LOGIN"Puah. Kau hendak bertanya apa setelah membunuh Elang Mata Juling?" Bentak si kakek tak kalah sengitnya.
Melihat Bocah Ontang Anting mulai terpancing kemarahannya, Ratu Lintah pun tertawa tergelak-gelak. Dengan suara angker dia menyela.
"Aku terpaksa membunuh sahabatmu karena dia tak mau menunjukkan tempat tinggalmu. Tidak hanya itu. Aku juga membunuh bapak kedai karena dia tak mau menaruh racun dalam makanan seorang pemuda.” Terang perempuan itu.
Bocah Ontang Antin
Begitu tangan kiri disentakkan jaring cahaya yang memancar dari jari Kupu Kupu Putih mengerut. Dengan demikian tentu saja bagian ujungnya yang lebar dan melibat tubuh si nenek ikut terbetot.Tanpa ampun Momok Laknat terseret mendekati lawan. Puteri Pemalu yang sempat menyaksikan apa yang dialami sahabatnya sempat tercengang namun dia tidak bisa menolong karena saat itu Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru menghujaninya dengan pukulan ganas dari tiga penjuru.Sementara Momok Laknat yang terperangkap muslihat lawan berusaha menahan daya betot yang dilakukan Kupu Kupu Putih dengan alirkan tenaga dalam ke bagian kaki. Kaki dihentakkan hingga menancap di batu karang yang atos.Sejenak terlihat saling tarik. Kupu Kupu Putih lipat gandakan tenaga dalam, dalam usahanya menarik lawan. Sementara tongkat hitam Geger Gaib di tangan dia pegang sedemikian rupa hingga begitu lawan berada dalam jangkuannya tinggal mengayunkan tongkat ke kepala Momok Laknat.Upaya untuk m
Hawa dingin dan hawa panas menderu silih berganti. Rasanya Sulit bagi Puteri Pemalu dapat meloloskan diri dari serangan. Tapi si gadis bersikap tenang. Dia malah tertawa mengikik. Sambil tertawa dia membuat satu gerakan aneh, tubuh berputar sambil melompat tinggi.Wuus! Crak! Bum! Bum!Puteri Pemalu lenyap.Serangan bersaudara Tiga Pembawa Maut mengenai tempat kosong. Tiga Pembawa Maut geram. Serentak mereka dongakkan kepala. Memandang ke atas lawan raib entah kemana."Aku disini!" Kata Puteri Pemalu memberi tahu.Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru balikkan badan. Menatap ke depan mereka belalakan mata sekaligus keluarkan seruan kaget.Di luar dugaan lawan ternyata telah berada di depan hidung mereka sedangkan dua tangan Puteri Pemalu yang berkuku panjang menyambar deras siap menghunjam di bagian wajah mereka."Keparat!" Maki Maut Biru sambil cepat selamatkan wajah dengan melompat ke belakang."Jadah!" Maki Maut Merah dan Hij
Si Gadis yang bersama si kakek yang tak lain adalah Dewi Harum alias Puteri Pedang Harum terkejut tak menyangka Kupu Kupu Putih mau membeberkan kesalahan gurunya. Sambil berdecak kagum dan menatap Kupu Kupu Putih yang berjarak sejauh lima belas tombak di depannya.Dewi Harum berucap dengan suara lantang."Para manusia terkutuk. Kalian semua akan aku binasakan. Tapi terus terang aku merasa kagum karena baru malam ini kudengar ada seorang murid mau mengakui kesalahan gurunya. Sayang... aku tidak melihat gurumu Penyihir Racun Utara hadir disini, Walau begitu kau cukup layak menggantikan gurumu untuk menebus dosa-dosanya!""Hik hik hik! Kalian punya hubungan apa dengan kerabat istana Pulau Es?" Tanya Kupu Kupu Putih disertai tawa tergelak."Soal itu bukan urusanmu" Jawab Dewi Harum.Sang Maha Sesat menyeringai."Katakan memang bukan urusan kami. Tapi sadarilah kalian cuma berdua. Sedangkan kami sangat banyak sekali. Bagaimana mungkin seekor mony
"Hmm, Janji tetap kupenuhi. Itu sebabnya aku datang kemari membawa orang banyak. Selain itu aku juga masih punya pasukan gaib yang ampuh. Bila keadaan memaksa aku bakal mengerahkan mereka!" Ujar Sang Maha Sesat.Kupu Kupu Putih tersenyum puas. Dia sama sekali tidak tahu dalam hati Sang Maha Sesat sesungguhnya berkata lain."Pedang Pusaka Istana Es, mana pantas kuberikan pada orang yang sudah mampus. Sebagai penyihir kuanggap kau sebagai orang bodoh. Andai saja kau gunakan tongkat untuk melihat keadaan gurumu. Aku yakin kau pasti berubah pikiran. Kau tidak lagi datang demi pedang tapi demi menghabisi nyawaku. Gadis cantik luar biasa. Aku akan memanfaatkanmu. Dan sesungguhnya telah lama sekali aku ingin mendapatkan kehangatan tubuhmu! ""Saya berterima kasih karena ternyata kau memegang janji, paman." Sahut Kupu Kupu Putih sambil tersenyum."Gusti Ayu, saya merasa Sang Maha Sesat telah menyembunyikan sesuatu. Jangan percaya dengan segala bualannya." Kata Ma
Bocah Ontang Anting yang merasa diselamatkan keluarkan suara raungan lalu lepaskan cekalan pada ujung kotak selanjutnya berguling menjauh selamatkan diri. Benturan cahaya hitam dan dua pukulan yang dilepaskan Angon Luwak tak dapat dihindari lagi.Dentuman keras di dalam gua mengguncang seluruh penjuru bukit dan menimbulkan lubang menganga lebar di seluruh lereng bukit Induk. Pijaran api bekas ledakan memenuhi seluruh penjuru ruangan gua.Kepulan asap menghalangi pandangan. Angon Luwak tergontai menatap ke arah altar di antara keremangan cahaya.Dia melihat kotak hitam bergerak-gerak dengan sendirinya. Dan melihat Bocah Ontang Anting berusaha bangkit kembali hendak mengambil kotak hitam.Di sudut yang gelap terdengar suara makian."Jadah! Menggagalkan niatku berarti kematian bagimu," Teriak satu suara."Keparat penyusup. Jangan cuma menyumpah serapah. Perihatkan dirimu agar aku bisa melihat seperti apa tampang rupamu!" Maki Pendekar Sinting s
Melihat kejadian ini Bocah Ontang Anting dengan suara lantang membuka mulut berucap. "Gua Gaib jagad gaib. Kunci gaib simbolnya berupa bintang. Bintang merindukan bulan. Bulan memancarkan cahaya kasihnya pada yang merindukan. Atas restu dewa, kunci gaib simbol gaib melebur. Pintu ruang menuju kotak penyimpanan terbuka. Kemudian atas ijin pemilik langit bumi. Kutitah pada Pedang Pusaka Istana Es untuk keluar dari tempat penyimpanan. Seiring dengan itu hiduplah siapa saja yang menjadi sahabat. Sahabat yang muncul apapun ujud dan rupanya saling menolong dalam hal kebaikan bukan tolong menolong dalam kejahatan!"Selesai dengan ucapannya Bocah Ontang Anting mengusap wajahnya sebanyak dua kali. Setelah mengusap wajah, kakek ini cepat berjongkok lalu usapkan dua tangan yang dipergunakan mengusap wajah ke permukaan simbol bintang yang disinari cahaya.Begitu usapan selesai dilakukan. Bocah Ontang Anting melompat turun menjauhi altar. Begitu kedua kaki menjejak lantai gua yang
“Dan si Truna Buluk tak akan sehebat itu mendidik seorang murid dalam waktu satu-dua tahun. Jadi, kenapa bocah ini bisa begitu hebat?" sambungnya, menyebut-nyebut nama Truna, nama lain Dedengkot Sinting pemberian Pertapa Sakti Gunung Sewu.Sejenak, Perempuan Pengumpul Bangkai itu mel
Di dua kutub berseberangan, dua lawan berhadapan. Tampak diam. Pada dasarnya, mereka sedang berkutat. Badan mereka bergeletaran. Mata Angon Luwak terpejam. Sebaliknya, mata kelabu Iblis Dari Neraka membuka lebar. Tangan masing-masing terpagut ketat di ujung-ujung Cemeti Laut Selatan.Detik
Tresnasari terus terseret perlahan. Mayangseruni diam tak bergerak. Biarpun pengaruh tenung cuma ditujukan pada Tresnasari, namun gadis kembarannya itu seperti turut terkena getahnya. Dia takjub menyaksikan bagaimana hebat, betapa piawainya si nenek jelek mengatur tenaga dalam demikian rupa.
"Khuaaaaaa!"Angon Luwak melolong. Kepalanya mendongak. Urat di lehernya menggelembung. Dia. Seperti seekor serigala luka yang melampiaskan segenap kemarahannya melalui lolongan tinggi menohok angkasa.Udara tergempur.Getarannya menghancur.Lapisan luar tembok pagar p







