Share

83. Part 14

last update publish date: 2026-01-23 01:01:22

"Temukan siapapun bangsatnya yang telah membunuh sahabatku Elang Mata Juling. Begitu kau dapatkan seret dia kemari, mengerti!" Kata si kakek.

Seolah mempunyai nyawa, telinga, pikiran dan hati. Anak panah ini bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah tiga kali berturut-turut. Panah pun kemudian dilepas.

Anak panah menderu, melesat berputar-putar lalu melabrak kemana saja tak tentu arah. Sampai kemudian anak panah lenyap tak terdengar suara apa-apa lagi.

Si kekek cebol menunggu

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   157. Part 17

    Begitu tangan kiri disentakkan jaring cahaya yang memancar dari jari Kupu Kupu Putih mengerut. Dengan demikian tentu saja bagian ujungnya yang lebar dan melibat tubuh si nenek ikut terbetot.Tanpa ampun Momok Laknat terseret mendekati lawan. Puteri Pemalu yang sempat menyaksikan apa yang dialami sahabatnya sempat tercengang namun dia tidak bisa menolong karena saat itu Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru menghujaninya dengan pukulan ganas dari tiga penjuru.Sementara Momok Laknat yang terperangkap muslihat lawan berusaha menahan daya betot yang dilakukan Kupu Kupu Putih dengan alirkan tenaga dalam ke bagian kaki. Kaki dihentakkan hingga menancap di batu karang yang atos.Sejenak terlihat saling tarik. Kupu Kupu Putih lipat gandakan tenaga dalam, dalam usahanya menarik lawan. Sementara tongkat hitam Geger Gaib di tangan dia pegang sedemikian rupa hingga begitu lawan berada dalam jangkuannya tinggal mengayunkan tongkat ke kepala Momok Laknat.Upaya untuk m

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   156. Part 16

    Hawa dingin dan hawa panas menderu silih berganti. Rasanya Sulit bagi Puteri Pemalu dapat meloloskan diri dari serangan. Tapi si gadis bersikap tenang. Dia malah tertawa mengikik. Sambil tertawa dia membuat satu gerakan aneh, tubuh berputar sambil melompat tinggi.Wuus! Crak! Bum! Bum!Puteri Pemalu lenyap.Serangan bersaudara Tiga Pembawa Maut mengenai tempat kosong. Tiga Pembawa Maut geram. Serentak mereka dongakkan kepala. Memandang ke atas lawan raib entah kemana."Aku disini!" Kata Puteri Pemalu memberi tahu.Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru balikkan badan. Menatap ke depan mereka belalakan mata sekaligus keluarkan seruan kaget.Di luar dugaan lawan ternyata telah berada di depan hidung mereka sedangkan dua tangan Puteri Pemalu yang berkuku panjang menyambar deras siap menghunjam di bagian wajah mereka."Keparat!" Maki Maut Biru sambil cepat selamatkan wajah dengan melompat ke belakang."Jadah!" Maki Maut Merah dan Hij

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   155. Part 15

    Si Gadis yang bersama si kakek yang tak lain adalah Dewi Harum alias Puteri Pedang Harum terkejut tak menyangka Kupu Kupu Putih mau membeberkan kesalahan gurunya. Sambil berdecak kagum dan menatap Kupu Kupu Putih yang berjarak sejauh lima belas tombak di depannya.Dewi Harum berucap dengan suara lantang."Para manusia terkutuk. Kalian semua akan aku binasakan. Tapi terus terang aku merasa kagum karena baru malam ini kudengar ada seorang murid mau mengakui kesalahan gurunya. Sayang... aku tidak melihat gurumu Penyihir Racun Utara hadir disini, Walau begitu kau cukup layak menggantikan gurumu untuk menebus dosa-dosanya!""Hik hik hik! Kalian punya hubungan apa dengan kerabat istana Pulau Es?" Tanya Kupu Kupu Putih disertai tawa tergelak."Soal itu bukan urusanmu" Jawab Dewi Harum.Sang Maha Sesat menyeringai."Katakan memang bukan urusan kami. Tapi sadarilah kalian cuma berdua. Sedangkan kami sangat banyak sekali. Bagaimana mungkin seekor mony

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   154. Part 14

    "Hmm, Janji tetap kupenuhi. Itu sebabnya aku datang kemari membawa orang banyak. Selain itu aku juga masih punya pasukan gaib yang ampuh. Bila keadaan memaksa aku bakal mengerahkan mereka!" Ujar Sang Maha Sesat.Kupu Kupu Putih tersenyum puas. Dia sama sekali tidak tahu dalam hati Sang Maha Sesat sesungguhnya berkata lain."Pedang Pusaka Istana Es, mana pantas kuberikan pada orang yang sudah mampus. Sebagai penyihir kuanggap kau sebagai orang bodoh. Andai saja kau gunakan tongkat untuk melihat keadaan gurumu. Aku yakin kau pasti berubah pikiran. Kau tidak lagi datang demi pedang tapi demi menghabisi nyawaku. Gadis cantik luar biasa. Aku akan memanfaatkanmu. Dan sesungguhnya telah lama sekali aku ingin mendapatkan kehangatan tubuhmu! ""Saya berterima kasih karena ternyata kau memegang janji, paman." Sahut Kupu Kupu Putih sambil tersenyum."Gusti Ayu, saya merasa Sang Maha Sesat telah menyembunyikan sesuatu. Jangan percaya dengan segala bualannya." Kata Ma

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   153. Part 13

    Bocah Ontang Anting yang merasa diselamatkan keluarkan suara raungan lalu lepaskan cekalan pada ujung kotak selanjutnya berguling menjauh selamatkan diri. Benturan cahaya hitam dan dua pukulan yang dilepaskan Angon Luwak tak dapat dihindari lagi.Dentuman keras di dalam gua mengguncang seluruh penjuru bukit dan menimbulkan lubang menganga lebar di seluruh lereng bukit Induk. Pijaran api bekas ledakan memenuhi seluruh penjuru ruangan gua.Kepulan asap menghalangi pandangan. Angon Luwak tergontai menatap ke arah altar di antara keremangan cahaya.Dia melihat kotak hitam bergerak-gerak dengan sendirinya. Dan melihat Bocah Ontang Anting berusaha bangkit kembali hendak mengambil kotak hitam.Di sudut yang gelap terdengar suara makian."Jadah! Menggagalkan niatku berarti kematian bagimu," Teriak satu suara."Keparat penyusup. Jangan cuma menyumpah serapah. Perihatkan dirimu agar aku bisa melihat seperti apa tampang rupamu!" Maki Pendekar Sinting s

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   152. Part 12

    Melihat kejadian ini Bocah Ontang Anting dengan suara lantang membuka mulut berucap. "Gua Gaib jagad gaib. Kunci gaib simbolnya berupa bintang. Bintang merindukan bulan. Bulan memancarkan cahaya kasihnya pada yang merindukan. Atas restu dewa, kunci gaib simbol gaib melebur. Pintu ruang menuju kotak penyimpanan terbuka. Kemudian atas ijin pemilik langit bumi. Kutitah pada Pedang Pusaka Istana Es untuk keluar dari tempat penyimpanan. Seiring dengan itu hiduplah siapa saja yang menjadi sahabat. Sahabat yang muncul apapun ujud dan rupanya saling menolong dalam hal kebaikan bukan tolong menolong dalam kejahatan!"Selesai dengan ucapannya Bocah Ontang Anting mengusap wajahnya sebanyak dua kali. Setelah mengusap wajah, kakek ini cepat berjongkok lalu usapkan dua tangan yang dipergunakan mengusap wajah ke permukaan simbol bintang yang disinari cahaya.Begitu usapan selesai dilakukan. Bocah Ontang Anting melompat turun menjauhi altar. Begitu kedua kaki menjejak lantai gua yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   70. Part 1 (Kembar Jelita)

    KERATON Demak di penghujung dini hari. Kekacauan baru saja pupus, berkawal kokok ayam jantan pertama di pagi buta, Seluruh prajurit Keraton Demak berkumpul di luar, di Taman Sari dekat dengan ruang peristirahatan raja. Raden Fatah berdiri di antara mereka, mengawasi kejadian di samping satu tiang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 21 (Dendam Nini Jonggrang)

    Lagi-lagi Angon Luwak cengar-cengir lugu. Dalam hati, Angon Luwak merasa tak pantas mendapat pujian dari orang besar dan mulia seperti Raden Patah yang sudah berusia cukup lanjut. Kalau mengingat bagaimana masa-masa muda gemilang pendiri Kerajaan Demak itu yang sering didengarnya dari cerita-ceri

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 20 (Dendam Nini Jonggrang)

    Setelah peristiwa itu, Truna tak bertemu dengan Jonggrang kembali. Pagi harinya, ketika hujan reda dan matahari menyapa, Truna mencoba kembali ke tempat teirakhir. Jonggrang sudah tak ada lagi di sana. Timbul penyesalan dalam diri Truna. Menyesal harus pergi meninggalkan Jonggrang, kakak sepergur

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 19 (Dendam Nini Jonggrang)

    Pernah suatu hari, Jonggrang mencoba menggoda Dongdongka. Saat itu mereka berada ditengah hutan. Keduanya hendak ke kota. Karena kemalaman, mereka memutuskan untuk bermalam di tepi danau di tengah hutan.Hujan turun deras melimpahi hutan. Mereka hanya bisa berteduh di bawah batang pohon ra

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status