INICIAR SESIÓN"Cakar Rajawali!"
Itulah nama jurus yang kini diperlihatkan Ki Kusumo. Satu jurus yang tak kalah hebat dari 'Tepukan Iblis Kematian'.
Bukan cuma pamor, namun benar-benar kehebatannya. Jurus itu pun hanya dimiliki oleh Ki Kusumo. Satu jurus berhawa kematian yang diciptakannya di Pulau Hantu.
Jurus yang mengandalkan patukan jari beracun yang lebih mirip dengan gaya seseorang menyambar bunga karang dari permukaan laut. Satu patukan bisa berarti seratus racun mematik
MENJELANG pagi pasang air laut meluap hingga ke daratan. Suasana desa nelayan di Pantai Carita terasa sunyi mencekam. Tak terlihat tanda-tanda kehidupan didesa itu. Semua penduduk tewas terbantai setelah sekawanan lebah berasal dari dunia kematian yang dikenal dengan nama Lebah Kepala Hati Berbunga menyerang sekaligus membunuh orang tua, anak-anak juga para perempuan tua.Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, kawanan lebah selain hanya membunuh para orang tua dan anak-anak saja, juga iring-iringan makhluk berbisa ini menyerang para gadis. Tetapi Setiap gadis yang diserang oleh lebah Kepala Hati Berbunga tidak menemui ajal. Kebanyakan gadis justru menjadi salah tingkah, darah berdesir aneh, wajah memerah, jantung berdegup kencang dan tak ubahnya seperti orang yang dimabuk cinta.Seperti telah diketahui pula, setelah tersengat lebah, mereka terus berjalan beriringan tanpa mengenal lelah mengikuti kawanan lebah yang telah menyengat mereka. Sepanjang jalan dar
Sepuluh jemari tangan yang bergerak laksana gunting menghantam tempat kosong. Melihat serangannya luput sang Pangeran segera gerakan kakinya dan tahu-tahu dia telah berada di depan Pendekar Sinting.Wuut!Satu tendangan kilat dilakukan laki-laki itu. Angin dingin menyambar menyertai tendangan. Pendekar Sinting yang baru saja duduk melompat ke kiri. Tapi tak urung serangan kaki lawan masih menyambar rusuknya. Pemuda ini mengeluh tertahan, namun juga tidak tinggal diam. Begitu sang Pangeran lancarkan serangan susulan. Dalam keadaan setengah berjongkok dia miringkan tubuhnya kesamping.Wuus!Serangan luput. Lawan segera memutar tubuh. Dengan menggunakan tangan kanan dia menjotos kepala pemuda itu. Tapi dengan menggunakan Jurus Dewa Sinting Kegirangan yang kemudian disusul dengan jurus Badai Menggusur Gunung. Pendekar Sinting berhasil menghantam dada lawan dengan pukulan telak.Pangeran Durjana terpental sejauh dua tombak. Namun dia terjatuh dalam kead
Empat saudara kembaran merangsak maju. Mereka bergerak cepat menyerang Nila Agung. Namun kemudian keempatnya terpecah menjadi dua begitu Arum Senggini yang baru pulih dari cideranya ikut bergabung menyerang empat kembaran Pangeran Durjana itu."Serahkan kembaran ketiga dan keempat untukku adik. Mereka sudah selayaknya mendapatkan ganjaran dariku." seru Arum Senggini penuh semangat."Berhati-hatilah, mereka ternyata sangat tangguh!" sahut Nila Agung.Sambil menerjang gadis ini ayunkan pedangnya ke arah kembaran satu dan dua. Sementara itu kembaran ketiga dan yang keempat kini mulai menghujani Arum Senggini dengan pukulan dan serangan-serangan ganas.Sejauh itu sang puteri masih dapat menghalau setiap serangan yang datang. Malah dengan kecepatan yang tak terduga dia berbalik menyerang dengan kekuatan berlipat ganda. Mendapat serangan balasan bertubi-tubi kembaran keempat dan ketiga nampak kewalahan juga.Sambil bergerak mundur dan keluarkan pekikan m
"Orang menghina mengapa pangeran diam saja?""Lebih baik kita habisi pemuda gila itu!"Tak sabar kembaran kedua ikut menimpali”Kalian harus bersabar. Membunuhnya adalah perkara semudah membalikkan telapak tangan. Tapi aku harus menanyainya dulu” sahut sang PangeranSetelah berkata begitu kini dia kembali menatap ke arah Pendekar Sinting."Kunyuk berpedang. Kuharap kau mau berterus terang dan mau mengatakan siapa dirimu. Dengan begitu aku bisa memberikan jalan kematian padamu dengan cara yang mudah.""Begitu" sahut Pendekar Sinting tersenyum lalu manggut-manggut."Mendengar ancamanmu aku menjadi takut. Rupanya kau malaikat maut yang baru datang dari neraka? Tapi jangan salah duga dan mengira aku manusia paling tolol sekolong langit. Aku sudah mendengar semua yang kau katakan. Aku juga sudah mengetahui apa yang terjadi walau memang belum semuanya..." Ucapan Pendekar Sinting terputus karena tiba-tiba Pangeran Durjana memotong.
Seseorang yang memiliki ilmu kesaktian dan tenaga dalam yang belum sempurna bila diserang tubuhnya menjadi kaku sementara jantungnya bakal mengalami kerusakan. Nila Agung sadar benar akan hal itu. Itu sebabnya sambil berkelit hindari dua gebukkan. Nila Agung menangkis pukulan yang mengarah kebagian kepala.Sementara pedang ditangan kanan dipergunakan untuk membabat lima jari tangan yang siap menyambar dadanya.Wuuues!Sret!Ces!Kembaran pertama menjerit. Tangan yang dipergunakan untuk menotok terbabat putus. Kutungan jemari bertebaran di tanah. Laki-laki itu melompat mundur hindari tebasan pedang yang ke dua. Sementara tindakan penyelamatan diri yang dilakukan sang puteri ternyata tidak berlangsung mulus. Walau dia berhasil selamatkan kepala dari pukulan orang namun punggungnya masih kena ditendang oleh kembaran ke tiga.Gadis ini jatuh terjengkang namun segera bangkit dan menatap ke arah lawan-lawannya. Dia melihat darah mengucur dari tang
"Ha ha ha! Gadis jenaka dan cerdik. Dengan hanya melubangi tumitku, bukan berarti kau sudah mengalahkan aku? Kau tihat sekarang aku tidak sendiri. Aku punya kembaran yang lain." kata Pangeran Durjana disertai tawa dingin."Bagaimana mungkin tiba-tiba dia bisa menjadi lima orang!" desis Arum Senggini dengan mata setengah terpejam dan menahan sakit luar biasa."Aku juga tidak tahu." Lirih Nila Agung menjawab."Apakah mungkin dia mempunyai saudara kembaran?" gadis itu balik bertanya pula."He he he. Kalian tidak usah bingung memikirkan kami. Ketahuilah, saudara tuamu itu telah terkena pukulan Selubung Gaib Mayat Es. Lebih baik kau serahkan dia padaku. Hanya aku yang bisa mengobatinya! Kalau tidak segera ku tolong dia pasti mati." ucap sang Pangeran ditujukan pada Nila Agung"Aku tak akan menyerahkan saudaraku pada mahluk busuk sepertimu!" jawab gadis itu sengit.Belum sempat Pangeran Durjana membuka mulut tanggapi ucapan puteri Nila Agung. Tiba
SEORANG pemuda berusia belasan merenung sendiri di sebentang pagi yang dikurung mendung. Mendung di angkasa sana, seakan bertakhta pula di wajahnya. Wajah tampan. Bergaris rahang jantan. Bermata sembilu. Berambut panjang kemerahan. Angin dingin berlarian. Pakaiannya diusili, bergeletaran kecil. J
Angon Luwak benar-benar tiba di markas terakhir Laskar Lawa Merah malam itu. Dia mengendap-endap di antara semak-semak, mencari-cari tempat di mana Mayangseruni ditahan. Sebenarnya prajurit Demak yang ditemuinya di hutan waktu itu tidak memberitahukan padanya lokasi terakhir gerombolan perampok.
"Aku tidak menyuruhmu memanjat seperti kunyuk kurang makan, Cah sinting!!" Teriak Dongdongka sengit."Tapi tadi Kakek menyuruhku memetik kelapa, bukan?""Iya, tapi tidak dengan cara seperti itu!"Angon Luwak menggaruk-garuk kepala.Bingung juga dia. Disuruh memetik bua
"Katakan padaku di mana kau sembunyikan Cemeti Laut Selatan, Kusumo!" Tekan Ki Ageng Sulut"Aku tahu pada akhirnya kau akan menuntut benda itu!""Jangan banyak cincong! Katakan saja di mana benda itu!""Kau memang bodoh, Ki Ageng Sulut! Kenapa kau pikir aku akan memberikan Ce







