Home / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 47. Part 3 (Cemeti Laut Selatan)

Share

47. Part 3 (Cemeti Laut Selatan)

last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-25 01:01:41

"Cakar Rajawali!"

Itulah nama jurus yang kini diperlihatkan Ki Kusumo. Satu jurus yang tak kalah hebat dari 'Tepukan Iblis Kematian'.

Bukan cuma pamor, namun benar-benar kehebatannya. Jurus itu pun hanya dimiliki oleh Ki Kusumo. Satu jurus berhawa kematian yang diciptakannya di Pulau Hantu.

Jurus yang mengandalkan patukan jari beracun yang lebih mirip dengan gaya seseorang menyambar bunga karang dari permukaan laut. Satu patukan bisa berarti seratus racun mematik

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   205. Part 19

    Pendekar Sinting tetap saja terdesak.Ketika pemuda ini memutar tubuh sambil hantamkan kedua tangan ke arah lawan-lawannya. Justru pukulan Kabut Kematian yang dilepaskannya malah dapat ditangkis oleh lawan dan berbalik menghantam diri sendiri.Buum! Wuarkh!Pendekar Sinting menjerit keras. Tubuhnya terpelanting bergulingan di atas tanah. Melihat lawan terjatuh Purudana menyeringai. Dia segera melesat ke arah pemuda itu sambil kibaskan tangan kiri ke dada Angon Luwak. Walau berusaha selamatkan diri tapi serangan Purudana yang kemudian disusul dengan serangan dua temannya yang lain tak dapat dihindari oleh Pendekar Sinting.Bret!Sambaran kuku Purudana mencabik robek pakaian disebelah dada pemuda itu. Dada Angon Luwak terluka dan meneteskan darah. Mengalirnya darah dari luka didada Pendekar Sinting membuat Kuruseta dan Jatukara semakin tambah bersemangat dan makin beringas."Bunuh!" Teriak keduanya bersamaan.Dua manusia singa menghanta

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   204. Part 18

    "Jika dia berani mencampuri urusan kita, aku pasti akan menghabisinya," Jawab Purudana berbisik pula."Siapa kau? Dari mana asal usulmu anak muda?" Tanya Kuruseta."Aku.” Sahut Angon Luwak sambil menunjuk dirinya sendiri."Aku bernama Angon Luwak. Tapi orang-orang sering memanggilku Pendekar Sinting. Padahal.... he he he... mereka kali yang sinting.” Lanjut pemuda itu sambil terkekeh."Oh ya asal usulku rasanya tidak penting kusebutkan. Yang jelas aku datang dari suatu tempat yang jauh sekali.”"Pemuda keparat. Jika kau tidak punya hubungan dengan Giri Soradana dan tidak bermaksud mencampuri urusan kami. Sebaiknya lekas angkat kaki dari sini!" Hardik Purudana hilang kesabarannya.Diperintah angkat kaki, dengan tingkah seperti orang tolol Angon Luwak pun mengangkat kakinya tinggi-tinggi."Kurang ajar! Mengapa kau tidak segera pergi?" Geram Jatukara sengit."Edan. Tadi temanmu menyuruh aku angkat kaki. Setelah k

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   203. Part 17

    Kemudian suara ucapan mencibir dan menyindir ketiga manusia singa lenyap. Selanjutnya terdengar pekikan kaget."Walah... kok bisa begini. Pedang tolol! Kalau mau turun ke bawah ya turun saja. Jangan menukik begini. Aku bisa jatuh menyungsap. Nanti wajahku bisa rusak dan hidungku yang bagus jadi jelek. Hei.... turunnya pelan saja. Kira-kira seperti daun yang jatuh dari pohon, bukan seperti burung alap-alap yang menyambar mangsa, jangan pula mendarat seperti burung buta yang sedang jatuh cinta. Ha ha ha....!"Tiga manusia singa yang ujudnya belum berubah sama ternganga. Seketika mereka dongakkan kepala menatap ke arah terdengarnya suara. Dari atas ketinggian terlihat sesosok tubuh melayang jungkir balik sambil mendekap sebuah pedang yang diapit diselangkangan.Ketiganya menjadi tercengang."Siapa yang jatuh dari langit itu?" Desis Kuruseta kaget."Bukan jatuh. Orang itu menunggangi sebuah pedang!" Jatukara menimpali."Terbang diketinggian deng

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   202. Part 16

    Diserang dari dua arah sekaligus. Giri Soradana terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak untuk menyelamatkan diri. Ketika pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh dua lawannya meleset.Kini giliran si kakek merangsak maju. Satu jotosan keras diarahkan ke wajah Purudana. Sementara tangan kiri berkelebat menyambar siap menjebol dada Kuruseta. Melihat serangan ini Purudana melompat ke belakang sambil menangkis jotosan lawan.Benturan keras terjadi.Keduanya sama bergetar.Namun celaka bagi Kuruseta. Walau lawan terguncang keras akibat benturan dengan Purudana tetapi jemari tangan lawan membeset rusuknya.Kraak! Terdengar suara pakaian robek.Kuruseta menjerit sakit namun juga menjadi sangat marah begitu melihat pakaiannya robek di sebelah rusuk kiri, sementara dipermukaan kulit terdapat luka sambaran jari. Luka itu mengucurkan darah.Kaget mendengar teriakan Kuruseta, Purudana dan Jatukara yang baru saja menyera

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   201. Part 15

    Selagi Giri Soradana terombang-ambing dalam kebimbangan. Salah seorang diantara mereka yang berada di sebelah kiri melangkah maju. Dua tindak di depan tiga kepala yang tergeletak di tanah dia hentikan langkah. Mewakili dua temannya orang ini membuka mulut perkenalkan diri."Giri Soradana aku bernama Purudana. Yang berdiri di belakangku bernama Kuruseta. Kemudian yang berada disampingnya tak lain adalah Jatukara. Ketahuilah, kami telah beberapa kali datang kemari. Kami tidak menemuimu, hanya muridmu yang kami temukan. Lalu kami menjemput nyawa mereka!" Ucap manusia berwajah singa mengaku bernama Purudana itu dingin.Giri Soradana membisu, tapi matanya terus memperhatikan. Dia merasa heran bagaimana tiga manusia setengah mahluk itu bisa mengenal siapa dirinya padahal diantara mereka baru sekali ini berjumpa."Mengapa kalian membunuh murid-muridku? Apa salah dan dosa mereka?" Tanya Giri Soradana sambil bersikap sabar menahan diri.Kuruseta yang berdiri di be

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   200. Part 14

    "Apakah mungkin pembunuhan yang terjadi terhadap para tumenggung pejabat bawahan senopati Seta Kurana ada hubungannya dengan malapetaka yang dialami oleh murid-muridnya"Si kakek gelengkan kepala.Belasan tahun Seta Kurana menjadi adipati. Walau antara sang adipati dengan dirinya masih ada hubungan sahabat, namun si kakek jarang sekali bertemu dengan adipati itu. Dia tak tahu pasti bagaimana sepak terjang adipati dalam menjalankan pemerintahannya.Satu-satunya yang dia tahu. Dulu sebelum Seta Kurana menjadi seorang adipati jalan hidupnya cenderung menyimpang dan menghalalkan segala cara. Dengan latar belakang yang seperti itu mungkin saja Seta Kurana mempunyai banyak musuh."Tapi mengapa Giri Soradana harus ikut terkena getahnya?"Dia menghela nafas. Tapi tarikan nafasnya jadi tertahan begitu sekonyong-konyong dia mendengar suara pekik burung gagak di atas atap padepokannya. Si kakek tercekat. Mendadak tengkuknya terasa dingin. Dengan suara terbata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   112. Part 21

    Mahluk pohon menggerung, seolah tidak mau kalah dia makin memperhebat suara tawa. Adu kekuatan tenaga dalam melalui suara tawa berakhir setelah terjadi ledakan keras berdentum di udara. Mahluk berujud seperti pohon terjengkang roboh namun segera bangkit kembali. Sementara Pendekar Sinting yang se

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   110. Part 19

    Bocah Ontang Anting menghela nafas kecewa.“Aku sudah menduga kau pasti bakal bicara seperti itu.""Orang tua kuharap jangan berkecil hati dulu. Kau tahu urusan yang lebih besar yang harus kita selesaikan malam empat belas hari bulan. Saat ini kau sendiri tahu kita sedang dala

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   109. Part 18

    SATU sosok tubuh bergerak cepat melesat laksana anak panah meninggalkan Lembah Tapa Rasa. Terpaut jarak yang cukup jauh. Di belakang berpakaian putih mengenakan mantel berbulu terus mengikuti satu sosok lainnya. Sosok kedua yang tertinggal di belakang berusaha menyusul orang yang berada di depan.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   107. Part 16

    Mendengar pertanyaan seperti itu Momok Laknat terdiam sesaat. Tapi kemudian dia segera berucap."Apa yang kucari? Aku hanya mencari kebenaran serta arti hidup yang sesungguhnya.""Hik hik hik. Kau sudah cukup umur jangan membuat malu diri sendiri. Bukannya aku tak bermalu, bukannya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status