Beranda / Pendekar / Pendekar Salah Zaman / 128. Lima Puluh Miliar

Share

128. Lima Puluh Miliar

Penulis: SleepyFace
last update Tanggal publikasi: 2026-05-31 08:00:11

Ballroom hotel malam itu semakin ramai.

Musik lembut mengalun pelan sementara para tamu dunia bawah mulai bercampur dalam obrolan kecil dan senyum formal.

Dan di tengah semua itu, Rangga justru lagi fokus ke meja makanan.

“…ini apaan dah?”

Dia nunjuk satu makanan kecil berbentuk cantik dan Rendi di samping langsung jawab santai.

“Coba aja.”

Rangga makan sedikit lalu mukanya berubah datar.

“…kurang nasi.”

Rendi langsung ngakak. Sementara
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pendekar Salah Zaman   137. Gue Bukan Guru Silat

    Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”

  • Pendekar Salah Zaman   136. Kok Turun Satu Tingkat?

    Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.

  • Pendekar Salah Zaman   135. Bukan Psikotest

    Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.

  • Pendekar Salah Zaman   134. Sapu Lidi

    Keesokan harinya, dua motor akhirnya berhenti pelan di depan sebuah gerbang hitam raksasa yang berdiri di atas bukit. Rangga buka helm duluan lalu mendongak lama ke atas. “…anjir.” Agung ikut nengok. “BRO. Ini rumah apa istana final boss.” Putra bahkan sampe maju dikit ngintip lewat pagar. Rumah besar bergaya klasik itu berdiri sendiri di atas bukit dengan halaman super luas dan jalan masuk panjang berliku. Dari bawah aja keliatan absurd mahalnya. Rangga langsung buka HP lagi ngecek lokasi. “…bener gak sih ini? Jangan-jangan salah masuk rumah pejabat.” Belum sempet mereka lanjut debat gerbang otomatis perlahan terbuka dan seorang pelayan berpakaian rapi sudah berdiri di dekat pos depan sambil membungkuk sopan. “Tuan Rangga?” Rangga langsung refleks. “…eh iya.” “Tuan Aditya sudah menunggu. Silakan masuk.” Agung lang

  • Pendekar Salah Zaman   133. Anak Kampus dan Kanuragan

    Seminggu kemudian suasana kampus terasa jauh lebih hidup.Mahasiswa mulai keluar kelas sambil ngobrol soal jawaban ujian, ada yang stres, ada yang lega, ada juga yang langsung ngomongin rencana liburan.Dan di salah satu lorong fakultas, Rangga akhirnya keluar kelas sambil narik napas panjang.“…ANJIR. Selesai juga.”Mukanya langsung cerah. Di lobby bawah, Agung dan Putra sudah nunggu sambil duduk selonjor dekat vending machine.Begitu lihat Rangga turun tangga, Agung langsung teriak.“GIMANA. Selamet lu nyet?”Rangga langsung ngacungin jempol.“Aman. Kayaknya.”Putra langsung berdiri.“Kalau gak aman? Ya ngulang.”“WKWKWK.”Rangga langsung nyengir puas sambil ngelepas tasnya.“Yang penting sekarang selesai dulu. Tinggal liburan… trus sebulan lagi masuk.”Agung langsung semangat.“NAH. Ngomong-ngomong… liburan kita kemana nyet?”Rangga ngangkat bahu santai.“Belom ta

  • Pendekar Salah Zaman   132. Puncak yang Dilupakan

    Asturi yang sejak tadi memperhatikan suasana ballroom akhirnya melangkah maju lagi dengan senyum elegan profesionalnya.Walaupun wajahnya tetap tenang dia tahu situasi barusan terlalu besar. Dan kalau dibiarkan lebih lama, malam ini bisa berubah jadi kekacauan.“Baik…”Suaranya lembut tapi langsung menarik perhatian seluruh ruangan.“Sepertinya malam sudah cukup larut.”Dia tersenyum kecil.“Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya malam ini.”“Silakan beristirahat. Dan semoga kita bertemu lagi dalam keadaan yang lebih santai.”Kalimat itu jelas kode halus untuk: acara selesai dan hampir seluruh tamu langsung bernapas lega. Karena jujur saja malam ini terlalu banyak kejutan.Orang-orang mulai pamit satu sama lain dengan cepat. Beberapa bahkan langsung keluar ballroom tanpa banyak ngobrol lagi.Topik tentang Dharmasraya jelas akan meledak di seluruh dunia bawah setelah malam ini.Bahkan Surya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status