Share

6. Bertemu Kembali

last update publish date: 2025-01-26 14:15:52

Hari makin tua.

Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari.

"Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogoboyo, Nyai," Kata si gadis ayu baru tumbuh remaja pada ibunya.

"Kenapa? Apa kau tak kuat berjalan sampai ke sana?"

"Bukan begitu. Aku justru iba pada Nyai. Nyai tampaknya makin kehilangan banyak tenaga karena sakit yang mendekam dalam tubuh Nyai," Kata Tresnasari lagi.

Nyai Cemarawangi merangkul anaknya dengan sebelah tangan. Bahu Tresnasari diguncang-guncangkan kecil.

"Aku bersyukur memiliki putri yang sayang terhadapku. Rasanya, kalau kau terus berada di sampingku, berjalan sampai ke ujung bumi aku masih sanggup," Guraunya dengan sebaris senyum di bibirnya yang memucat dan kering.

"Ah, Nyai ini. Aku sedang bicara sungguh-sungguh! Apa tak sebaiknya kita ke desa terdekat dulu untuk mencari dua ekor kuda? Kalau perlu, kita menumpang bermalam. Besok pagi, baru kita lanjutkan lagi perjalanan. Bagaimana?" Cecar Tresnasari, nyaris lupa berhenti.

Sementara mereka terus melangkah, seseorang menguntit keduanya. Sejak mereka meninggalkan pusat Kadipaten Ketawang, orang itu terus mengekori. Sesekali dia bersembunyi di balik pohon atau semak-belukar yang banyak tumbuh di sepanjang jalan setapak. Jika jaraknya sudah cukup aman, dia mulai menguntit lagi. Dari caranya bergerak, tak ada kesan kalau si penguntit adalah orang persilatan.

Gerakannya begitu kasar dan berkesan serampangan. Langkah-langkah kakinya memperdengar-kan bunyi ribut, meskipun tampak lincah. Kalau sudah begitu, tentu saja Nyai Cemarawangi dan Tresnasari akan cepat mengendusi.

"Sejak tadi ada orang menguntit kita terus, Nyai," Bisik Tresnasari.

"Ya-ya, aku tahu."

"Apa perlu kita hadang sekarang?"

"Tak perlu. Tampaknya orang itu tak berbahaya. Lagi pula...."

Nyai Cemarawangi tak meneruskan perkataannya. Dia malah senyum tertahan.

"Kenapa, Nyai? Kenapa?" Desak Tresnasari.

"Lagi pula, aku sudah tahu siapa orang itu." Kening si gadis belia dibuat berkerut.

"Siapa Nyai?" Jawaban Nyai Cemarawangi cuma senyum kecilnya, yang lagi-lagi sengaja ditahan.

"Siapa Nyai? Dan kenapa Nyai malah tersenyum-senyum seperti itu?" Sewot Tresnasari.

"Nanti juga kau tahu."

Tresnasari jadi tak sabar lagi dengan kucing-kucingan ibunya. Dia merajuk. Dengan wajah asam, dihentikannya langkah tiba-tiba. Lalu cepat dibalikkannya tubuh.

Demi melihat salah seorang yang dikuntit mendadak membalikkan tubuh, si penguntit terperanjat bukan alang-kepalang. Serabutan dicarinya tempat persembunyian.

Ada sebatang pohon beringin besar di dekatnya. Ke sana dia berlari. Saking terburu-buru, tak dilihatnya akar pohon merangas di tanah.

Akhirnya.... "E-e-eeeeee!"

Gedubrak! Jatuh juga orang itu dengan posisi tertelungkup. Jidatnya terhantam batang pohon beringin. Orang itu ternyata si bocah sok jago, Angon Luwak.

Apa maunya dia menguntit begitu rupa? Melihat siapa yang sejak tadi menguntit, Tresnasari memasang wajah perangnya. Kalau bisa, ingin dibuat wajah ayunya seseram tampang Batari Durga, perempuan raksasa di pewayangan.

"Mau apa lagi kau?!" Serunya ketus.

Angon Luwak bangkit terseok. Satu tangannya memegangi pinggang. Tangan yang lain mengusap-usap keningnya yang sudah benjut sebesar tempurung dengkulnya sendiri. Bibirnya meringis-ringis berkepanjangan, antara rasa dongkol dibentak Tresnasari dan penderitaannya.

"Apa maumu mengikuti kami, Cah Bagus?" Tanya Nyai Cemarawangi, jauh lebih bersahabat dari pertanyaan anaknya barusan.

"Anu, Bibik... anu...,"

Si bocah berambut kemerahan tak bisa mencari alasan yang tepat satu pun.

Sejak keributan di jalan pusat kadipaten berakhir, dia pamit pada lelaki tua pemilik warung. Orang tua itu sendiri sebenarnya berat melepas Angon Luwak. Di samping dia sudah 'jatuh hati' pada sifat-sifat Angon Luwak, dia juga merasakan keuntungan dari kerja rajin anak itu di tempatnya. Karena Angon Luwak tidak bisa dicegah, pemilik warung yang penuh teka-teki di mata Nyai Cemarawangi itu akhirnya melepas Angon Luwak juga. Dibekalinya anak itu dengan beberapa keping kepeng.

"Anu apa?!" Bentak Tresnasari.

Dengan isyarat, Nyai Cemarawangi memperingati sikap judes anaknya.

"Aku cuma ingin ikut kalian...," Ucap Angon Luwak akhirnya.

"Ikut kami? Bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Nyai Cemarawangi. Angon Luwak menggelengkan kepala perlahan. Dia tertunduk. Raut wajahnya berubah mendung. Muram, biarpun dia bukan tergolong bocah cengeng.

"Aku sendiri sampai sekarang tidak tahu apa-apa tentang keluargaku. Bahkan aku tak pernah tahu asal-usul diriku...," Katanya.

Dari desah napasnya, terdengar dia berusaha untuk tidak terbawa perasaan memelasnya sendiri. Itu pula salah satu sifat yang dikagumi Ki Kusumo.

Menilai dari sinar matanya, Nyai Cemarawangi tahu Angon Luwak tidak berdusta. Rasa keibuannya agak tersentuh juga.

"Baiklah. Kau boleh ikut kami...,” katanya memutuskan. Angon Luwak tersenyum senang. Tresnasari cemberut sejadi-jadinya.

-o0o-

"Aku mendengar Pak Tua Kusumo, pemilik warung di pusat kadipaten, mengatakan kalau kau sedang sakit, Bik. Apa benar begitu?"

Angon Luwak bertanya pada Nyai Cemarawangi. Ketika itu mereka bermalam di hutan. Desa terdekat masih cukup jauh. Sementara malam sudah terlalu larut untuk menempuh perjalanan. Karenanya mereka membuat api unggun.

Bocah itu duduk di atas batang pohon kayu tua yang roboh di atas tanah, menghadapi api unggun. Warna merah cahaya api menari-nari di wajah bergaris kokoh Angon Luwak. Berseberangan dengannya, duduk Tresnasari.

Sejak sore gadis tanggung itu terus merajuk. Dia tak mau bicara sepatah pun kalau tidak ditanya. Seperti tidak ingin peduli pada pertanyaan Angon Luwak pada ibunya, Tresna mempermainkan bara api unggun dengan batang pohon kering.

"Ya," Sahut Nyai Cemarawangi berbareng helaan napas.

"Sakit apa, Bik?" Susul Angon Luwak, ingin tahu lebih banyak. Atau mungkin dia hanya ingin berbasa-basi, mengingat gadis sebayanya terus saja memperlihatkan wajah permusuhan. Inginnya dia berbincang-bincang dengan Tresnasari. Pasti banyak bahan obrolan yang bisa dibicarakan oleh sepasang remaja seperti mereka. Tapi, Tresna dingin saja terhadapnya. Jangan lagi bicara, melirik pun tidak. Angon Luwak merasa dirinya hanya dianggap kentut.

Helaan napas Nyai Cemarawangi terdengar lagi. Lebih berat dan berbeban dari sebelumnya. Sambil meluruskan kaki, pandangan perempuan itu menerawang.

"Entahlah.... Aku sudah berusaha mencari tabib yang dapat menyembuhkanku. Namun sampai sekarang, penyakitku tetap tak terobati. Aku tetap saja makin payah," Jawabnya kemudian.

Ketiganya hening.

Angon Luwak hanya bisa menatap iba wajah perempuan empat puluhan yang kian memucat dalam sapuan lamat cahaya api unggun itu.

Diam-diam, Angon Luwak kagum juga terhadap diri Nyai Cemarawangi. Wajahnya tak sedikit pun membersitkan rasa kekalahan. Sinar matanya bahkan memperlihatkan seolah dia siap ditantang penyakitnya sendiri untuk melakukan apa pun. Tak ada keluh di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   275. Part 21

    "Ah kulihat kau masih utuh, tubuhmu belum ada yang terluka. Ingin kulihat apakah kau sanggup menghindar dari serangan Bumbung Kosong Menggebuk Naga?!" Kata Dewa Mabok.Si kakek segera miringkan tubuhnya. Telunjuk tangan kiri menunjuk ke langit. Sedangkan tangan kanan bergerak mengusap wajah. Sambil memutar mutar tangan kanan, tangan kiri yang menunjuk ke langit dia lambaikan ke arah bumbung-bumbung yang mengambang di udara."Kepruk! Buat tubuhnya babak belur!" Seru si kakek.Pendekar Sinting tersenyum, menyambut dingin ucapan Dewa Mabok. Dan senyum pemuda itu lenyap. Tiba tiba terdengar suara berdengung tak ubahnya sekawanan lebah berpindah sarang.Ketika Pendekar Sinting dongakan kepala memandang ke atas, tiba-tiba saja dia melihat belasan bumbung bambu telah berpencar didelapan penjuru, lalu seperti elang menyambar benda-benda itu menghantam Pendekar Sinting dengan bertubi-tubl.Tiada kesempatan bagi Pendekar Sinting untuk menghindar. Sambil katu

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   274. Part 20

    Wuut!Sekali kaki dihentakkan. Tubuh si kakek melayang ke tepi lapangan pasir. Dengan segenap kesaktian yang dia miliki dan didukung oleh mantra-mantra sakti yang dimilikinya Penujum Aneh melakukan gebrakan. Sambil mengibaskan sorban ditangannya dia berusaha menghalau bocah-bocah yang mengepung dan menyerang para perajurit itu.Sementara itu patih Tubagus Aria Kusuma begitu menyaksikan para pengawalnya semakin banyak yang menemui ajal segera ikutan menyerbu. Laki-laki itu mengamuk dengan melepaskan pukulan dan mengumbar tendangan sakti. Setiap kaki dan tangan bergerak, para bocah yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang itu pasti Jatuh terpelanting sambil menjerit dan menggeram. Diantara bocah yang menjadi korban tendangan ada yang kepalanya remuk. Namun aneh. Bocah iblis yang terkapar tiba tiba bangun lagi. Kepala yang remuk kembali utuh sedangkan kekuatan mereka semakin berlipat ganda."Kita telah banyak kehilangan perajurit, paman patih!" teriak penujum Aneh

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   273. Part 19

    Tiga batu segi tiga berkilau tak ubahnya Mutiara. Semakin lama tiga batu memancarkan cahaya putih terang benderang. Melihat ini Penujum Aneh segera silangkan kedua tanganya di depan dada, kedua kaki ditekuk sedangkan sorban hitam yang sejak awal dililitkan dipergelangan tangan kanan nampak bergetar."Lentera itu akan menyerang kita. Terlambat sedikit menyalakan sembilan obor penolak bala, kita semua bakal menuai nasib celaka!" Menerangkan si kakek.Penjelasan Peramal Aneh membuat Patih menyadari banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan alam gaib yang tak diketahuinya. Laki-laki ini tidak mau diam. Dia segera menghunus senjata andalannya berupa sebuah kujang yang dikenal dengan nama Penakluk Jiwa.Baru saja senjata sakti berada dalam genggaman. Di tengah hamparan pasir sedikitnya enam cahaya yang berasal dari tiga batu segi tiga berkiblat lalu menderu menghantam ke arah Penujum Aneh, patih juga para perajurit itu.Melihat cahaya putih menyil

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   272. Part 18

    Dia melihat tujuh sosok yang berjatuhan didepannya itu ternyata para gadis muda. Wajah mereka masih utuh. Mereka tewas dengan sekujur tubuh dan isi perut lenyap entah kemana. Seolah ada binatang buas yang memangsa mereka. Tanpa memperdulikan ucapan patih, Penujum Aneh segera ulurkan tangannya ke arah onggokan mayat gadis-gadis itu.Tiba-tiba sang penujum memekik kaget ketika merasakan ada satu kekuatan tak terlihat menyambar tangannya. Kekuatan itu datang dari mayat para gadis."Jangan didekati, jangan disentuh.Semua mayat itu dikuasai oleh sebuah kekuatan yang sangat jahat." seru si kakek memberi peringatan."Lalu apa yang kau lakukan tadi Penujum?" Tanya sang patih sambil menatap ke arah si kakek yang masih mengusapi telapak tangan kanannya. Tangan itu terasa nyeri, panas seperti terbakar"Aku hanya mencoba mencari tahu apa penyebab kematian dan siapa yang telah memangsa gadis-gadis desa ini.""Dan kau berhasil menemukan sebuah petunjuk penting?"

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   271. Part 17

    Melihat kepala pengawal begitu tegang, wajah pucat mata mendelik seperti baru melihat setan, sang patih jadi tidak sabar lalu cepat-cepat ajukan pertanyaan."Apa yang kau lihat?"Dengan suara terbata Gondang Ageng menjawab."Mayat-mayat, gusti patih. Mayat-mayat penduduk desa. Rasanya mereka belum lama menemui ajal, tapi tubuh mereka meleleh seperti bubur.""Hoek!" Gondang Ageng kembali keluarkan suara mau muntah. Dan kali ini dari mulutnya menyembur cairan dan makanan."Manusia jorok. Lekas kembali ke kuda dan kita lanjutkan perjalanan!"Perintah patih Tubagus Aria Kusuma jijik juga marah. Terbungkuk-bungkuk Gondang Ageng kembal ke kudanya.Semua prajurit tak ada yang berani membuka mulut walau sebenarnya mereka merasa geli melihat Gondang Ageng kena didamprat karena muntah. Setelah lewat tengah malam, udara dingin terasa tambah mencucuk.Jalan yang mereka lewati dipenuhi bebatuan licin berlumut. Iringan-iringan rombongan berk

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   270. Part 16

    "Kalau benar. Kekuatan apa yang bisa membuat rontok tubuh manusia. Lagi pula mengapa kita tidak menemukan mayat-mayat penduduk desa ini di rumah yang lain?" kata patih Aria terheran-heran."Kau tidak melihat kejadian yang lainnya, Manyun Pambayo," Tanya Penujum Aneh sambil menatap ke arah si wajah muram di depannya."Tidak Penujum. Saya dan yang lainnya tidak melihat apa-apa." Sahut Manyun Pambayo.Penujum Aneh menoleh pada sang patih."Pelakunya masih orang yang sama. menyerang penduduk desa adalah pasukan Lebah bernama Lebah Kepala Hati Berbunga. Penduduk yang tidak dibutuhkan dibunuh, sedangkan para anak gadisnya disengat dengan bisa asmara. Bila tersengat gadis-gadis itu berubah menjadi liar. Yang seperti orang yang kasmaran.""Aku tidak tahu apa maksudmu kakek Penujum aneh." Kata patih Aria Kusuma bingung"Semua ini perbuatan Pangeran Durjana. Dia seperti ayam jantan. Dia sengaja meracuni lalu mengumpulkan gadis-gadis itu untuk dijadika

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   10. Prahara pun berlangsung!

    Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   3. Keberanian

    Dia sebenarnya tidak ngeri pada pelototan mata bocah ayu itu. Sebaliknya, Angon Luwak malah jadi senang bukan alang kepalang. Hanya saja dia tak tahu, kenapa merasa berdebar-debar.Biasalah, cinta monyet! Saking gugupnya, tak sengaja dia menginjak jempol kaki Pale Tua pemilik warung.Untung lelaki

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   2. Hilang Ingatan

    Sepekan berlalu.Siang di pusat Kadipaten Ketawang. Saat itu matahari terhalang mendung. Sinarnya tak terlalu menyiksa. Angin sejuk sepoi-sepoi berdenyut, mempermainkan dedaunan pepohonan.Seorang anak lelaki dekil berjalan gontai dijalan pusat pemerintahan Kadipaten Ketawang. Wajahnya demikian lus

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   1. Kemurkaan Alam

    HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status