan tenaga dalam yang belum seberapa ini. "Apakah kau sudah mengingat semua gerakannya?" Catra tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian, tanpa perintah dari Wisnu Aji, bocah itu sudah memainkan ranting pohon di tangannya yang seketika membuat pria tua di sampingnya itu tercekat kaget. Catra bisa menguasai Tarian Pedang Menyentuh Jiwa hanya dalam satu kali percobaan saja. "Kau… benar-benar bakat yang mengerikan!" Wisnu Aji sudah tahu jika Catra adalah bocah yang cerdas, namun ia tidak menyangka bahwa murid didiknya itu akan memiliki bakat yang jauh lebih tinggi dalam permainan pedang. Kini Wisnu Aji sudah tahu langkah yang harus dilakukannya untuk latihan Catra berikutnya. Wisnu Aji akan membantu muridnya itu untuk memperdalam bakat bermain pedangnya karena ia yakin bahwa Catra akan menjadi pendekar pedang yang berdiri di puncak dunia, bahkan melebihinya ketika masih aktif di dunia persilatan dulu. "Siapa sebenarnya kelompok yang telah membantai keluarga bocah ini. Apakah mereka tidak sadar bahwa telah melahirkan monster yang akan sangat mengerikan di masa depan?! Aku tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa orang-orang itu di tangan Catra nantinya! Kuharap saat itu terjadi, Catra tidak menjadi monster dingin yang harus darah." Wisnu Aji menggeleng cepat, berharap semua yang ia pikirkan tidak akan pernah terjadi. Seketika bayangan dirinya di masa lalu kembali terngiang di kepala Wisnu Aji. Julukan Pendekar Iblis Gila bukanlah sekedar panggilan biasa orang-orang dunia persilatan padanya, melainkan karena sejarah yang sangat panjang. Kala itu, Wisnu Aji yang baru saja keluar dari pertapaan dan telah menyempurnakan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma, telah banyak mengambil nyawa pendekar lain dengan tangannya sendiri. Karena kegilaannya dalam membunuh itu, makanya Wisnu Aji dikenal sebagai Pendekar Iblis Gila. Selain teknik Sepuluh Tapak Merenggut Sukma, ada satu senjata pamungkas lain yang dimiliki oleh Wisnu Aji, yaitu sebuah pedang yang disebut Pedang Tengkorak. Dengan Sepuluh Tapak Merenggut Sukma dan Pedang Tengkorak itulah Wisnu Aji mencapai puncak dunia selama berpuluh-puluh tahun. Dan selama itu juga ia dikenal sebagai pembunuh kejam yang tidak pernah melepaskan musuh-musuhnya. Sederhananya semasa hidup, Wisnu Aji bukanlah orang yang baik. Namun, sebagai guru, Wisnu Aji ingin melihat Catra tumbuh menjadi anak yang baik dan menjadi pendekar sejati yang membantu kebaikan melawan kejahatan, tidak seperti dirinya. Wisnu Aji tidak ingin ada Pendekar Iblis Gila yang kedua. "Apakah aku harus menurunkan Pedang Tengkorak padanya, atau biarkan saja senjata itu menjadi legenda dunia persilatan saja yang tidak pernah akan kembali lagi?!""Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku akan menahannya sampai masalah ini selesai!" Wanita bercadar mengalihkan pandangannya ke arah rombongan yang sudah mengepung mereka. Setidaknya sudah ada puluhan anak buah Suroso yang berkumpul di sana, termasuk Lembu Ireng dan kawanannya.Warga kota yang menyadari sebentar lagi akan terjadi pertarungan berdarah mulai berhamburan meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang berniat tinggal di sana, mereka berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing."Tuan, ayo tinggalkan tempat ini." ajak pemilik warung, namun Catra menolaknya secara halus dan meminta pria tua itu untuk pergi sendirian saja.Catra memang tidak ingin ikut campur, namun ia juga mau menyaksikan pertarungan itu, jadi lebih memilih untuk menonton dari kejauhan. Ia mengambil jarak yang masih bisa mendengar seluruh percakapan mereka dengan jelas."Kuakui kau adalah pendekar yang tangguh, tapi aku ingin lihat bagaimana kau akan menghad
Melati mendorong tubuh Danar dengan keras agar terlepas dari genggaman tangannya. Saat Danar terjengkang, ia mengambil kesempatan untuk melarikan diri keluar dari ruangan.Danar hanya tertawa kecil menyaksikan Melati yang mulai menjauh. Ia juga melarang kedua penjaga untuk menghentikan langkah gadis itu."Biarkan saja dia pergi…" teriak Danar, "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat melihat kekasihnya itu terbunuh." gumamnya kecil seraya meninggalkan tempat itu.Melati sendiri telah bergegas menuruni anak tangga. Setiap langkahnya selalu memikirkan nasib Arya. Melati takut kalau kekasihnya itu benar-benar akan kehilangan nyawa."Maafkan aku, Arya. Ini semua salahku." Melati berlari sekuat tenaga sambil berharap bahwa Arya akan baik-baik saja.***Suasana di halaman depan kediaman keluarga Melati bertambah heboh saat Chitra memberikan hukuman pancung kepada Arya. Algojo yang diperintahkan juga sudah bersiap-siap untuk menjalankan
Catra bergegas pergi ke kediaman orang tua Melati setelah mendengar cerita pemilik warung sebelumnya, mengatakan bahwa Melati dan kekasihnya diarak menuju ke sana.Berbekal petunjuk pemilik warung, tidak sulit untuk menemukan kediaman megah tersebut, apalagi di sepanjang jalan juga dipenuhi warga kota yang sedang berbondong-bondong untuk melihat kehebohan itu.Di depan kediaman Melati, seorang gadis segera berlari menuju ke arah wanita cantik setengah baya sambil menangis tersedu-sedu. Ialah Melati itu sendiri yang sedang memohon pengampunan untuk kekasihnya kepada ibunya."Ibu, kumohon lepaskan Arya, dia tidak bersalah. Aku yang memaksanya untuk membawaku kabur." Melati memeluk wanita paruh baya itu."Tapi, lihat Arya bahkan tidak menuruti kemauanku, dan sebaliknya membawaku pulang. Ibu… Arya… dia adalah pemuda yang baik." Melati masih terisak tangis. Matanya sudah bengkak, menandakan bahwa dirinya sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.
Catra memastikan gerombolan pembuat onar itu benar-benar meninggalkan warung makan, barulah ia menghampiri tiang yang menjadi tempat menancapnya koin-koin perak sebelumnya. Dengan satu pukulan tangan yang dialiri tenaga dalam, sudah cukup untuk membuat koin-koin tersebut beterbangan. Kemudian, ia mengumpulkan semua dalam satu genggaman tangannya."Kisanak, kalian bisa keluar sekarang!" Suara Catra memenuhi seluruh warung.Dengan raut yang masih dipenuhi ketakutan, pemilik warung bersama istri dan karyawannya keluar dari persembunyian. Lalu, ia seorang diri menghampiri Catra dengan tergesa-gesa."Terima kasih tuan, karena sudah menolong kami." Ia membungkuk hormat.Catra tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memberikan kepingan perak yang didapat dari Lembu Ireng sebelumnya sekaligus bayaran untuk tagihan makannya.Pemilik warung menolaknya secara halus dan mengatakan lebih baik Catra menyimpan untuk dirinya saja.
Pandangan Seto menyapu seluruh ruangan, begitu juga dengan ketiga rekannya, dan mereka tidak menemukan orang lain, kecuali seorang pemuda yang sedang duduk dengan membelakangi mereka. Tidak salah lagi, sudah pasti ialah orangnya yang melepaskan tusuk gigi tersebut.Dengan amarah menggebu-gebu Seto mulai melangkah mendekati pemuda yang terlihat santai itu. "Ternyata hanya cecunguk kecil, hebat sekali berani ikut campur. Biar kupatahkan dulu satu tanganmu baru kau menyadari kalau sudah salah memilih lawan!"Ketiga rekannya hanya melihat saja, berharap ada tontonan yang menarik akan disajikan Seto sebentar lagi."Tamatlah sudah riwayat pemuda itu, berani-beraninya ia mengusik harimau yang sedang mengamuk." celetuk pria bergigi ompong."Aku jadi penasaran bagaimana saudara Seto akan mengakhiri ini? Mematahkan kedua tangannya atau mencincang-cincang tubuhnya?" Pria yang memiliki paras garang ikut berpendapat.Di antara mereka, hanya ketuanya yang tidak bersuara. Ia hanya fokus pada apa ya
Catra mulai menelusuri jalanan kota Teja saat dirinya sudah berpisah dengan kakek yang ditemuinya di hutan. Ia merasa takjub saat menemukan bangunan-bangunan mewah yang berdiri di sepanjang jalan. Meskipun bangunan tersebut masih terbuat dari papan, namun kualitas kayunya cukup langka.Memang, pada zaman tersebut rumah-rumah mewah sekalipun masih dibangun menggunakan kayu, hanya yang membedakannya ada pada kualitas setiap kayu yang digunakan.Catra menjadi teringat pada rumah mereka dahulu yang memiliki halaman luas dan terdiri dari dua lantai. Pada masanya, rumah tersebut sudah termasuk besar dan hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya saja.Pemuda itu terus melangkah sambil mencoba mengingat kembali letak kediaman kakek-neneknya 13 tahun silam. Namun, sebelum Catra menemukannya, perutnya mulai keroncongan. Untungnya setelah berjalan sekitar lima menit, ia bisa menemukan sebuah warung makan."Silahkan masuk, tuan." Kedatangan Catra disambut senyuman hangat oleh seorang gadis muda y







