MasukTEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya.
"Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergerak tanpa terlihat hingga seluruh senjata penyerangnya berpentalan laksana disapu topan. Tresnasari melengak. Sungguh pertanyaan sang ibu agak mengejutkannya.
"Aku justru mengira itu perbuatan Nyai!" Tukasnya agak meninggi.
Wajah pucat wanita berpakaian ungu agak terlipat. Dia berpikir sejenak. "Kalau bukan perbuatanmu dan perbuatanku, lalu siapa?" Gumamnya, tipis berbisik.
Sejenak kepalanya menoleh pada Angon Luwak. ‘Mungkinkah bocah itu?’ Tanya hatinya ragu.
Bocah yang diperhatikan malah sedang cengengesan tak karuan. Dia mengira keberaniannya menyeruduk seorang lelaki pengacau sedang dibicarakan ibu dan anak itu. Bangganya minta ampun dia. Hidungnya pun jadi kembang-kempis.
"Tentu saja bukan dia," Cibir Tresnasari, mengetahui ibunya menyangka Angon Luwaklah pelaku tindakan mengagumkan sebelumnya.
"Bagaimana dia bisa melakukan itu kalau cara menyerangnya saja mirip kambing buduk!"
Lalu pandangan Nyai Cemarawangi, nama perempuan berpakaian ungu, beralih ke arah lelaki tua pemilik kedai.
"Mungkinkah orang tua itu?" Gumamnya tak kentara.
Dia bukan cuma penasaran ingin mengetahui si pelaku, tapi juga ingin menghaturkan banyak terima kasih. Sebab, kalau putrinya tidak ditolong waktu itu, dia ragu Tresnasari mampu mengatasi serangan serempak yang keji dari para pengeroyoknya.
Orang yang diperhatikan malah mulai sibuk lagi mengebuti lalat-lalat yang berkeliaran di atas dagangannya. Wajahnya tetap tenang seperti sebelumnya. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Nyai Cemarawangi.
Justru perbuatan kecilnya mengebuti lalat yang luput mendapat perhatian orang lain, tapi tidak untuk mata jeli perempuan itu.
Si lelaki tua pemilik warung terlihat santai saja menggerakkan alat pengebut lalat terbuat dari batang bambu yang diberi rumbai tali pelepah pisang kering. Tapi, setiap kail tangannya bergerak santai, beberapa ekor lalat langsung menemui ajal! Nyai Cemarawangi tersenyum. Sekarang dia yakin telah menemukan penolong putrinya.
Segera dihampirinya orang tua itu. Angon Luwak mengira dia yang dihampiri. Makin parah saja cengangas-cengengesnya. Besar rasa juga rupanya bocah itu. Dan dia tinggal bisa bengong ketika Nyai Cemarawangi cuma melintasinya.
"Terima kasih atas bantuanmu, Orang Tua. Aku yang muda rupanya terlalu tak menyadari kalau kau adalah seorang tokoh mandraguna...." Ucapan Nyai Cemarawangi tak digubris orang tua itu.
Dia terus saja sibuk berbenah, seolah sama sekali tak mengetahui apa maksud ucapan Nyai Cemarawangi. Sementara itu, Tresnasari menyusul ibunya. Dilewatinya pula Angon Luwak yang mulai pula senyum-senyum pada gadis tanggung itu.
Di dekat Angon Luwak, Tresnasari berhenti melangkah. Ditatapnya bocah itu tajam-tajam.
"Kenapa senyum-senyum?!" Bentaknya. "Mau kubuat rontok gigimu?!"
Angon Luwak langsung bungkam. Mulutnya terkunci rapat. Jangankan senyum, meringis pun dia tak berani.
"Kalau diperkenankan, bolehkah aku tahu siapa sesungguhnya dirimu, Orang Tua?" Susul Nyai Cemarawangi, kemudian.
Seperti baru tersadar seseorang telah berdiri di depannya, orang tua itu tersenyum, memperlihatkan barisan gigi kehitaman dan telah tanggal dua-tiga butir.
"Seperti kau lihat, aku cuma seorang penjual makanan," Sahut pemilik warung. Nada bicaranya tetap tak berubah. Tetap santai, sambil menjentiki beberapa ekor lalat yang mati di atas mejanya.
"Kalau begitu, izinkan aku mengenal namamu," Mohon perempuan cantik meski usianya sudah terbilang cukup tua itu.
Kening berkerut orang tua berkumis putih itu sesaat terlipat. Sepasang alis putihnya yang tumbuh jarang agak mendekat satu dengan yang lain. Bola matanya naik ke atas.
"Seingatku, namaku Kusumo...," Katanya setelah berpikir beberapa saat.
Aneh juga, bagaimana dia bisa lupa nama sendiri? Sebenarnya, Nyai Cemarawangi ingin mengetahui nama lengkap orang tua itu. Siapa tahu dia pernah mendengar nama itu di dunia persilatan. Sebab, menurut perkiraannya, orang tua yang mengaku bernama Kusumo ini pasti seorang tokoh yang disegani di dunia persilatan. Mungkin karena satu atau lain sebab, dia mengundurkan diri.
Namun, hanya karena tak ingin dianggap terlalu lancang, akhirnya perempuan itu tak bertanya lebih jauh. "Kalau begitu, terima kasih sekali lagi Ki Kusumo. Aku harap kita akan berjumpa lagi. Siapa tahu aku masih bisa membatas budimu...."
"Siapa yang perlu membalas budi? Kau berbicara aneh sekali, Cah Ayu," Kilah Ki Kusumo, matanya menyipit memperlihatkan ketidakmengertian maksud perkataan perempuan di depannya. Di akhir katanya, dia terkekeh. Nyai Cemarasari menjura, hormat.
"Kalau begitu, aku mohon pamit, Ki."
"Ya... ya... ya," Sahut Ki Kusumo enteng.
"Pergilah. Dan kudo'akan agar kau dapat menemukan tabib yang berjodoh denganmu!" Tambahnya.
Seketika itu, Nyai Cemarawangi mengangkat kepalanya. Wajah memeram pertanyaan. ‘Bagaimana dia tahu kalau aku sedang sakit dan bagaimana pula dia tahu kalau sampai sekarang aku belum bertemu dengan tabib yang dapat menyembuhkan penyakitku?’ Bisik hatinya.
Makin kagum saja perempuan itu pada Ki Kusumo. Nyai Cemarawangi baru hendak menanyakan hal itu, Ki Kusumo sudah menggerakkan tangannya.
"Ayo, pergilah.... Pergi...."
Perempuan berpakaian ungu mengulang juranya. Caping yang sejak tadi menggelantung di belakang punggungnya ditempatkan kembali di atas kepala. Dia pun melangkah.
"Ayo, Tresna," Ajak Nyai Cemarawangi pada putrinya, baru saja Tresnasari tiba di sampingnya Keduanya berangkat.
-o0o-
"Aku tidak mengerti mengapa ada orang yang begitu berbaik hati menyimpan pakaian di tempat seperti ini?""Wah itu saya tidak tahu. Saya melihat di dalam gua ada kerangka manusia dalam keadaan duduk bersila selayaknya orang yang sedang bertapa.""Heh, apa?" Sentak Pendekar Sinting sambil berjingkrak kaget."Kau melihat orang bertapa sampai mati. Gila sekali.""Saya tidak mengatakan orang itu tengah bertapa. saya hanya menemukan tengkorak sedang duduk bersila....""Jadi kau menganjurkan aku memakai pakaian orang yang sudah mati?" Kata Pendekar Sinting. Matanya mendelik menunjukkan rasa tidak senang.Buru-buru sang jiwa menjawab."Jangan berpikir buruk dulu. Pakaian itu sama sekali bukan pakaian yang melekat di tubuh kerangka tengkorak. Saya melihat seperangkat pakaian bagus di dalam sebuah peti hitam tak jauh di samping kerangka bersemedi.""Begitu? Hmm, apakah kau mau mengambilkan pakaian itu untukku?" Tanya Pendekar Sinting sam
"Yang mulia Paduka Raja." Lagilagi sang Jiwa yang bersemayam dalam hulu pedang memberi bisikan."Di neraka dan emperannya saya yakin paduka dengan mudah bisa menemukan gadis-gadis yang cantik""Bagaimana kau bisa berkata begitu wahai jiwa sahabatku?" Tanya Pendekar Sinting tak mengerti."Iya... Soalnya semasa di dunia kebanyakan yang suka menukar diri dengan sejumlah harta benda adalah gadis cantik, Kalau gadisnya jelek mana ada laki-laki yang mau.""Hus... Jangan bicara sembarangan. Lebih baik kau ikut memikirkan diriku yang malang ini. Aku tak mungkin bisa keluar dari hutan ini bila aku tidak bisa mendapatkan seperangkat pakaian sebagai pengganti pakaianku yang hancur ""Paduka, bukankah saya telah katakan. Paduka berjalan saja lurus ke depan. Nanti pakaian bisa paduka dapatkan.""Aku tahu pulau es udaranya sepuluh kali lipat lebih dingin dari udara disini. Tapi lihatlah tiupan angin begini kencang, pandangan mataku tak kuasa menembus kepe
"Hmm, jadi si keparat itu masih keturunan raja tapi mengapa bertingkah seperti orang kurang waras?" Geram Pangeran Durjana.Sang Mata terdiam tidak menjawab. Pangeran Durjana yang penasaran lanjutkan ucapan."Dia membunuh Bocah Bocah Iblis dan kau tahu anak-anak itu tak lain darah dagingku sendiri. Aku ingin menyingkirkannya serta merebut pedang dari tangannya.”"Pangeran! Menurut hematku, jika pangeran terus menerus berada di Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta rasanya sulit untuk melenyapkan semua musuh pangeran, apalagi untuk merampas pedang milik Pendekar Sinting juga tidak mudah. Pedang itu hanya tunduk dan patuh pada Pendekar Sinting... Dan perlu kiranya pangeran ketahui bahwa pedang di tangan pemuda itu memiliki jiwa. Karena pedang mempunyai jiwa yang bersemayam pada bagian hulunya maka dengan sendirinya bila Pendekar Sinting terdesak sang pedang segera memberikan bantuan," Terang Mata Setan.Pangeran Durjana tertegun. Hatinya diliputi rasa her
PANGERAN DURJANA menjadi sangat murka ketika tahu bahwa Bocah Bocah Iblis telah menjadi korban senjata pusaka Pendekar Sinting. Sedikitpun dia tidak menyangka bahwa senjata pemuda itu aneh dan dapat menyerang dengan sendirinya. Benar-benar merupakan senjata pamungkas paling hebat yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Dengan segala kemarahan Pangeran Durjana yang saat itu berada di dalam bangunan aneh berbentuk sarang lebah yang diberinya nama Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta."Keparat gila itu datang dari sebuah negeri antah berantah. Kehadirannya membuat semua yang telah kurencanakan tidak dapat berjalan mulus. Aku benci kegagalan. Keinginan menjadi penguasa dari seluruh manusia yang ada di dunia ini tidak mungkin bisa menjadi kenyataan bila tidak dapat menyingkirkan pemuda sinting itu secepatnya!" Geram sang pangeran dengan tangan terkepal dan geraham bergemeletukan.Pemuda berpakaian hitam berwajah tampan dan dapat merubah-rubah penampilannya sehendak hati i
Sementara pada kesempatan itu, tiba-tiba saja Pendekar Sinting mendengar suara ngiangan datang dari hulu pedang yang tergantung di punggungnya."Sahabatku yang mulia Pendekar Sinting. Keadaanmu sungguh memalukan.”"Sudah tahu mengapa kau tidak memberi aku pakaian?" Dengus Pendekar Sinting acuh."Maafkan aku paduka, mana mungkin aku memberi pakaian untukmu. Sebagai Jiwa aku sendiri selalu kedinginan karena hampir tak berpakaian. Lebih baik kau perintahkan aku untuk melakukan yang lain.” kata Jiwa dalam Pedang Laut Selatan."Puah. Sejak tadi aku sudah repot. Kau diam saja. Sekarang kuperintahkan padamu. Singkirkan bocah-bocah iblis itu dariku!" Seru Pendekar Sinting."Perintah paduka Pendekar Sinting dengan senang hati saya lakukan.” Sahut jiwa yang bersemayam di hulu Pedang Laut Selatan.Trek! Wuut!Terdengar suara berkerotakan dibagian rangka pedang yang disusul dengan menderunya angin disertai berkiblatnya cahaya ku
Menggunakan kesempatan yang sangat singkat itu, Pendekar Sinting segera alirkan hawa sakti ke bagian luka-luka dibagian kakinya. Begitu hawa hangat mengalir deras kebagian tubuh sebelah bawah dan lengan sebelah kanannya. Dari bagian luka-luka itu terlihat mengepul asap tipis berwarna hitam kemerahan menebar bau busuk luar biasa. Lalu seiring dengan mengepulnya asap terlihat ada cairan hitam mengalir keluar dari setiap bagian luka. Ketika tebaran asap lenyap dari pandangan. Bagian tubuh yang terluka itu secara menakjubkan kembali bertaut hilang lenyap dengan sendirinya.Orang lain yang melihat keanehan itu pasti akan tercengang kagum menyaksikan kehebatan Pendekar Sinting. Tapi bagi Pendekar Sinting sendiri, tindakan menyembuhkan luka dalam waktu yang singkat itu tentunya bersumber dari ilmu yang didapatnya dari sang guru Dedengkot Sinting. Dan ilmu itu dikenal dengan "Menutup Luka Memusnahkan Racun.”Tidak lama setelah luka-luka lenyap. Sekali lagi dia m
Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo
"Biar tahu rasa kau!"Terdengar bentakan dari si penyerang gelap. Siapa lagi kalau bukan Angon Luwak? Menyaksikan cara menyerang si bocah yang begitu konyol, mendadak saja terurailah tawa kecil Tresnasari."Hi-hi-hi!"Ditertawakan begitu, Angon Luwak jadi tersinggung. Sudah ditolong kok malah mener
Dia sebenarnya tidak ngeri pada pelototan mata bocah ayu itu. Sebaliknya, Angon Luwak malah jadi senang bukan alang kepalang. Hanya saja dia tak tahu, kenapa merasa berdebar-debar.Biasalah, cinta monyet! Saking gugupnya, tak sengaja dia menginjak jempol kaki Pale Tua pemilik warung.Untung lelaki
Sepekan berlalu.Siang di pusat Kadipaten Ketawang. Saat itu matahari terhalang mendung. Sinarnya tak terlalu menyiksa. Angin sejuk sepoi-sepoi berdenyut, mempermainkan dedaunan pepohonan.Seorang anak lelaki dekil berjalan gontai dijalan pusat pemerintahan Kadipaten Ketawang. Wajahnya demikian lus







