Home / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 47. Part 3 (Cemeti Laut Selatan)

Share

47. Part 3 (Cemeti Laut Selatan)

last update publish date: 2025-10-25 01:01:41

"Cakar Rajawali!"

Itulah nama jurus yang kini diperlihatkan Ki Kusumo. Satu jurus yang tak kalah hebat dari 'Tepukan Iblis Kematian'.

Bukan cuma pamor, namun benar-benar kehebatannya. Jurus itu pun hanya dimiliki oleh Ki Kusumo. Satu jurus berhawa kematian yang diciptakannya di Pulau Hantu.

Jurus yang mengandalkan patukan jari beracun yang lebih mirip dengan gaya seseorang menyambar bunga karang dari permukaan laut. Satu patukan bisa berarti seratus racun mematik

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   203. Part 17

    Kemudian suara ucapan mencibir dan menyindir ketiga manusia singa lenyap. Selanjutnya terdengar pekikan kaget."Walah... kok bisa begini. Pedang tolol! Kalau mau turun ke bawah ya turun saja. Jangan menukik begini. Aku bisa jatuh menyungsap. Nanti wajahku bisa rusak dan hidungku yang bagus jadi jelek. Hei.... turunnya pelan saja. Kira-kira seperti daun yang jatuh dari pohon, bukan seperti burung alap-alap yang menyambar mangsa, jangan pula mendarat seperti burung buta yang sedang jatuh cinta. Ha ha ha....!"Tiga manusia singa yang ujudnya belum berubah sama ternganga. Seketika mereka dongakkan kepala menatap ke arah terdengarnya suara. Dari atas ketinggian terlihat sesosok tubuh melayang jungkir balik sambil mendekap sebuah pedang yang diapit diselangkangan.Ketiganya menjadi tercengang."Siapa yang jatuh dari langit itu?" Desis Kuruseta kaget."Bukan jatuh. Orang itu menunggangi sebuah pedang!" Jatukara menimpali."Terbang diketinggian deng

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   202. Part 16

    Diserang dari dua arah sekaligus. Giri Soradana terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak untuk menyelamatkan diri. Ketika pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh dua lawannya meleset.Kini giliran si kakek merangsak maju. Satu jotosan keras diarahkan ke wajah Purudana. Sementara tangan kiri berkelebat menyambar siap menjebol dada Kuruseta. Melihat serangan ini Purudana melompat ke belakang sambil menangkis jotosan lawan.Benturan keras terjadi.Keduanya sama bergetar.Namun celaka bagi Kuruseta. Walau lawan terguncang keras akibat benturan dengan Purudana tetapi jemari tangan lawan membeset rusuknya.Kraak! Terdengar suara pakaian robek.Kuruseta menjerit sakit namun juga menjadi sangat marah begitu melihat pakaiannya robek di sebelah rusuk kiri, sementara dipermukaan kulit terdapat luka sambaran jari. Luka itu mengucurkan darah.Kaget mendengar teriakan Kuruseta, Purudana dan Jatukara yang baru saja menyera

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   201. Part 15

    Selagi Giri Soradana terombang-ambing dalam kebimbangan. Salah seorang diantara mereka yang berada di sebelah kiri melangkah maju. Dua tindak di depan tiga kepala yang tergeletak di tanah dia hentikan langkah. Mewakili dua temannya orang ini membuka mulut perkenalkan diri."Giri Soradana aku bernama Purudana. Yang berdiri di belakangku bernama Kuruseta. Kemudian yang berada disampingnya tak lain adalah Jatukara. Ketahuilah, kami telah beberapa kali datang kemari. Kami tidak menemuimu, hanya muridmu yang kami temukan. Lalu kami menjemput nyawa mereka!" Ucap manusia berwajah singa mengaku bernama Purudana itu dingin.Giri Soradana membisu, tapi matanya terus memperhatikan. Dia merasa heran bagaimana tiga manusia setengah mahluk itu bisa mengenal siapa dirinya padahal diantara mereka baru sekali ini berjumpa."Mengapa kalian membunuh murid-muridku? Apa salah dan dosa mereka?" Tanya Giri Soradana sambil bersikap sabar menahan diri.Kuruseta yang berdiri di be

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   200. Part 14

    "Apakah mungkin pembunuhan yang terjadi terhadap para tumenggung pejabat bawahan senopati Seta Kurana ada hubungannya dengan malapetaka yang dialami oleh murid-muridnya"Si kakek gelengkan kepala.Belasan tahun Seta Kurana menjadi adipati. Walau antara sang adipati dengan dirinya masih ada hubungan sahabat, namun si kakek jarang sekali bertemu dengan adipati itu. Dia tak tahu pasti bagaimana sepak terjang adipati dalam menjalankan pemerintahannya.Satu-satunya yang dia tahu. Dulu sebelum Seta Kurana menjadi seorang adipati jalan hidupnya cenderung menyimpang dan menghalalkan segala cara. Dengan latar belakang yang seperti itu mungkin saja Seta Kurana mempunyai banyak musuh."Tapi mengapa Giri Soradana harus ikut terkena getahnya?"Dia menghela nafas. Tapi tarikan nafasnya jadi tertahan begitu sekonyong-konyong dia mendengar suara pekik burung gagak di atas atap padepokannya. Si kakek tercekat. Mendadak tengkuknya terasa dingin. Dengan suara terbata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   199. Part 13

    Kembali dari perjalanan di Kuto Gede, Giri Soradana kakek berusia hampir tujuh puluh tahun ini merasa gelisah. Entah mengapa dia ingin cepat-cepat sampai di padepokannya yang berada di Parang Tritis.Sejak mendengar kabar terjadinya pembunuhan-pembunuhan aneh yang menimpa beberapa tumenggung dan keluarganya di wilayah kadipaten Blora. Kakek berpakaian serba biru berambut putih panjang digelung ini memutuskan mempersingkat kunjungannya.Tidak heran baru sepekan berada di rumah kerabatnya, Giri Soradana memutuskan kembali ke Padepokan Alas Langit.Bulan empat hari bersinar indah di ketinggian sana. Saat itu Giri Soradana telah memasuki sebuah desa bernama Muncang. Dari desa yang sunyi itu Parang Tritis sudah tidak begitu jauh lagi. Tanpa menoleh si kakek terus memacu kudanya. Sesekali dia berpapasan dengan penduduk setempat. Para penduduk desa yang ramah yang mengenal kakek ini ada yang memintanya untuk singgah. Tapi Giri Soradana tidak menghiraukan.Tidak

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   198. Part 12

    Melihat serangan berbahaya yang datang dari arah depan dan belakangnya. Si Mata Bara keluarkan suara berdengus. Sekali menghentakkan kakinya tubuh laki-laki ini melambung ke atas.Pada saat tubuh melesat, dia memutar tubuh lalu kepalkan kedua tangan menyongsong serangan senjata kepala pengawal dan pasukannya.Wuss!Dari kedua tangan Mata Bara menderu hawa panas luar biasa, menjalari setiap orang yang berada di sekelilingnya. Hingga membuat lima orang pengawal tersapu roboh. Dua diantaranya terpelanting dengan perut tertancap senjatanya sendiri.Sementara itu Pati Jaladara yang lebih berpengalaman bertindak cepat. Begitu hawa panas menderu melabrak tubuhnya, pedang pendek yang dipergunakan untuk menyerang segera diputar membentuk perisai pertahanan yang kokoh.Benturan keras antara pedang dengan pukulan tak dapat dihindari lagi. Ledakan berdentum mengguncang tempat itu. Debu pasir dan bunga api bermuncratan di udara.Pati Jaladara terlempar.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   118. SANG MAHA SESAT

    BUKIT menjulang tinggi terdapat di ujung sebelah utara Istana Pulau Es. Tanggal tiga belas bulan satu hari menjelang datangnya bulan purnama suasana terasa terang benderang dari sebelumnya. Di atas bukit menjulang yang lebih dikenal dengan nama Puncak Terang yang tandus gersang dan sering dilanda

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   117. Part 26

    "Jadah! Kau tak perlu memberi aku nasehat. Aku lebih tahu mana yang harus kukerjakan dan mana yang harus ditinggalkan! Bila aku kembali ke Tanah Batikai kampung halamanku tanpa melakukan tugas, maka tetua Karma Diraga bisa membunuhku!" Ujarnya cemas.Angon Luwak melihat ada kebimbangan dal

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   116. Part 25

    Dari perbawa serangan, Raka Syiwa segera menyadari serangan si kakek bukan serangan biasa. Tak ayal sambil menggeram marah Raka batalkan niatnya menghabisi Pendekar Sinting.Sebaliknya dia memutar tubuh lalu sambut serangan ganas lawan dengan pukulan Tuah Pohon Sakti Menyendiri Di Kesunyia

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   115. Part 24

    Melihat lawan terjengkang Raka Syiwa segera menyerbu. Sambil hantamkan kaki kirinya ke dada lawan dia berkata."Kau boleh memiliki segudang ilmu segunung kesaktian. Tapi bila berhadapan denganku segala kepandalan yang kau miliki menjadi tidak berguna!"Berbarengan dengan ucapannya i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status