Share

134. Part 17

last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-15 01:01:40

"Pengacau tak tahu diuntung. Jangan harap kau dapat membebaskan para terhukum yang berada di tempat ini!" Teriak salah satu penjaga dengan beringas.

"Oh begitu. Kalian cuma cacing busuk. Perlu apa bicara!" Sahut Sang Maha Sesat dengan suara dingin.

Enak saja dia memutar tubuh. Dua kaki digeser ke samping. Dia melihat pedang dan golok menyambar pinggang dan membabat lehernya. Sang Maha Sesat menyambutnya dengan dingin.

Sekali tangan bergerak. Tahu-tahu golok dan pedang ken

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Alguada
thor mudik ya?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   183. Part 19

    Ratusan rambut panjang berputusan. Namun Maha Sesat mampu menyarangkan pukulan ganasnya ke bagian dada Maut Biru. Tanpa ampun cekalan Maut Biru pada rambut awan terlepas, tubuhnya terpental sejauh lima tombak dan dia jatuh terkapar dengan mulut semburkan darah sementara di bagian dada terdapat sepuluh bekas jemari tangan menghitam.Dada Maut Biru hangus gosong. Dia meregang ajal dengan mata mendelik. Maha Sesat menyeringai melihat lawannya tewas. Dia kemudian meludah sedangkan dari mulut terdengar ucapan."Manusia keparat! Ternyata kau bukan lawan mudah bagiku.Gara-gara perbuatanmu jadi rusak rambutku!"Maha Sesat kemudian menyisir rambut panjangnya yang awut-awutan dengan jemari tangan. Dia merasa puas dapat menghabisi Maut Biru.Ingat pada Kupu Kupu Putih itu Maha Sesat segera memutar tubuh dan berjalan cepat menuju ke arah di mana dara cantik tergeletak tak sadarkan diri. Tetapi ketika sampai di tempat yang dituju. Kejut dihati laki-laki bukan main mel

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   182. Part 18

    Dia melompat ke arah Maha Sesat melepaskan dua pukulan sekaligus lancarkan tendangan menggeledek ke bagian pinggang.Empat cahaya biru terang berkiblat dari tangan dan kaki Maut Biru.Dua serangan yang berasal dari tangan menghantam dada dan kepala Maha Sesat sedangkan dua serangan lain yang berasal dari kakinya menghantam pinggang dan membabat kedua kakinya.Hawa panas menyengat menyambar tanpa suara deru. Maha Sesat tercekat. Sama sekali dia tak menyangka dia akan mendapat serangan seperti itu."Pengecut sialan!"Maha Sesat keluarkan suara menggembor marah. Dia tidak tinggal diam. Sadar serangan lawan sangat mematikan, dia memutar tubuh. Sambil berputar rambutnya yang tergerai dikibaskan, sementara ujung jubah hitam dia kebutkan menghalau serangan ganas Maut Biru.Segulung angin dingin menderu dahsyat dari ujung jubah. Sementara ratusan helai rambut Maha Sesat yang panjang sepinggang berubah kaku seperti kawat baja menghantam sekaligus mencari sas

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   181. Part 17

    Dengan seksama sambil berpikir Maut Biru memperhatikan sosok gadis didepannya. Dia menatap wajah yang cantik luar biasa itu, dia juga memandang ke arah dada membusung yang hanya terbalut gaun tipis berwarna hijau kelabu. Dada yang putih dan sebagian menyembul dari belahan gaun tipis ketat. Membuat Maut Biru jadi belingsatan.Maut Biru menelan ludah. Sekujur tubuhnya menggeletar. Dia menjadi lupa diri. Hasrat begitu menggebu hingga membuatnya hilang kewaspadaan. Maut Biru sama sekali tidak menyadari di tempat itu baru saja ada orang yang datang.Orang yang sengaja menguntitnya sejak dari pendataran bukit Induk."Anjing penjaga jahanam! Berani sekali kau hendak berbuat aib pada calon istriku!"Satu bentakan menggelegar merobek kesunyian.Maut Biru terkesiap. Dia tidak sempat melihat siapa yang datang. Tahu-tahu semak belukar terkesingkap, sebuah kaki terbalut celana hitam terjulur. Sambaran kaki disertai suara deru angin dingin.Maut Biru terk

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   180. Part 16

    BERLARI jauh meninggalkan pendataran bukit induk Maut Biru yang tengah mengalami cidera di bagian dalam akibat pukulan Puteri Pemalu akhirnya merasa perlu untuk melepas lelah. Apalagi dalam pelariannya Maut Biru membawa serta majikannya yang tak lain adalah Kupu Kupu Putih yang aslinya bernama Ni Ambar Sabanantang dan merupakan murid Penyihir Racun Utara.Selama melarikan diri sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kanan. Beberapa kali Maut Biru yang telah kehilangan saudara tuanya Maut Merah dan Maut Hijau sengaja mengambil jalan sulit. Tindakan ini terpaksa dia lakukan karena khawatir ada musuh atau pihak-pihak tertentu yang mengamatinya.Kini setelah cukup lama berlari, laki-laki yang sekujur tubuh serta rambutnya berwarna serba biru itu memperlambat larinya. Di suatu tempat ketinggian tak jauh dari deretan pepohonan besar yang tertutup semak belukar Maut Biru hentikan langkah. Sambil memegang tongkat hitam bernama Geger Gaib milik sang majikan di tangan kiri dia

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   179. Part 15

    Tapi apa yang terjadi. Pedang tetap tak beranjak dari tempatnya menancap. Malah kini seolah mengejek orang tua itu sang pedang yang lentur meliuk, melenggang lenggok selayaknya orang yang menari.Penasaran, Bocah Ontang Anting datang mendekat sambil angsurkan rangka pedang ke arah senjata mustika itu.Tuiing!Pedang malah melenting berpindah tempat, lalu melompat turun naik tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain-main."Edan! Benar-benar Pedang Pusaka Istana Es! Sama seperti pewarisnya Paduka" Menggerutu si kakek sambil geleng-geleng kepala.Di luar tahu Bocah Ontang Anting. Pendekar Sinting telah berada di dalam ruangan itu. Ketika pertama kali masuk ke dalam ruangan Gua Empat Ruang Satu Pintu. Pemuda ini tertegun melihat Sang Samudra Langit telah bergeser jauh meninggalkan altar kedua. Kemudian dia juga melihat Pedang Pusaka Istana Es yang telah keluar dari tempat penyimpanannya.Pendekar Sinting menjadi heran saat mengetahui sa

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   178. Part 14

    "Pemuda itu bernama Angon Luwak. Tapi nama sebenarnya adalah Saka Buana, dia lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting, tapi gelar sebenarnya adalah Dewa dari Istana Es." Terang si kakek."Hm, apakah dia murid kakek aneh bernama Dedengkot Sinting?" Tanya suara itu."Betul. Dia juga murid Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu." Bocah Ontang Anting menambahkan.Sunyi sejenak."Ternyata apa yang kau katakan tentang ciri-ciri pemuda itu sesuai dengan garis suratan nasib. Pemuda itu nampaknya memang berjodoh dengan Pedang Pusaka Istana Es..."Bocah Ontang Anting sambil senyum senyum cepat memotong."Ya, aku setuju. Orang gila pantasnya memang berpasangan dengan orang sinting.""Jangan suka menyela bila orang belum selesai bicara. Apa kau ingin aku menyumpal mulutmu hingga membuatmu tak mampu bicara seumur hidup atau kau ingin aku membuatmu sakit perut selama satu purnama?" Tanya suara tak berujud itu membuat Bocah Ontang Anting melengak k

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   84. Part 15

    "Puah. Kau hendak bertanya apa setelah membunuh Elang Mata Juling?" Bentak si kakek tak kalah sengitnya.Melihat Bocah Ontang Anting mulai terpancing kemarahannya, Ratu Lintah pun tertawa tergelak-gelak. Dengan suara angker dia menyela."Aku terpaksa membunuh sahabatmu karena dia ta

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   83. Part 14

    "Temukan siapapun bangsatnya yang telah membunuh sahabatku Elang Mata Juling. Begitu kau dapatkan seret dia kemari, mengerti!" Kata si kakek.Seolah mempunyai nyawa, telinga, pikiran dan hati. Anak panah ini bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah tiga kali berturut-turut. Panah pun kemudian

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   82. Part 13

    Bocah tua memperbaiki posisi duduknya yang miring. Akibat terlalu kekenyangan membuat mata orang tua ini tak bisa diajak bermufakat. Dia mengantuk berat. Perlahan mata yang belo itu terpejam. Tapi belum sempat tidur si kakek diusik mimpi. Tiba-tiba kepalanya yang sulah itu terasa dingin. Seperti

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   81. Part 12

    Penjelasan si kakek membuat Untari kerutkan keningnya. Gadis cantik ini pun cepat berujar. ”Guru, bukankah kau mengaku belum pernah melihat atau bertemu muka dengannya. Bagaimana guru bisa mengatakan yang sering muncul di Puncak Terang adalah Sang Maha Sesat?" Tanya Untari."Hmm, mem

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status