Home / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 48. Part 4 (Cemeti Laut Selatan)

Share

48. Part 4 (Cemeti Laut Selatan)

last update publish date: 2025-10-25 01:02:09

Geram, terlampau geram menelan kelaliman kelewat batas telah terjadi lagi di depan matanya. Gadis ayu itu dibakar kemurkaan. Menggelegak bagai lahar!

"Kau akan membayar nyawanya dengan nyawamu, Manusia Terkutuk!!" Pekik Mayangseruni, menumpahkan panas membakar dalam dirinya dalam kutukan. Pedangnya digerakkan nyalang.

Wukh wukh!

"Haiih!!"

Diserbunya Dirgasura kalap. Sepasang senjata di kedua belah tangannya diputar bersilangan dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   301. Part 2

    "Hmm, jadi si keparat itu masih keturunan raja tapi mengapa bertingkah seperti orang kurang waras?" Geram Pangeran Durjana.Sang Mata terdiam tidak menjawab. Pangeran Durjana yang penasaran lanjutkan ucapan."Dia membunuh Bocah Bocah Iblis dan kau tahu anak-anak itu tak lain darah dagingku sendiri. Aku ingin menyingkirkannya serta merebut pedang dari tangannya.”"Pangeran! Menurut hematku, jika pangeran terus menerus berada di Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta rasanya sulit untuk melenyapkan semua musuh pangeran, apalagi untuk merampas pedang milik Pendekar Sinting juga tidak mudah. Pedang itu hanya tunduk dan patuh pada Pendekar Sinting... Dan perlu kiranya pangeran ketahui bahwa pedang di tangan pemuda itu memiliki jiwa. Karena pedang mempunyai jiwa yang bersemayam pada bagian hulunya maka dengan sendirinya bila Pendekar Sinting terdesak sang pedang segera memberikan bantuan," Terang Mata Setan.Pangeran Durjana tertegun. Hatinya diliputi rasa her

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   300. BANJIR DARAH DI ISTANA MALINGPING

    PANGERAN DURJANA menjadi sangat murka ketika tahu bahwa Bocah Bocah Iblis telah menjadi korban senjata pusaka Pendekar Sinting. Sedikitpun dia tidak menyangka bahwa senjata pemuda itu aneh dan dapat menyerang dengan sendirinya. Benar-benar merupakan senjata pamungkas paling hebat yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Dengan segala kemarahan Pangeran Durjana yang saat itu berada di dalam bangunan aneh berbentuk sarang lebah yang diberinya nama Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta."Keparat gila itu datang dari sebuah negeri antah berantah. Kehadirannya membuat semua yang telah kurencanakan tidak dapat berjalan mulus. Aku benci kegagalan. Keinginan menjadi penguasa dari seluruh manusia yang ada di dunia ini tidak mungkin bisa menjadi kenyataan bila tidak dapat menyingkirkan pemuda sinting itu secepatnya!" Geram sang pangeran dengan tangan terkepal dan geraham bergemeletukan.Pemuda berpakaian hitam berwajah tampan dan dapat merubah-rubah penampilannya sehendak hati i

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   299. Part 22

    Sementara pada kesempatan itu, tiba-tiba saja Pendekar Sinting mendengar suara ngiangan datang dari hulu pedang yang tergantung di punggungnya."Sahabatku yang mulia Pendekar Sinting. Keadaanmu sungguh memalukan.”"Sudah tahu mengapa kau tidak memberi aku pakaian?" Dengus Pendekar Sinting acuh."Maafkan aku paduka, mana mungkin aku memberi pakaian untukmu. Sebagai Jiwa aku sendiri selalu kedinginan karena hampir tak berpakaian. Lebih baik kau perintahkan aku untuk melakukan yang lain.” kata Jiwa dalam Pedang Laut Selatan."Puah. Sejak tadi aku sudah repot. Kau diam saja. Sekarang kuperintahkan padamu. Singkirkan bocah-bocah iblis itu dariku!" Seru Pendekar Sinting."Perintah paduka Pendekar Sinting dengan senang hati saya lakukan.” Sahut jiwa yang bersemayam di hulu Pedang Laut Selatan.Trek! Wuut!Terdengar suara berkerotakan dibagian rangka pedang yang disusul dengan menderunya angin disertai berkiblatnya cahaya ku

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   298. Part 21

    Menggunakan kesempatan yang sangat singkat itu, Pendekar Sinting segera alirkan hawa sakti ke bagian luka-luka dibagian kakinya. Begitu hawa hangat mengalir deras kebagian tubuh sebelah bawah dan lengan sebelah kanannya. Dari bagian luka-luka itu terlihat mengepul asap tipis berwarna hitam kemerahan menebar bau busuk luar biasa. Lalu seiring dengan mengepulnya asap terlihat ada cairan hitam mengalir keluar dari setiap bagian luka. Ketika tebaran asap lenyap dari pandangan. Bagian tubuh yang terluka itu secara menakjubkan kembali bertaut hilang lenyap dengan sendirinya.Orang lain yang melihat keanehan itu pasti akan tercengang kagum menyaksikan kehebatan Pendekar Sinting. Tapi bagi Pendekar Sinting sendiri, tindakan menyembuhkan luka dalam waktu yang singkat itu tentunya bersumber dari ilmu yang didapatnya dari sang guru Dedengkot Sinting. Dan ilmu itu dikenal dengan "Menutup Luka Memusnahkan Racun.”Tidak lama setelah luka-luka lenyap. Sekali lagi dia m

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   297. Part 20

    Dentuman menggelegar serasa merobek langit, menimbulkan guncangan hebat luar biasa. Lima bocah iblis jatuh bergedebukan. Berguling guling di tanah namun mereka segera bangkit tanpa cidera sedikitpun. Sementara itu Pendekar Sinting yang berada diketinggian tanpa berpijak pada apapun nampak terguncang keras.Walau dia mampu memusnahkan lima cahaya panas namun pecahan cahaya panas yang dibuatnya porak poranda sebagian masih bertebaran di udara. Sisa cahaya itu seakan memberangus tubuhnya membuat matanya menjadi perih sedangkan sekujur tubuh serasa digoreng diatas kobaran api.Sambil keluarkan suara menggereng tak ubahnya harimau terluka, pemuda ini alirkan tenaga dalam kebagian kaki. Pengerahan tenaga yang dilakukannya itu membuat tubuhnya lebih berat disebelah bawah.Tanpa ampun Pendekar Sinting meluncur ketanah berbatu sejarak dua tombak diluar jangkawan bocah-bocah yang mengepungnya.Namun baru saja kakinya menjejak tanah. Dibagian bawah belasan tangan da

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   296. Part 19

    Ketika Pendekar Sinting mengerahkan ilmu Badai Es di tangan kirinya, seketika itu pula dari tangan tersebut memancarkan cahaya putih redup menebar hawa dingin luar biasa. Sedangkan dari tangan kanan terlihat pancaran cahaya hitam kemerahan berbentuk sebuah cakar berukuran sepuluh lebih besar dari tangan Pendekar Sinting. Dari tangan yang memancarkan cahaya berbentuk cakar itu pula menyebar hawa panas menghanguskan."Majulah! Aku yakin kalian yang telah membuat Penujum Aneh celaka. Tangan dan gigi kalian itu membuat seorang juru obat seperti Penujum Aneh tak dapat menyelamatkan nyawa sendiri. Tunggu apa lagi! Jika kalian ingin tubuhku yang pahit dan penuh racun itu lekas serang. Kalau tidak, aku akan membuat kalian jadi patung beku dan puntung neraka!" Dengus Pendekar Sinting dengan sikap garang.Tak jauh di depannya tiga puluh bocah iblis sama keluarkan suara menggeram. Walau mereka tak bisa bicara sebagaimana seharusnya anak manusia. Namun mereka mengerti segala apa y

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   10. Prahara pun berlangsung!

    Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   9. Laskar Lawa Merah

    Banyak buaya liar berkeliaran. Selain itu, pasukan yang mencoba menerobos ke sana harus menempuh perjalanan tanpa kendaraan menembus rawa setinggi pusar selama satu malam. Lebatnya hutan bakau tak memungkinkan untuk menggunakan perahu. Besar kemungkinan selama merambah bentangan rawa, mereka akan d

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   8. Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu

    Ketika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.Dia benci pada setiap p

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   7. Siapa sebenarnya Ki Kusumo?

    Bunyi gemeritik bara api yang dimainkan Tresnasari terdengar, ditingkahi derik ramai jangkrik di kejauhan. Nyai Cemarasari merebahkan tubuhnya yang demikian penat dan lunglai di atas rumput. Dengan caping, diganjalnya kepalanya. Tampaknya dia mulai mengantuk. Keadaan tubuhnya memang tak memungkinka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status