로그인Demi berbakti pada guru yang sangat dihormati. Kupu Kupu Putih berangkat menuju tiga bukit yang terdapat di pantai utara. Sejauh ini dia belum mengetahui bahwa Penyihir Racun Utara telah tewas terbunuh di tangan sahabatnya sendiri yang tak lain adalah Sang Maha Sesat."Aku telah penuhi permintaan kalian." Berkata dara cantik jelita itu sambil menatap tiga pengawal yang duduk bersimpuh di depannya.Tiga pengawal tundukkan kepala tak berani menatap. Kupu Kupu Putih tersenyum. Sekejab matanya yang indah memperhatikan keadaan di sekitarnya.Diam-diam dia terkejut.Tanpa sadar dia berseru."Ternyata kita tidak berada di bukit Induk. Kita berada di bukit sebelah selatan. Bukit induk ada di tengah dan bukit itu adalah bukit paling besar dibandingkan dua bukit yang mengapitnya. Sebagai anjing penjaga yang mempunyai penciuman tajam. Mengapa kalian memilih tempat ini?" Tanya Kupu Kupu Putih sambil menatap tiga penjaganya satu persatu.Kajero atau Maut
Puteri Pemalu diam tidak menyahuti. Tapi dia tersenyum. Kemudian dia hentakkan kedua kakinya. Seketika itu juga Puteri Pemalu lenyap hilang raib seperti ditelan bumi. Dikejauhan Momok Laknat jadi gelisah khawatir Puteri Pemalu tidak mengikutinya. Sambil berlari Momok Laknat menoleh ke belekang. Dia tidak melihat sang Puteri. Namun sekonyong-konyong dia merasakan ada angin dan bayangan merah melesat di atas kepalanya."Eeh... Apa yang baru saja menyambar di atas kepalaku?!" Pekik Momok Laknat kaget.Di depannya terdengar tawa cekikikan."tak punya mata mengapa selalu melihat ke belakang nek?" Kata satu suara jauh di depannya."Aku ada di sini sekitar seratus tombak di depanmu. Kau masih hendak mengadu lari denganku? Jangan dilakukan kau bisa mati mendadak, jantungmu copot dan paru-parumu meledak. Hik hik hik."Setan alas."Maki Momok Laknat sambil mempercepat larinya.Di luar dugaan walau Momok Laknat telah mengerahkan ilmu lari cepatn
Sekali mengitarkan pandang. Dia tidak yakin Puteri Pemalu tewas terbunuh di tangan Hyang Kelam. Tak ada yang bisa membunuh Puteri Pemalu. Takdir kematiannya hanya terjadi bila muncul petir di tengah hari di delapan Puteri Pemalu."Dimana kau!" Teriak Momok Laknat.Sekali lagi dia memutar tubuh. Lalu dengan mata batin dia melihat ada tumpukan pasir menggunung tak jauh di depannya. Melihat pasir itu Momok Laknat segera teringat pada Hyang Kelam yang menyerang mereka dengan pusaran angin bercampur pasir."Jangan-jangan... !"Momok Laknat tak menyelesaikan ucapan. Sebaliknya dengan terburu-buru dia hampiri timbunan pasir yang hampir setinggi tubuh si nenek. Rupanya dia menduga kemungkinan besar Puteri Pemalu terhimpit timbunan pasir setelah diserang oleh Hyang Kelam. Seperti orang kesetanan, Momok Laknat lalu mengeruk sekaligus mengobrak-abrik timbunan pasir di depannya.Sambil menggali dia terus memanggil. Suara teriakan si nenek terhenti begitu dia m
"Hei, kau laki-laki aku juga. Jangan berlagak sesuci dewa. Aku ini manusia jujur. Kelakuanku tidak buruk sekali." Tanya Bocah Ontang Anting sambil tersenyum."Dasar tua bangka aneh. Aku bosan bicara denganmu. Sekarang ini kurasa lebih baik kita lanjutkan perjalanan. Bukit induk sudah di depan mata. Antar aku ke tempat itu." Pinta Pendekar Sinting"Hemm, baiklah. Demi sebuah amanat dan demi menghormati para gurumu. Mau tidak mau suka tidak suka aku harus mengantarmu sampai ke tempat tujuan." Menyahuti Bocah Ontang Anting seperti enggan. Angon Luwak tentu saja menjadi heran."Apa maksudmu? Kau mengatakan mau tidak mau, suka tidak suka? Katakan padaku apa yang tidak kuketahui.""Nanti juga kau akan tahu sendiri.Sekarang ikuti aku!" Kata Bocah Ontang Anting."Tunggu dulu. Aku tidak mau ada rahasia di antara kita." Ucap Angon Luwak. Tapi Bocah Ontang Anting bersikap acuh. Tanpa menghiraukan ucapan Angon Luwak dia memasuki jalan rahasia berupa sebuah lor
Sang Maha Sesat bangkit berdiri. Pipinya menggembung, rahang bergemeletukan. Tapi dia sangat terkejut ketika melihat ke depan Angin Pesut ternyata raib dari hadapannya.Penasaran Sang Maha Sesat dongakkan kepala ke atas. Rajawali raksasa dan si kakek tak terlihat lagi hilang lenyap di kegelapan. Dia menggeram namun sadar tak ada lagi yang bisa dia lakukan di tempat itu.Dengan diikuti oleh puluhan tawanan Sang Maha Sesat bergegas keluar tinggalkan mayat-mayat penjaga yang bergelimpangan.-o0o-SEMENTARA ITU..."Buat apa tergesa-gesa. Tempat yang kita tuju sudah berada di depan mata!" Berkata orang yang mengikuti dengan nafas terengah-engah sambil julurkan lidah. Orang ini tak lain adalah seorang kakek berusia delapan puluh tahun, berkepala botak sulah, bermata belok berpakaian aneh mirip papan catur dan membekal busur serta bumbung anak panah di punggungnya.Orang yang berada di depan hentikan larinya. Ternyata dia adalah seorang pemuda tamp
"Apa yang terjadi denganmu, Kataran?" Tanya Angin Pesut pada sang penjaga yang ternyata bernama Kataran.Laki-laki itu membuka mulut hendak mengucapkan sesuatu. Tapi nampaknya begitu sulit. Nafas memburu, lidah terjulur keringat dingin menetes deras membasahi sekujur tubuhnya. Melihat ini Angin Pesut berusaha memberikan pertolongan. Jemari tangan yang besar diulur, ditempelkan ke dada Kataran. Tenaga dalam disalurkan. Usaha ini cukup menolong. Tapi Angin Pesut menyadari hidup Kataran tak bakal berlangsung lama.Angin Pesut cepat mendesak."Apa yang telah terjadi?"Kataran menunjuk keluar gua. Dari mulut terdengar ucapan tersendat."Musuh sudah datang!"Selesai berkata begitu sang pengawal jatuh tergelimpang, tubuh berkelojotan kemudian berubah menghitam dan tewas seketika.Angin Pesut menggeram.Dia bangkit, melangkah keluar tinggalkan gua dengan tubuh terhuyung dan kepala mau meledak. Mengetahui terkena serangan beracun yang menebar melalui udara si kakek diam-diam salurkan hawa sakt







