Share

4. Muda Mudi Perkasa

last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-08 15:01:29

"Biar tahu rasa kau!"

Terdengar bentakan dari si penyerang gelap. Siapa lagi kalau bukan Angon Luwak? Menyaksikan cara menyerang si bocah yang begitu konyol, mendadak saja terurailah tawa kecil Tresnasari.

"Hi-hi-hi!"

Ditertawakan begitu, Angon Luwak jadi tersinggung. Sudah ditolong kok malah menertawakan, protesnya dalam hati. Jelas-jelas itu tidak adil. Dia berbalik. Dipelototinya bocah perempuan itu.

"Kenapa tertawa?!" Hardiknya sok galak.

Tanpa mempedulikan kedongkolan Angon Luwak, Tresnasari mencemooh. "Jurus apa yang kau pakai itu? Seumur hidup, aku baru kali ini menyaksikan jurus 'sehebat' itu. Hi-hi-hi...."

"Ah, peduli setan dengan segala macam jurus! Terserah kau mau sebut apa. Mau kau sebut jurus, 'kepala rasa nanas', kek, mau apa kek...," Sergah Angon Luwak panas.

Jawaban seenak dengkul Angon Luwak makin membuat tawa gadis tanggung itu terjangkit. Dia terpingkal-pingkal dengan mendekap perutnya. Sampai....

"Hei, Bocah Kunyuk!"

Satu bentakan terdengar persis di belakang Angon Luwak. Bocah itu terperanjat. Cepat dibalikkannya tubuh.

Bugh! Satu hantaman keras melanda ulu hatinya.

Lelaki yang sebelumnya menerima serangan asal jadi Angon Luwak berusaha membalas perbuatan si bocah berambut kemerahan dengan tendangan lurus tak tanggung-tanggung.

Kontan saja tubuh kurus Angon Luwak terpental dua-tiga tombak. Layaknya karung pasir, tubuh anak itu jatuh berdebam di permukaan jalan. Dia menggeliat-geliat menahan rasa sesak hebat di atas tanah.

Akibat rasa sesak tersebut, menarik napas saja sudah teramat sulit baginya. Otot-otot dadanya seperti mengejang seketika dan tak dapat dikendalikan lagi. Padahal tendangan yang menimpanya tadi hanya tendangan biasa. Tenaga yang dipakai pun masih tenaga luar.

Lalu apa jadinya kalau tendangan tadi disalurkan tenaga dalam? Benar perkataan lelaki tua pemilik kedai, Angon Luwak jelas tidak berarti apa-apa bagi kawanan pengacau tadi.

Untuk menghadapi satu tendangan salah seorang dari mereka saja, si bocah berhati baja sudah tak berkutik, casarnya Angon Luwak memiliki sifat pantang menyerah, dengan terseok-seok memegangi dada, dia berusaha bangkit. Meskipun saat itu boleh dibilang dadanya belum seluruhnya dapat menarik udara secara wajar.

Belum sempat anak itu berdiri tegak, penyerangnya sudah berjalan ke arahnya, siap menghadiahinya satu hajaran lagi.

"Matamu benar-benar buta, Bocah Kunyuk. Kau tidak tahu dengan siapa kini kau berhadapan, heh?" Rutuknya.

Paras lelaki itu sarat ancaman, berbaur kegeraman. Tiba di dekat Angon Luwak, lelaki tadi menggerakkan kakinya kembali. Hendak dijejakannya tumit kaki ke punggung si pemuda tanggung.

"Biar mampus sekalian kau!"

Sebelum Angon Luwak didarati hantaman yang lebih parah tersebut.... Wesss.... Clep!

"Aaah!"

Mulut si penyerang melontarkan lengkingan. Kaki kanannya yang telah terangkat tinggi, urung mendarati punggung Angon Luwak. Satu belati telah menancap tepat di pinggir luar kakinya dan menembus hingga ke luar.

Kaki itu seperti sedang disate melebar! Dapat dibayangkan bagaimana rasanya. Lelaki tadi pun berjingkat-jingkat liar di tempat dengan sebelah kaki. Kaki yang lain dipeganginya sambil terus berteriak-teriak.

Pada saat berikutnya, satu sosok-tubuh mungil melayang gesit membentuk salto sekali di udara. Dengan amat cepat, disambarnya belati yang menancap di kaki sang korban tanpa sedikit pun menyentuh satu bagian tubuhnya.

Slap!

"Masih bagus aku hanya mengarahkan belati ini ke kakimu. Bagaimana kalau kuarahkan ke lehermu?" Tukas Tresnasari dengan gaya seorang ksatria wanita, setelah menyambar kembali belatinya. Dia berdiri empat langkah dari lelaki korban belatinya. Tangannya menggenggam belati berlumur darah.

"Aku lebih suka kalau belati itu menancap di lehernya! Kalau aku jadi kau, itu yang akan kulakukan. Tapi, kau sendiri tampaknya memang bodoh!" Sela Angon Luwak, terengah.

Sekali ini, mata Tresnasarilah yang ganti mendeliki bocah dekil berambut kemerahan itu. Menyaksikan dua rekan mereka dipecundangi oleh gadis tanggung berpakaian merah hati, tiga lelaki lain menjadi kalap. Dalam hati, mereka juga merasa terhina dengan semua itu.

Wajah mereka seperti dilempari kotoran kerbau! Hanya oleh seorang gadis baru besar saja dua orang di antara mereka dibuat keok. Satu roboh karena kantong ajimatnya dibuat nyaris pecah. Seorang lagi jadi lumpuh karena satu kakinya tertembus belati. Keterlaluan sekali, pikir mereka.

Dalam benak ketiganya, sudah tak terbetik lagi untuk tanggung-tanggung menghajar si bocah perempuan tanggung. Kalau sudah tahu akibat yang terjadi pada dua kawannya, tentunya mereka akan menganggap Tresnasari sebagai lawan tangguh yang patut diperhitungkan. Ditambah lagi oleh kekalapan mereka yang sudah mendaki naik sampai ke ubun-ubun. Karena itu, serempak mereka mengeluarkan senjata masing-masing.

Seorang mengeluarkan gada berbandul baja berdurinya. Yang lain meloloskan sepasang pedang pendek dari punggungnya. Sisanya langsung memutar-mutar tombak bermata tiga.

Tresnasari pun lantas dikepung mereka.

Melihat gelagat yang makin memanas, Tresnasari tak ingin bertindak ceroboh. Tentu saja dia tak bisa menganggap remeh serangan dari tiga lelaki kasar sekaligus. Nyawanya menjadi taruhan.

Sang ibu, masih tenang-tenang saja di tempatnya. Jaraknya dengan Tresnasari kini sekitar sepuluh tombak. Kalau berniat membantu, tentunya dia akan cepat bergerak mendekati anaknya.

Itu tidak dilakukan!

Pertanda dia yakin putri tunggalnya mampu mengatasi kesulitan tersebut.

"Kau akan menyesal, Anak Perempuan Sial! Karena setelah hari ini, umurmu tak akan bertambah barang sehari pun!" Ancam lelaki bersenjata tombak bermata tiga sambil memutar ujung tombaknya seperti sebuah baling-baling tajam.

"Jangan terlalu yakin!" Dengus Tresnasari.

Tak tampak kepanikan pada wajah bocah perempuan muda itu. Yang kentara jelas justru garis-garis kesiapan bertarung. Di masing-masing tangannya sudah siap belati. Sesekali belati itu berputar cepat di antara jari-jemari mungil halusnya.

Ketiga calon lawan bergerak membuat putaran di sekeliling Tresnasari, seakan sengaja berniat mengacaukan konsentrasinya.

Lelaki bersenjata sepasang pedang pendek membuat gerakan membacok ke seluruh penjuru, seperti gerakan seorang yang sedang membentengi diri dari serangan. Sedangkan lelaki bersenjata gada berbandul besi berduri memutar-mutar senjatanya di atas kepala Gerak berkekuatan serta terarah senjata mereka membentuk dengung kencang menggetarkan nyali.

Tapi, tidak untuk si bocah perempuan. Secuil pun tak ada kengerian terbetik di benaknya. Tampaknya, dia telah tergojlok untuk menghadapi serangan-serangan semacam itu.

"Hei! Kalian mau bertarung atau hendak adu keras suara senjata! Kalau cuma itu, kenapa kalian tak mengganti saja senjata kalian dengan gasing bambu yang bisa memperdengarkan dengung tanpa harus mengeluarkan tenaga terlalu banyak," Oceh Angon Luwak. Gayanya seolah dia menguasai jurus-jurus silat.

Dasar tong kosong berbunyi nyaring! Apa dikiranya perkelahian orang-orang persilatan itu cuma main terjang kalang-kabut seperti kakek kebakaran jenggot?

"Diam kau!" Hardik Tresnasari.

"Kau juga! Kenapa tak kau tusuk saja mereka, suk... suk... suk! Kan, beres?!" Sengit Angon Luwak.

Wajah Tresnasari merah bukan main mendengar perkataan si bocah bermulut lancang. Selama ini, dia meyakini kalau ilmu silatnya sudah cukup mahir.

Perlu waktu bertahun-tahun untuk menyempurnakan setiap jurus yang dikuasainya, Tapi, kunyuk dekil satu ini malah mengajarkan seenaknya saja. Seolah bocah berambut kemerahan itu menganggap bertarung dengan mengandalkan jurus itu tak beda dengan buang hajat, tinggal jongkok beberapa saat lalu beres! Sedang ngotot-ngototnya si gadis muda tanggung mencemberuti Angon Luwak, serangan lawan datang.

"Putus lehermu, Setan Alas Kecil!"

Wukh! Angon Luwak terkesiap.

"Hei awas!!" Teriaknya memperingati.

Lalu si lancang mulut itu cepat-cepat mendekap wajah. Ngeri sekali dia membayangkan sepasang pedang pendek akan membabat leher perempuan yang sebenarnya ditaksirnya itu.

Saat itu, hilang entah ke mana sikap sok jagonya. Dengan kesigapan mengagumkan, Tresnasari menjemput serangan pembuka lawan.

Diayunkannya sepasang belati ke arah datangnya suara pedang berkelebat. Hanya dengan mengandalkan kepekaan nalurinya, gadis tanggung itu sanggup mementahkan serangan lawan tanpa melihat terlebih dahulu.

Trang! Dan terperciklah lidah api dari benturan dua pasang senjata mereka.

Setelah mendengar suara benturan senjata, Angon Luwak baru berani mengintip dari sela-sela jarinya, Wuh, syukurlah perempuan cantik judes itu tak apa-apa, bisiknya membatin.

Serangan selanjutnya melanda Tresnasari seperti serbuan air bah. Tiga lawannya menyerang sekaligus. Itu sebenarnya perbuatan pengecut.

Dalam aturan para ksatria dunia persilatan, tak terhormat jika menyerang dari belakang. Apalagi main keroyokan terhadap seorang yang dianggap jauh lebih mentah pengalaman. Sayang, mereka memang bukan para ksatria.

Ketika sehimpun senjata meluruk berbarengan ke arah Tresnasari dari arah berbeda....

Trang-trang!

Seketika senjata-senjata tadi bermentalan ke segenap penjuru.

Dalam kecepatan yang deras pula. Tombak bermata tiga dan satu pedang pendek menancap dalam di dua tiang kedai yang jaraknya cukup jauh dari kancah pertarungan.

Tresnasari sendiri tak memperlihatkan gerak sama sekali ketika semua itu terjadi. Dia masih siap dalam kuda-kuda kokohnya. Wajahnya memperlihatkan keterkejutan. Sebaliknya, pikirannya sendiri cepat mengambil kesimpulan. Tentu, itu tadi perbuatan Nyai, simpulnya.

Berbeda dengan dugaan ketiga penyerangnya. Mereka justru menyangka bahwa kejadian barusan adalah tindakan Tresnasari.

Mereka terperangah.

Ketiganya mundur teratur.

Tak bisa dipercaya mereka kalau seorang anak bisa bergerak tanpa terlihat dan sanggup membuat senjata mereka terpental berbarengan. Apa itu tidak menakjubkan mereka? Padahal, mereka saja yang bodoh. Maka, tanpa perlu digebah ketiganya segera ngacir dengan kuda masing-masing.

Sepeninggalan mereka, Angon Luwak mencak-mencak tak karuan. Entah jurus apa yang dikeluarkan. Semuanya serba ngawur. Mulutnya bersat-sut-sat-sut, mengikuti gerakan silat dari negeri Antah Berantah! Sambil menatap para pecundang yang berkuda di kejauhan, bibirnya mencibir.

"Cuma sebegitu saja? Heh, tak ada apa-apanya...," Ocehnya.

-o0o-

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   73. Part 4

    Keempat laki-laki anak buah Golok Terbang pun terdiam. Si Tinggi kini bangkit berdiri, menghadap pada pemuda di depannya dengan tatap mata mencorong talam dibakar amarah."Anak muda. Siapa kau. Beraninya kau mengaku raja? Memangnya kau ini raja apa?"Si pemuda tersenyum, sambil pencongkan mulutnya dia menjawab. ”Aku adalah Pendekar, eh... Raja Sinting, hahaha”.Golok Terbang mendengus."Seperti yang kuduga, kau memang bukan raja. Kau bahkan hanya pantas menjadi raja kunyuk, sinting. Ha ha ha""Ya.” Sahut Angon Luwak sambil manggut-manggut."Jika aku menjadi raja kunyuk. Kau malah lebih pantas menjadi raja anjing. Ha ha ha.” Ucapan Angon Luwak karuan saja membuat Golok Terbang menjadi sangat marah. Seketika tawanya terhenti, mata mendelik, kumis bergerak-gerak, dua tengan terkepal erat mengeluarkan suara berkeretekan Melihat ini Angon Luwak malah meledek."Wuah ha ha ha. Ternyata raja anjing mulai marah. Bagaima

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   72. Part 3

    Hanya tersenyum. Tapi senyuman gadis membuat laki-laki tinggi berpakaian kuning agaknya merasa diabaikan kalau tak dapat dikata cemburu. Dengan suara menggeram, tanpa menoleh laki-laki itu berkata ditujukan pada Angon Luwak."Kedai ini hanya diperuntukan bagi orang yang berilmu tinggi, orang gagah cantik seperti gadis bermantel hitam itu. Sedangkan golongan tikus comberan, monyet butut dan kunyuk sinting sebaiknya jangan pernah lagi kesini. Dan sebelum kesabaranku habis, sebaiknya yang merasa dirinya sebagai monyet sinting angkat kaki dari sini.” Kata laki-laki itu dengan suara serak angker.Mendengar ucapan lakl-laki itu para tamu kedai mulai gelisah. Salah Satu diantaranya adalah laki-laki bertubuh kurus kering macam jerangkong hidup berpakaian hitam.Si kurus bergelar Elang Mate Juling ini memang tak mengenal siapa adanya pemuda berambut kemerahan itu. Tapi ia mengenal siapa adanya orang yang bicara itu dengan empat anak buahnya. Walau tak memiliki nama

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   72. Part 2

    Ketika menginjakkan kakinya di depan pintu kedai pemuda lugu berwajah tampan namun suka bertingkah seperti layaknya orang sinting ini julurkan kepala melongok ke dalam. Kedai itu dipenuhi oleh para pengunjung yang sedang menikmati hidangan dan minuman berbau aneh tapi harum.Wajah pemuda ini berubah jadi cerah sumringah. Ia tersenyum, perutnya berasa keroncongan setelah hidungnya mengendus aroma makanan lezat. Rasa lapar membuat pemuda ini segera mengambil tempat duduk berada di sudut kedai.Sekilas dia memperhatikan para tamu dikedai itu. Kebanyakan tamu dalam kedai terdiri dari laki-laki berpakaian dan berpenampilan pengembara dari dunia persilatan. Tampang mereka ada yang angker namun ada pula yang memuakkan untuk dilihat. Tapi tidak semua pengunjung kedai makan itu semuanya laki-laki.Di sudut kedai pada bagian ujung sebelah kanan duduk seorang gadis berpakaian serba hijau bermantel bulu warna hitam berparas cantik. Rambutnya yang panjang digelung ke atas. D

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   72. Part 1 (MISTERI PUSAKA ISTANA ES)

    SEBELUM MENUNAIKAN TUGAS yang diberikan oleh Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul. Angon Luwak terlebih dulu pulang untuk menemui kedua gurunya, guna meminta restu. Dan saat Angon Luwak menceritakan perihal pertemuannya dengan Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul dan tugas yang diterimanya. Ki Kusumo alias Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu cukup terkejut mendengar cerita dari Angon Luwak. Tapi Dedengkot Sinting tampak biasa-biasa saja mendengar hal itu.“Jadi kau adalah pewaris sah Istana Es dan putra prabu Sangga Langit, Angon Luwak” ucap Ki Kusumo dengan nada terkejut.“Itulah yang dikatakan oleh Kanjeng Ratu, guru. Karena itulah aku menerima tugas ini untuk mengetahui kebenarannya” tegas Angon Luwak.“Tugas yang kau emban ini sangat berat Angon Luwak. Wilayah timur sangat berbeda dengan disini. Kau harus berhati-hati. Ada banyak hal diluar nalar yang terjadi disana. Juga ada satu tokoh yang sangat ditakuti disana, namanya Sang Maha Sesat”

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 27

    “Aku yang memberikan Cemeti Laut Selatan kepada gurumu, Ki Kusumo atau yang lebih dikenal sebagai Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu. Ki Kusumo juga merupakan abdi istana laut kidul sekaligus juga muridku”Angon Luwak tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.“Jika Cemeti Laut Selatan berjodoh denganmu, itu artinya Pedang Laut Selatan pun akan berjodoh denganmu”“Apa maksudnya itu, Kanjeng Ratu?”“Di dalam tubuhmu ada Tenaga inti Segoro (Samudra)”“Tenaga inti Segoro (Samudra), Kanjeng Ratu?”“Ya Tenaga inti Segoro (Samudra), itu adalah sebuah tenaga dahsyat yang bersumber dari dasar laut dalam”“Tapi bagaimana hamba bisa memilikinya Kanjeng Ratu? Kedua guru hamba tidak pernah mengajarkan atau memberikannya” jawab Angon Luwak polos.“Itulah yang tidak ku mengerti Angon Luwak. Sejak berhadapan denganmu, aku dap

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 26

    “Aku memiliki dua buah pusaka yang menjadi pilar kekuasaan Istana Laut Kidul. Yang pertama adalah sebuah pusaka pedang yang tiada bandinganya di dunia persilatan. Pedang ini bisa menjadi malapetaka bagi dunia persilatan bila berada di tangan manusia sesat ataupun pendekar berwatak jahat. Pedang Laut Selatan ku titipkan pada prabu Sangga Langit, penguasa Istana Es... Hingga peristiwa berdarah itu terjadi...” Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul menghentikan sejenak ceritanya untuk melihat reaksi Angon Luwak.Benar saja, berhentinya cerita Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul membuat Angon Luwak penasaran akan ceritanya.“Peristiwa apakah itu Kanjeng Ratu?”“Dua puluh satu tahun yang lalu, Seluruh penghuni Istana Es terbunuh dalam 1 malam”Wajah Angon Luwak berubah mendengar hal itu, hingga tanpa sadar, ia mengulangi ucapan Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul dengan terbata-bata.“Te..Ter.. terbunuh dalam 1 malam?”Kan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status