Masuk"Cakar Rajawali!"
Itulah nama jurus yang kini diperlihatkan Ki Kusumo. Satu jurus yang tak kalah hebat dari 'Tepukan Iblis Kematian'.
Bukan cuma pamor, namun benar-benar kehebatannya. Jurus itu pun hanya dimiliki oleh Ki Kusumo. Satu jurus berhawa kematian yang diciptakannya di Pulau Hantu.
Jurus yang mengandalkan patukan jari beracun yang lebih mirip dengan gaya seseorang menyambar bunga karang dari permukaan laut. Satu patukan bisa berarti seratus racun mematik
"Ah kulihat kau masih utuh, tubuhmu belum ada yang terluka. Ingin kulihat apakah kau sanggup menghindar dari serangan Bumbung Kosong Menggebuk Naga?!" Kata Dewa Mabok.Si kakek segera miringkan tubuhnya. Telunjuk tangan kiri menunjuk ke langit. Sedangkan tangan kanan bergerak mengusap wajah. Sambil memutar mutar tangan kanan, tangan kiri yang menunjuk ke langit dia lambaikan ke arah bumbung-bumbung yang mengambang di udara."Kepruk! Buat tubuhnya babak belur!" Seru si kakek.Pendekar Sinting tersenyum, menyambut dingin ucapan Dewa Mabok. Dan senyum pemuda itu lenyap. Tiba tiba terdengar suara berdengung tak ubahnya sekawanan lebah berpindah sarang.Ketika Pendekar Sinting dongakan kepala memandang ke atas, tiba-tiba saja dia melihat belasan bumbung bambu telah berpencar didelapan penjuru, lalu seperti elang menyambar benda-benda itu menghantam Pendekar Sinting dengan bertubi-tubl.Tiada kesempatan bagi Pendekar Sinting untuk menghindar. Sambil katu
Wuut!Sekali kaki dihentakkan. Tubuh si kakek melayang ke tepi lapangan pasir. Dengan segenap kesaktian yang dia miliki dan didukung oleh mantra-mantra sakti yang dimilikinya Penujum Aneh melakukan gebrakan. Sambil mengibaskan sorban ditangannya dia berusaha menghalau bocah-bocah yang mengepung dan menyerang para perajurit itu.Sementara itu patih Tubagus Aria Kusuma begitu menyaksikan para pengawalnya semakin banyak yang menemui ajal segera ikutan menyerbu. Laki-laki itu mengamuk dengan melepaskan pukulan dan mengumbar tendangan sakti. Setiap kaki dan tangan bergerak, para bocah yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang itu pasti Jatuh terpelanting sambil menjerit dan menggeram. Diantara bocah yang menjadi korban tendangan ada yang kepalanya remuk. Namun aneh. Bocah iblis yang terkapar tiba tiba bangun lagi. Kepala yang remuk kembali utuh sedangkan kekuatan mereka semakin berlipat ganda."Kita telah banyak kehilangan perajurit, paman patih!" teriak penujum Aneh
Tiga batu segi tiga berkilau tak ubahnya Mutiara. Semakin lama tiga batu memancarkan cahaya putih terang benderang. Melihat ini Penujum Aneh segera silangkan kedua tanganya di depan dada, kedua kaki ditekuk sedangkan sorban hitam yang sejak awal dililitkan dipergelangan tangan kanan nampak bergetar."Lentera itu akan menyerang kita. Terlambat sedikit menyalakan sembilan obor penolak bala, kita semua bakal menuai nasib celaka!" Menerangkan si kakek.Penjelasan Peramal Aneh membuat Patih menyadari banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan alam gaib yang tak diketahuinya. Laki-laki ini tidak mau diam. Dia segera menghunus senjata andalannya berupa sebuah kujang yang dikenal dengan nama Penakluk Jiwa.Baru saja senjata sakti berada dalam genggaman. Di tengah hamparan pasir sedikitnya enam cahaya yang berasal dari tiga batu segi tiga berkiblat lalu menderu menghantam ke arah Penujum Aneh, patih juga para perajurit itu.Melihat cahaya putih menyil
Dia melihat tujuh sosok yang berjatuhan didepannya itu ternyata para gadis muda. Wajah mereka masih utuh. Mereka tewas dengan sekujur tubuh dan isi perut lenyap entah kemana. Seolah ada binatang buas yang memangsa mereka. Tanpa memperdulikan ucapan patih, Penujum Aneh segera ulurkan tangannya ke arah onggokan mayat gadis-gadis itu.Tiba-tiba sang penujum memekik kaget ketika merasakan ada satu kekuatan tak terlihat menyambar tangannya. Kekuatan itu datang dari mayat para gadis."Jangan didekati, jangan disentuh.Semua mayat itu dikuasai oleh sebuah kekuatan yang sangat jahat." seru si kakek memberi peringatan."Lalu apa yang kau lakukan tadi Penujum?" Tanya sang patih sambil menatap ke arah si kakek yang masih mengusapi telapak tangan kanannya. Tangan itu terasa nyeri, panas seperti terbakar"Aku hanya mencoba mencari tahu apa penyebab kematian dan siapa yang telah memangsa gadis-gadis desa ini.""Dan kau berhasil menemukan sebuah petunjuk penting?"
Melihat kepala pengawal begitu tegang, wajah pucat mata mendelik seperti baru melihat setan, sang patih jadi tidak sabar lalu cepat-cepat ajukan pertanyaan."Apa yang kau lihat?"Dengan suara terbata Gondang Ageng menjawab."Mayat-mayat, gusti patih. Mayat-mayat penduduk desa. Rasanya mereka belum lama menemui ajal, tapi tubuh mereka meleleh seperti bubur.""Hoek!" Gondang Ageng kembali keluarkan suara mau muntah. Dan kali ini dari mulutnya menyembur cairan dan makanan."Manusia jorok. Lekas kembali ke kuda dan kita lanjutkan perjalanan!"Perintah patih Tubagus Aria Kusuma jijik juga marah. Terbungkuk-bungkuk Gondang Ageng kembal ke kudanya.Semua prajurit tak ada yang berani membuka mulut walau sebenarnya mereka merasa geli melihat Gondang Ageng kena didamprat karena muntah. Setelah lewat tengah malam, udara dingin terasa tambah mencucuk.Jalan yang mereka lewati dipenuhi bebatuan licin berlumut. Iringan-iringan rombongan berk
"Kalau benar. Kekuatan apa yang bisa membuat rontok tubuh manusia. Lagi pula mengapa kita tidak menemukan mayat-mayat penduduk desa ini di rumah yang lain?" kata patih Aria terheran-heran."Kau tidak melihat kejadian yang lainnya, Manyun Pambayo," Tanya Penujum Aneh sambil menatap ke arah si wajah muram di depannya."Tidak Penujum. Saya dan yang lainnya tidak melihat apa-apa." Sahut Manyun Pambayo.Penujum Aneh menoleh pada sang patih."Pelakunya masih orang yang sama. menyerang penduduk desa adalah pasukan Lebah bernama Lebah Kepala Hati Berbunga. Penduduk yang tidak dibutuhkan dibunuh, sedangkan para anak gadisnya disengat dengan bisa asmara. Bila tersengat gadis-gadis itu berubah menjadi liar. Yang seperti orang yang kasmaran.""Aku tidak tahu apa maksudmu kakek Penujum aneh." Kata patih Aria Kusuma bingung"Semua ini perbuatan Pangeran Durjana. Dia seperti ayam jantan. Dia sengaja meracuni lalu mengumpulkan gadis-gadis itu untuk dijadika
Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D
Banyak buaya liar berkeliaran. Selain itu, pasukan yang mencoba menerobos ke sana harus menempuh perjalanan tanpa kendaraan menembus rawa setinggi pusar selama satu malam. Lebatnya hutan bakau tak memungkinkan untuk menggunakan perahu. Besar kemungkinan selama merambah bentangan rawa, mereka akan d
Sepekan berlalu.Siang di pusat Kadipaten Ketawang. Saat itu matahari terhalang mendung. Sinarnya tak terlalu menyiksa. Angin sejuk sepoi-sepoi berdenyut, mempermainkan dedaunan pepohonan.Seorang anak lelaki dekil berjalan gontai dijalan pusat pemerintahan Kadipaten Ketawang. Wajahnya demikian lus
HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-p







